Opini

Melawan Hantu Corona, Dibantu Dokter di Rumah

Oleh: Prof. Dr. Syihabuddin Qolyubi

DUA minggu lalu saya kembali dari Guci Tegal untuk suatu tugas dari kantor. Guci, tempatnya sangat eksotis mirip Kaliurang di Yogyakarta, segar, asri dan indah. Tapi Guci punya kekhasan tersendiri antara lain, kamar mandi dan kolam renang yang tersedia di hotel-hotel dialiri air hangat yang bersumber dari kaki gunung Slamet. Umumnya air yang bersumber dari gunung mengandung belerang tapi air hangat di Guci jernih, tidak berwarna, tidak bau, dan tidak mengandung belerang, sehingga sangat menyegarkan badan.

Selain menikmati berendam di pemandian, para pelancong juga bisa berendam di sungai yang mengalir. Ketika pertama kali menyentuh air tersebut, kita akan langsung merasakan panas. Namun lambat laun kulit akan beradaptasi dengan panasnya air sehingga berubah menjadi terasa hangat. Badan serta pikiran menjadi semakin rileks dan nyaman.

Perasaan senang dan ceria serasa sirna, karena begitu tiba di Jogja udara panas, gocar yang dipesan pun lambat datangnya, setadinya saya bermaksud membatalkannya, tapi kawatir ada permaslahan, akhirnya saya nunggu di pinggir jalan dekat pintu gerbang AAU di bawah terik panas dan asap campur debu dari mobil yang bersliweran.

Setelah masuk gocar badan bisa istirahat, tapi sayangnya supir tidak bawa kendaraannya lewat jalan Solo, karena alasan macet, ia gunakan jalan kampung yang kecil dan berliak liuk, kepala saya mulai terasa pening. Begitu masuk rumah tenggorokkan saya terasa gatal lalu mualailah batuk satu persatu keluar. Melihat saya batuk anak sy, dr. Dimas bertanya: Bah udah berapa hari batuk? Baru hari ini jawab saya sambil menutup mulut dengan tissu. Di Guci alhamdulillah abah sehat tidak terasa sakit sdikit pun.

Setadinya batuk itu dianggap sebagaimana biasanya saja, jika saya kembali dari bebepergian jauh sering terjadi batuk dan pilek. Kali ini mungkin berbeda, karena seminggu sebelunya saya ngikuti acara alumni Al-Azhar di Cirebon dan seminggu sebelumnya lagi hadiri silaturrami keluarga di Tasikmalaya, sehingga badan terasa capek sekali.

Keesokan harinya ada surat edaran dari UIN bahwa seluruh ASN yang baru kembali dari Bali, Solo, dan Tegal, harus mengisolasi diri dan tidak boleh masuk kantor selama dua minggu. Surat edaran ini dilatarbelakangi kejadian di Solo dan beberapa kota lainnya yang sudah dimasuki virus Corona.

Saya mulai sak wasangka kepada kesehatan sendiri. Untung anak saya selalu mensuply obat.Pada hari kelima dr. Dimas. anak saya. mengajak saya mengecek kesehatan di rumah sakit. Mendengar ajakan itu saya merasa terhentak.

“Wah abah berobat di rumah saja,: jawab saya.”

“Abah sudah lima hari batuk seharusnya dicek ke lab,” kata anak saya.

Mendengar penjelasan dr. Dimas saya menjadi bimbang antara cek ke lab atau berobat di rumah saja. Terbayang dalam pikiran saya jika saya cek ke rumah sakit, untung jika dinayatakan sakit batuk biasa, tapi jika dinyatakan terindikasi suspect corona, na’udzu billah, apa yang terjadi? Bisa merembet ke kawan-kawan yang berangkat ke Guci, keluaga di rumah dan tetangga di kampung. Akhirnya saya memutuskan untuk menangguhkan pergi cek lab.

Setiap hari saya cek tensi dan cek suhu yang kebetulan ditaruh dekat meja tengah rumah. Saya semakin kawatir di samping batuk tak kunjung sembuh usiaku sudah termasuk yang rentan terhadap penyakit itu. Jika tenggorokan terasa gatal dan kepingin batuk saya cari air hangat lalu dimasukkan sedikit garam ke dalamnya, untuk sekedar membersihkan tenggorokan dilanjutkan dengan berkumur gunakan obat kumur, setelah itu biasanya batuk agak mereda.

Pada hari kedelapan badan saya terasa hangat, saya tidak berani cek tensi dan cek suhu, kawatir di luar ambang batas, malah menjadi beban penambah penyakit saya. Sewaktu hari menjelang malam, sebagaimana kesepakatan di rumah, saya mempraktekkan social distance, saya tidur di kamar lantai atas sedangkan isteri, anak dan cucuku tidur di lantai bawah.

Kayaknya isteriku sudah punya firasat, sehingga malam itu saya diminta tidak tidur di atas tetapi tidur di tengah rumah saja, kebetulan ada sofa yang bisa untuk merebahkan badan. Sekitar jam 10 malam badan mulai terasa menggigil, secara diam-diam saya cari selimut tebal dan baju kaos lengan panjang, saya tidak berani bicara kepada anak saya yang sedang nonton TV, cuma menanyakannya di mana menaruh aroma terapi.

Saya tidur di atas sofa dengan badan menggigil dan kepala terasa panas. Saya bergumam, tapi saya bertekad harus berjuang melawan penyakit ini tanpa ada seorang pun tahu, karena jika ada keluarga yang tahu, pikir saya, mesti mereka membawa saya ke rumah sakit. Saya cari obat penurun panas di kotak meja kursi yang tidak jauh dari sofa, kebetulan ada tergeletak paracetamol, langsung saya minum dengan air putih yang panas. Saya lanjutkan lagi berbaring dengan selimut tebal, kepalaku ditutup dengan sorban warna putih. Ketika itu saya kawatir jika dr. Dimas melirik tingkah laku saya, tapi dia terus masuk ke kamar tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Saya melanjutkan perjuangan melawan penyakit sendirian. Saya baca istighfar, shalawat , ayat tujuh, dan wirid-wirid yang sudah diberikan para masyayikh, anatara lain Kiayi saya almghfurlah KHA Wahab Muhsin dari Pesantren Sukahideng Tasikmalaya, termasuk saya baca juga ijazah KH Hasyim Asy’ari bila menghadapi pagebluk penyakit : _”Li khamsatun uthfi biha harral wabail hathimah, al-musthafa wal murtadlo wabna huma wa fathimah. (Saya punya lima pegangan (wasilah) yang dengannya bisa memadamkan panas wabah yang mendera, nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Hasan Husain dan Fathimah). Sekalipun disinyalir wirid ini ada unsur tasyyi’ (Syi’ahisasi) tapi saya penuh keyakinan bahwa Hadratusy Syaikh tidak akan sembarangan mengijazahkan wirid itu tanpa ada penelusuran terlebih dahulu.

Do’a dan berbagai wirid saya panjatkan dengan segenap hati hanya kepada Allah swt semata, karena hanya Dia-lah yang punya hak prerogratif untuk mengabulkan atau menolak permintaan hambanya. Sekali-kali saya reguk air panas yang ada di meja samping saya.

Mengerahkan Doa dan Wirid

Perjuangan semakin sengit, keringat bercucuran, bukan dari badan saja tetapi dari kepala pun turun membasahi muka. Saya terus mengatur pernapasan, karena menurut informasi, corona itu akan menyerang pernafasan dengan cara mengeringkan dahak yang ada di saluran pernafasan.

Rupanya dengan baca doa dan wirid itu air liur terus brproduksi sehingga bisa membasahi kerongkongan. Secara bertahap demam pun mereda, suhu panas badan menurun, yang tertinggal badan, baju dan selimut yang basah kuyup. Saya pun segera melepas seluruh pakaian yang menempel di badan, lalu ke kamar mandi untuk sekdar mengusap keringat dengan air hangat dan mengambil air wudlu.
Waktu menunjukkan jam 03.30, setelah mengganti pakaian saya laksanakan shalat sunat dan sujud syukur atas nikmat yang telah Allah swt anugerahkan.

Setelah shalat subuh saya menanyakan kepada dr. Dimas tentang khasiat obat paracetamol. Dikatakan khasiatnya untuk menurunkan panas badan dan meredakan rasa sakit. Setelah dijelaskan saya baru menyadari bahwa di siang harinya asam uratku kambuh hingga ibu jari kaki sebelah kiri bengkak, biasanya jika asam urat kambuh badan sering terasa panas. Di pagi hari iru rasa sakit dari asam urat pun mendadak hilang.

Esok harinya batuk berjalan seperti biasa, saya cari masker untuk menutupi mulut supaya tidak mengganggu orang lain, tetapi tidak ada satu apotek pun di sekitar rumah saya yang menjualnya. Untung saja ada teman isteri saya di Dharma Wanita UIN berinisiatif memproduksinya. Saya pesan agak banyak agar bisa mencukupi jika suatu waktu dibutuhkan.

Pada hari ke-13 suhu badan saya terasa panas lagi, kebetulan kalender merah libur Hari Nyepi sehingga kuliah online pun diliburkan. Saya beritahu keluarga, bahwa saya ingin tiduran di kamar lantai atas. Saya ulangi lagi ritual yang dilakukan pada hari ke delapan, ternyata di kamar atas pun saya tidak bisa istirahat karena di bawah cucu saya asyik memainkan mainan kesukaan. (Bersambung)

*Prof. DR. Syihabuddin Qalyubi Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu BudayaUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close