WHO Legalkan Penggunaan Ganja untuk Pengobatan

12:00
211
WHO LEGALKAN GANJA --- Badan kesehatan dunia, WHO, memberi lampu hijau penggunaan ganja medis untuk pengobatan. Foto/Ilustrasi/Istimewa.

JENEWA, SENAYANPOST.com —  Resmi sudah ganja menjadi legal. Namun, bukan untuk konsumsi umum, tetapi untuk pengobatan secara medis dengan aturan tertentu.

Meski demikian, soal ganja yang dilegalkan ini, masih silang dan saling debat. Artinya momok berupa daun hijau yang juga subur di Sumatera itu, tetap harus diwaspadai antara manfaat dan mudaratnya.

Senyawa non-psikoaktif yang ditemukan dalam ganja medis telah diberi lampu hijau untuk digunakan dalam perawatan terapeutik. Hal itu tertuang dalam tinjauan organisasi kesehatan dunia, WHO.

WHO, yang memberikan panduan kepada negara-negara anggota PBB, mengatakan bukti terbaru menunjukkan cannabidiol (CBD) memberikan bantuan potensial untuk beberapa penyakit.

Marijuana atau ganja sebagai pengobatan yang layak untuk menghilangkan rasa sakit dan kondisi serius seperti epilepsi, penyakit Alzheimer dan Parkinson adalah topik yang terus berlanjut untuk diperdebatkan.

Pabrik ganja saat ini digolongkan sebagai obat kelas 1, zat yang dianggap memiliki potensi penyalahgunaan tinggi, dalam Konvensi Tunggal PBB tentang Narkotika 1961.

Namun dalam sebuah laporan pada hari Rabu, WHO menyatakan bahwa CBD, satu dari 113 cannabinoids yang ditemukan di pabrik ganja, tidak membawa risiko kesehatan dan tidak mungkin disalahgunakan.

CBD tidak memberikan ‘rasa fly’ seperti Tetrahydrocannabinol (THC), yang ditemukan di ganja rekreasi. Oleh karena itu WHO menyatakan CBD juga tidak mungkin menciptakan ketergantungan dan seharusnya bukan obat adiktif untuk peraturan pemerintah.

“Bukti baru-baru ini dari penelitian hewan dan manusia menunjukkan bahwa penggunaannya dapat memiliki nilai terapeutik untuk kejang karena epilepsi dan kondisi terkait,” laporan tersebut menyatakan.

“Bukti saat ini juga menunjukkan bahwa cannabidiol tidak mungkin disalahgunakan atau menciptakan ketergantungan seperti cannabinoids lainnya (seperti Tetra Hydro Cannabinol, misalnya),” sambung laporan itu seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (15/12/2017).

Tinjauan informasi CBD yang lebih lengkap akan berlangsung pada bulan Mei 2018.

Komite Ahli untuk Meninjau Ketergantungan Obat juga merekomendasikan agar carfentanil, opioid dikatakan 10.000 kali lebih kuat daripada morfin, dimasukkan ke dalam Obat Kelas I dan IV konvensi PBB mengenai obat-obatan terlarang.

Comments

comments