Malaysia Darurat Corona, Klaster Keluarga Tak Tertampung Lagi di RS

Malaysia Darurat Corona, Klaster Keluarga Tak Tertampung Lagi di RS
Ilustrasi penanganan pasien corona

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Malaysia menghadapi lonjakan kasus baru dan memecahkan rekor penambahan kasus harian dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, Pemerintah mengumumkan penguncian parsial di sejumlah wilayah. 

Rumah sakit dipenuhi pasien Covid-19 dan tak bisa menampung lagi.

Klaster keluarga salah satunya dialami keluarga Yong, 49. Ibu rumah tangga itu dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Januari ketika menjalani skrining drive-thru pribadi. 

Sejak didiagnosis, kelima anggota keluarga lainnya juga dinyatakan positif, termasuk ibu dan ayah mertuanya yang sudah lansia yakni berumur 77 tahun.

Dalam keadaan positif dan butuh penanganan, mereka dibiarkan menunggu kabar dari Kementerian Kesehatan, untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan selanjutnya. Penantian itu dinilai menyakitkan karena menanti telepon berdering.

Keluarga Yong termasuk di antara banyak orang Malaysia yang terjebak dalam kebingungan. Mereka sakit tetapi belum dibawa ke rumah sakit untuk karantina dan perawatan medis.

Bulan lalu, Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah berbicara tentang masalah yang dihadapi oleh sistem kesehatan masyarakat dalam upaya membawa pasien ke rumah sakit, khususnya di Lembah Klang. Para pasien asimtomatik diminta isolasi mandiri di rumah masing-masing.

“Saya mengerti Kementerian Kesehatan kewalahan dengan semua kasus, tetapi mereka perlu melakukan sesuatu tentang ini,” kata Yong dikutip Jawapos dari Free Malaysia Today, Sabtu (16/1/2021).

“Mereka harus memperbarui prosedurnya karena situasi seperti ini tidak adil,” imbuhnya.

Yong berkata bahwa selain putrinya yang lebih muda, yang tidak menunjukkan gejala, semua orang di rumahnya telah menunjukkan gejala. Dia dan putrinya semua mengalami batuk, punggung dan badan sakit, serta demam. Anggota keluarga kelompok lansia mengalami yang paling buruk, gejala diare, dehidrasi, dan tekanan darah tinggi.

“Ayah mertua saya dalam kondisi yang sangat buruk. Setelah beberapa saat, dia tidak bisa fokus dan ketika Anda berbicara dengannya, dia akan melihat Anda, kosong. Ketika Anda mengajukan pertanyaan kepadanya, dia nyaris tak sadar” ungkapnya.

Pada Minggu (10/1), dia akhirnya berhasil membawa kedua anggota keluarga yang lebih tua ke Rumah Sakit Sungai Buloh. “Rumah sakit swasta tidak mau menerimanya, dan rumah sakit pemerintah mengatakan sudah penuh. Akhirnya, saya bertanya kepada mereka siapa yang dapat saya tuntut jika sesuatu terjadi pada mereka, dan baru kemudian mereka mengatakan bahwa mereka memiliki dua tempat tidur yang tersedia untuk orang tua,” ujar Yong sedikit kesal.

Bahkan, Yong menyewa dua ambulans pribadi untuk membawa mereka ke Rumah Sakit Sungai Buloh. Yong mengatakan ketika mertuanya sedang dalam pemulihan dan anggota keluarga lainnya diisolasi di rumah, dia bertanya-tanya mengapa keluarganya tidak memerlukan penanganan dari Kementerian Kesehatan.

“Saya melakukan tes drive-thru, dan asisten lab memberi tahu saya bahwa mereka meneruskan daftar kasus yang dikonfirmasi ke kementerian kesehatan setiap hari. Saya tidak tahu harus percaya siapa, karena sampai sekarang saya belum mendengar atau menerima telepon dari siapa pun,” katanya.

Dia mengatakan sudah saatnya rumah sakit swasta digunakan untuk merawat pasien Covid-19, dan berharap kementerian dapat terus mengembangkan prosedur operasi standar untuk menghadapi tantangan baru. Kementerian Kesehatan belum menanggapi hal ini.