Opini

Mantiqu’t Thair

Oleh: Asep Saifuddin

YA. Para burung yang tengah dikarantina sedang berkicau di media sosial. Musyawarah burung: mencari pintu keluar. Terlepas dari sangkar.

Elang, Rajawali, Itik, Gereja, Ayam Hutan, Merpati, Tekukur, Garuda, Merak saling berebut mikropon menyampaikan isi pikiran.

Sayang tak ditemukan Hud Hud. Seorang pemimpin yang konon punya kemampuan terbang menunjukkan rute ke Gunung Qaf: mengahampiri Simguh dan memohon kemurahan menganugerahkan vaksin yang digenggamnya.

Hud Hud yang tempo hari sempat membuka musyawarah dan biantara, “Tiada negeri di dunia ini yang tak beraja. Maka bagaimana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Keadaan demikian tak bisa dibiarkan terus. Kita mesti berusaha bersama-sama untuk mencarinya; karena tiada negeri yang mungkin memiliki tata usaha yang baik dan tata susunan yang baik tanpa raja. Burung-burung yang terhormat…Aku bicara dengan Sulaiman dan aku yang paling penting di antara para pengikutnya. Bertahun-tahun aku telah mengelana di laut dan di darat, lewat di atas gunung-gunung dan lembah-lembah. Kucakup ruangan maha luas di masa banjir besar; aku menyertai Sulaiman dalam perjalanan-perjalanannya, dan aku telah mengukur batas-batas dunia.”

Burung-burung yang dikarantina. Sibuk berkicau di dinding media sosial yang diam-diam menjelma tembok ratapan atau tempat berkecamuknya umpatan dan kecurigaan.

Dan selepas itu, meminjam “Kabar dari Laut” Chairil Anwar, “…Burung mati pagi hari di sisi sangkar.”

* Penulis, pendidik, tinggal di Jawa Barat.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close