Catatan Kluyuran ke Belanda dan Belgia (3)

"Melihat" Red Light District dari Sisi Lain

"Melihat" Red Light District dari Sisi Lain
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“AMSTERDAM. Aku datang!”

Demikian teriak kencang saya, ketika saya sedang berdiri di samping ‘Amsterdam Sign’,  di lingkungan Amsterdam RAI, dan kala itu sedang sepi. Ini setelah kami turun di Halte Amsterdam RAI dan menyeberangi jalan ke arah gedung Amsterdam RAI. Mendengar teriakan saya demikian, istri yang akan memotret saya pun berucap gemas, “Mas. Kok ndesit gitu sih!” 

‘Ndesit’ itu, dalam bahasa Jawa Semarang (asal istri saya), artinya, “udik sekali alias kampungan banget!’ 

“Hehehe. Ya gak apa-apa ndesit. Bukankah kita ini memang orang desa yang datang ke Amsterdam,” jawab saya. Santai sambil bergaya di samping ‘Amsterdam Sign’. Santri ndesit tenan. 

Tugu yang menjadi penanda Kota Amsterdam itu, selain menghiasi lingkungan Amsterdam RAI, sebenarnya juga menghiasi lingkungan Rijksmuseum yang terletak di Hobbemastraat, Amsterdam. Tinggi tugu itu setinggi orang ‘bule’. Entah kenapa, ketika melihat tugu itu, benak saya tiba-tiba “melayang-layang” jauh. Ke Cikapayang, Bandung dan berandai-andai, “Andai tugu ‘BDG: Emerging Creative City’ dibuat lebih impresif, tentu banyak orang yang tertarik berfoto di situ. Seperti halnya yang dilakukan orang-orang ketika mereka berada di dekat ‘Amsterdam Sign’ dengan tulisan ukuran gede ‘I AMSTERDAM’. 

Rajin “Kulakan” Ilmu dan Pengalaman

Usai berfoto di dekat ‘Amsterdam Sign’, kami kemudian bergerak. Menuju gedung Amsterdam RAI. 

Hari itu, pihak European Society of Cardiology 2013 tampak sangat sibuk menyambut sekitar 43 ribu dokter. Ya, sekali lagi, 43 ribu dokter. Weleh. Tidak aneh jika karena jumlah para dokter yang hadir dalam perhelatan ilmiah tingkat dunia itu demikian banyak. Hotel-hotel di Amsterdam, kala itu, baik yang bintang lima, empat, tiga, dan dua penuh dengan para tamu. 

Malah, sebagian di antara mereka menginap di hotel-hotel di kota-kota di luar Amsterdam, seperti Den Haag, Leiden, dan Rotterdam. Namun, karena transportasi yang nyaman dan tepat waktu, seperti Rotterdam yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Amsterdam, semua itu tidak menjadi halangan bagi mereka. 

Ketika melihat pihak penyelenggara ESC 2013 sedang sibuk menerima para dokter, yang sedang melakukan heregistrasi (bayarnya 750 euro, tanpa makan siang dan hanya disediakan minum air mineral saja), saya pun termenung. Lama. Penyelenggaraan event itu tentu memerlukan manajemen yang bagus, rapi, dan cekatan. 

Saya sendiri, yang pernah mengamati dan mengikuti berbagai event di Messe Frankfurt, Singapore Expo, KLCC Exhibition and Convention, Cairo International Bookfair, dan Dubai Festival, lama termenung ketika mengamati kemampuan organisasi pihak penyelenggara.

Rasanya, kepada mereka kita harus rajin mengaji, mengaji, dan mengaji. Juga (meminjam ungkapan Mas dr. Muhammad Toyibi Sp.JP), harus rajin “kulakan ilmu dan pengalaman” kepada siapa pun.  Dan, kita tidak perlu malu mengakui kebodohan dan ketertinggalan kita di bidang-bidang tertentu. Bukankah Rasulullah Saw. berpesan, “Pungutlah hikmah. Di mana pun engkau temukan.”?

Selepas urusan dengan pihak ESC 2013 rampung, istri pun muncul kembali. Lalu, tanyanya kepada saya, “Kita jadi ke Red Light District?”

Menerima pertanyaan yang sulit dan pelik tersebut, lama saya berpikir. 

Entah kenapa, tidak lama kemudian, tiba-tiba benak saya “melayang-layang”. Jauh. “Mudik” ke Cepu, Jawa Tengah, ke kota kelahiran saya. Tiba-tiba pula, saya teringat perjuangan kakek saya, Kiai Usman, seorang kiai pakar qiraah sab’ah, yang oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali (seorang mantan Menteri Agama Indonesia asal Cepu yang pernah menimba ilmu kepada kakek) diberi gelar “Gurunya Orang Cepu”, dalam “menaklukkan” suatu lokasi yang dulunya merupakan pusat ‘kupu-kupu malam’ (yang dalam bahasa Jawa ala Cepu kala saya masih kecil disebut ‘upruk’ dan oleh Gus Mus disebut ‘begenggek’) yang terletak di dekat “Brug (ini bahasa Belanda yang artinya ‘Jembatan’) Basin” (bahasa Jawa, artinya anyir sekali). Dalam perjuangan tersebut, kakek tidak pernah sama sekali menggunakan kekerasan. Namun, beliau menggunakan “hikmah”, “mau’izhah hasanah”, dan “dialog yang paling indah”. Dengan tiga pendekatan tersebut, lokasi tersebut kemudian menjadi pesantren yang dikitari masyarakat yang taat pada agama. Alhamdulillah.

Teringat dengan perjalanan hidup kakek, di lingkungan “merah” tersebut dan keberhasilannya dalam mengubah lingkungan tersebut tanpa kekerasan, saya kemudian menjawab pertanyaan istri tersebut (dan sambil beristighfar entah berapa kali), “Ayo, kita ke sana sekarang! Semoga Allah mengampuni kita. Niat kita baik kok!”

Jika ketika datang ke Amsterdam RAI kami turun di Halte Amsterdam RAI, kini kami mengambil halte lain yang ternyata lebih dekat: Halte Dintelstraat. Segera, kami pun naik trem nomer 4. Menuju Amsterdam Centraal dengan melewati halte-halte: Mastraat-Waalstraat-Victorieplein-Amstelkade-Lutmastraat-Ceintuurbaan- Stadhourderskade-Prinsengracht-Kaizergracht-Victorieplein-Visserplein-Waterlooplein-Rembrandtplein-Muntplein-Spui-Dam (setelah itu Amsterdam Centraal). 

Sepanjang perjalanan, meski terkantuk-kantuk, karena kecapaian kami belum sepenuhnya terlunasi, kami tetap bertahan untuk tidak tidur: menikmati pemandangan di samping kanan dan kiri trem yang kami naiki. Ketika melihat kanal-kanal yang tertata dan terkelola baik, di sepanjang perjalanan itu, istri pun bertanya, “Mengapa kota-kota di Indonesia tidak dikelola seperti ini, ya?”

“Tanya saja pada rumput yang bergoyang,” jawab saya. Santai sambil menikmati pemandangan di luar trem.

Andai Imam Al-Syafi‘i Sampai ke Sini

Tidak lama setelah turun dari trem nomer 4, kami kemudian menuju Monumen Nasional: sebuah monumen yang tegak di seberang Dam Square. Karena lelah, kami kemudian duduk. Di kaki monumen itu. Bersama orang-orang lain.

Ketika saya memandang ke arah orang-orang yang berada di Dam Square, tiba-tiba saya melihat tiga pemandangan menarik: ada satu orang sedang bergaya “mirip” Rembrandt, satu orang mirip tentara Romawi, dan satu orang mirip bajak laut. Mereka, tentu kita semua tahu, sedang ber“acting”. Untuk mendapatkan uang sumbangan. Melihat pemandangan demikian, tiba-tiba saya teringat kisah petualangan Andrea Hirata seperti yang ia tuturkan dalam bukunya berjudul Edensor. 

Selepas sekitar setengah jam duduk di kaki Monumen Nasional, waktu  telah memasuki pukul lima sore. Waktu Amsterdam. Matahari saat itu masih mencorong dan langit sangat cerah. Namun, meski langit masih berpendar terang, saya melihat orang-orang bergerak ke arah belakang monumen itu. Melihat hal itu, kami pun berdiri dan kemudian mengikuti gerakan orang-orang itu. Oh, ternyata mereka melangkahkan kaki menuju ke arah sebuah jembatan yang membentang di atas sebuah kanal. 

Ketika kami berdiri di jembatan itu dan memandangi serta mencermati orang-orang yang melangkah di samping kiri kanal, ke arah Amsterdam Centraal, saya pun segera menyadari, itulah “titik pusat” distrik “merah” di Amsterdam: sebuah distrik “membara” yang kondang itu. Menyadari hal itu, entah kenapa saya termangu di pinggir jembatan. Lama.

Melihat saya lama tidak bergerak, istri pun bertanya kepada saya, “Mas. Ada apa, kok berdiri lama di situ?”

“Entahlah,” jawab saya. “Ketika menyadari inilah ‘titik pusat’ Red Light District, kok tiba-tiba saya membayangkan, andaikan Imam Al-Syafi’i sampai di sini, apa kira-kira fatwa beliau tentang berbagai hal yang terjadi di sini.”

“Sudahlah. Jangan banyak melamun. Ayo kita teruskan perjalanan kita.”

Kami pun kemudian turun dari jembatan dan menuju jalan yang terletak di sebelah kiri kanal. Tidak lama berjalan, segera kami melewati toko-toko yang menjajakan aneka ragam barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke Indonesia. “Bebas sekali ini negeri,” gumam saya. 

“Ini bukan Indonesia. Apalagi Arab Saudi,” sahut istri. Dan, kemudian ketika istri melihat sebuah hotel yang di plangnya tertulis “hanya untuk laki-laki” dan di depannya ada bendera pelangi, alias warna-warni, ia pun berucap, “Itu hotel khusus. Bendera itu menjadi penanda yang jelas bagi ‘orang-orang yang memahami’. Salah seorang teman saya, seorang dokter laki-laki, banyak bercerita kepada saya tentang Belanda setelah ia ‘menikah’ dengan teman laki-lakinya. Di sini ini. Di Amsterdam ini!” 

Istri, sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, kemudian bercerita banyak tentang kasus-kasus yang berkaitan dengan “persoalan yang pelik dan rumit itu”. Kemudian, selepas kami melintasi beberapa gang di samping kiri kami, tidak jauh dari sebuah gereja kuno, dan kemudian ketika kami memasuki sebuah gang, tiba-tiba kami melihat “pemandangan” seorang cewek ceking dan nyaris tanpa busana dalam “aquarium”. 

Melihat “pemandangan” demikian,  istri yang terlatih dalam menangani para pasien yang terkena narkoba dan HIV pun berucap, “Kasihan ia! Ia, menurut pengamatan saya, adalah seorang penderita narkoba. Kalau tidak dikontrol baik, menurut prediksi saya, ia akan segera terpapar HIV. Memang, saya yakin, kesehatannya dijaga baik oleh pemerintahan Belanda. Namun, bagaimana coba, bila ia benar-benar terkena HIV dan kemudian HIV itu menyebar kepada para pelanggannya?”

“Duh,” sahut saya seraya. Menarik napas panjang. “Ayo, sudahlah. Kita melangkah lebih cepat lagi. Semua ini kita diskusikan di hotel saja, ya.”

Kami pun melangkah cepat ketika melihat kian banyak pemandangan di “aquarium-aquarium”. Eh, ketika kami sampai di gang-gang berikut, ternyata kami kian kerap menemukan rumah-rumah yang di depannya dipasangi bendera-bendera pelangi. Melihat hal itu, kami pun segera melangkah cepat dan kembali ke hotel. Dan, setelah itu, sebelum tidur, kami pun terlibat lama dalam perbincangan tentang penanganan “dunia merah”. Seperti halnya Red Light District itu. 

Kemudian, ketika tengah malam telah berlalu, saya pun terbangun dari tidur. Ya, terbangun tidur, karena mendengar suara berisik di jalan. Yang membentang di bawah jendela hotel yang kami inapi.  

Apa yang sedang terjadi? 

Ketika saya membuka vitrage kamar dan melihat ke bawah, tampak oleh saya dua cewek sedang berpelukan erat sambil berjalan terhuyung-huyung. Di tengah jalan. Melihat hal itu, vitrage itu pun saya tutup sambil bergumam pelan,”Duh, Amsterdam!”  (Bersambung)