Internasional

Makin Terjepit, Najib Terseret Kasus Pembunuhan Model Cantik Mongolia

KUALA LUMPUR, SENAYANPOST.com – Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak makin tersudut. Najib yang terjerat dalam pusaran skandal mega korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), kini dikaitkan dalam kasus pembunuhan model cantik asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, yang akan diselidiki kembali oleh otoritas Malaysia.

Pekan ini, Jaksa Agung Malaysia Tommy Thomas mengisyaratkan penyelidikan kasus pembunuhan Altantuya akan dibuka kembali. Ini disampaikannya setelah bertemu dengan ayah mendiang Altantuya, Dr Shaariibuu Setev, yang mengunjungi Malaysia dalam rangka mencari keadilan bagi putrinya.

“Saya bisa mengonfirmasi kita membuka kembali penyelidikan,” tegas Kepala Kepolisian Federal Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun kepada media Malaysia, The Star, Kamis (21/6).

“Kami membuka kembali penyelidikan berdasarkan pada laporan polisi yang lama dan laporan baru yang diajukan di Dang Wangi,” ujar Mohamad Fuzi, merujuk pada lokasi markas Kepolisian Kuala Lumpur.

Namun Najib membantah terlibat dalam kasus pembunuhan model Mongolia itu. Dia mengaku tak ada bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatannya.

“Kasus Altantuya telah ditangani. Tidak ada bukti apapun soal saya pernah bertemu dengannya, tidak ada dokumen, tidak ada foto atau saksi mata untuk menyebut saya mengenalnya,” ucap Najib dalam wawancara eksklusif dengan Reuters.

Altantuya berusia 28 tahun saat dibunuh di sebuah hutan dekat Subang Dam, Puncak Alam, Shah Alam, Malaysia tahun 2006.

Dia diyakini ditembak mati sebelum jenazahnya diledakkan hingga hancur berkeping-keping. Tahun 2009, dua mantan polisi Malaysia bernama Sirul Azhar Umar dan Azilah Hadri divonis mati atas pembunuhan ini.

“Kasus itu telah disidangkan secara patut dan nama saya tidak muncul selama persidangan,” sebut Najib. “Saya siap direkam untuk disumpah di sebuah masjid dalam nama Allah bahwa saya tidak terlibat kasus ini,” tegasnya.

Di sisi lain, kelompok-kelompok masyarakat sipil menduga pembunuhan Altantuya terkait perannya sebagai penerjemah dan rekan Abdul Razak Baginda, mantan penasihat Najib. Sebab, Altantuya diduga mengetahui korupsi pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari perusahaan raksasa Prancis, DCNS tahun 2002.

Pembelian kapal selam itu diduga kuat sarat penyuapan. DCNS disebut-sebut membayar ‘komisi’ lebih dari 114 juta Euro kepada beberapa pejabat Malaysia.

Dicurigai, Altantuya mengetahui praktik penyuapan itu dan dibunuh untuk dibungkam. Najib sebelumnya telah membantah tuduhan terkait Altantuya maupun tuduhan korupsi dalam pembelian kapal selam tersebut.

Namun diketahui bahwa pembelian kapal selam itu terjadi saat Najib menjabat Menteri Pertahanan Malaysia antara tahun 2000-2008 dan Abdul Razak menjadi penasihatnya. Baik Sirul maupun Azilah masih aktif menjadi pengawal Najib saat pembunuhan terjadi.

Pertanyaan soal motif dan siapa yang memerintahkan pembunuhan Altantuya tak pernah terjawab.

Abdul Razak sempat didakwa bersama-sama Sirul dan Azilah. Namun dia dibebaskan pada 31 Oktober 2008 setelah pengadilan menyatakan tidak ada bukti konkret yang menunjukkan dia terlibat.

Sirul sendiri melarikan diri ke Australia untuk menghindari hukuman mati. Beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan Malaysiakini, Sirul yang masih ada di Australia mengaku bersedia membantu pemerintah baru Malaysia untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus itu.

Menanggapi hal itu, pemerintahan PM Mahathir Mohamad terbuka pada peluang mencabut hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Sirul agar dia bisa diekstradisi dari Australia. Sirul ditangkap dan ditahan di pusat penahanan imigrasi Australia sejak Januari 2015.

“Sirul tidak bisa kembali ke Malaysia karena Australia tidak akan mengizinkan siapapun yang menghadapi hukuman mati untuk dipulangkan. Kita mungkin saja mencabut vonis matinya, tapi menggantinya dengan hukuman penjara,” kata Mahathir dalam konferensi pers pada 9 Juni lalu. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close