Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (24)

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah.

 Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.

Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna.

Selamat menikmati.

“BISMILLÂHI ALLÂHU AKBAR...”

“Bismillâhi Allâhu Akbar!”

“Bismillâhi Allâhu Akbar…”

Itulah berbagai lantunan istilâm di  pagi yang segar dan nyaman, pada hari itu, di sudut Hajar Aswad. Ketika itu, kami akan memulai melaksanakan tawaf wadâ’. Seusai melantunkan ucapan demikian dan mengecup tangan, kami pun mulai bergerak pelan dari sudut Hajar Aswad dan kemudian mengitari Ka‘bah. Waktu saat itu menunjuk sekitar pukul sepuluh pagi. Kemudian, dengan langkah-langkah pelan, kami pun melaksanakan tawaf wadâ‘ (perpisahan).

Seraya bertawaf, para jamaah yang saya dampingi tampaknya sedang “tenggelam”. Ya, “tenggelam” dalam suasana perpisahan yang terasa sangat berat. Mereka dengan khidmat dan khusyuk menggumamkan pelan doa, tahlîl, tahmîd, dan takbîr. Tentu, setiap jamaah akan merasakan, betapa enggan meninggalkan Makkah Al-Mukarramah ketika saat perpisahan itu tiba.

Kemudian, ketika melintasi Rukun Yamani, kami pun dengan penuh takzim dan khusyuk pun berdoa, “Rabbanâ âtinâ fî al-dunyâ hasanah, wa fî al-âkhirati hasanah, wa qinâ ‘adzâb al-nâr. Wa adkhilnâ al-jannata ma‘a al-abrâr, ya ‘azîz ya ghaffâr ya rabb al-‘âlamîn. (Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Juga, hindarkanlah kami dari azab neraka. Dan, masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan Yang Mahamulia dan Mahapengampun, Tuhan semesta alam).”

Betapa indah doa itu.

Tidak lebih dari setengah jam kemudian, kami telah usai melaksanakan tawaf perpisahan itu. Dengan mengitari tujuh kali Ka‘bah yang berada di posisi sebelah kiri kami. Ya, perpisahan dengan doa dan harapan kiranya diberi kesempatan Allah Swt. mendapatkan undangan-Nya untuk menjadi tamu-Nya kembali. Dua hari di Makkah Al-Mukarramah memang terasa sangat singkat. Benar-benar sangat singkat!

Kemudian, ketika usai melaksanakan shalat Jumat, kami pun segera bersiap-siap meninggalkan Kota Suci itu. Memang, sesuai dengan program, siang hari itu kami akan meninggalkan Kota Suci itu dan meneruskan perjalanan menuju Jeddah. Karena itu, selepas menikmati makan siang di lantai lima lingkungan hotel tempat kami menginap, kami pun segera berkumpul di lobby hotel.

Tampak, perasaan enggan dan sedih menyergap seluruh kesadaran para jamaah, ketika mereka akan meninggalkan kota kelahiran Nabi Muhammad Saw. itu. Kami semua berharap dan berdoa, kiranya Allah Swt. memperkenankan kami kiranya dapat menjadi tamu-Nya kembali. Suatu ketika kelak, insya Allâh.

Pengasuh Terhormat Kanjeng Rasulullah Saw.

Ketika waktu menunjuk pukul dua siang waktu setempat, bus  yang akan membawa kami ke kota yang juga disebut “Pengantin Tepi Laut Merah” telah siap di samping hotel. Karena itu, satu demi satu jamaah pun mulai naik ke dalam bus.

Selepas tiada lagi jamaah maupun barang bawaan mereka yang tertinggal, kami pun berdoa bersama sejenak. Tidak lama selepas itu bus pun mulai meninggalkan tempat parkir hotel. Karena hari itu hari Jumat, meski waktu telah menunjuk hampir setengah tiga siang, namun jalan-jalan masih padat dengan para jamaah yang pergi menuju Masjid Al-Haram atau sebaliknya: kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.

Tidak lama selepas meninggalkan tempat parkir di lingkungan hotel tempat kami menginap, bus yang kami naiki pun telah meninggalkan pusat Kota Makkah dan melintasi jalan utama yang menghubungkan dua kota yang berjarak sekitar 65 kilometer: Makkah dan Jeddah. Kemudian, selepas menempuh perjalanan ke arah barat Makkah, sampailah kami di sebuah rest area di sekitar Syumaisi.

Di tempat tersebut, bus yang kami naik berhenti beberapa lama. Pendamping kami dari Makkah bermaksud membeli minuman. Untuk para jamaah. Seraya menanti orang itu berbelanja, saya pun mengamati lingkungan di dekat rest area tersebut seraya membayangkan suasana tempat itu ketika Rasulullah Saw. diasuh Halimah Al-Sa‘diyah. Seperti telah dikemukakan di muka, di Syumaisi inilah beliau melintasi masa kecil, sejak berusia satu bulan hingga berusia sekitar enam tahun. Tentu, kala itu, Syumaisi (kala itu disebut Hudaibiyah) tidak seramai kini.

Siapakah sejatinya perempuan yang mendapatkan kehormatan mengasuh Rasulullah Saw. selama sekitar enam tahun itu?

Perempuan Badui yang menyusui  Rasulullah Saw. itu bernama lengkap Halimah binti ‘Abdullah  bin  Al-Harits bin Syajnah bin Jabir. Ia berasal dari Bani Sa‘ad yang termasuk kabilah Hawazin. Karena itu,  ia mendapat gelar “Al-Sa‘diyyah” yang berarti “perempuan dari Bani Sa‘ad”. Suku Halimah  sangat  terkenal dengan kelancaran, kepetahan, dan keindahan berbahasa mereka.

Dari perkawinan Halimah Al-Sa‘diyah  dengan Al-Harits  bin ‘Abdul ‘Uzza bin Rifa‘ah, ia  dikaruniai  seorang putri dan dua orang putra: Anisah, ‘Abdullah, dan Jadzdzamah.  Kala  Nabi Muhammad  Saw. lahir, telah  menjadi  kebiasaan  orang-orang Arab Makkah kala itu, terutama kalangan elite, menyusukan dan  menitipkan bayi-bayi mereka kepada perempuan desa (bâdiyah). Ini, supaya bayi-bayi mereka dapat  menghirup  hawa segar,  terhindar  dari  penyakit-penyakit kota, dan bayi-bayi itu dapat berbicara dengan bahasa Arab yang murni  dan  fasih. Maka, ketika beliau lahir,  beliau pun diserahkan ibu tercinta beliau, Aminah binti Wahb, kepada Halimah yang tempat tinggalnya tidak jauh dari Makkah. Pada  tahap  pertama,  Halimah merawat Muhammad  Saw. kecil selama  dua tahun.

Selepas itu, Muhammad kecil dikembalikan lagi  ke  Makkah. Lantas, Halimah   membawanya  kembali  ke kampungnya, karena kala itu Kota  Suci  itu  sedang diserang  wabah penyakit.  Sehingga, secara total Muhammad Saw. tinggal di tengah-tengah Bani Sa‘ad selama sekitar enam tahun.

Selama  itu,  Rasulullah Saw. berhasil menguasai bahasa Arab yang paling murni. Tidak aneh bila di  kelak hari  Nabi Muhammad  Saw. mengemukakan, “Sungguh sayalah  orang  Arab  yang paling fasih di antara kalian semua. Saya keturunan Quraisy dan berbicara dengan lisan Bani Sa‘ad.” Menurut  sejumlah  sejarawan,  Halimah  memeluk  Islam   selepas Nabi Muhammad  Saw.  memaklumkan kenabian beliau. Dan, ia  berpulang menjelang  peristiwa Penaklukan  Makkah (8 H/629 M).  Rasulullah  Saw.  baru mengetahui   kewafatan  perempuan yang  menyusuinya itu setelah penaklukan Kota Suci tersebut.

Seusai berhenti beberapa lama di Syumaisi, bus yang kami naiki pun kembali meniti jalan raya yang kian mendekati Jeddah. Menurut program perjalanan kami, sore hari itu kami akan “menikmati” kota yang terletak di tepi Laut Merah. Selepas itu, sekitar pukul setengah tiga dini hari, kami akan melanjutkan perjalanan menuju ibukota Mesir: Kairo yang juga terkenal dengan sebutan “Kota Seribu Menara”.

Selepas menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Makkah Al-Mukarramah, di depan kami kian tampak bangunan-bangunan tinggi menjulang yang menghiasi Jeddah di kejauhan. Melihat bangunan-bangunan tinggi menjulang itu, seorang jamaah yang belum pernah ke kota itu bertanya kepada saya, “Ustadz. Kita telah sampai di Jeddah, ya?”

“Benar. Paling sekitar setengah jam lagi ke akan sampai di tepi Laut Merah. Selepas itu, kita tiba di pusat Kota Jeddah,” jawab saya. Sambil memandang ke berbagai bangunan warna-warni yang bercuatan di kejauhan.

“Pengantin Tepi Laut Merah"

Kini, bagaimanakah “kisah hidup” kota yang berada di tepi Laut Merah itu?

Jeddah, Jiddah, Jaddah, dan Juddah, itulah beberapa sebutan yang diberikan bagi kota pelabuhan yang terletak di tepi Laut Merah itu. “Jeddah” atau “Jiddah” secara harfiah berarti “kemakmuran”, “kebaruan”, “kekayaan”, “kemampuan”, “kekuasaan”, dan “kecakapan”. “Jaddah” berarti “nenek” yang diacukan kepada Hawa’, istri Nabi Adam a.s., dan juga berarti “kekayaan”.

Menurut legenda setempat, selepas berpisah dari suami, “sang Nenek” kemudian diturunkan dari surga dan ditempatkan di sebuah lokasi yang kini menjadi Kota Jeddah. Tidak aneh jika di salah satu sudut kota itu terdapat sebuah makam yang dituturkan merupakan makam “sang Nenek”. Namun, sejak 1395 H/1975 M, makam itu ditutup Pemerintah Kerajaan Arab Saudi agar orang-orang yang mengunjunginya tidak melakukan hal-hal yang “kurang layak”. Sedangkan “Juddah” berarti “lorong sempit di antara dua gunung atau jalan panjang” dan “petunjuk, tanda, dan lambang”.

Di sisi lain, kota terbesar di Provinsi Makkah dengan penduduk sekitar empat juta itu, dari sisi sejarah, memiliki perjalanan yang cukup panjang. Sebelum Islam muncul, kota itu semula merupakan sebuah kampung kecil nelayan asal Yaman, yaitu Bani Qudha‘ah. Kemudian, selepas Islam muncul dan ‘Utsman bin ‘Affan menjabat penguasa, kampung itu ia jadikan sebagai kota pelabuhan para jamaah haji. Semenjak itu, Jeddah muncul sebagai salah satu kota penting di Provinsi Hijaz dan menjadi pelabuhan penting bagi para jamaah haji di Laut Merah. Ibn Baththuthah pun pernah mengunjungi kota ini dan menyebutnya dengan sebutan Juddah dalam karyanya, Al-Rihlah.

Posisi strategis Jeddah inilah, antara lain, yang membuat kota itu menjadi incaran berbagai pihak. Pada 358 H/969 M, misalnya, selepas menundukkan Mesir, Dinasti Fathimiyah segera mengirim pasukan untuk merebut kawasan di sekitar Mesir, termasuk Hijaz dan Jeddah, dari tangan Dinati Ikhsyidiyah. Ketika usaha itu berhasil, Dinasti Fathimiyah kemudian menjadikan Jeddah sebagai pangkalan utama perdagangan antara kawasan Laut Mediterania dan Lautan India yang melintasi Laut Merah. Tidak hanya itu. Selepas itu, dinasti itu juga menggalang hubungan perdagangan dan diplomatik dengan China yang kala itu di bawah kekuasaan Dinasti Song. Karena itu, Jeddah, pada masa itu, menikmati kemakmuran ekonomi yang melimpah, buah dari perdagangan antar kawasan tersebut.

Selepas Dinasti Fathimiyah tumbang, pada 572 H/1177 M Jeddah pun berganti “tuan”. Kini, pengganti Dinasti Fathimiyah adalah Dinasti Ayyubiyah yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi. Selama di bawah kekuasaan dinasti yang berusia pendek itu, ekonomi dan perdagangan berkembang pesat. Sehingga, di sisi lain, semua itu berdampak atas kebangkitan intelektual di Dunia Islam. Tidak aneh bila di Hijaz, seperti halnya di berbagai kawasan Dunia Islam kala itu, tumbuh sederet lembaga pendidikan.

Ketika Dinasti Ayyubiyyah tumbang, pada 652 H/1254 M, Hijaz juga ikut berganti “tuan”. Kali ini, Dinasti Mamluklah yang tampil ke depan. Pada masa inilah Portugis mulai mengenal kawasan Timur Tengah, lewat petualangan yang dilakukan Vasco da Gama. Kemudian, selepas berhasil menduduki kawasan pantai Malabar dan Kalkutta, pasukan Portugis mulai menggangu perjalanan para jamaah haji dari kawasan India dan sebelah timurnya, sehingga menimbulkan teror di kawasan itu. Melihat hal yang demikian, penguasa Mesir kala itu, Sultan Al-Asyraf Qansuah Al-Ghuri, yang mendapatkan bantuan dari beberapa penguasa Gujarat dan Yaman, segera mengirimkan 50 kapal perang.  Pasukan angkatan laut itu di bawah pimpinan Laksamana Husain Al-Kurdi. 

Segera, di seputar Kota Jeddah dibangun perbentengan, dilengkapi dengan tujuh pintu gerbang, untuk menghadang gerak maju pasukan Portugis dan pertahanan di sekitar Laut Merah dan Laut Arab diperkuat. Sedangkan di kawasan Lautan India, pasukan angkatan laut Portugis lebih berjaya.

Pada masa berikut, ketika Dinasti Usmaniyah berhasil menguasai Mesir, pada 922 H/1516 M, mereka kemudian mendirikan sebuah istana kecil untuk para perwira dan serdadu dinasti itu yang ditugaskan di Kota Jeddah. Kemudian, pada abad ke-19, tujuh pintu  yang ada diganti dengan empat pintu  raksasa yang dilengkapi dengan menara-menara pengintai. Keempat pintu raksasa tersebut adalah Pintu Syam (Bâb Syâm)  atau Pintu Madinah (Bâb Madînah) dari arah utara, Pintu Makkah (Bâb Makkah) dari arah timur, Pintu Syarif (Bâb Syarîf) dari arah selatan, dan Pintu Al-Magharibah (Bâb Al-Maghâribah) dari arah laut atau barat. Sedangkan Pintu Baru (Bâb Jadîd), dibangun pada awal abad ke-20 M.

Lantas, pada 1217 H/1802 M, Makkah dan Jeddah lepas dari tangan pasukan Dinasti Usmaniyah yang bertugas di Provinsi Hijaz ke tangan Gerakan Wahhabiyah. Karena itu, penguasa Makkah kala itu, Syarif Ghalib Efendi, segera mengirim laporan  perihal peristiwa itu kepada Sultan Mahmud II, penguasa Dinasti Usmaniyah di Turki kala itu. Menerima laporan tersebut, sang sultan segera mengirim Muhammad ‘Ali, Gubernur Mesir kala itu, untuk memadamkan pemberontakan di Bumi Hijaz itu. Terjadilah Pertempuran Jeddah pertama, pada 1228 H/1813 M. Pertempuran itu dimenangkan pasukan Mesir.

Jatuh ke Tangan Keluarga Saud

Ketika Terusan Suez dibuka pada 1286 H/1869 M, Jeddah pun “menggeliat” dan berubah menjadi pelabuhan utama perdagangan antara Laut Mediterania dan Lautan India dan Pasifik. Tidak aneh bila kala itu pundi-pundi kota itu kian tebal dan penduduknya kian kosmopolitan. Duta-duta dari berbagai negara Eropa pun memenuhi bagian utara kota itu. Para hartawan pun kemudian ikut-ikut membangun rumah dan istana di kawasan itu.

Kemudian, ketika Perang Dunia I sedang membara, penguasa Hijaz kala itu, Syarif Al-Husain bin ‘Ali “membelot” dari kepemimpinan Dinasti Usmaniyah di Turki. Ia membentuk sebuah negara merdeka dengan wilayah yang membentang dari Aleppo (Halb) di Suriah hingga Aden di Yaman.

Siapakah Syarif Al-Husain bin ‘Ali ini?

Penguasa Hijaz dari kalangan para syarif Hasyimiyah ini bernama lengkap Al-Husain  bin  ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdul Mu‘in bin ‘Aun. Penguasa yang  keturunan Bani  Hasyim  ini lahir di Istanbul, Turki pada 1230 H/1853  M.  Ketika ayahnya  diangkat sebagai penguasa Makkah, ia diajak  menetap  di Kota  Suci itu. Lantas, pada 1299 H/1881 M ia kembali ke  Istanbul.  Baru pada  1326 H/1908 M. ia diangkat sebagai penguasa Makkah.  Delapan tahun kemudian, dengan bantuan Inggris, ia melepaskan diri dari kekuasaan Turki.

Kemudian,  pada  Ahad, 2 Muharram 1335 H/29 Oktober  1916  M  Syarif Al-Husain bin ‘Ali mengukuhkan dirinya sebagai Raja Hijaz. Tindakannya itu  mendapat tentangan  keras dari ‘Abdul ‘Aziz  bin ‘Abdurrahman Al Sa‘ud. Selain itu, ia mengangkat dua  putranya, Faisal  dan  ‘Abdullah, sebagai Raja Suriah dan  kemudian  Irak serta   Raja  Jordania.  Selanjutnya,  pada  1343  H/1924  M,   ia mengukuhkan  dirinya sebagai khalifah. Tindakannya ini  kembali mendapat tentangan keras dari Ibn Sa‘ud, yang kala itu telah menjadi Raja Nejd. 

Selepas kalah dalam Pertempuran Jeddah kedua, Al-Husain bin ‘Ali kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada  putranya  ‘Ali. Ia kemudian hidup  di  Siprus.  Menjelang berpulang, ia menetap di Amman. Dan, ketika ia berpulang pada Senin, 20 Shafar 1353 H/4 Juni 1934 M dan kemudian dimakamkan di Al-Quds, Palestina, ia meninggalkan tujuh putra dan putri dari tiga istrinya (Abdhiyah, Madihah, dan Adila Khanmun): ‘Ali, ‘Abdullah (Raja Transjordan yang kini menjadi Kerajaan Jordania), Fathimah, Faisal (Raja Irak), Shalihah, Sarah, dan Zaid.

Kekalahan Syarif Al-Husain bin ‘Ali membuat Hijaz pun berganti “tuan”. Penguasa baru kawasan itu adalah Raja ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud. Siapakah ia?

Penguasa Kerajaan  Arab  Saudi  yang dipandang  sebagai pengasas Kerajaan Arab Saudi dan pertama  kali mengenakan gelar Raja atau Sultan, bukannya Amîr atau Imâm,  ini lahir  pada tahun Selasa, 20 Dzulhijjah 1297 H/23 November 1880 M. Bernama lengkap ‘Abdul ‘Aziz  bin ‘Abdurrahman bin Faishal bin Turki bin ‘Abdullah bin  Muhammad bin Sa‘ud, ia tumbuh dewasa di Riyadh.

Namun, sebelum tahun  1320 H/1902 M, kala Keluarga Rasyid dari Hail menguasai kawasan  Nejd, ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman hidup sebagai pelarian di Kuwait, sebagai tamu Al Sabbah. Kemudian, ia pindah ke gurun  Rub‘ Al-Khali untuk menghimpun kekuatan. Selama  mengungsi di  gurun yang sangat gersang itulah ia memelajari aneka ragam pertempuran di gurun. Lantas, pada  Selasa, 4 Syawal 1319 H/14  Januari 1902  M, ‘Abdul Aziz Al Sa‘ud berhasil menduduki  kota  Riyadh, dengan  topangan 99 pasukan pilihan, dari tangan keluarga  Rasyid dengan  merebut Benteng Mashmak. Pada tahun-tahun  berikutnya  ia terus berjuang memertahankan kekuasaannya melawan pasukan  Turki dan   pangeran-pangeran   Hail.  Selepas   berhasil   memantapkan kekuasaannya  dan menguasai kawasan kawasan Nejd bagian  selatan, ia pun menabalkan diri sebagai Imâm dan Amîr.

Lantas,  pada tahun 1325 H/1907 M, penguasa Arab Saudi yang  pada masa  pemerintahannya  melakukan melakukan revolusi  ekonomi  dan sosial  besar-besaran ini,  selepas ditemukannya  minyak  di  kawasan Ahsa’,  berhasil menaklukkan Nejd. Enam  tahun  kemudian  ia berhasil  merebut kawasan Ahsa’ dari tangan pasukan Turki.  Pada permulaan  Perang Dunia I, Inggris mengakuinya sebagai Raja  Nejd dan  Hasa.  Dalam perjalanan hidupnya  selanjutnya,  ia  berhasil memasuki  wilayah Azir (1339 H/1920 M), Makkah (1343 H/1924  M), Madinah, dan Jeddah (1344 H/1925 M).

Selepas  berhasil  menguasai tiga kota utama  terakhir  tersebut, pada  Jumat, 23 Jumada Al-Tsaniyah 1344 H/8 Januari 1926  tokoh  yang bertubuh jangkung ini menabalkan dirinya sebagai “Raja Hijaz dan Sultan Nejd beserta wilayah-wilayah di sekitarnya”.  Selanjutnya, pada  Kamis,  16 Muharram 1352 H/11  Mei 1933  M  ia  mengumumkan berdirinya  Kerajaan  Arab  Saudi  dan menetapkan  dirinya sebagai rajanya yang pertama. Meski  demkian, baru  pada  tahun  1363 H/1943 M ia  secara  resmi  diakui  dunia internasional sebagai Raja Arab Saudi. Jabatan tersebut ia pangku hingga berpulang ke hadirat Allah di Thaif pada Senin, 2 Rabi‘ Al-Awwal  1373  H/9 November  1953 M dan dimakamkan di Riyadh.

Sejak itu, hingga dewasa ini, Jeddah menjadi di bawah kekuasaan anak keturunan Raja ‘Abdul ‘Aziz yang mendirikan Kerajaan Arab Saudi. Namun, kini, Jeddah telah kehilangan peran politik yang dimainkannya sebelumnya. Posisi kota ini kini hanya sebagai kota perdagangan yang masuk dalam wilayah Provinsi Makkah dengan ibukotanya Makkah Al-Mukarramah. Riyadh kini tampil sebagai pusat kekuasaan politik negeri itu. 

Membuka Kembali Ibadah Haji 

Karena asyik memperhatikan “suasana” pinggir Kota Jeddah dari arah Makkah, tidak terasa bus  yang kami naiki telah memasuki kawasan sepanjang panjang pantai kota industri keempat di Arab Saudi setelah Riyadh, Jubail, dan Yanbu‘ itu. Kawasan itu disebut Corniche.

Kawasan Corniche itu terbagi menjadi dua: South Corniche dan North Corniche. Melihat bangunan-bangunan indah dan megah yang kini mewarnai sepanjang kawasan itu, jauh sekali dengan “suasana” Kota Jeddah pada 1398 H/1978 M, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kota yang senantiasa hangat selama musim dingin itu, apalagi suasana Jeddah pada awal berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada 1344 H/1926 M.

Bagaimanakah suasana kota itu di tahun 1344 H/1926 M itu?

Sejenak, kini mari kita simak tulisan yang disajikan Daniel Van Der Meulen, seorang konsul Belanda pada awal tegaknya Kerajaan Arab Saudi. Konsul Belanda itu,  dalam sebuah tulisannya berjudul “Memories of Old Jiddah” (Saudi Aramco World, Juli/Agustus 1967), menuturkan:

“Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jeddah, saya lihat kota dalam keadaan setengah hancur. Kala itu, permulaan tahun 1926. Raja ‘Ali bin Al-Husain belum lama melarikan diri, selepas digempur selama sekitar satu tahun. Pergi meninggalkan kota itu dan kerajaannya kepada seorang tokoh yang dalam masa tidak lama lagi akan menentukan kembali perjalanan Semenanjung Arab: ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud. Seorang tokoh yang sebelumnya hanya sebagai seorang sultan Nejd dan kemudian menjadi seorang raja sebuah negara baru yang disebut Arab Saudi.

Penyerbuan Jeddah meninggalkan “bekas” pada Kota Jeddah. Pemboman telah menghancurkan berbagai penjuru kota itu. Penduduk kota itu, ketika bahan bakar kian langka, bersaham dalam menghancurkan berbagai bagian lain kota itu. Kelaparan dan penyakit telah menewaskan ribuan orang dan setiap orang kesulitan mendapatkan air.

Tidak aneh bila mereka lebih menaruh perhatian terhadap diri mereka sendiri ketimbang berusaha mengadang lawan yang datang menyerang. Mereka tahu, tentu, pasukan yang kini menduduki kota mereka adalah kaum Wahhabi, suatu sekte Muslim yang mendukung aturan ketat ajaran Islam, dan mereka segera diharapkan juga menganut aturan itu. Namun, negeri yang sedang diguncang perang tentu tidak menaruh perhatian terhadap masalah yang sangat penting itu. Malah, segera dampak kedisiplinan kaum Wahhabi, secara filosofis, diterima penduduk Jeddah dan sangat menarik perhatian para pengamat asing.”

Itulah sepenggal catatan seorang konsul Belanda di Jeddah tentang kota  yang terletak di tepi Laut Merah (terjemahan dari bahasa Yunani Erythra Thalassa dan bahasa Latin  Mare Rubrum)  pada 1344 H/1926 M itu. Lebih lanjut, tentang situasi Kota Jeddah pada tahun itu, Daniel Van Der Meulen menuturkan:

“Pada hari-hari pertama pemerintahannya, selepas melakukan penaklukan besar-besaran, dan ketika merasa perlu meningkatkan pendapatan kerajaannya, Raja ‘Abdul ‘Aziz pun mendirikan sebuah lembaga yang bertugas mencari emas. Ia tahu dari Perjanjian Lama bahwa selama masa pemerintahan Raja Sulaimn, emas dari jantung Dunia Arab dikirim ke Jerusalem. Karena itu, ia berketetapan hati untuk menemukan dari mana emas itu berasal.

Dengan bantuan teknik dari pihak Amerika Serikat, ia kemudian menentukan salah satu tambang Mahd Al-Dzahab (Buaian Emas) yang letaknya tak jauh dari Madinah. Hasilnya ternyata mengecewakan. Namun, di sisi lain, usaha itu melahirkan ide bahwa kekayaan mineral negeri itu harus diburu dan dicari. Itulah langkah pertama keputusan historis yang mengizinkan berdirinya sebuah perusahaan yang kini disebut Arabian American Oil Company (Aramco). Perusahaan itu bertugas untuk mencari minyak.

Salah satu gebrakan pertama yang dilakukan sang raja adalah memberikan dorongan dilakukannya kembali haji. Ini karena ibadah tersebut terhenti semenjak Perang Dunia I. Juga, karena ulah para bandit yang menguasai pelbagai rute para jamaah haji dan meminta “upeti” dari mereka, selain juga karena ulah para pejabat yang korup. Jelas, terhentinya ibadah itu merupakan tamparan terhadap Islam. Karena itu, ‘Abdul ‘Aziz segera melancarkan seruan keras untuk membasmi para bandit yang menguasai jalan-jalan menuju Makkah dan Madinah-seruan yang kadang mengganggu kenyamanan orang-orang Barat di Jeddah. Namun, sang raja tetap bergeming. “Saya memang kasar,” ucapnya suatu hari kepada saya. “Tapi, kau salah. Saya tahu bagaimana cara mengendalikan orang-orang Badui. Saya melaksanakan hukuman percontohan dengan cara yang membuat hukuman tersiar ke pelbagai penjuru gurun pasir. Bila Allah Swt. menghendaki, saya tak akan lama memberlakukan hukuman yang demikian itu.”

Penataan kembali yang dilakukan sang raja mungkin hanya merupakan langkah awal. Kini, selepas para jamaah datang dalam jumlah yang kian banyak, sang raja pun sadar bahwa ia akan menghadapi sederet problem lain. Karena itu, ia juga meminta bantuan para pakar medis dan kesehatan dari Barat untuk menangani epidemi yang biasa berjangkit di antara para jamaah ketika mereka bersama melaksanakan ibadah. Dengan cara demikian, sang raja menebarkan kemajuan di negerinya. Dan, pada saat yang sama, mengenalkan ajaran dan aturan Islam ketat yang tidak pernah dikenal kaum Muslim sebelumnya.”

Selain membangun negeri, Raja ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud juga membangun sebuah istana yang terkenal dengan sebutan Istana Khuzam. Istana yang dibangun antara 1346-1350 H/1928-1932 M itu terletak di bagian selatan Kota Jeddah dan dibangun di bawah arahan seorang insinyur asal Yaman bernama Muhammad bin Laden, seorang tokoh yang kelah besar perannya dalam pembangunan fisik di Arab Saudi. Istana itu, pada 1383 H/1963 M, dialihfungsikan sebagai tempat peristirahatan para tamu Kerajaan Arab Saudi. Kemudian, pada 1416 H/1995 M, istana itu dijadikan sebagai Museum Arkeologi dan Etnografi.

Itulah “suasana” Kota Jeddah pada tahun 1926-an.

Sebagai Kota Galeri Seni Terbuka Terbesar di Dunia

Tentu, “suasana” Kota Jeddah dewasa ini jauh berbeda dengan suasana Kota Jeddah pada “tempo doeloe” itu. Kini, bangunan, rumah, dan istana yang menghiasi kota yang juga disebut sebagai “Pintu Gerbang Dua Tanah Haram” itu sangat kaya warna. Malah, menurut Wikipedia, Jeddah kini telah berubah menjadi kota unik dan “kota galeri seni terbuka terbesar di dunia”.

Lo, mengapa demikian?

Hal itu karena di kota itu, kini, terpajang banyak karya kriya dan seni modern dengan berbagai ragam desain, tema, dan bahan. Tidak aneh bila di Corniche St., bila kita dapat menemukan karya-karya para pematung internasional, seperti halnya karya-karya Jean/Hans Arp, César Baldaccini, Alexander Calder, Arnaldo Pomodoro, Jacques Lipchitz, Henry Moore, Joan Miró dan Victor Vasarely di sepanjang Cornische St. dan di setiap bundaran atau tepi jalan di seluruh Kota Jeddah.

Karya-karya seni yang menghiasi Kota Jeddah itu, ternyata, lebih banyak berasal dari berbagai unsur peradaban tradisional Arab Saudi. Misalnya, teko kopi, tempat membakar dupa, dan pohon kurma. Sebagai contoh adalah patung sepeda raksasa karya Julio Lafuente, seorang seniman asal Spanyol, di Sitteen St., yang oleh sebagian para jamaah haji Indonesia disebut “Sepeda Nabi Adam”, dan patung kapal (kayu dan logam) serta pesawat terbang. Karya menarik lain seniman Spanyol itu adalah “Dallah Fountain”, yang merupakan rangkaian teko-teko kopi dari perunggu yang mengucurkan air ke cangkir-cangkir dari batu granit, “Lampu-lampu ala Dinasti Mamluk”, dan “Globe yang Memancarkan Cahaya” yang juga menghiasi Corniche St. di Jeddah itu.

Namun, di kota itu jangan diharapkan ada patung berupa makhluk hidup. Ini karena pendapat yang berkembang di negeri itu melarang pembuatan patung berdimensi tiga berupa makhluk hidup. Hal itu berbeda dengan sebagian pendapat yang berkembang di Mesir dan Turki, misalnya, yang membolehkan pembuatan patung makhluk hidup, dengan argumentasi bahwa larangan itu tidak bersifat mutlak. Karena itu, tidak aneh bila di Kairo kita bisa mendapatkan patung-patung para tokoh Mesir di berbagai bundaran dan taman yang menghiasi “Kota Seribu Menara” itu. Misalnya saja, patung Ibrahim Pasha di Bundaran ‘Atabah, Kairo, patung Tala’at Harb di Bundaran Tala‘at Harb di kota yang sama, dan patung Sa‘ad Zaghlul di Alexandria.

Ketika melintasi Corniche St. itu, yang membentang dari selatan hingga utara tepi pantai Kota Jeddah, bus yang kami naiki dan bergerak pelan menuju ke arah Balad tidak mengunjungi Masjid Al-Rahmah, karena waktu yang terbatas. Masjid  yang di kalangan para jamaah haji Indonesia lebih terkenal dengan sebutan “Masjid Terapung” itu berada di tepi Laut Merah yang letaknya tidak jauh dari King ‘Abdul ‘Aziz International Airport. Kemudian, ketika bus itu melintas di jalan yang sama,  di salah satu sisi jalan sepanjang pantai Laut Merah itu saya melihat empat cerobong besar yang “memuntahkan” asap tanpa henti. Ternyata, empat cerobong besar itu merupakan pusat penyulingan air di Kota Jeddah.

Lembaran sejarah menorehkan, sebelum adanya empat cerobong “penyelamat” Kota Jeddah itu, persoalan air merupakan salah satu problem utama kota itu. Tidak aneh bila seribu lima tahun silam, ketika kota itu di bawah kekuasaan Persia, di kota itu ratusan sumur digali dan tandon-tandon air dibangun. Kemudian, pada 1174 H/1761 M, hampir sebagian besar sumur itu tidak lagi meneteskan air. Carsten Niebuhr, kala menjejakkan kakinya di kota itu, pada tahun itu, mencatat, “Nyaris seluruh penjuru kota kekurangan air. Karena itu, penduduk kota itu terpaksa menggantungkan diri pada air yang dikumpulkan di bukit-bukit dan kemudian diangkut sejumlah unta.”

Baru pada awal abad ke-20 M, tepatnya pada 1325 H/1907 M, kota dengan luas sekitar 1.320 kilometer persegi itu berusaha memroduksi pasokan air segar dengan membangun sebuah kondensor penyulingan air laut. Namun, “kindasah”, sebutan yang diberikan penduduk itu bagi kondensor itu, tidak berfungsi baik. “Kindasah” buatan Inggris dan dibikin atas inisiatif pemerintah Turki itu hanya berhasil menghasilkan air yang jauh dari mencukupi keperluan mereka.

Nah, baru selepas Perang Dunia II, kota itu mulai mendapatkan pasokan besar-besaran air dari Lembah Fathimah yang terletak sekitar 80 kilometer di arah selatan kota itu. Dana untuk membiayai pasokan air itu diambil dari hasil ekspor minyak ditemukan di Arab Saudi. Namun, pertambahan jumlah penduduk Jeddah yang begitu cepat membuat harga air menjadi lebih mahal ketimbang harga minyak!

Situasi kekurangan air tersebut baru dapat dicarikan jalan keluarnya pada akhir tahun-tahun 1970-an. Kala itulah empat pembangkit penyulingan modern air laut mulai dibangun di laguna bagian utara Kota Jeddah. Komplek raksasa itu, setiap hari, mampu memasok sekitar delapan juta gallon air segar. Tidak aneh bila dewasa ini, di tingkat dunia, Arab Saudi menghasilkan sekitar tiga puluh persen air hasil penyulingan air laut. Di sisi lain, pembangkit-pembangkit itu mampu menyediakan pasokan listrik ke seluruh penjuru Kota Jeddah dengan biaya yang murah. Namun, pusat penyulingan air laut itu bukan tanpa masalah. Sebab, pusat penyulingan itu juga menjadi salah satu sumber polusi yang “mewarnai” Kota Jeddah, di samping pusat-pusat industri di bagian selatan dan utara kota tua itu.

Meski begitu, “kisah” peran kindasah buatan Inggris yang tidak kuasa “memberi” minum secukupnya bagi warga Jeddah itu tidak pernah dilupakan. Pemerintahan Kota Jeddah kemudian mengumpulkan besi tua kindasah dan meminta para seniman untuk “merangkainya” kembali menjadi sebuah karya seni. Nah, karya seni yang asalnya “bangkai” dan rangkaian kindasah itu itu kini menempati salah satu sudut tak jauh dari pusat penyulingan air laut di Kota Jeddah itu.

Selain berbagai bangunan, istana, taman, karya artistik, dan pusat penyulingan air laut, di salah satu sisi Corniche St. (tepatnya di South Corniche St.), terdapat sebuah air mancur yang mampu “memuncratkan” air setinggi 312 meter. Air mancur, yang oleh muthawwif yang mendampingi kami disebut “air muncrat”,  yang terkenal dengan sebutan “King Fahd’s Fountain” itu menghiasi Istana Al-Salam, tempat kediaman Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz di Kota Jeddah. Berbeda dengan air mancur di berbagai belahan dunia yang memancurkan air tawar, Air Mancur Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz itu memancurkan air laut.

Nah, air yang bisa muncrat hingga mencapai ketinggian 312 meter itu, lebih tinggi ketimbang Menara Eiffel di Paris, digerakkan oleh tiga pompa sentrifugal dibantu 18 pompa pendamping yang masing-masingnya memiliki kapasitas 3.5 MW. Semua pompa itu “disimpan” di bawah air. Kedelapan belas pompa ir mancur yang mulai “menari” sekitar pukul tujuh malam itu setiap detik memancarkan sekitar 625 liter air. Sedangkan dua pompa utama memancarkan 1.250 liter air setiap detik. Dan, setiap jam berat air yang dipancarkan air mancur hadiah Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz itu mencapai sekitar 18 ton! Air mancur itu sendiri dibangun antara 1400-1403 H/1980-1983 M dan mulai dioperasikan pada 1405 H/1985 M. Untuk menambah keindahannya, air mancur itu ketika malam disinari dengan 500 spotlight.

Selepas puas menelusuri Corniche St., yang membentang dari selatan hingga utara tepi pantai Kota Jeddah, bus yang kami naiki sejak kedatangan kami di Arab Saudi itu pun berhenti di Ha‘il St., di tempat parkir tidak jauh dari Corniche Commercial Center. Sebelum turun dari bus, muthawwif kami berpesan kepada para jamaah: 

“Ibu dan bapak yang saya muliakan! Sebentar lagi kita turun dari bus untuk “menikmati” Balad. Mohon tidak memisahkan diri terlalu jauh dari rombongan. Waktu kita terbatas. Dua jam saja. Saya akan mendampingi bapak dan ibu sekalian. Bila di antara ibu dan bapak ada yang terlepas dari rombongan, mohon menuju saja restoran “Si Raja Bakso” milik Mang Oedin asal Banten yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir bus ini. Di situ nanti kita berkumpul sebelum nanti naik bus kembali! 

“Kini, saya dapat menikmati rehat. Sejenak,” gumam pelan bibir saya, melihat para jamaah mulai bergerak menuju Corniche Commercial Center. Alhamdulillâh wasy syukru lillâh! @ru