Opini

Magnet Kebangsaan KH. Ma’ruf Amin

Oleh: Surya Fermana (Direktur Eksekutif Relawan Lintas Iman Kyai Maruf Amin)

Terpilihnya Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden RI bersanding dengan Ir. H. Joko Widodo adalah tanda sayang Tuhan, Allah SWT kepada bangsa ini. Tak ayal, dari sekian nama besar yang masuk bursa, atau masuk kantong Pak Jokowi, final destination-nya rupanya jatuh kepada KH. Ma’ruf Amin.

Tentu semua mempertanyakan apa kiranya landasan logis terpilihnya beliau, selain positioning beliau sebagai Pemimpun Tertinggi NU (Rais ‘Aam), juga sebagai Pimpinan Organisasi Ulama/MUI. Reasoning yang tepat dijelaskan dalam istilah “Magnet Kebangsaan KH. Ma’ruf Amin”.

Singkatnya, selain jabatan struktural di organisasi-organisasi tempat beliau mengabdi, kapasitas KH. Ma’ruf Amin sebagai orang yang Fakih dan juga bijaksana menjadikan sosoknya seperti magnet yang bisa menarik kedekatan banyak kelompok. Mulai dari elemen lintas Agama, hingga varian kelompok dari internal pemeluk agama Islam sendiri.

Ibarat tandusnya padang sahara, Kiai Ma’ruf adalah oase di tengah kerontangnya iklim politik kita karena sulit sekali menentukan pilihan yang bisa masuk ke banyak kalangan. Dan, Kiai Ma’ruf lah jawabannya. Beliau dalam dinamika NU sendiri sabar merawat wilayah corak keberagamaan NU lama yang konservatif dengan pendekatan fiqh oriented.

Corak lama yang kurang mendapatkan perhatian dari kalangan NU corak progresif pendobrak yang dimotori Gus Dur. Walhasil beliau berhasil mengamankan dan mengkanalisasi aspirasi corak NU lama.

Kiai Ma’ruf datang ke gelanggang politik bukan tanpa gagasan. Mengusung “Arus Baru Ekonomi Indonesia”, beliau berkeliling dalam rangka memperkenalkan sebuah gagasan ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada keadilan, memperkecil disparitas antara si kaya dan si miskin (Kay laa yakuuna duulatan baynal aghniyaa i minkum), dan berbasis kemitraan.

Tema ini menjadi fenomenal, hingga di banyak kesempatan beliau dianugerahi beberapa penghargaan Doktor HC oleh kampus-kampus, juga dikukuhkan sebagai Guru Besar Ekonomi Keumatan. Kiprahnya terekam jelas sebagai Dewan Penasehat di 4 Bank Syariah di Indonesia.

Tema di atas juga dikuatkan dengan konsistensi beliau dalam hal kebangsaan. Di banyak mimbar ceramah, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa bangsa ini adalah Bangsa Kesepakatan. Beliau menyebut dengan istilah “Daarul Miitsaaq”, meminjam dari kosakata Al Qur’an “Miitsaaqan Ghaliizhaa”, kesepakatan yang kuat.

Siapa yang bersepakat? Yang bersepakat adalah dua orang saudara, yakni saudara muslim dan saudara non muslim, disebut “Ittifaaqaat Akhawiyyah”, kesepakatan antar dua saudara.

Karenanya dalam konteks menyikapi Hizbut Tahrir, Kiai Ma’ruf mengatakan bahwa Khilafah tidak ditolak di Indonesia. Namun secara otomatis “tertolak” karena bangsa ini sudah kadung punya kesepakatan-kesepakatan, mengakomodir semua kelompok, dan tentu saja tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Alhasil, dengan dua tema Makro di atas lah Kiai Ma’ruf berkeliling dan memberikan pencerahan. Hampir semua yang mendengar dan menyimak tausiyah beliau akan sampai pada satu kesimpulan bahwa Kiai Ma’ruf punya gagasan yang genuine dan kehadirannya merekatkan laiknya sebuah magnet.

Magnet Kebangsaan

Kiai Ma’ruf adalah konsolidator dengan langkah yang terukur. Di NU, beliau sempat mengambil langkah non populer dengan hadir dalam kerumunan aksi 212 dan melebur dalam kelompok Islamis.

Rupanya, sikap beliau itulah yang ketika beliau terpilih sebagai Cawapres, menjadikan Kiai Ma’ruf relatif tidak terlalu susah berhubungan dengan Alumni 212.

Ustadz-ustadz kondang dari Yusuf Mansur dan Arifin Ilham semacam tak kuasa menolak ketika beliau meminta dukungan secara tersirat, dan otomatis mau tak mau harus berlawanan sikap dengan alumni 212 lainnya yang masih banyak stay untuk Prabowo Sandi.

Ada fenomena di mana corak NU lama hampir bercampur dengan gerakan politik Wahabi dalam gerakan 212. Kyai Maruf berhasil mengkanal corak NU lama pada aksi 212 kemudian beliau tarik pada Pilres ini untuk terpisah dari gerakan Wahabi Politik dan HTI.

Begitu pula kunjungan beliau kepada Tun Mahatir Muhammad. Banyak pesan tersirat yang seakan ingin beliau sampaikan kepada anak bangsa, bahwa dalam kapasitas yang baru sebagai Cawapres, beliau sudah punya kualitas pergaulan mancanegara.

Pun dengan kunjungan-kunjungan Kiai Ma’ruf ke parpol-parpol pendukung. Efendi Choiri yang sempat berkomentar negatif di media tentang sosok Ma’ruf Amin, dibalas pujian oleh Kiai ketika beliau memberi Tausiyah Kebangsaan di acara DPP Nasdem. Anggapan negatif itu seketika luntur seiring dengan senyum sumringah Pak Surya Paloh kala menyimak Tausiyah Sang Kiai.

Tumbuh harapan dan optimisme dalam 7 bulan ke depan akan banyak kerja-kerja konsolidasi Jokowi yang barangkali deadlock di satu tempat/kelompok, justru akan beres dengan langkah-langkah terukur Kiai Ma’ruf Amin. Energi yang terpancar dari gerak gerik Kiai Ma’ruf adalah energi yang menyatukan, bukan energi yang menceraikan. Kehadiran beliau di banyak forum dan kesempatan adalah magnet bagi anak bangsa dari seluruh macam lapisan untuk bahu membahu membangun bangsa.

Di bawah nahkoda Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin, keinginan Pak Jokowi untuk lari cepat menggenjot pembangunan, akan diiringi dengan harmonisasi gerakan di bawah gerak piawai seorang Kiai Haji Ma’ruf Amin.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close