Wawancara Khusus

Membangun Kesadaran Berinternet Sehat Melalui Tagline Crime Leaves Trace

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Berdasar statistik  yang dihimpun oleh We Are Social melalui laporannya tentang Digital in 2018 in South East Asia yang dirilis Januari 2018 lalu, menunjukkan  49 persen dari penduduk Indonesia adalah pengguna aktif media sosial. Empat aplikasi terbesar yang banyak digunakan oleh penduduk Indonesia adalah Whatssapp (WA), Facebook (FB), Instagram (Ig) dan Line.

Selain sisi positif, ternyata ber-medsos muncul sisi negatifnya yang dapat membawa korban dan sekaigus tanpa disadari dapat menjadikan penggunanya sebagai pelaku kejahatan siber (cyber crime).

Untuk menghindari itu, berikut wawancara wartawan Senayanpost.com, Atan Sulaiman dengan Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Dr Raden Teduh Dirgahayu, S.T., M.Sc.

Bagaimana menyadarkan masyarakat agar tidak terjebak menjadi pelaku cybercrime?

Memang perlu adanya langkah nyata untuk memberikan pemahaman dan penyadaran kepada seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana memanfaatkan kemajuan ini dengan baik dan tidak membawa kita menjadi pelaku kejahatan.

Langkahnya?

Bercermin dari keberhasilan kampanye Turn Back Crime, maka kita sekarang mengkampanyekan penggunaan digital device  dan perilaku ruang siber agar terhindar dari perilaku negatif, maka kami  menginisiasi kegiatan berupa kampanye kesadaran perilaku positif dalam ruang siber dengan tagline Crime Leaves Trace serta slogan Think Before Click.

Pesan apa yang ingin disampaikan melalui tagline itu?

Pesan yang ingin kami sampaikan antara lain, bila anda menjadi korban dari aktivitas cybercrime, maka yakinlah bahwa aktivitas cybercrime dapat diungkap dan dibawa ke ranah hukum. Karena itu, perlu dilakukan sejumlah langkah antisipatif agar potensi artefact digital dari cybercrime yang terjadi dapat digunakan secara maksimal untuk mendukung proses investigasi dan penyidikan.

Bila anda pengguna digital device maka berhati-hatilah, jangan sampai masuk ke kategori illegal activity dan melanggar hukum. Sadar atau tidak sadar, ketika ini terjadi, anda harus menanggung risikonya. Dan ingat banyak cara dan teknik untuk mendapatkan bukti digital.

Jika ada pegiat ruang siber juga harus berhati-hati. Semua pihak yang masuk ke ruang siber harus bijak. Digital device dapat menjadi alat yang sangat membantu tetapi dapat juga menjadi alat yang sangat menakutkan.

Tujuan kampanye itu sendiri?

Pada era digital, batasan menjadi korban dan menjadi pelaku cybercrime adalah sangat tipis. Karena itu semua orang harus sadar betapa tipisnya batasan itu, sehingga harus disadari jangan sampai menjadi korban atau pelaku.

Melalui tagline Crime Leaves Trace ini maka setiap orang akan diedukasi untuk meningkatkan awareness dan respond yang tepat apabila dirinya menjadi korban cybercrime. Dan pada saat yang sama, masyarakat disadarkan bahwa aktivitas cybercrime sekecil apa pun akan dengan mudah dideteksi melalui ketersediaan berbagai artefak digital yang ada pada digitak device yang digunakan.

Sebagai  bagian dari kehidupan kampus, apa yang dilakukan Fakultas Teknologi Industri UII?

Ya. Kampanye kesadaran perilaku positif di ruang siber dengan tagline Crime Leave Trace ini adalah komitmen dari sivitas akademika Universitas Islam Indonesia melalui Pusat Studi Forensika Digital serta mahasiswa dan alumni Program Pascasarjana Konsentrasi Forensika  Digital Magister Informatika FTI UII untuk meningkatkan awareness dan edukasi masyarakat tentang cybercrime dan ruang siber.

Melalui tagline ini pula diharapkan muncul kesadaran bahwa sekecil apa pun perilaku negatif akan dapat diungkap oleh aparat.

Bagaimana membangun perilaku positifnya?

Selain tagline Crime Leaves Trace, kami juga meluncurkan slogan Think Before Click.  Melalui slogan ini diharapkan muncul sikap selalu waspada dan bijak menggunakan digital device dan beraktivitas di ruang siber. Perilaku positif itu tersebut akan terwujud antara lain dalam bentuk tidak mudah melakukan share dan klik untuk yang terkait dengan data dan aplikasi.

Demikian juga diharapkan muncul muncul kesadaran diri untuk tidak terlibat dalam penggunaan berbagai sarana dan media yang mengarah pada tindakan negatif yang berpotensi merugikan pihak lain.

Tujuan akhir?

Kami berharap kampanye ini terus meluas dan mendapat dukungan semua kalangan mendukung upaya membangun Indonesia yang belih baik dengan perilaku positif dalam ruang siber. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close