FeaturesNasionalTransportasiUdara

Melongok Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (1): Tampak Megah tapi Sarat dengan Keluhan

BANTEN (SenayanPost.com) — Setelah sepekan diresmikan pengoperasiannya, Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta tampak belum sempurna. Banyak calon penumpang pesawat yang kurang nyaman mulai check in,  di ruang tinggi sampai boarding. Imas Senopati, wartawan Senayan Post sengaja menelusuri kondisi riil Terminal 3. Dengan bermodal tiket Garuda untuk penerbangan  ke Yogyakarta. Diturunkan dalam 3 tulisan. Berikut tulisan pertamanya:
Pagi menjelang subuh, saya meluncur dengan taksi menju Bandara Soekarno Hatta. Sesudah beberapa menit nemasuki area bandara, melewati Terminal 1 dan 2, tampak petunjuk ke Terminal 3. Taksi yang saya tumpangi pun melewati  fly over cukup panjang dan melingkar.
Beberapa saat kemudian tampaklah  bangunan megah dan indah. Pada tembok depan bertuliis deretan huruf warna silver mengkilat “Terminal 3”. Dalam hati saya memuji, wah T3 ternyata tak kalah megah dari bandara-bandara kelas dunia  yang pernah  saya saksikan, seperti Changi di Singapura, Charles de Gule di Paris, Schipool di Amsterdam, Dubai di Uni  Emirat Arab, atau John F Kennedy di New York.
Tapi begitu memasuki T 3 mulai terdengar bermacam keluhan dan gerutuan calon penumpang . Ada yang karena salah terminal, seharusnya  masuk T3 lama tersesat ke T3 baru itu, “Wah saya harus pindah ke Terminal 3 lama nih,” keluh Gatot, calon penumpang maskapai Lion Air. Dia mengaku minta sopir taksi untuk diantar ke T3, tak paham bahwa pesawat Lion yang terbang ke Yogyakarta tersedia  di T3 lama.
Subroto, calon penumpang Garuda jurusan Jakarta-Semarang lain lagi keluhannya. “Mestinya saya langsung ke sini, malah tadi kesasar ke Terminal 2. Biasanya kan di sana,” ujarnya dengan wajah kesal. “Mana shutle bus-nya lambat lagi. Ini sudah mepet waktunya,” keluh Subroto, sambil buru-buru menyeret kopornya.
Di sudut lain, gerutuan seorang Ibu terdengar  usai mengambil kopor di pemeriksaan X-Ray. “Wah petugasnya kurang cekatan ya Mas, ” katanya sambil menatap saya.
Usai check in sebagai pemegang GFF Card Platinum saya diarahkan petugas  menuju lounge eksekutif Garuda. Saya sempat melirik ruang tunggu penumpang ekonomi. Di dekat pintu masuk tampak ada galian yang dipagar seng keliling berukuran sekitar 3×3 meter. “Kok masih begini kondisinya,” giliran saya menggerutu dalam  hati.
Untuk menuju lounge eksekutif itu, saya sempat tiga kali bertanya kepada petugas, karena saya merasa tidak terpandu  oleh petunjuk yang tersedia di  situ. Melewati lorong cukup panjang, terlihat di tembok kiri-kanan tampak kumparan  kabel tak beraturan, cukup mengganggu  kenyamanan. (Bersambung)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close