Memaknai Musibah

Memaknai Musibah
Suara Muhammadiyah

Oleh: Musa Asy'arie

MUSIBAH datang silih berganti. Pandemi covid-19 belum berakhir yang berdampak pada resesi ekonomi, pesawat terbang yang jatuh, diikuti banjir di Kalimantan Selatan, dan gempa bumi di Majene dan Mamuju Sulawesi Barat.

Manusia di muka bumi ini adalah sumber masalah, jika tidak ada manusia, tentu tidak bertebaran di muka bumi ini banyak kerusakan. Karena itu, manusia sendiri yang menanggung segala dampaknya, sebagai akibat dari ulahnya sendiri. Kita secara keseluruhan harus mawas diri.

Musibah alam juga ada kaitannya dengan kerusakan kualitas kehidupan manusia. Konflik kekerasan politik kekuasaan, pecah belah antar kelompok sosial dan keagamaan berdampak munculnya kebencian dan permusuhan makin meluas di mana-mana merusak kohesi sosial bangsa.

Akibatnya korupsi juga makin membuncah, membuat perilaku manusia tak terkendali dan berakibat merusak kehidupan alam yang kehilangan equilibriumnya yang dieksploitasi dengan serakah untuk kepentingan pemilik capital yang melahirkan money politic di mana-mana, budaya wani piro merusak tatanan etika kebangsaan.

Musibah harus dimaknai sebagai peringatan kepada kita sebagai bangsa untuk memperbaiki kualitas dirinya. Musibah akan terus datang kembali, dan dengan perbaikan kualitas diri yang makin baik, maka musibah akan dapat diatasi dengan baik, agar tidak berkepanjangan.

*Prof. Dr. Musa Asy'arie, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta