Membongkar Strategi Jihad Munarman di KM 50 dan Exit Tol Karawang

Membongkar Strategi Jihad Munarman di KM 50 dan Exit Tol Karawang
Sejumlah anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. (ANTARA FOTO)

Oleh: Ninoy Karundeng

PERISTIWA di Tol KM 50, tewasnya 6 teroris FPI, peristiwa exit tol Karawang sesuai rekonstruksi, dan kebohongan Munarman adalah rangkaian konspirasi tingkat tinggi. Hal yang tidak dipahami publik. Ada korelasi antara Munarman dan kejahatan terorisme FPI.

Peristiwa tewasnya 6 teroris FPI itu adalah bagian desain strategi martirisasi. Strategi yang melibatkan pengorbanan. Yang dikorbankan dengan propaganda, didoktrin bahwa membela Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dianggap jihad.

Maka  Munarman melakukan glorifikasi 6 teroris lewat orang tua para teroris. Mereka bangga anak mereka tewas karena jihad. Glorifikasi ini melibatkan Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid PKS, dan KAMI.

Rupanya strategi Munarman gagal. Publik lebih percaya paparan polisi. Meski Munarman menggunakan Najwa Shihab untuk mengaburkan fakta kejadian tewasnya teroris FPI.

Padahal strategi awal sangat kejam. Munarman dan MRS dengan iring-iringan 10 kendaraan lebih justru berniat melakukan penyerangan aparat. Dalam skenario Munarman, lalu aparat melakukan serangan balik, kalau perlu cucu MRS dan bayi tewas. Dengan adanya anak-anak tewas maka itu akan menjadi alat picu ledakan seperti di Suriah.

Ditambah narasi propaganda bahwa aparat polisi yang mereka sebut thoghut telah berbuat melawan HAM. Itu konstruksi pengorbanan. Rancangan membuat isu besar, karena MRS tengah diburu, sehingga satu-satunya jalan adalah mengorbankan diri: jihad.

Menarik sekali propaganda Munarman terkait peristiwa tewasnya 6 teroris di km 50, peristiwa di pintu exit tol Karawang, dan tewasnya 4 teroris yang melakukan perebutan senjata dan penyerangan di dalam mobil yang membawa mereka ke Polda Metro.

Seluruh konstruksi perencanaan kejahatan strategi Munarman tentang pelarian MRS harus dipahami latar belakangnya.

Polisi bertindak benar. Tegas. Tepat. Aparat kepolisian mengawasi gerakan MRS yang berupaya kabur ke Bandung, dengan melewati rute Kuningan dan Sumedang. Saat itu MRS yang masih sangat kuat.
 
Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Idham Aziz marah besar karena anggota kepolisian dilecehkan di Petamburan. Polisi melakukan tindakan tegas. MRS harus ditangkap. Perintah tangkap ini membuat MRS yang memang menjadi simbol pembangkangan, makar, pemberontakan, kejahatan, terorisme, tentu memanfaatkan situasi untuk jihad.

Namun, fakta terungkap. Komnas HAM menyebut adanya dua pucuk senjata milik 6 laskar teroris FPI yang menyerang aparat keamanan. Kebohongan propaganda Munarman bahwa FPI tidak memiliki senjata terbongkar.

Ada fakta menarik lagi. Enam teroris ini adalah para anggota laskar khusus paramiliter yang dilatih khusus. Untuk kepentingan jihad terorisme FPI. Narasi pengajian dan bayi sebagai tameng dan kedok kejahatan.

Tewasnya anak-anak dianggap menguntungkan. Polisi akan dituduh melanggar HAM, kejam, dholim, agar memicu kerusuhan sipil. Persis narasi propaganda ISIS. Dan, Munarman pada 2015 dibaiat bergabung dengan ISIS. Fakta sebelumnya, ada 37 anggota FPI terlibat teroris.

Maka peristiwa sejak di Sentul, kejar-kejaran dan iring-iringan puluhan kendaraan yang mengawal MRS, KM50, exit Karawang membuktikan bahwa Munarman merencanakan strategi jihad.

Tak ada kejahatan yang sempurna, ada rekaman pembicaraan sebelum peristiwa tewasnya 6 teroris. Yang mengonfirmasi serangan terhadap aparat keamanan, selain bukti tembakan dan jelaga mesiu di tangan dua teroris yang tewas.

Namun bukan Munarman kalau menyerah. Kini dia tetap menggalang dan membela seolah terjadi peristiwa pembunuhan yang melanggar HAM. Tentu narasi pelanggaran HAM, dholim, thoghut, rezim, kejam, Allah, berserah akan digeber untuk pertahanan diri Munarman dan FPI. Karena isu pembunuhan 6 teroris FPI ini adalah satu-satunya alat propaganda FPI dan Munarman yang tersisa.

Negara harus mengungkap dengan gamblang rancangan kejahatan Munarman dan FPI terkait peristiwa KM 50 dan exit tol Karawang. Agar marwah TNI, Polri, BIN, Bais tidak dikacangi oleh kadrun perencana tindakan terorisme Munarman yang sangat membahayakan negara. Berikut terungkap ada 59 rekening aliran dana teroris FPI oleh PPATK. 

Dan, aparat mengendus dengan seluruh bukti yang ada. Hingga kampanye kebohongan Munarman tentang pelanggaran HAM terbantahkan dengan bukti yang selama ini terungkap. Habislah Munarman otak teroris ISIS.