Memboikot Angin

Memboikot Angin
Syaefudin Simon

MUNGKINKAN Anda memboikot angin? Hanya orang dungu yang berusaha memboikot bergulirnya udara dari satu tempat yang tekanannya tinggi ke tempat yang tekanannya rendah.

Memboikot angin seperti menguras samudra. Sia-sia. Tak akan pernah tercapai. 

Begitu pula memboikot produk industri suatu negara. Seperti produk Prancis. Prancis, misalnya, terkenal dengan produk makanan, kosmetik, parfum, alat rumah tangga, dan industri berat (pesawat air bus, reaktor nuklir, kereta api, mobil, dll).

Berbagai macam makanan ringan, minuman,   dan lain-lain yang digemari dunia kebanyakan produk Prancis. Jumlanya ratusan, bahkan ribuan merk. Entah itu produksi lokal maupun internasional. Tapi modalnya, sebagian atau keseluruhan dari Prancis. Kalau tidak, lisensinya dari Prancis.

Sisi yang lain, produk-produk tersebut -- khususnya makanan dan minuman --  bahan bakunya banyak yang berasal dari negara setempat (lokal). Jika diboikot siapa yang rugi? Belum termasuk pekerja distribusi, ritel, dan lain-lain.

Sisi berikutnya, hampir semua perusahaan itu sudah go publik. Sudah melantai di bursa.  Saham perusahaan itu sudah milik publik. Pemiliknya bisa perorangan, bank-bank investasi, bank-bank syariah, perusahaan asuransi, danareksa, dan lain-lain. Uangnya milik publik. Bahkan mungkin saja milik MUI, Muhammadiyah, dan lain-lain.

Di era digital sekarang ini, betapa mudahnya perusahaan beralih pemilik. Betapa mudahnya berinvestasi di saham. Bahkan dengan ratusan ribu perak, siapa pun bisa membeli saham melalui bank atau dana reksa. 

Mau beli saham di mana? Niscaya sedikit banyak -- bila saham itu diputar --  akan  tercampur saham perusahaan dari Perancis. Ya, hal itu terjadi  karena dalam dunia bisnis ada hukum alam: saham dan investasi akan mengalir ke perusahaan yg menguntungkan. Tak peduli perusahaan itu milik Prancis atau iblis.

So, jangan mimpi memboikot produk suatu negara, apalagi negara maju dan kaya seperti Prancis. Jangan memboikot angin. Sia-sia. Capek!  

Lebih baik tenaga dan pikiran dicurahkan untuk membangun masyarakat Islam agar agama yang rahmatan lil'alamin ini terhindar dari stigma sebagai agama laknatan lilalamin! Amit-amit, stigma  laknat ini jangan menimpa Islam agama yang turun demi Rahmat. Subhanallah. (*)