FeaturesNasionalTransportasiUdara

Mencegah Bandar Udara Menjadi Bandar Air

Tiga hari yang lalu sejumlah stasiun televisi dan media sosial menayangkan gambar Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta yang kebanjiran. Banjir setinggi mata kaki sempat merendam jalan di muka Terminal 3 (T3). Penyebabnya konon karena drainase tak mampu menampung air hujan deras itu.

Public Relations Manager Angkasa Pura II Haerul Anwar menyebutkan banjir berasal dari kebocoran pipa di bawah tanah terminal.

Gambar air yang menyembur deras dari bawah tanah, para petugas sedang kewalahan membersihkan genangan air di dalam bandara pun tampak jelas. Ini tentunya membuat calon penumpang di T3 merasa tidak nyaman. Harapan untuk menikmati keindahan terminal baru tak kesampaian.

Sebetulnya sehari sebelumnya, Minggu pagi (14/8) saat boarding ke pesawat, saya sudah melihat ada genangan-genangan kecil di pinggiran apron, termasuk di jalan menuju pesawat. Mengganggu penerbangan sih kemungkinannya tidak. Tetapi yang namanya genangan air, pastilah merepotkan orang yang lewat dan menjadi pemandangan kurang sedap. Kalau misalnya ada mobil lewat di genangan dampaknya cipratan air kotor pun mengena orang di sekitarnya.

Betapa pun juga tergenangnya T3 cukup mengundang keprihatinan. Terminal yang sempat ditunda pengoperasiannya sebulan lamanya, mestinya sudah diteliti segala  kemungkinannya. Harapan besar masyarakat untuk menikmati kenyamanan bandara baru menjadi  pupus. Kita harus bersabar menunggu perbaikan di sana-sini, sampai kelak benar-benar sempurna.

Apalagi kita pernah mendengar janji dari pejabat tinggi di Kemenhub bahwa dengan selesainya T3 nanti kita akan memiliki bandara kelas dunia yang dapat bersaing dengan Bandara Changi, Singapura.

Sehari setelah banjir  (15/8) saya mencoba menyambangi lagi T3. Puluhan pekerja tampak membenahi bagian-bagian yang berpotensi menjadi penyebab kebanjiran atau kerusakan lainnya. Terlihat kesibukan pembenahan di beberapa bagian terminal.

Menteri  Perhubungan Budi Karya Sumadi kepada pers kemarin menyampaikan niatnya untuk mengundang para pakar dari berbagai bidang keilmuan untuk melakukan survei guna menyempurnakan T3 ini. Agaknya Menhub merasa ikut bertanggung jawab, karena T3 dimulai pembangunannya saat dia memimpin PT Angkasa Pura II, pengelola Bandara Soekarno Hatta.

Tentu ini menjadi pelajaran berharga bagi pihak-pihak yang sedang menangani proyek-proyek besar untuk kepentingan publik. Mereka perlu mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya. Antara perencanaan, pengerjaan, dan pengawasan perlu dilakukan secara komprehensif. Antara lain mesti menggunakan bahan-bahan  bangunan yang prima dan dikerjakan oleh pelaksana yang kredibel. Tidak  ada kata maaf dan toleransi atas kesalahan sekecil apa pun dalam membangun bandara bernilai 7 triliun rupiah itu.

Juga tidak ada salahnya Angkasa Pura II meminta pertanggungjawaban kepada kontraktor yang membangun bagian-bagian bangunan yang bermasalah itu. Jangan sampai bandar udara  yang megah itu dibiarkan menjadi bandar air.

KOMENTAR
Lihat selanjutnya
Close