Opini

Melawan Hantu Corona, Dibantu Dokter di Rumah (2-Habis)

Oleh: Prof. Dr. Syihabuddin Qolyubi

PADA hari ke-13 suhu badan saya terasa panas lagi, kebetulan kalender merah libur Hari Nyepi sehingga kuliah online pun diliburkan. Saya beritahu keluarga, bahwa saya ingin tiduran di kamar lantai atas. Saya ulangi lagi ritual yang dilakukan pada hari ke delapan, ternyata di kamar atas pun saya tidak bisa istirahat karena di bawah cucu saya asyik memainkan mainan kesukaannya sambil ngomong keras-keras tapi tidak cetha diksinya.

Tiba saatnya cucu saya tertidur lelap, wah pikir saya sekarang in syaa Allah saya bisa beristirahat, ternyata tidak seperti itu, karena tak lama kemudian anak saya Nadia, dosen komunikasi UII, memberikan kuliah online di sebelah kamar saya. Tampaknya dia menggunakan program zoom yang ada fasilitas audio visualnya. Berbeda dengan kuliah online saya yang cukup menggunakan fasilitas yang ada di WA saja. Suasana kala itu semakin kalut, karena saya tidak sampai hati, harus melarang anak saya memberi kuliah.

Saya berusaha untuk mensugesti diri bahwa saya dengan izin Allah bisa melawan penyakit sebagaimana terjadi pada hari ke-8. Ternyata suhu badan semakin panas ditambah udara dari genting yang cukup panas pula, sehingga baju dan selimut basah kuyup.

Buku Humor Gus Dur

Saya minta Khofi, anak asuh saya untuk mengambilkan baju ganti. Setelah itu saya mendengar suara isteri saya sedang manapakkan kakinya ke tangga menuju kamar saya. Saya tidak mau ketahuan sedang meriang, saya pelan-pelan buka laptop yang ada kumpulan humor Gus Dur.

“Mah lucu-lucu tuh humoran Gus Dur,” kata saya sambil berusaha menahan rasa meriang.

Isteri saya pun sambil senyum kembali lagi turun ke lantai satu. Perasaan saya sudah merasa plong karena isteri tidak mengetahui bahwa saya sedang berperang melawan penyakit meriang.

Saya ambil HP yang ada di samping badan, sambil tiduran saya buka satu persatu informasi di WA dan FB, ternyata diberitakan Dr. KH. Aji Hermawan (Kepala LPPM IPB, Mantan Wasekjen PBNU, Mantan Ketua PCINU UK) meninggal dunia. Saya kaget, saya sering komunikasi via Fb, saya kenal dia di Kairo th 2005, sewaktu riset untuk penulisan disertasi. Kebetulan dia pulang dari Inggris mampir di Kairo lalu bersama bersilaturrahmi dengan kawan-kawan KMNU (PCINU) Mesir. Dalam informasi disebutkan bahwa dia menderita penyakit tipus, ada pun tentang isu wabah corona masih dalam penyelidikan. Informasi ini semakin membuat hati saya cemas, gek gek (naudzu billah), kejadian itu menimpa juga diri saya.

Sekitar jam 16.00 saya turun ke lantai satu untuk ganti baju dan melaksanakan shalat Ashar. Karena kekhawatiran yang terus menerus menghantui, akhirnya saya memberanikan bicara kepada isteri dan anak-anak, bahwa saya ingin cek lab diantar dr. Dimas. Isteri saya kaget mendengar ucapan saya itu, karena selama itu ia mengkawatirkan saya kena penyakit yang sedang heboh .

“Papah engga sesak toh?” tanya isteri saya.

“Engga,” jawab saya hanya batuk yang tak kunjung mereda. Lalu anak saya, Nadia menyela:
” Mah, cek lab itu sama dengan cek up yang biasa papah mamah lakukan. Malah bagus dilakukan supaya penyakitanya segera diketahui secara dini, tetapi sebaiknya jika akan cek lab pun besok pagi saja setelah ayah bertugas.”

Mendengar penjelasan Nadia isteri saya tampak seperti belum percaya apa yang akan dilakukan di lab itu dan apa yang terjadi jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Saya shalat Isya berjamaah dengan keluarga. Pada kondisi seperti ini saya mengutamakan shalat berjamaah di rumah dan di rakaat terakhir membacakan do’a qunut nazilah, permohonan doa kepada Allah swt agar dijauhkan dari berbagai malapetaka terutama wabah Corona. Demikian pula shalat Jum’ah diganti dengan shalat zhuhur 4 rakaat di rumah. Setelah shalat saya minta isteri saya tidur di kamar Miah (demikian cucu saya memanggil mamahnya, Nadia) karena kebetulan ayah (panggilan untuk dr. Dimas) ada jadawal jaga di rumah sakit, sedangkan saya tidur di kamar saya sendiri.

Saya langsung masuk kamar karena ingin segera istirahat merebahkan badan. Isteri dan Nadia tidur di tengah rumah. Saya kembali berusaha untuk tidur tetapi sangat susah badan terasa menggigil lagi. Setelah melaksanakan ritual di saat menjelang dan bakda shalat shubuh, saya mengingatkan kembali keluarga bahwa pagi ini saya akan cek kesehatan di rumah sakit.

Bismillah Berangkat Cek Up

Sekitar pukul 09.00 saya pamitan dan minta do’a kepada isteri dan anak saya untuk pergi ke rumah sakit. Gocar yang sudah dipesan Nadia sudah siap di depan rumah. Begitu masuk mobil saya kagum dengan drivernya yang tampaknya sangat memahami untuk menghindari virus corona, dia menggunakan masker dan menyediakan cairan antiseptic untuk para pelanggannya.

Bismillah. Di sepanjang perjalanan saya tak berhenti berdoa dan minta dukungan doa dari anak saya yang berada di Pekanbaru dan Tasikmalaya. Karena perjalanan lenggang mobil yang saya tumpangi pun bisa melaju dengan cepatnya, sehingga jam 09.30 sudah tiba di RS PKU Gamping dan langsung menemui anak saya.

Anak saya, dr. Dimas bertugas di PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta, di bagian Unit Gawat Darurat. Jarak dari rumah ke rumah sakit sekitar 14 km. Setiap hari ia masuk rumah sakit dan terkadang berangkat sore hari, pulang sore hari berikutnya. Sebenarnya ia sudah punya rumah di jalan Kaliurang, tetapi karena Dimas dan Nadia keduanya sibuk, sementara Haikal cucu saya nomor empat ini tidak ada yang mengasuh, jadi untuk sementara tinggal di rumah saya. dr. Dimas sangat suntuk dengan pekerjaannya, apalagi di musim wabah Corona sekarang ini, maka sangat tepatlah apa yang dikatakan Presiden Jokowi dokter dan para medis lainnya adalah garda paling depan dalam menyalamatkan nyawa manusia.

Ketika akan masuk ruang UGD saya dicek suhu badan dan diminta membasuh tangan dengan cairan antiseptic yang sudah disediakan. Saya langsung masuk ruang UGD. Setelah menyelesaikan administrasi secara singkat saya diminta dr. Wulandari, SpEM (dokter spesialis emergency) untuk merebahkan badan di tempat berbaring yang sudah disediakan.

“Sebaiknya putranya saja Prof. yang memeriksa”, gumam dokter Wulan sambil menoleh dr. Dimas. Anakku hanya membalas dengan senyuman. “Mungkin ditangani dokter Wulan lebih afdlol celetukan saya, sok akrab.

Tampaknya dr. Dimas sudah menceritakan tentang saya. Saya disuruh tarik nafas panjang lalu mengeluarkannya, hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. “ Jantung dan paru-paru bagus, suara nafas bersih tidak ada suara lain yang menyertainya” kata dokter Wulan kepada anak saya, lalu dicatatnya di Rekam Medis.

“Ayo abah kita ke ruang Rontgen, kata anak saya. Setelah mengucapkan terima kasih saya pamit ke dr.Wulandari lalu mengikuti anak saya ke ruang Rontgen yang tidak begitu jauh.

PKU Gamping cukup luas dan bersih. Pasien disediakan tempat menunggu di ruang yang cukup terbuka. Di ruang tunggu saya hanya menunggu sekitar lima menit, karena tak lama kemudian diminta masuk ke ruang rontgen, lalu disuruh menaruh jaket dan topi di tempat yang sudah disediakan, lalu disuruh mendekap alat rontgen. Hanya dalam hitungan detik proses rontgen sudah selesai. Lalu saya diajak anak saya untuk diambil darah.

Proses ini pun sangat singkat. Lalu berkas-berkas diserahkan nak Dimas ke bagian kasir. Ayah ! abah ga bawa uang cash apa bisa di sini digunakan kartu debit? , ucap saya. “Biar ayah saja yang nyelesaiin, tukas anak saya. Abah sekarang tunggu istirahat di mobil, ayah mau mandi dulu, sambil menunggu hasil lab. Alhamdulillah, terima kasih ayah. Tak terasa air mata saya menetes. Saya sangat terharu atas pengabdiannya ini.

Proses cek lab di PKU gamping dan sangat singkat, karena tepat pukul 10.00 saya sudah istirahat di mobil. Ini semua karena berkat pertolongan anak saya yang kebetulan bertugas di sana. Setelah itu saya cukup lama menunggu di mobil, karena jam 11.00 nak Dimas belum juga tiba. Penyakit kekhawatiran saya muncul kembali. Jangan-jangan hasil lab kurang menggembirakan. Waswas dan ketakutan menghantui saya, apalagi persediaan air minum sudah habis. Tak lama kemudian anak saya membuka pintu belakang sambil berkata: “Abah ada bakteri bronkhitis, makanya ayah agak lama karena konsultasi ke dua dokter spesialis. Abah perlu istirahat lagi di rumah selama dua pekan dan makan obat ini, sambil memperlihatkan resep obat di saku bajunya.

Saya menjadi tambah penasaran apa yang dimaksudkan bakteri bronkitis. Lalu dr. Dimas menjelaskan: Bronkitis itu radang selaput bronkial, yang membawa udara ke dan dari paru-paru, disebabkan dua macam infeksi bakteri dan virus. Bronkitis bakteri biasanya bisa disembuhkan dengan menkonsumsi obat batuk dan antibiotik, tetapi bronkitis yang disebabkan virus tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, sehingga pasien harus direhabilitasi secara intensif. Alhamdulillah gumam saya.

Banyak orang dan saya sebelum ini sering berasumsi dan ketakutan jika menderita penyakit batuk lalu pikiran langsung dihubungkan dengan wabah corona. Makanya jika kita batuk, demam, dan bersin segera konsultasi ke dokter atau Puskesmas terdekat. Untung saja di rumah saya ada dokter.

Saya mengucapkan banyak terima kasih dan respek yang setinggi-tingginya kepada para dokter dan seluruh paramedis yang telah mengabdikan seluruh waktu, tenaga dan jiwanya untuk kesehatan seluruh anak bangsa. Semoga Allah swt. memberikan pahala yang berlipat ganda.

*Prof. DR. Syihabuddin Qalyubi Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu BudayaUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close