Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (25):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

WAKTU SAAT ITU  telah menunjuk pukul setengah enam sore. Karena hari itu hari Jumat, toko-toko di Balad baru buka selepas asar, sehingga kala itu toko-toko telah buka. 

Segera, para jamaah pun telah “menghilang” dalam deretan toko yang “menghiasi” kawasan itu. Saya sendiri, selepas meminta izin kepada mereka karena sore itu tidak dapat menyertai mereka, segera menemui seorang kemenakan yang tinggal di Jeddah dan telah menanti saya. Setelah bertemu dengannya, kami pun kemudian menuju sebuah toko buku besar yang terletak di lantai dua Corniche Commercial Center. Buku, bukan lainnya, memang, “buruan” utama saya. Setiap kali menjejakkan kaki di sebuah kota atau negara. 

Kini, mengapa “jantung” Kota Jeddah itu disebut Balad?

Bukan Hanya “Surga” Belanja

Pada 1240 H/1825 M, kala Hijaz masih di bawah kekuasaan Dinasti Usmaniyah, dengan ibukotanya di Istanbul, Turki, Kota Jeddah mulai menerima kehadiran sejumlah perwakilan diplomatik. Dari beberapa negara Eropa. Nah, sebagian besar duta-duta dari Eropa itu bermukim di Jeddah Lama yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Bilâd (atau Balad) Al-Kanâsil yang secara harfiah berarti “Kota atau Negeri Konsulat-Konsulat”. Namun, lama-lama, sebutan Balad Al-Kanasil disingkat menjadi “Balad”. hingga dewasa ini. 

Dewasa ini sendiri, Balad tidak lagi menjadi tempat kediaman para duta Eropa. Kini, Balad telah berubah menjadi “surga”. Ya “surga” bagi orang-orang yang hobi berbelanja. Selain memiliki pusat perbelanjaan kelas tinggi yang menawarkan produk terbaru dari merek fesyen ternama dari Milan dan Paris, kawasan kota tua di Jeddah ini juga dipadati para pedagang tradisional dan pasar terbuka. Mereka menawarkan aneka produk fesyen dan suvenir dengan harga relatif murah. 

Di malam hari, pusat perbelanjaan ini padat oleh pengunjung. Kepadatan pusat perbelanjaan yang terletak di kawasan Corniche ini memuncak selama musim haji. Ini karena para jamaah haji biasanya menyempatkan diri mampir ke Jeddah untuk membeli buah tangan. Karpet, abaya (baju tradisional perempuan Arab berwarna hitam), aneka merek minyak wangi dengan kemasan unik, tasbih, sajadah, jam tangan, aneka produk kulit, kerudung, pashmina, hingga celak mata dan hena dapat dibeli di pusat perbelanjaan yang setiap waktu shalat tiba ditutup beberapa saat ini.

Sebagian besar barang yang dijual di pasar ini diimpor dari negara lain seperti India, Pakistan, Bangladesh dan tentu saja China. Hampir semua produk suvenir yang dijual di pasar Balad, termasuk tasbih dan kaligrafi, merupakan barang impor dari China. Barang-barang impor ini rata-rata dijual grosiran dan harganya sangat murah. Harga satuan tasbih batu aneka warna hanya satu riyal atau sekitar Rp 3.500,- dan harga satuan aneka dompet kulit hanya antara 10 riyal hingga 15 riyal. Atau jika kita ingin menukarnya dengan kurs rupiah, hanya sekitar Rp 35.000,- sampai Rp 45.000,- saja. 

Di Balad, harga jual setiap produk sangat bervariasi sesuai dengan kualitasnya dan dapat ditawar. Sebagian pedagang juga dapat berbahasa Indonesia, meski terbatas pada angka-angka. Sehingga, pengunjung asal Indonesia yang tidak bisa berbahasa Arab tetap dapat melakukan tawar menawar harga.

Tentu saja, Balad bukan hanya “surga belanja” yang disukai para jamaah, haji dan umrah, dari Indonesia. Para tamu Kota Jeddah dari berbagai penjuru dunia juga suka “menikmati” Balad. Sejatinya, yang menarik dari Balad bukan hanya kedudukannya sebagai tempat perbelanjaan saja. Di kawasan ini pulalah kita, sebenarnya, dapat menemukan pusaka historis dan arsitektural kota yang pernah saya singgahi berbulan-bulan setiap tahun ketika saya masih menimba ilmu di Kairo, Mesir. Sayang, pusaka arsitektural itu, dewasa itu, kurang mendapatkan perhatian.
 
Tidak aneh bila menurut surat kabar Arab News (edisi 6 Maret 2010 M), dalam 30 tahun terakhir tidak kurang dari 100 bangunan historis telah runtuh. Baik apakah karena termakan usia, terbakar, maupun hal-hal lainnya. Dewasa ini, diperkirakan ada sekitar 400 pusaka historis yang masih bertahan. Untuk memugar kawasan itu diperkirakan diperlukan sekitar dana sebesar satu milyar riyal Arab Saudi. Duh!

Terbakarnya Perpustakaan “Nassef House” beberapa waktu lalu, akhirnya, mendorong penguasa Kerajaan Arab Saudi kala itu, Raja ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz, memerintahkan untuk mengembangkan dan melindungi pusaka historis yang masih tersisa tersebut. “Nassef House” (Bait Nâsif), sebuah rumah yang terletak di Al-‘Alawi St., dibangun antara 1289-1298 H/1872-1881 M oleh Syeikh ‘Umar Effendi Al-Nasif. Yang membuat rancangan rumah yang pernah ditempati Raja ‘Abdul ‘Aziz itu, ketika menundukkan Jeddah pada 1344 H/1925 M, adalah seorang arsitek Turki. 

Paris van Arab Saudi

Sayang, karena waktu yang terbatas, saya tidak dapat membawa dan mendampingi para jamaah untuk mendatangi pusaka arsitektur Kota Jeddah itu. Untuk mengenal lebih jauh pusaka historis di jantung Kota Jeddah, marilah kita “nikmati” sajian Rudi Haudi (www.madina-sk.com/) dalam tulisannya berjudul “Menelusuri Khasanah Al Balad Jeddah”: 

“Sekarang, walau bukan lagi menjadi pusat kegiatan satu-satunya kehidupan masyarakat. Namun, Balad tetap menjadi ruh Kota Jeddah. Ini karena dari dulu hingga sekarang Balad masih merupakan sentra aktivitas bisnis dan perdagangan. Karena itu, Balad juga sering dijuluki orang sebagai “Paris Arab Saudi”. Balad menjadi surga berbelanja bagi masyarakat. Baik bagi masyarakat Jeddah maupun bagi masyarakat luar. Termasuk jamaah haji Indonesia. Di sini terdapat berbagai barang kebutuhan. Mulai dari skala eceran hingga skala grosir, dari barang antik hingga produk modern, produk lokal, produk ekspor dan produk impor. Malah, juga banyak tempat-tempat penukaran uang dan mereka menerima penukaran uang rupiah.

Berwisata ke Balad dari hotel, misalnya, bisa naik taksi. Lalu, sebut mau turun di mana, misalnya di Bab Syarif. Ongkosnya 10 riyal sekali jalan. Atau kalau kebetulan menginap di Hotel Red Sea, tinggal berjalan kaki menyeberang bundaran di Jalan Madinah atau Bagdadiyah, atau menyisir dekat museum sekitar 10 menit sudah sampai. Di pusat perbelanjaan Balad, atau kalau sudah sampai di Toko Ali Murah, terus mampir ke Bakso Garuda. Nah dari Bakso Garuda tinggal meneruskan jalan kaki sampai di Bab ‘Alawi atau  Bab Syarif. Bab Syarif dulunya adalah salah satu pintu Jeddah lama. 

Waktu para penguasa Jeddah terpaksa membuat benteng-benteng untuk mencegah serbuan musuh, sehingga dibuatlah beberapa pintu gerbang masuk,yang kemudian dikenal ada Bab Makkah di sebelah timur, Bab Syarif di selatan, Bab Al-‘Alawi, dan Bab Al-Madinah di utara, dan Bab Al-Magharibah di sebelah barat. Di kawasan kota tua ini dijumpai blok-blok khusus dagangan atau diistilahkan sebagai pasar khusus. Seperti pasar garmen dan tekstil, elektronik, perlengakapan ibadah, emas dan perak, dan sebagainya. Suatu model yang mengingatkan kita dengan Pasar Tanah Abang, Pasar Pagi, Pasar Glodok, dan Mangga Dua di Jakarta.

Pasar emas dan perak serta aksesoris dan perhiasan lainnya ada di Souq Al-Nada. Kalau mau beli barang-barang keperluan ibadah, seperti sajadah, surban, jubah/gamis, jilbab dan cadar, tasbih dan sebagainya bisa ke Bab Syarif. Mau mencari madu, saoda, rumput fatimah, siwak, celak, pacar kuku dan gincu, termasuk hati unta yang sudah dikeringkan ada di Bab Makkah. Mau mencari garmen dan tekstil ada di Souq Al-Jamiah. Mau mencari farfum, barang elektronik, atau mau jam tangan obral kiloan atau paket kotak, tiap kotak bisa berisi lebih 20 buah jam tangan berbagai merek, ada di Souq ‘Alawi. 

Di sini bahkan dijual parfum secara grosir, mulai dari satu liter hingga puluhan liter, dan pedagang juga menyediakan botol atau jirigen khusus parfum tersebut sesuai ukurannya. Dari Souq ‘Alawi kita bisa menyusuri jalan tembus hingga ke Bab Makkah, yang disebut jalan Gabel Souq. Di sepanjang lorong jalan ini banyak digelar berbagai macam ragam barang dagangan. Bahkan juga ada lukisan dan kaligrafi serta gambar hiasan berlatar Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan alam padang pasir dengan untanya.
 
Kawasan Balad sebenarnya merupakan situs kota masa lampau yang sudah maju saat itu. Pemerintah Provinsi Jeddah telah menetapkan kawasan Balad sebagai kawasan sejarah dan menjadi salah satu obyek wisata spesifik. Kalau kita masuk lewat Bab Syarif, misalnya, kita langsung menyaksikan pilar-pilar dengan pelataran melingkar berlapis mozaik dan pagar-pagar di sisinya. Ini adalah bekas terminal dan tiang-tiang pagar itu kemungkinan merupakan tambatan kuda atau unta. Lalu, jika kita masuk menyusuri kawasan di sekitarnya hingga ke Bab ‘Alawi, akan tampak gedung-gedung tua yang rata-rata berusia lebih 100 tahun berbaur dengan gedung-gedung pusat perbelanjaan modern. 

Sedikitnya ada 500 bangunan, gedung, dan rumah tua di kawasan Balad. Bangunan gedung dan rumah-rumah-tua  yang tampak dengan arsitektur yang unik dan ukiran-ukiran yang menghiasinya itu merupakan peninggalan para saudagar Arab masa lampau. Salah satu bangunan antik tersebut adalah Bait Nassiff di Souq Al-‘Alawi. Bangunan tersebut tadinya adalah rumah saudagar Sheikh Omar Effendi Nassiff yang dibangun sekitar tahun 1872-1881. Rumah ini memiliki 106 ruangan dengan lantai mozaik. Sedangkan jendela-jendela dan balkonnya dihiasi ukiran indah.
    
Rumah-rumah gedung para saudagar Jeddah tersebut umumnya dibangun secara blok, sehingga menciptakan lorong nan teduh. Dinding bangunan terbuat dari batu-batu coral dan kerang laut, sehingga menghasilkan ornamen-ornamen unik. Jendela-jendela dan balkon yang terbuat dari kayu dihiasi ukiran indah  juga berfungsi sebagai pengatur sirkulasi udara, sehingga nuansa rumah terasa nyaman, aman, dan segar. Sayang, saat ini sebagian besar bangunan gedung dan rumah tua di kawasan perdagangan yang sibuk itu kini banyak sudah rusak dimakan usia. Beberapa di antaranya bahkan ada yang miring ke kiri, miring ke kanan, dan hampir roboh. Meski beberapa di antaranya masih ditempati, namun tidak banyak gedung yang direnovasi.” 

Selain Balad, pusat belanja murah di Kota Jeddah juga ada di kawasan Haraj Al-Sawarikh. Karpet, lampu kristal, barang pecah belah, kosmetik, barang elektronik, dan suvenir banyak dijual di kawasan ini. Di sini, jika pandai menawar dan memilih, pengunjung bisa mendapatkan barang bagus dengan harga murah. Sedangkan di Tahlia St., yang terletak di tengah Kota Jeddah, pengunjung bisa berbelanja di pusat perbelanjaan dan butik yang menjual produk-produk fesyen ternama dunia, seperti Prada, Gucci, dan Giorgio Armani. Harganya tentu ratusan hingga ribuan riyal per item. 

Bila ingin berbelanja produk elektronik, Falasteen St. tempatnya. Di kanan kiri jalan ini berjajar toko-toko yang menjual aneka merek telepon genggam, kamera, alat pemutar dan perekam musik berformat digital versi MP3, MP4, dan MP5, serta laptop beserta aksesorisnya. 

Siap-siap ke “Kampung Halaman Kedua” 

Ketika waktu menunjuk pukul setengah tujuh malam waktu setempat, para jamaah telah berkumpul di Restoran “si Raja Bakso”, tentu saja dengan menu andalan bakso, yang terletak di pelataran depan Corniche Commercial Center. Para jamaah tampaknya menikmati hidangan yang disajikan restoran milik Mang Oedin, seorang warga Indonesia asal Banten. 

Selain menjajikan bakso, rumah makan itu juga menyajikan nasi goreng dan kebab. Restoran itu sudah tidak asing lagi bagi warga Jeddah dan Makkah serta para jamaah haji/umrah asal Indonesia. Sebab, usaha kuliner khas Indonesia ini cukup lama mangkal di Makkah. Tepatnya di Pasar Seng, tidak jauh dari Masjid Al-Haram. Namun, akibat pembangunan perluasan masjid yang melingkari Ka‘bah, sehingga  Pasar Seng digusur, restoran bakso milik Mang Oedin pun ikut pula tergusur. Dan, sejak akhir 2008 M, restoran itu hijrah ke Kota Jeddah. 

Selepas para jamaah lengkap, kami kemudian segera menuju sebuah restoran yang terletak di Saree St. Kali ini, untuk menikmati makan malam. Seusai makan malam, kami akan langsung menuju King ‘Abdul ‘Aziz International Airport. Malam itu, pukul sebelas malam waktu setempat, kami akan meneruskan perjalanan menuju Kairo dengan pesawat terbang Egypt Air. Tentu saja, betapa gembira saya, mau pulang ke “kampung halaman kedua” saya!

Sepanjang perjalanan dari Balad menuju Asia Restaurant, yang menyajikan masakan ala Thailand, saya lihat Kota Jeddah di malam hari begitu indah dan berpendar cemerlang. Namun, seperti halnya kota-kota metropolitan dan kosmolitan di pelbagai penjuru dunia, sejatinya kota yang satu itu pun bukan tidak “memendam” kemiskinan. Coba saja Anda  duduk di depan Toko Ali Murah, di Balad. Tentu, segera Anda akan dikerubungi para penjaja miskin yang sebagian besar berasal dari anak Benua India yang menawarkan barang-barang berharga murah asal China. 

Demikian halnya, Kota Jeddah pun tidak sunyi dari para pengemis. Seperti halnya yang terjadi di Mumbai, India (seperti yang disajikan dalam film Slumdog Millionaire) dan berbagai kota besar dunia lainnya, ternyata sebagian di antara para pengemis di Kota Jeddah pun “terorganisasi” rapi.

Selepas bus yang kami naiki meniti berbagai sudut dan jalan di seputar Kota Jeddah, akhirnya tibalah kami di King ‘Abdul ‘Aziz International Airport sekitar pukul sembilan malam waktu setempat. Alhamdulillâh, di bandar udara ini barang-barang bawaan para jamaah yang akan dibagasikan masih dapat dilayani dengan sistem group check-in. Sehingga, para jamaah pun tidak perlu melakukan check-in sendiri-sendiri atau masing-masing keluarga. Mereka cukup menanti di ruang tunggu. Sedangkan barang-barang mereka sedang diurus para petugas yang telah terbiasa menangani urusan check-in tersebut. Memang, demi keamanan, kini pelbagai bandar udara dunia telah meniadakan group check-in dan hanya mau melayani personal check-in dan family check-in. Termasuk Cairo International Airport di Kairo, Mesir dan Ataturk International Airport di Istanbul, Turki.

Ketika waktu menunjuk pukul setengah sepuluh malam, urusan group check-in telah beres. Begitu mendengar urusan yang satu itu beres, perasaan lega pun “menyergap” kesadaran saya. Kemudian, selepas berpamitan dengan Tim Travel yang mendampingi para jamaah selama di Arab Saudi, kami lantas menuju ke konter imigrasi dengan melintasi bagian pemeriksaan barang-barang yang dibawa masuk ke dalam pesawat. 

Di sini, kesabaran kita perlu “dinyalakan kembali”: sepatu, sabuk, jaket, dompet, hp, kamera, maupun hal-hal lain yang membuat detektor berbunyi harus dilepas, ditaruh di tempat yang disediakan, dan discan. Berkali-kali saya harus menjelaskan kepada para jamaah, mengapa prosedur yang demikian itu harus mereka “nikmati”. Selama proses pemeriksaan tersebut, saya senantiasa menempatkan diri sebagai orang terakhir di antara mereka yang melalui proses itu, agar bila ada salah seorang di antara mereka menghadapi persoalan, saya dapat menjelaskan persoalan mereka dalam bahasa Arab kepada petugas Arab Saudi.
 
Alhamdulillâh, dalam pemeriksaan keamanan itu akhirnya tiada seorang pun di antara para jamaah yang menghadapi masalah. Usai melintasi pemeriksaan tersebut, kini para jamaah pun menuju konter imigrasi. Berbeda dengan pemeriksaan imigrasi di berbagai negara, pemeriksaan imigrasi di Arab Saudi memiliki ciri khas tersendiri. Di sini, kaum perempuan yang berusia di bawah 45 lima tahun harus didampingi muhrimnya. Sama seperti ketika mereka memasuki negeri yang satu ini. Muhrim dan orang-orang yang dimuhrimi harus senantiasa satu kelompok dan tidak boleh terpisah. 

Fatwa Al-Azhar tentang Miqat

Betapa lega hati saya ketika melihat satu demi satu jamaah melintasi pemeriksaan imigrasi Arab Saudi tanpa masalah apa pun. Kelegaan kembali menyergap kesadaran saya begitu petugas imigrasi dengan cepat mencap paspor saya. Sebagai orang terakhir di antara rombongan yang bersama saya, tentu saya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi andai akhirnya saya mengalami masalah di Arab Saudi. Sebab, perjalanan di Arab Saudi hanya merupakan salah satu di antara tiga negara yang menjadi tujuan kunjungan dan perjalanan kami. 

Ternyata, ketika berada di boarding lounge, baru timbul masalah kecil: seorang ibu kehilangan telpon genggamnya ketika berada di toilet, dan seorang ibu asal Sumatera Barat yang berusia lanjut  dan pernah menjabat guru kehilangan” boarding passnya. Selepas sempat kebingungan, wajah ibu yang kehilangan telpon genggam kemudian kembali berbinar begitu seorang petugas airport memanggilnya dan kemudian menyerahkan telpon genggamnya yang sempat “hilang”. Dan, tidak lama kemudian, boarding pass ibu asal Sumatera Barat itu juga berhasil ditemukan. Boarding pass itu ternyata “bersembunyi” di antara lipatan-lipatan dompetnya. Duh!

Merasa lega dengan “terselesaikan”nya masalah-masalah kecil tersebut, saya yang mendapat sederet “jabatan”: pembimbing ibadah, tour leader, penerjemah, dan pengawal para jamaah, kemudian duduk untuk melepas lelah. Seraya melemaskan kedua kaki, saya pun menikmati pemandangan sederet pesawat terbang yang sedang mendarat dan menguak angkasa di luar gedung airport. 

Kemudian, ketika melihat sebagian di antara para penumpang yang turun dari pesawat terbang ada yang mengenakan kain ihram dan sebagian yang lain tidak mengenakannya, tiba-tiba saya teringat sebuah pertanyaan (lihat “Miqat for Pilgrims Traveling by Air”, dalam www.suheibwebb.com) yang pernah dikemukakan seorang warga Karachi, Pakistan kepada Syaikh Dr. Athiyyah Al-Shaqr, seorang ulama terkemuka Al-Azhar, Kairo, Mesir yang juga pernah menjabat Ketua Majelis Tinggi Urusan Islam dan Komisi Fatwa Al-Azhar, penasihat Kementerian Wakaf Mesir, dan anggota Lembaga Riset Islam Al-Azhar. Pertanyaan yang dikemukakan kepada ulama yang lahir di Bahanbai, Delta Nil pada 1333 H/1914 M dan berpulang pada 1427 H/2006 M itu adalah sebagai berikut:

“Assalâmu‘alaikum. Ulama yang terhormat. Bolehkah saya melakukan ihram  di Airport Jeddah atau haruskah saya mengenakan ihram semenjak di rumah, di Karachi? Total perjalanan (dari rumah hingga Makkah) sekitar sembilan hingga sepuluh jam. Termasuk dua jam (dari rumah) menuju Airport Karachi, empat jam dari Karachi menuju Jeddah, dua jam di Airport Jeddah, plus dua jam menuju Makkah. Terus terang, saya khawatir dengan kesucian kain ihram saya selepas saya kenakan sekitar sepuluh jam dalam perjalanan. Menurut saya, kain ihram dapat dikenakan di Airport Jeddah agar kesucian kain tersebut terjaga hingga tiba di Masjid Al-Haram.”

Menerima pertanyaan demikian, ulama Al-Azhar, Mesir yang juga pernah menjadi anggota Komisi Agama di Parlemen Mesir tersebut menjawab:

“Nabi Saw. berpesan, ‘Sungguh, Allah telah menetapkan sejumlah kewajiban. Karena itu, janganlah kalian meninggalkannya. Ia pun telah menentukan batasan-batasan. Karena itu, janganlah kalian melanggarnya. (Dan Ia pun) telah membiarkan hal-hal yang bersifat terbuka karena kasih sayang-Nya kepada kalian. Karena itu, janganlah kalian memperanyakan  hal-hal tersebut.’ 

Dalam pesan itu beliau menyatakan, ada hal-hal terbuka yang memberikan kesempatan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad. Berdasarkan hadis tersebut, Nabi Saw. dengan gamblang telah menetapkan beberapa mîqât (tempat melakukan ihram) bagi para jamaah dari kawasan Islam pada masa beliau dan beliau tidak menetapkan secara khusus mîqât-mîqât lain bagi penduduk lain (di mana Islam kala itu belum memasuki kawasan mereka). Beliau menyerahkan masalah itu pada ijtihad para ulama. Karena itu, berbagai masalah yang timbul dewasa ini (antara lain persoalan tempat di manakah semestinya jamaah yang naik pesawat terbang mulai melakukan ihram) memerlukan pemikiran dan pandangan terbuka para ahli Hukum Islam.

Hingga saat ini, saya tidak menemukan adanya pijakan tekstual yang mengatur mîqât bagi para jamaah yang datang (ke Tanah Suci) lewat jalur udara. Karena itu, (selepas mengkaji persoalan itu dengan cermat), saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang naik haji dengan naik pesawat terbang tidak harus mengambil mîqât-mîqât di darat seperti yang telah ditentukan Nabi Saw. selama mereka di atas pesawat terbang. Persoalan ini termasuk dalam kategori hal-hal yang terbuka. Ini karena perjalanan lewat udara tidak terbayangkan pada Nabi Saw. Demikian halnya beliau tidak menentukan sama sekali perihal mîqât para jamaah yang datang dari arah barat menuju Semenanjung Arab untuk naik haji. Ini karena kala itu di kawasan itu tiada kaum Muslim yang menyeberangi laut dari Afrika dan Mesir untuk naik haji. 

Memandang perjalanan lewat udara tidak termasuk dalam ketentuan yang berkaitan dengan miqat-miqat ibadah haji, maka persoalan itu dapat dilakukan ijtihad untuk menentukannya berdasarkan metodologi terakhir, sama seperti halnya persoalan-persoalan mutakhir yang tidak termasuk dalam ketetapan-ketetapan yang pasti. Persoalan-persoalan yang demikian seyogianya dipecahkan dengan berpijak di atas pelbagai prinsip dan tujuan syariah. Terutama demi menghindarkan terjadinya penderitaan dan kesulitan.

Dari sini saya berpendapat, jalan keluar tepat, yang tidak menimbulkan kesulitan atau pelanggaran terhadap syari‘ah, bagi para jamaah haji (maupun umrah) dengan naik pesawat terbang: mereka tidak harus melakukan ihram, kecuali bila selepas turun dari pesawat terbang mereka kemudian melakukan perjalanan lewat jalan darat. Jika mereka turun dari pesawat terbang di suatu mîqât, mereka mesti melakukan ihram seperti halnya penduduk tempat tersebut. Sedangkan jika mereka turun dari pesawat terbang sebelum mîqât, mereka mesti melakukan ihram ketika melintasi mîqât pertama dalam perjalanan mereka menuju Makkah atau tempat yang sejajar dengan mîqât itu manakala di situ tidak terdapat mîqât. Sebaliknya, jika mereka turun dari pesawat terbang di suatu tempat yang terletak di antara mîqât dan Makkah, mereka mesti melakukan ihram dari tempat kedatangan mereka seperti halnya penduduk tempat itu. Dengan kata lain, mereka hendaknya tidak meninggalkan tempat kecuali dalam keadaan ihram.
 
Seperti dimaklumi, bandar udara internasional bagi para jamaah yang turun dari pesawat terbang di Kerajaan Arab Saudi terdapat di Jeddah. Jeddah terletak dalam batas-batas mîqât. Karena itu, mereka mesti melakukan ihram di situ, sama seperti halnya penduduk Jeddah. Hal itu berarti, manakala bandar udara internasional itu suatu ketika dipindahkan ke Makkah, maka para jamaah yang tiba di kota itu dengan naik pesawat terbang dalam keadaan yang sama dengan penduduk Makkah. Dengan kata lain, mereka melakukan ihram dari tempat melakukan ihram yang sama bagi penduduk Makkah. Jadi, para jamaah yang naik pesawat terbang, dari manapun asal kedatangan mereka, mengikuti aturan yang sama dengan penduduk tempat kedatangan pesawat terbang itu. 

Lebih jauh lagi, pihak yang menyatakan bahwa para jamaah itu harus melakukan ihram dalam pesawat terbang begitu alat transportasi itu melintasi mîqât atau tempat yang sejajarnya dengannya tidak memiliki landasan (hukum yang kuat). Sebagian pandapat menyatakan bahwa untuk meniadakan kesulitan, jamaah boleh melakukan ihram dalam pesawat terbang tanpa mengenakan kain ihram. Kemudian, barulah ia melukar pakaian  biasa yang kenakan dan menggantinya dengan kain ihram ketika turun dari pesawat terbang dengan membayar dam. Alhasil, syariah Islam sangat toleran hingga ke batas tiada terkandung maksud padanya untuk membebani umat dengan hal-hal yang tidak tertanggungkan oleh mereka. Islam menentang sepenuhnya hal yang demikian itu. 

Sebagian pendapat lain, dalam kasus yang dama,  menyatakan bahwa jalan keluarnya adalah dengan melakukan ihram sebelum naik pesawat terbang. Namun, pendapat tersebut kurang tepat. Sebab, kaum Muslim dari Moskow dan berbagai tempat lain di mana temperatur setempat mencapai -50 derajat Celcius tidak akan kuasa melakukannya,  khususnya di musim dingin. Jadi, jalan keluar yang saya kemukakan di atas tepat bagi para jamaah yang naik pesawat terbang, dengan berpijakkan syariah. Saya menemukan jalan keluar tersebut selepas melakukan kajian atas seluruh rinci kasus tersebut dan pijakannya selama bertahun-tahun.”

Inti jawaban ulama Al-Azhar itu sejatinya tidak beda jauh dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang hal yang sama: para jamaah haji maupun umrah diperkenankan menjadikan King ‘Abdul ‘Aziz International Airport sebagai mîqât makânî. Walau demikian, seperti dikemukakan pula dalam fatwa MUI, kasus tersebut sejatinya merupakan masalah ijtihâdiyyah. Dengan kata lain, pandangan tersebut sifatnya terbuka: boleh diikuti atau tidak diikuti. Terserah Anda.

“Puisi Islam” Gus Mus

Kemudian, ketika waktu menunjuk pukul setengah sebelas malam waktu setempat, para penumpang pesawat terbang Egypt Air dengan no. penerbangan MS 670 yang menuju Kairo, Mesir pun dipersilakan masuk ke dalam pesawat terbang. Sekali lagi, ketika melintasi pintu sebelum naik bus yang membawa para penumpang ke “perut” pesawat terbang, mereka diperiksa kembali: baik paspor, boarding pass, maupun muhrim masing-masing bagi yang harus disertai muhrim. Inilah “warna” khas imigrasi Arab Saudi.

Selepas melihat para jamaah tiada yang menghadapi masalah dan menempati posisi mereka masing-masing dalam pesawat terbang, saya pun mencari tempat duduk no. 38 B. Selepas memasang sabuk pengaman, saya kemudian mengucapkan puja dan puji serta syukur kepada Allah Swt. Tentu saja, saya pun tidak lupa berdoa sebagai diteladankan Rasulullah Saw. Namun, begitu usai berdoa, entah kenapa, tiba-tiba saya teringat sebuah puisi yang digubah Gus Mus, “Puisi Islam”:

Islam agamaku, nomor satu di dunia
Islam benderaku, berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya
Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku, kelas eksekutif yang mengubah cara dunia memandangku
Tempat aku menusuk kanan-kiri
Islam media massaku, gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana-sini
Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara
Islam bursaku
Islam warungku, hanya menjual makanan surgawi
Islam makananku
Islam teaterku, menampilkan karakter-karakter suci
Islam festivalku, memeriahkan hari-hari mati
Islam kausku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa
Tuhan, Islamkah aku?

“Wallâhu a‘lam, Gus!” jawab saya dalam hati. Sambil memejamkan mata: antara penuh tanda tanya dan bahagia karena tidak lama lagi akan berada di “pelukan” kota yang tidak  pernah saya lupakan: Kairo!

Selesai.