Catatan dari Senayan

Memandu Ibadah di Tengah Wabah

ALHAMDULILLAH di hari kedua Puasa Ramadhan saya dapat kiriman via WA dari sahabat baik saya Prof. Syihabuddin Qalyubi, buku “Fikih Pandemi” Gambar sampulnya menarik: bagian atas berwarna coklat muda tipis dengan latar belakang (kalau benar) gambar virus corona (Covid-19). Di bagian bawah warna coklat tua di dalamnya daftar sederet nama penulis dan penerbit buku.

Lihat judul buku saya sudah yakin isinya menarik. Buku masih gres, baru saja terbit, April 2020. Apalagi pengantar buku ditulis oleh Prof KH Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, yang tidak diragukan lagi keulamaannya dan keilmuannya. Ada yang menarik dalam pengantar Prof Nas. Buku ini dinilai dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat Muslim yang gamang dan bingung dalam melakukan ibadah di masa wabah. Mereka sulit memahami anjuran pemerintah bersama ulama agar tetap berada di rumah: tidak melakukan shalat jamaah di masjid, termasuk Jumat, tarawih dan shalat Id.

Masih menurut Prof Nas, buku ini menjelaskan guidelines beribadah di masa pandemik. Beragam isu diangkat seperti ibadah mahdhah dan ghairua mahdhah. Saya jadi bersemangat untuk membaca isi buku yang ditulis senumlah cendekiawan muda, semuanya bergelar doktor dan master. Ada nama-nama Faried F. Sarnong PhD, Dr Saifuddin Zuhri MA, Dr. Hamka Hasan MA, Mas’ud Halmimin MA, Noelyono Lodji M.Si, Dr Muid Nawawi MA, Zainal Abidin MA, Amiruddin Kuba MA, Syahrullah Iskandar MA, Rgbosita Tandos PhD, Naif Adnan MA, Dr Cucu Nurhayati MSi dan Hasanuddin MA.

Gagasan dalam seluruh isi buku dikelompokkan dalam lima bab. (1). Tentang fleksibilitas hukum Islam, (2). Beribadah di masa pandemi, (3). Memperlakukan jenazah Muslim terpapar Covid-19, (4). Pola interaksi sosial di masa pandemi, dan (5) penutup yang berisi daftar kepustakaan dan nama-nama penulis.

Dalam buku ini diberikan panduan secara detil tentang cara beribadah di masa pandemik dengan landasan dan argumen fikiyah lengkap demgan hadits sahih dan pendapat jumhur ulama. Di samping juga tinjauan sosial yang rasional dan Ilmiah. Poin-poin penting juga disampaikan, misalnya momentum untuk saling berbagi seperti pemberian zakat dan sedekah. Ada juga yang masih debatebel seperti shalat Id di rumah dan jumlah rakaatnya. Dalam konteks ini saya sependapat dengan harapan Prof Nas, agar buku ini dapat dokembanhkan menjadi buku akademik yang lebih serius dengan menunjukkan perdebatan diskursif dan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang ibadah di masa wabah.

Secara tidak langsung buku ini bisa disebut sebagai penjelas semacam “sarah” kebijakan soal social distancing dan physical distancing dari pandangan Islam yang selama ini menjadi concern pemerintah dan para ulama. Pemerintah para ulama bisa menggunakan sejumlah poin penting dalam buku ini untuk memandu dan menjelaskan kepada masyarakat, terutama kaum muslimin, karena semua gagasan dan dalil disampaikan dengan bahasa yang lugas dan komunikatif disertai senumlah referensi yang relevan.

Walhasil saya melihat buku ini sebagai bahan bagus selain memang sangat praktis untuk kepentingan umat juga dapat dielaborasi secara komprehensif agar dapat dipertanggung jawabkan secara akademik. Dalam wujud buku seperti sekarang tak mungkin disusun terlalu tebal.

Apresiasi kepada para penulis patut diberikan. Tanpa kombinasi antara kecepatan dan kepedulian, buku ini tidak mungkin bisa hadir di saat dibutuhkan seperti sekarang ini.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close