Masyarakat Perfilman Tak Percaya Hasil FFI 2017

16:20
380
JAKARTA, SENAYANPOST.com - Mengkritisi penyelenggaraan perfilman saat ini, Forum Peranserta Masyarakat Perfilman (FPMP) menyatakan tidak percaya terhadap ha

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Mengkritisi penyelenggaraan perfilman saat ini, Forum Peranserta Masyarakat Perfilman (FPMP) menyatakan tidak percaya terhadap hasil FFI 2017 ini. Karena itu, FPMP menyesalkan cara-cara pelaksanaan Festival Film Indoensia (FFI) 2017 ini.

“FFI pelanggaran Peraturan dan Perundang-undangan, FPMP juga tidak mempercayai hasil-hasil FFI 2017 sebagai kelanjutan dari sejarah diselenggarakannya FFI sejak 1955,” demikian keterangan pers yang disampaikan kritikus film Wina Armada di Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Sonny Pudjisasono dari Pusat Perfilman H Usmar Ismail, juga menyampaikan, semangat dari sikap ini adalah dalam kerangka menjaga marwah ‘Piala Citra’ sebagai simbol penghargaan tertinggi bagi prestasi artistik film Indonesia.

“Piala Citra menjadi simbol penghargaan di FFI untuk film-film Indonesia sebagaimana yang diperjuangkan Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Jadi, tidak lucu kalau Piala Citra dibagi-bagi untuk arah dan tujuan yang berbeda,” kata Sonny.

Apalagi, nama Citra itu sendiri berasal dari syair karya Usmar Ismail, yang kemudian menjadi lagu, lantas difilmkan dua kali oleh Usmar Ismail.

Karena itu, FPMP mendukung dilakukannya audit khusus pada dana APBN dan APBD yang dialokasikan untuk penyelenggaraan FFI dan untuk Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Masyarakat Perfilman mendesak Pengurus BPI untuk patuh pada Undang-undang Perfilman yang menjadi dasar pembentukannya, menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADRT) sesuai Kongres BPI, menjalankan amanat kongres, serta terbuka, adil, dan demokratis bagi seluruh unsur stakeholders BPI.

FPMP juga menyesalkan sikap pemerintah yang terus-menerus tidak menepati janji untuk melaksanakan amanat UU Perfilman berupa penerbitan Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN) serta Peraturan Pemerintah atau Keputusan Menteri yang memberi perlindungan dalam tata edar Film Indonesia.

“Masalah tata edar ini sangat penting bagi kami, karena kami sebagai pembuat film merasa benar-benar menjadi anak tiri di negeri sendiri,” kata produser Nicky Rewa. (AF)

Comments

comments