Opini

Marilah Berdoa dengan Menyebut Amal Saleh Terbaik yang Pernah Kita Lakukan

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Ya Allah, Tuhan Yang Mahamelindungi. Lindungilah kami semua dari bala’ dan waba’ covid-19. Ya Allah, bila hamba-Mu yang satu ini pernah melakukan suatu perbuatan yang benar-benar membuat Engkau ridha dan ‘terseyum”, hamba-Mu ini, dengan keridhaan dan penerimaan-Mu dengan perbuatan tersebut, lindungilah kami semua dari covid-19, allâhumma âmîn, birahmatika wa bifadhlika, ya Allah.”

Tak terasa, doa pelan dan penuh harapan, meluncur pelan dari bibir saya. Beberapa waktu yang lalu, ketika melihat Pesantren Nun, yang kami asuh, sedang disemprot dengan desinfekstan. “Lo, kenapa dalam berdoa tersebut, Anda menyebut ‘perbuatan yang benar-benar membuat Allah ridha dan ‘tersenyum’?” Mungkin, ada yang bertanya demikian. Demikianlah yang pernah dipesankan oleh Rasulullah Saw.

Bagaimana kisah pesan indah Rasulullah Saw. tersebut?

Suatu hari Rasulullah Saw., sebagaimana biasa, bertemu dengan sejumlah sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah. Untuk membahas berbagai hal. Kesempatan itu beliau manfaatkan untuk menekankan nilai amal saleh yang dilakukan semata demi Allah Swt., dalam menopang keterkabulan suatu doa kepada-Nya, lewat sebuah kisah.

“Suatu ketika ada tiga orang sedang berjalan di kawasan perbukitan dan tiba-tiba hujan turun,” tutur Rasulullah Saw. “Mereka lantas berlindung ke dalam sebuah gua di bukit tersebut. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh menutup mulut gua, sehingga mengurung mereka di dalamnya. Melihat hal yang demikian, kemudian salah seorang di antara mereka mengatakan kepada yang lain, ‘Ingat-ingatlah amal saleh yang pernah kalian lakukan hanya karena Allah Swt. semata. Lalu, berdoalah kepada-Nya. Dengan menyebut amal saleh itu. Semoga Allah Swt. meniadakan kesulitan kita!’

Maka salah seorang di antara mereka berdoa, ‘Ya Allah! Saya punya dua orang tua yang sudah berusia sangat lanjut, seorang istri, dan beberapa anak yang masih kecil. Saya menghidupi mereka dengan menggembala ternak. Setiap kali saya pulang ke rumah, saya segera memerah susu dengan mendahulukan kedua orang tua saya. Susu itu saya berikan kepada mereka berdua sebelum anak-anak saya. Suatu hari saya mendatangi tempat penggembalaan yang jauh, sehingga saya baru tiba di rumah ketika malam telah larut dan kedua orang tua saya telah tidur pulas. Saya pun segera memerah susu seperti biasanya. Air susu itu kemudian saya bawa kepada orang tua saya, lalu saya berdiri di sisi kepala mereka berdua. Saya segan membangunkan mereka. Saya tidak berkeinginan untuk meminumkan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum kedua orang tua saya meminumnya dulu. Padahal, anak-anak saya berkerumun di kaki saya. Keadaan demikian berlangsung hingga fajar tiba. Ya Allah, jika Engkau tahu saya melakukan tindakan tersebut hanya mengharap ridha-Mu, maka dengan tindakan itu bukalah untuk kami suatu celah lubang sehingga kami bisa melihat cahaya!’

Maka, Allah membukakan suatu celah lubang berkat amal saleh orang tersebut. Sehingga, mereka dapat melihat cahaya. Melihat hal itu, orang yang kedua berdoa, ‘Ya Allah! Saya mempunyai saudara sepupu perempuan yang saya cintai sebagaimana cinta laki-laki yang membara kepada perempuan. Suatu saat saya mengajaknya berbuat mesum. Tetapi, ia menolak kecuali jika saya memberinya uang seratus dinar. Saya pun berupaya dengan susah payah untuk mengumpulkan uang seratus dinar tersebut. Ketika uang tersebut terkumpul, kemudian uang itu saya bawa kepadanya. Ketika saya siap menggagahinya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah dan janganlah engkau membuka pakaianku kecuali dengan cara yang benar!’ Maka, saya pun menghindar darinya. Ya Allah! Jika engkau tahu bahwa saya menghindar darinya hanya karena mengharap ridha-Mu, maka dengan tindakan saya itu bukalah suatu celah dari gua ini untuk kami!’’

Maka, Allah membukakan suatu celah lubang lagi untuk mereka. Melihat hal itu, orang yang ketiga berdoa, ‘Ya Allah! Saya pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan ladang padi dengan cara bagi hasil. Ketika dia telah menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata, ‘Berikanlah hak saya kepada saya.’ Namun, saya tidak memberikan haknya kepadanya, sehingga dia sangat jengkel. Setelah itu saya menanami ladang tersebut, sehingga hasilnya bisa saya kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dengan beberapa orang penggembalanya. Selepas itu, orang yang dulu haknya tidak saya berikan mendatangi saya. Ucapnya, ‘Takutlah kepada Allah dan janganlah berbuat zalim kepada saya.’ Jawab saya, ‘Pergilah ke beberapa ekor sapi beserta para penggembalanya dan ambillah semuanya!’ Ucapnya lagi, ‘Takutlah kepada Allah dan janganlah engkau menghinaku!’ Jawab saya, ‘Sungguh, saya tidak menghinamu! Ambillah sapi-sapi itu beserta para penggembalanya!’ Maka, ia pun mengambil sapi-sapi itu dan membawanya pergi. Ya Allah! Jika Engkau tahu bahwa saya melakukan tindakan itu hanya mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah bagi kami bagian dari pintu gua yang masih belum terbuka!’

Maka, Allah membukakan bagian gua yang belum terbuka, sehingga mereka bertiga kemudian dengan leluasa dapat keluar dari gua.” Usai bercerita demikian, Rasulullah Saw. pun mengakhiri pertemuan hari itu.

Para sahabat dan kerabat yang saya hormati dan cintai. Kini, marilah kita berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah Swt., dengan menyebut amal terbaik yang pernah kita lakukan dan menurut Anda amal tersebut rasanya Allah Swt. ridha dan ‘tersenyum’ kepada Anda karena amal tersebut. Berdoalah, kiranya kita semua dilindungi dari covid-19 dan virus itu segera sirna, allâhuma amin! Terima kasih. (**)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close