Pendidikan

Mahasiswa Jepang & Taiwan Ikut Kursus Manajemen Bencana di UGM

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com –  Sebanyak 43 mahasiswa dari Jepang, Taiwan, rumania dan Indonesia mengikuti summer course atau kursus musim panas yang bertajuk gender dan kelompok rentan dalam mendukung pengurangan dampak risiko bencana yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM bekerja sama dengan Kobe Unesco Chair on Gender and Vulnerability in Diasaster Risk Reduction Support, Jepang.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKKMK Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., PhD, mengatakan kegiatan kursus musim panas yang diaiakan selama sepuluh hari, 19-28 Agustus mendatang.

Kegiatan  kursus managemen mbencana ini merupakan kedua kalinya dilaksanakan yang diikuti mahasiswa dari Jepang, Taiwan dan Indonesia. “Kursus kali ini menekankan pentingnya melaksanakan manajemen risiko bencana yang terintegrasi,” kata Gandes, Rabu (21/8), di Kampus FKKMK UGM.

Ia menambahkan keikutsertaan mahasiswa dalam Kursus ini bisa mendapat penetahaun baru dan pengalaman untuk meningkatkan kapasitas serta kompetensi mereka manajemen bencana secara profesional dan multi-disiplin.

“Berbagai kegiatan baik di dalam kelas maupun di lapangan telah dirancang dalam model simulasi untuk membuat mereka lebih dekat dengan situasi nyata dari manajemen bencana. Belum lagi, berbagai keterampilan dan sains dalam manajemen bencana akan disampaikan oleh pembicara ahli,” katanya.

Salah satu anggota panitia pelaknsan summer course Alenda Dwiadila mengatakan para peserta akan mendapatkan materi kuliah umum di dalam kelas selama lima hari dan selebihnya berkunjung ke lapangan mulai dari bertemu dengan pengurusu BPBD Sleman, dan berdialogd engan masyarakat tanggap bencana di Desa Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul.

“Di lapangan mereka mengumpulkan data dalam mempelajari studi kasus soal bencana,” katanya.

Selama kegiatan ini akan disisi dengan 14 orang pembicara yang berasal dari pengajar UGM, Universitas Kobe, Jepang, Universitas Gothenburg, Swedia, perwakilan Unesco Jakarta, dan peneliti dari Pusat Studi Bencana Alam UGM. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close