Mahasiswa, Ujung Tombak Terdepan Perang Melawan Covid-19

Mahasiswa, Ujung Tombak Terdepan Perang Melawan Covid-19

Oleh: Hari Utomo Salman ITB

KALIAN beruntung bisa mengalami pandemi Covid-19 saat ini. Kalian harus bersyukur karena tidak setiap generasi menghadapi wabah virus seperti ini. Inilah kesempatan kita untuk di depan MIT dan Oxford serta GM, kalau kita bisa memproduksi ventilator dengan cepat. Inilah saat yang tepat untuk menunjukkan dunia bahwa kita mampu membuat ventilator untuk menyelamatkan rakyat Indonesia tanpa tergantung bangsa lain,” demikian briefing Dr. Syarif Hidayat di depan para mahasiswa yang membantu pembuatan ventilator di Komplek Masjid Salman ITB.

Sebagaimana kita ketahui, kemarin Presiden AS Donald Trump meminta President Direktur GM USA (General Motor), Marry Barra, untuk mengerahkan seluruh daya dan usaha untuk memproduksi ventilator menghadapi perang melawan Covid-19.

Diperlukan sekitar minimal 300.000 ventilator untuk membantu para penderita Covid-19 di seluruh Amerika Serikat yang hari ini sudah lebih 200.000 orang menderita inveksi virus SARS Cof-2 dengan kematian lebih 4000 jiwa.

Sebagai informasi, GM USA bekerjasama dgn VENTEC LIFE system yang biasanya memproduksi 200 buah perbulan harus bisa menaikkan produksi menjadi 2.000 sampai dengan 6.000 ventilator perbulan.

MIT pun sudah mengembangkan open sourse model ventilator sederhana E-EVENT yang saat ini sedang dikembangkan prototypenya oleh beberapa perguruan tinggi dan BUMN di Indonesia.

Vent-I, Ventilator Portabel Indonesia, yang prototypenya sudah final dan akan uji performan oleh BPFK Kementerian Kesehatan ini adalah kerja bersama para mahasiswa dan para dosen dosen ITB.

Karakter mahasiswa yang terbiasa bekerja dengan spartan, semangat, energik sangat menonjol. Mereka dengan dengan senjata laptop dan mouse membuat desain engineering dan komponen yang harus dibuat secepatnya untuk ventilator. Mereka nampak serius meskipun kadang nampak bercanda untuk menghilangkan pegal-pegal karena lebih dari 7 hari kerja keras non stop.

Mungkin kalau hari ini orang orang datang ke Masjid Salman ITB akan takjub karena ruang-ruang kelas yang biasanya dipakai untuk pengajian, kursus bahara Arab, belajar tahsin Quran sudah dirombak menjadi laboratorium canggih. Masjid telah berubah menjadi laboratorium test dan ruang produksi ventilator. Mungkin ini satu satunya masjid di dunia yang dirombak fungsinya untuk perang melawan Covid-19.

Sebanyak 2 set mesin 3 D printer yang canggih terpasang dengan rapi di ruang GSS A dan bekerja full seharian. Bunyi suara mesin 3 D printer yang terdengar silent menghiasi ruang kelas itu ketika mulai mencetak model model pipa conection dan komponen lain yang harus dibuat karena di luar tidak ada. Mesin ini sangat membantu sekali untuk membuat prototype komponen pendukung Ventilator.

Di ruang GSS B terlihat 8 orang sedang mengelas kabel, membor casing, memasang motor dan alat ukur flow meter, sensor suhu dan kelembaban.

Di Ruang GSS C perlengkapan dan komponen sudah mulai didata dan dipisahkan berdasar kebutuhan. Perlengkapan seperti casing, masker, selang udara, motor listrik semua tersimpan dengan rapi. Sambil menyiapkan untuk 100 set ventilator tahap pertama.

Tidak tanggung-tanggung, beberapa orang professor dan doktor muda dari FTMD, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB turun gunung dan STEI, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Mereka mendampingi dan mengarahkan para mahasiswa untuk ngebut mengejar deadline uji performance dan kelengkapan ventilator hari Sabtu besuk. Mereka QC produk yang dihasilkan para mahasiswa.

Kemudian beberapa dokter dan dokter spesialis anestesi dari FK UNPAD juga selalu meng-coaching tim Ventilator Portabel Indonesia dari sisi medik. Karena alat ini berhubjngan dengan keselamatan pasien.

Pengurus YPM Salman juga sangat mendukung tim ventilator dengan menyediakan fasilitas ruang, konsumsi dandukungan moral. Rumah Amal Salman tidak ketinggalan, mendukung dari sisi pembiayaan melalui crowd funding untuk mewujudkan prototype dan 100 unit ventilator pertama.

Di luar dugaan sambutan masyarakat luar biasa. Mereka telpon tiap saat untuk ikut berinfak dan berdonasi untuk ventilator. Mereka berinfak dari mulai puluhan ribu sampai jutaan rupiah.

Nampak sekali suasana perang sungguhan melawan serangan penyakit Covid-19 yang sudah memakan korban jiwa lebih 170 orang rakyat Indonesia dan menginveksi lebih 1.780 pagi ini.
Semua orang bekerjasama bahu membahu untuk mewujudkan ventilator portabel yang akan membantu menyelamatkan ratusan bahkan ribuan nyawa yang saat ini di rumah sakit dengan cemas yang tersebar di Indonesia.

Saya semakin yakin bahwa bangsa ini secara genetik memiliki daya juang dan energi yang cukup untuk menghadapi perang besar dan ganas seperti melawan Virus SARS Cof-2.

Kuncinya hanya satu, yaitu bekerjasama bahu membahu dengan ikhlas. (*)