Nafisa al-Bayda

Mantan Budak yang Menjadi Penguasa Tanpa Mahkota

Mantan Budak yang Menjadi Penguasa Tanpa Mahkota
SENAYANPOST.com

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Nama Fathimah binti Muhammad al-Fihriyah al-Qurasyiyah dan Zubaidah binti Ja‘far bin Abu Ja’far al-Manshur mungkin banyak orang yang telah mendengarnya. Sosok pertama adalah pendiri Universitas Qarawiyyin di Fez, Maroko. Sedangkan Zubaidah biti Ja‘far, permaisuri Harun al-Rasyid, terkenal sebagai pembuat ‘Ain Zubaidah, saluran air memanjang sekitar 10 kilo meter dari Makkah hingga  Hunain pada masa silam. Lain lagi dengan Nafisa al-Bayda. Sosok terakhir ini mungkin tidak banyak yang mengenalnya. Padahal, perempuan yang satu itu terkenal sebagai penguasa tanpa mahkota yang berani menghadapi Napoleon Bonaparte dan pasukannya yang berusaha menduduki Mesir.

Berikut kisah perempuan cantik, cerdas, dan cekatan serta mampu “mendaki”, dari posisinya sebagai seorang budak hingga, akhirnya, menjadi seorang penguasa tanpa mahkota:

DENGAN tubuh lunglai, karena kecapaian, sore itu ia berhenti di hadapan sebuah istana indah dan megah. Ketika memandangi keindahan dan kemegahan istana yang kini berada di hadapannya, tidak terasa bibirnya menggumamkan sesuatu. Gumam yang mengungkapkan kekagumannya terhadap istana itu. 

Ketika ia mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam istana, bersama budak-budak dari kawasan Anatolia, Sirkasia, dan Kaukasia,  segera ia bagai terbuai dalam alam mimpi. Ia lupa dengan segala kepenatan selama di perjalanan. Juga, ia segera lupa dengan hingar bingar pasar budak Sirkasia dan merasa sedang memasuki surga.

Namun, segera budak perempuan muda berkulit putih asal Georgia itu pun menyadari keterbuaian dirinya. Segera, terdengar olehnya suara berbisik-bisik, kemudian memanggil dengan nama Nafisa. Ia diam seribu kata. Namun, perempuan yang membeli dirinya segera membisikinya, ia sejatinya yang dimaksud. Itulah nama yang diberikan kepadanya. Nama yang tepat dengan sosok dirinya yang cantik, cerdas, dan ceria.  Nasib mujur tampaknya sedang tersenyum kepada Nafisa dan mengantarkannya dari kawasan perbukitan di Sirkasia menuju Istana Ali Bey al-Kabir, penguasa Mesir tempat kini ia berada. Kini, ia menjadi salah seorang budak perempuan penguasa itu. 

Pemberani dan Memiliki Ide Cemerlang

Hari demi hari pun berlalu. Perempuan yang membawa Nafisa, Kepala Urusan Rumah Tangga Istana, merasa tidak salah atas pilihannya terhadap diri Nafisa. Segera, dalam benaknya membersit ide “gila”: mengenalkan Nafisa kepada tuannya, Ali Bey al-Kabir. Ia pun menyuruh Nafisa untuk berada di suatu tempat yang  kerap dilalui tuannya. Tanpa menyadari maksud Kepala Urusan Rumah Tangga Istana itu, Nafisa pun segera melaksanakan perintah tersebut. Benar, ketika Ali Bey lewat di tempat itu, pandangannya seakan tidak mau beralih dari diri Nafisa.

Segera pula, Nafisa beralih menjadi budak perempuan idaman tuan barunya: Ali Bey al-Kabir. Segera pula, ia beralih ke tempat yang pernah ia angan-angankan: sendirian tanpa disertai  budak-budak perempuan lainnya. Lalu, ia pun dipindahkan ke Istana Ezbekiyah. Di istana baru itu, kedudukannya tidak lagi sebagai budak. Namun, sebagai seorang putri. Yang senantiasa diiringi para dayang. Namanya pun kini lebih terkenal dengan sebutan Nafisa al-Bayda (atau Nafisah si Cewek Bule). 

Suatu hari, Ali Bey al-Kabir mengemukakan kepada Nafisa, ia ingin menjadi penguasa tunggal Mesir. Ia tidak ingin lagi menjadi bawahan sultan Turki atau kekuasaan lain manapun. Nafisa pun menyarankan kepada tuannya, supaya sang tuan memasang mata-mata di sendiri maupun di Istanbul, Turki: untuk mencari kesempatan membebaskan diri.

Mendengar saran Nafisa yang demikian, Ali Bey benar-benar terperangah. Entah mengapa, pada diri Nafisa ia menemukan tempat menumpahkan segala bersitan pikiran yang menggelora dalam benaknya. Baginya, perempuan yang satu itu tidak kalah  pemberani daripada dirinya yang terkenal sebagai jagoan di medan laga. 

Lantas, pada 1768, Ali Bey menerima sepucuk surat pribadi dari Sultan Turki: Mustafa III. Ia pun segera menemui Nafisa di Istana Ezbekiyah. Ali Bey kemudian membisiki Nafisa: perang sedang menjeratkan jaringnya antara Turki dan Rusia. Sultan Turki meminta Ali Bey untuk membantu Turki. Dengan mengirimkan 12.000 serdadu. Mendengar bisikan demikian, Nafisa pun tersenyum. Lalu, ucapnya kepada Tuannya, “Tuan! Inilah kesempatan yang telah lama Tuan nanti-nantikan!”

Ali Bey al-Kabir lantas menghimpun pasukan dalam jumlah besar. Tanpa menimbulkan kecurigaan Wakil Sultan atau Wakil Pasukan Janissary di Mesir. Juga, tanpa membangkitkan kebencian dari para bangsawan Mamluk. Sebab, ia melakukan tugas untuk memenuhi permintaan Sultan. Namun, sejatinya, dalam benaknya bergelora pikiran lain: inilah kesempatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sultan Turki. Meski dengan kekerasan. Inilah kesempatan pertama kalinya bagi pasukan Mesir, sejak negeri itu dikuasai Turki, melepaskan diri dari pasukan Turki dan campur tangan wakil panglima pasukan Janissary. Namun, “tangan-tangan” yang diwarnai kebencian pun segera menebarkan berita: Ali Bey menggerakkan pasukan Mesir untuk menumbangkan Sultan Turki, sesuai dengan kesepakatan yang ia lakukan dengan penguasa Rusia. Sebagai imbalannya, Ali Bey akan tidak lagi berada di bawah kekuasaan sang sultan. 

Segera berita itu sampai ke Istanbul, Turki. Sultan Turki kala itu pun segera melupakan “urusannya” dengan Rusia. Segera pula, sang sultan memasang kuda-kuda untuk menghadapi saingan baru. Ia pun segera mengirim utusan ke Mesir. Untuk menemui wakilnya di Kairo: Mehmet Pasya. Berkat jaringan mata-mata rapi seperti yang disarankan Nasifa al-Bayda, Ali Bey segera mengetahui rencana Sultan Turki. Ia pun  berhasil menumbangkan rencana yang disusun sang sultan. Maka, pada 1769, Ali Bey pun mengumumkan kemerdekaan Mesir dan Hijaz dan menyebut dirinya sebagai Sultan Mesir.

Dengan naiknya Ali Bey ke pentas kekuasaan  tertinggi Mesir, naik pulalah kedudukan Nafisa al-Bayda. Meski kini berkedudukan tinggi,  namun kedua tangannya tetap senantiasa terbuka bagi orang-orang yang memerlukan bantuan dan pertolongannya. 

Naiknya Ali Bey al-Kabir ke pentas kekuasaan, ternyata, tidak dapat meredam upaya untuk menurunkannya. Sebab, tidak lama kemudian, Muhammad Abu al-Dzahab, panglima pasukan Mesir di Suriah, dengan topangan Ibrahim Bey, suami saudara perempuan  Ali Bey, Murad Bey, dan yang terpenting Nafisa al-Bayda, berhasil menggeser Ali Bey al-Kabir

Kekuasaan Bukan Segala-galanya

Selepas Ali Bey tergeser, Nafisa al-Bayda pun menikah dengan Murad Bey. Dari sini, ia kemudian mendapat nama tambahan: Nafisa al-Bayda al-Muradiyah. Segera, ia memasuki istana sang suami yang menjadi penguasa Mesir. Mulailah mantan budak perempuan asal Georgia itu membangun negerinya kini: Mesir. Namun, keadaan yang demikian itu tidak berlangsung lama. Pada 30 Juni 1798 mendaratlah Napoleon Bonaparte dan pasukannya di Pelabuhan Alexandria. Tidak lama kemudian, Napoleon dan pasukannya bergerak menuju Kairo. Terjadilah Pertempuran Piramid, antara pasukan Perancis dan pasukan Mamluk di bawah pimpinan Murad Bey. Namun, ketika melihat pasukannya mengalami kekalahan, Murad Bey pun melarikan diri dari medan pertempuran. Ia bersembunyi di bawah naungan Nafisa al-Bayda alias Nafisa al-Muradiyah. 

Kini, Nafisa al-Baydalah yang memegang kendali perlawanan terhadap pasukan Perancis. Ia juga yang mengatur sederet  pertemuan rahasia antara pasukan perlawanan dengan suaminya di persembunyian. Namun, perlawanan mereka berhasil ditumbangkan pasukan Perancis yang membawa peralatan tempur tercanggih kala itu.

Melihat kegagalan itu, Nafisa al-Bayda pun mengubah taktik perlawanannya. Ia mendekati Napoleon Bonaparte dan para jenderalnya. Segera, ia menerima limpahan berbagai hadiah. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, hadiah-hadiah itu ia kirimkan ke daerah-daerah. Sebagai bekal perlawanan. Malah, ia juga membawa menghadap suaminya kepada Napoleon, untuk menandatangani perjanjian perdamaian. Tindakan Nafisa ini tidak mendapat tentangan dari gerakan perlawanan di Mesir, karena mereka mengetahui jati diri Nafisa.

Kemudian, pada September 1801, tiba-tiba Napoleon Bonaparte meninggalkan Mesir. Balik ke negerinya: Perancis. Sebagai gantinya, ia menunjuk Jenderal Jean-Baptiste Kleber sebagai penggantinya. Segera, berbagai perlawanan terhadap pasukan pendudukan Perancis pun meledak lagi. Apalagi, kini mereka telah mampu menggunakan senjata baru dan malah mampu membuatnya dengan mesiunya. Jenderal Kleber dan pasukannya pun kewalahan dalam menghadapi perlawanan-perlawanan yang hampir tidak dapat dipadamkan.

Melihat pasukan pendudukan Perancis di  Mesir sedang kedodoran, Turki pun membujuk Inggris untuk membiarkannya memasuki kembali Mesir. Untuk mendepak pasukan pendudukan Perancis dari Negeri Piramid. Segera, pasukan Turki mendarat di Mesir. Dengan bantuan pasukan perlawanan Mesir, pasukan Turki berhasil mengusir pasukan pendudukan Perancis yang dibawa Napoleon Bonaparte ke negeri itu. Ketika pertempuran di antara dua pasukan itu sedang berkobar, Murad Bey, suami Nafisa al-Bayda, berpulang.

Kekalahan pasukan pendudukan Perancis, dalam pertempuran tersebut, disambut suka cita oleh orang-orang Mesir. Namun, kegembiraan itu  tidak berlangsung lama. Pasukan Turki lupa dengan janjinya: memperlakukan dengan baik  orang-orang Mesir. Tidak terkecuali terhadap Nafisa al-Bayda. Mereka mengusirnya dari istananya. Ini karena mereka mengira istananya menjadi tempat penyimpanan harta kekayaannya. Padahal, hartanya telah habis ia serahkan pada gerakan perlawanan Mesir dalam menghadapi pasukan pendudukan Perancis. Dengan disertai dua pengiringnya, Nafisa al-Bayda pun pindah ke sebuah rumah kecil di dekat Benteng Shalahuddin al-Ayyubi.

Mengetahui keadaan Nafisa al-Bayda yang demikian, amarah orang-orang Mesir pun membara. Mereka pun berontak. Tumbanglah penguasa Turki yang mengusir Nafisa dari istananya: Ahmet Khursyid. Nafisa pun kembali ke istananya: mengisi kehidupannya yang telah memasuki masa senja, hingga berpulang, dengan berbagai amal kebajikan dan  jauh dari pentas kekuasaan. Salah satu peninggalannya adalah Sabil-Kuttab di dekat Masjid Sultan al-Muayyad di dekat Bab Zuwayla, Kairo. Bangunan unik terdiri dari dua lantai itu merupakan gabungan antara sabil dan kuttab. Sabil merupakan bangunan untuk menyimpan air minum bagi para musafir. Dulu, sabîl merupakan hal yang biasa didapatkan di berbagai penjuru Dunia Islam, khususnya di Mesir. Sabîl sendiri kala itu dikategorikan sebagai salah satu bangunan arsitektural keagamaan. Sedangkan kuttab merupakan sekolah agama bagi anak-anak yang sedang memelajari Alquran.

Itulah kisah Nafisa al-Bayda alias “Nafisah si Cewek Bule”. Baginya,  yang pernah berada di atas puncak kekuasaan negerinya, meski tanpa mahkota, kekuasaan bukan segala-galanya. Ya, baginya, kekuasaan bukan segala-galanya!@ru