Melepas Kepergian Sori Siregar

Melepas Kepergian Sori Siregar

Oleh: T Mulya Lubis

SORE hari dalam perjalanan pulang ke appartment saya membaca berita di WA Grup Satu Pena bahwa sastrawan Sori Siregar meninggal dunia dalam tidurnya. Dia berusia 81 tahun, dan sudah lama namanya tak terdengar dalam blantika sastra Indonesia walau cerita-cerita pendeknya tetap diingat oleh banyak penggemarnya. Dia juga menulis novel yang nampaknya bukan merupakan kekuatannya. Tapi untuk cerpen, dia punya kekhasan karena selalu menulis cerpen yang sederhana, tak meletup-letup, bercerita tentang kehidupan nyata yang kita hadapi sehari-hari. Bahasanya pun tak terlalu sukar untuk dimengerti. Seperti wajahnya yang tenang, cerpennya juga memancarkan ketenangan. Sori tak terlalu suka dengan keruwetan.

Tapi Sori bukan hanya seorang sastrawan. Dia juga seorang wartawan yang pernah berkiprah di majalah Zaman, BBC, VOA, RRI dan entah apa lagi. Sebagai wartawan Sori juga selalu menampilkan ketegangan walau berita yang ditampilkan sebetulnya mengandung ketegangan dan kegelisahan.

Mengenal Sori cukup lama saya tahu bahwa Sori seorang yang mencintai kesusasteraan dan kewartawanan sehingga semua itu menjadi bagian dari dirinya. Sejak saya mengenalnya, dia tak pernah berubah. Selalu tenang, selalu menyapa dengan ramah. Tapi memang saya sudah lama sekali tak bertemu dengannya meski kami tinggal sekota di Jakarta. 

Terakhir kali saya pernah datang ke rumahnya di kawasan Bintaro, dan itu sudah lama sekali. Dia pernah menelepon dan mengirim sms kepada saya meminta saya agar memperhatikan kawan-kawan sastrawan di Medan yang membutuhkan dukungan.

Ketika saya mulai menulis puisi dan cerita pendek di Medan, Sori sudah sangat terkenal. Saya memang kagum pada keterkenalannya dan selalu meminta opininya setiap ketemu. Sori juga sangat membantu dan tak pernah pelit memberikan nasehatnya. Buat seorang calon penyair, nasehat Sori tentu memberikan semangat. Saya yang menulis puisi di harian Mercu Suar dan Bukit Barisan pada waktu itu merasa mendapat ’senior’ yang sangat membantu, menganggap saya sebagai sastrawan meski saya masih pemula. Saya pernah agak patah arang dengan Sori karena dikritik sangat tajam ketika dia mengatakan novel yang saya tulis tak menguasai konflik kejiwaan. 

Saya merobek novel yang saya tulis karena kesal tetapi itu membuat saya berniat menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi karena saya ingin mempelajari konflik kejiwaan yang dikatakan oleh Sori sebagai sesuatu yang tak saya mengerti. Tetapi itu ketika saya masih menjadi siswa SMA yang mencoba menjadi novelis. Saya tak ingat persis apa yang dikatakan oleh Sori tetapi saya ingat betul judul novel yang saya robek waktu itu: Kelembutan Hati Seorang Perempuan.

Satu hal lagi yangmembuat saya dekat dengan Sori adalah ketika kami sebagai sastrawan Medan menulis semacam petisi membela Kipanjikusmin yang dituduh melakukan penodaan agama (blasphemy) pada cerita pendeknya yang dimuat di majalah Sastra. Masing-masing kami, Sori, Zakse, Pangaduan, Burhan, Djohan dan banyak lagi, masing-masing menulis pembelaan kami terhadap kebebasan kreatif pengarang Kipanjikusmin dan menerbitkan pledoi kami tersebut.

Memang kami tak bisa menghentikan diseretnya Kipanjikusmin ke pengadilan tetapi kami telah membuat sejarah membela bukan saja Kipanjikusmin tetapi kebebasan berkesenian, kebebasan kreatif, dari apa yang sekarang bisa saya sebut sebagai cikal-bakal dari fundamentalisme atau sektarianisme. 

Selamat jalan Bung Sori. Karyamu sudah mewakilimu di dunia ini. Beristirahatlah dengan tenang, setenang dirimu ketika menulis dan melahirkan cerpen-cerpenmu.

*Dr. Todung Mulya Lubis, sastrawan dan ilmuwan yang kini Dubes RI di Norwegia.