Mantan Miss World Malaysia Soroti Kebutuhan Fasilitas 'Baby Hatch'

Mantan Miss World Malaysia Soroti Kebutuhan Fasilitas 'Baby Hatch'
Mantan Miss World Malaysia, Larissa Ping

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menyusul kasus pembuangan bayi baru-baru ini di Sarawak, Malaysia, mantan Miss World Malaysia, Larissa Ping, menyoroti bahwa satu-satunya Baby Hatch atau 'tempat membuang bayi' di Kuching telah berhenti beroperasi.

Melansir laman Says, Sabtu, (16/1/2021), pada Rabu, (13/1/2021), publik menemukan jenazah bayi yang baru lahir di pinggir jalan. Kapolsek Kuching ACP Awang Din Awang Gani mengatakan pada Daily Report bahwa pihak berwenang menerima telepon terkait insiden tersebut sekitar pukul 21.20, waktu setempat.

"Bertindak sesuai informasi, tim polisi diturunkan ke lokasi kejadian dan menemukan mayat tergeletak di jalan dengan luka di kepala," kata Awang Din.

Polisi percaya bahwa bayi yang baru lahir itu terlempar ke jalan dari kamar hotel tempat mereka menemukan sang ibu. Astro Awani melaporkan, polisi telah menangkap wanita berusia 19 tahun itu.

Jenazah bayi kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Sarawak untuk tindakan lebih lanjut dan tersangka juga dirawat di rumah sakit. Kasus tersebut saat ini sedang diselidiki.

Larissa, yang merupakan penduduk asli Sarawak, angkat suara di Twitter tentang masalah ini. Ia bermaksud meningkatkan kesadaran tentang fasilitas Baby Hatch yang berlokasi di Rumah Sakit KPJ, Kuching, Malaysia.

"Saya menelepon KPJ Kuching sampai dua kali untuk mengonfirmasi. Mereka mengatakan telah berhenti mengoperasikan Baby Hatch setelah pindah ke rumah sakit baru. Tak ada 'pintu bayi' sama sekali di Kuching sekarang," kata pemenang kontes kecantikan pada 2018 tersebut.

Identitas pelaku yang menempatkan bayi di Baby Hatch, sambung Larissa, akan tetap anonim karena sistem CCTV tak akan dipasang. "Tak ada yang akan menghakimi Anda. Tak ada yang bakal menilai Anda, jika Anda melakukan hal yang benar. Bayi Anda akan berada di tangan yang tepat," katanya menyambung.

Namun demikian, keberadaan Baby Hatch sebagai tempat penampungan bagi bayi-bayi yang 'secara terpaksa' tak diinginkan para ibu sebenarnya telah lama menimbulkan pro-kontra. Tak hanya di Malaysia, namun juga negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, yang mempertanyakan keefektifan fasilitas tersebut.

Berdasarkan laporan BBC, pusat penelitian kesejahteraan nasional Denmark, Vive, telah meneliti peran Baby Hatch di Eropa.

"Di Jerman, penurunan jumlah bayi terlantar yang ditemukan meninggal di luar rumah belum tercatat sejak 2000," kata Marie Jakobsen, kepala analis di Vive, menurut The Copenhagen Post.

Michelle Oberman, seorang profesor hukum di Sekolah Hukum Universitas Santa Clara California, dan pakar masalah hukum dan etika seputar masa remaja, kehamilan, dan keibuan, mengatakan bahwa sulit menyebut Baby Hatch adalah ide yang buruk, kendati banyak orang salah kaprah.

Ini, kata Oberman, adalah 'tempat aman' bila pilihan lainnya adalah membuang bayi ke tempat sampah. Masalah utamanya, sambung Oberman, inisiatif ini tak mungkin mencapai target mereka.

Wanita hamil yang tiba-tiba melahirkan sendiri sering kali adalah remaja berusia sangat muda yang telah menyangkal atau menyembunyikan kehamilan mereka karena takut dan malu. "Sulit membayangkan bahwa segera setelah melahirkan, sendirian di kamar mandi, mereka diharapkan 'sadar' hukum," kata Oberman.