Catatan dari Senayan

Memahami Keraguan Prabowo

MESKI sama-sama memastikan mau maju dalam pemilihan presiden 2019, posisi Joko Widodo lebih jelas ketimbang Prabowo Subianto. Partai pendukung Jokowi sudah melebihi ambang batas atau Presidential Threshold yang 20 persen itu. Dari 20 partai peserta Pemilu 2019 hanya empat partai yang terang-terangan tidak mendukung pencalonan Jokowi, yakni Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS. Meski sudah dideklarasikan Gerindra sebagai Capres, hingga kini Prabowo masih tertatih dengan kepastian koalisi partai pendukungnya.

PKS sudah secara implisit mendukung Prabowo, tapi harga mati calon wakil presidennya musti dari PKS. Itu yang sulit dipenuhi Prabowo, karena sembilan kader yang disodorkan PKS tak satupun yang membuat Prabowo sreg. Elektabilitas kesembilan figur yang ditawarkan itu tidak ada yang nendang. Apalagi perpecahan di tubuh partai itu semakin menyeruak dan membuat Prabowo galau.

PAN sebagai partai kedua yang diharapkan mau bergabung mendukung Prabowo pun bermanuver tak jelas arah. Selain menyodorkan sang ketua umum Zulkifli Hasan juga direcoki ketua dewan pembinanya, Amien Rais, yang asyik dengan liak liuknya sebagai politikus gaek.

Berharap pada Partai Demokrat juga tak mudah. Meski SBY sangat ngebet agar Agus Harimurti, anaknya, bisa jadi Wapres, toh tidak mudah melepas untuk menjadi wakil Prabowo. SBY sebagai politikus senior sangat paham dengan probabilitas keterpilihan Prabowo menghadapi Jokowi yang semakin perkasa. Semua hasil survei membuktikan demikian Lagi pula rasanya tidak elok jika Presiden dan wakilnya sama-sama jebolan tentara.

Wajar jika pada saat injury time Prabowo masih keloyongan ke sana kemari. Ketemu Yenny Wahid, Puan Maharani, Said Agil Siradj, sampai SBY, dan entah akan dengan siapa lagi. Jadi dengan sisa tiga partai itu pun belum jelas dapat tidaknya terbentuk koalisi dengan latar belakang yang rumit dan kompleks seperti itu.

Kalaupun kelak Prabowo berhasil menggandeng mitra koalisi untuk meraih tiket masuk gelanggang Pilpres 2019, Prabowo dipastikan akan kesulitan memilih isu dan strategi apa untuk mengalahkan Jokowi. Isu-isu yang selama ini dimunculkan cenderung dangkal dan mudah ditepis. Mulai dari isu Indonesia bakal bubar sampai isu utang negara.

Strategi mengangkat isu agama dengan pasukan 212 seperti yang digunakan saat Anis Baswedan menundukkan Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta pun sudah kandas. Politik identitas agaknya sudah tak laku lagi dalam Pilpres 2019, karena pada Pilgub DKI, sudah ditumpahkan semuanya. Semua elemen pendukung sudah mengalami kelelahan psikis. Itu terlihat dengan kalimat-kalimat yang ditulis pendukungnya di medsos dalam narasi yang cenderung tak berperadaban.

Kubu Jokowi cukup taktis hadapi Pasukan 212. Kekuatan pasukan sudah dipreteli dengan diasingkannya pentolan FPI Rizieq Shihab, ditariknya Mochtar Ngabalin ke Istana, hijrahnya Zainul Majdi alias TGB sampai pencalegan Kapitra Ampera, kuasa hukum Rizieq oleh PDIP.

Daripada maju Pilpres berdarah-darah dan kalah, di tengah kegalauan, sudah saatnya Prabowo melakukan kalkulasi yang realistis dan matang berdasar logika politik. Sudah dua kali maju Pilpres, dengan koalisi gendut pada 2014 kalah, masa sih akan terus memaksakan berlaga di Pilpres hanya berbekal “bondo nekad” alias bonek dan koalisi mini nan compang-camping seperti sekarang ini? Ada ungkapan, jago (ayam jantan) yang sudah kalah jangan diadu lagi. Apalagi dengan lawan yang sama.

Sekadar saran, ikuti saja jejak Megawati, setelah dua kali bertanding di Pilpres dia tak maju lagi dan memilih Jokowi sebagai “petugas partai”. Kini Megawati tinggal memetik buah manisnya. Tentu tidak mudah bagi Prabowo untuk beralih posisi dari petarung menjadi “king maker”. Waktunya sudah sangat mepet di samping juga sulit mencari “anak ajaib” seperti Jokowi.

Lebih dari itu, tidak seru jika kelak hanya ada calon tunggal di Pilpres 2019. Bak Piala Dunia tanpa partai final. Sunyi. Penonton pasti kecewa. Itu sama halnya dengan antiklimaks demokrasi.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya

Cek juga

Close
Close