Catatan dari Senayan

Memaknai Nomor Urut Capres

NOMOR urut pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah diundi dan ditetapkan di kantor KPU Jumat malam (21/9/2018). Pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin mendapatkan nomor urut 1 dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menerima nomor urut 2. Masyarakat kita suka mengotak-atik angka. Komunitas tertentu bahkan mempercayai angka bisa membawa keberuntungan dan sebaliknya mendatangkan kesialan.

Banyak pihak yang berspekulasi dengan nomor urut itu sesuai selera dan kepentingan. Nomor urut satu, misalnya, selalu disimbolkan sebagai juara, “nomor wahid,” “number one”, atau nomor yang dikejar siapa saja yang sedang bertanding dan berkontestasi. Mereka memaknai nomor satu sebagai simbol “satu periode lagi”. Ada juga yang mengartikan “menggapai RI-1”.

Nomor urut dua bukanlah nomor yang memiliki bobot lebih rendah dari nomor satu. Tidak perlu diartikan sebagai “runner up”. Kalau dicari makna positifnya tentu ada. Misalnya, rukun Islam yang sangat penting itu berada di nomor dua, yakni kewajiban untuk shalat. Ada juga yang memaknai “dua-duanya sukses. Capres dan cawapresnya.” Atau itu “sukses dua kali bagi Sandi.” Sukses menang sebagai Wagub DKI Jakarta dan kelak sebagai Wakil Presiden.

Andaikan nomor urut dua itu dimiliki pasangan Jokowi-Ma’ruf mereka pun akan memaknai sebagai berkah. Terutama bagi Jokowi. Kubu pendukung Jokowi bisa memaknai nomor urut dua itu sebagai simbol “dua periode.”

Bagi pasangan Prabowo-Sandi nomor urut dua pun dianggap berkah melimpah, karena nomor itu adalah nomor urut Partai Gerindra. Prabowo dan Sandiaga sama-sama dari Partai Gerindra. Dengan demikian dalam Pemilu legislatif yang berbarengan dengan Pemilu Presiden. Jadi itu lebih memudahkan Gerindra dalam berkampanye nanti. “Pilih Presiden dan partai nomor 2.” Bisa juga nomor dua disimbolkan dengan menunjukkan tanda jari dua berbentuk huruf “V” yang dimaknai Victory atau menang.

Ada partai lain yang tentunya sangat diuntungkan dengan nomor urut 1 untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf ini, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Karena PKB sebagai peserta Pemilu dengan nomor urut 1. Sama dengan kenamaan nomor urut pasangan yang diusungnya PKB pun akan mudah meneriakkan “Pilih capres dan partai nomor satu.” Semua sangat tergantung pada kreativitas.

Tetapi nomor urut sesungguhnya hanyalah identifikasi. Anggap saja semua sama-sama. Tidak ada hubungannya dengan berkah, keberuntungan, apalagi agama. Dengan adanya nomor urut nanti masyarakat pemilih terbantu agar mudah menentukan pilihan terhadap pasangan calon yang mana. Perkara itu bisa dimaknai bermacam dan menguntungkan pihak tertentu itu sesungguhnya hanya kebetulan. Bangsa Indonesia, pemilih kita, sudah sangat cerdas untuk menentukan pilihan. Mereka sudah cukup waktu untuk melihat rekam jejak dan apa yang telah dikerjakan oleh masing-masing pasangan calon. Pemilih yang cerdas tak menyoal nomor urut pasangan calon.

Tugas kita semua mengantarkan dan menjaga agar semua warga negara yang berhak pilih kelak dapat memberikan suaranya secara bebas, tanpa terbebani dan merasa terkena kutukan nomor urut. Kita harapkan para rakyat memilih calon presiden dan wakilnya dengan hati dan pikiran yang rasional. Jangan sampai kita “memberhalakan” nomor urut dalam Pilpres maupun pemilu legislatif.

Walaupun demikian jika nanti para tim kampanye memainkan nomor urut itu dalam orasi, lewat media massa atau media sosial anggap saja sebagai hiburan dan bagian dari pernik-pernik pesta demokrasi, bukan sesuatu yang sangat serius dan menegangkan. Jika di KPU setelah penetapan nomo burut kita melihat para pendukung kedua pasangan calon dengan semangat mengacungkan nomor urut masing-masing pasangan dengan meneriakkan yel-yel tertentu, itulah wujud kegembiraan. Sesuatu yang wajar.

Mari bersama kita jelang Pilpres yang damai dan berkualitas. Baik di masa kampanye, saat pencoblosan, sampai penetapan pasangan mana yang menang. Mereka tidak dimenangkan nomor, tapi dimenangkan oleh hati rakyat.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close