Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (23):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

SELAIN DUA PUSAKA HISTORIS tersebut, masih ada sederet pusaka historis lainnya di Makkah Al-Mukarramah. Misalnya, Masjid Khalid bin Al-Walid dan Masjid Al-Fath. Masjid Khalid bin Al-Walid, yang kini terletak di Khalid bin Al-Walid St., Makkah, pernah menjadi saksi penaklukan Makkah pada masa Rasulullah Saw. Lo?  Nah, untuk mengetahui latar belakang Masjid Khalid bin Al-Walid tersebut, kini ada baiknya kita “melayag-layang” ke masa lalu. Untuk “menyaksikan” detik-detik peristiwa Penaklukan Makkah pada masa Rasulullah Saw.

Hari itu tanggal 20 (ada yang menyatakan tanggal 21)  Ramadhan 8 H/11 Januari 630 M. 

Kala itu, di Madinah Al-Munawwarah, tenda-tenda telah dilipat dan diletakkan di atas unta-unta. Rasulullah Saw. meminta supaya semua bendera dibawa kepada beliau. Selepas itu, gelombang pasukan demi pasukan kaum Muslim itu bertolak menuju Makkah. Pasukan terakhir adalah pasukan beliau. Beliau kemudian menyerahkan benderanya kepada Sa‘ad bin ‘Ubadah, jenderal yang memimpin pasukan terdepan.

Rasulullah Saw. sendiri saat itu telah mempersiapkan segala pendahuluan yang mesti dilakukan untuk mencegah terjadinya perlawanan di Makkah. Di saat yang sama, beliau berusaha keras menghindari terjadinya bentrokan, sekecil apa pun, di saat beliau memasuki Makkah. Usaha itu sangat penting, tapi sekaligus berat. 

Ketika pasukan itu tiba di Dzu Tuwa, mereka berhenti. Dari situ, Makkah dapat dilihat dengan jelas. Kota itu terlihat tenang dan sunyi. Sekaligus gelisah. Rasulullah Saw. merasa tenang ketika melihat kenyataan bahwa Makkah tidak menunjukkan tanda-tanda melawan. Kota itu benar-benar laksana sebuah kota kosong. Laksana ketika kunjungan mereka tahun lalu. Namun, kali ini, tidak dibatasi tiga hari. 

Ketika unta Al-Qashwa’ telah tiba di tempat pemberhentian, Rasulullah Saw. kemudian menyoapkan pasukan itu. Beliau menunjuk Khalid bin Al-Walid sebagai komandan di sayap kanan dan Al-Zubair bin Al-‘Awwam di sayap kiri. Pasukan yang dipimpin Khalid bin Al-Walid beliau perintahkan supaya memasuki Kota Suci itu dari arah bawah (selatan) dan menancapkan sebuah bendera pada rumah yang paling ujung. Perintah itu kemudian dilaksanakan Khalid. 

Pasukan Rasulullah Saw. sendiri, yang berada di tengah, dibagi menjadi dua: sebagian dipimpin Sa‘ad bin ‘Ubadah dan putranya.  Sebagian lagi, di mana beliau berada, dipimpin Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah. Masing-masing pasukan diminta masuk dari satu penjuru. Kepada masing-masing komandan beliau instruksikan untuk tidak menyerang, kecuali terhadap orang yang terlebih dulu melakukan penyerangan.

Ketika pasukan kaum Muslim mulai bergerak menuju jantung Makkah, Kota Suci itu sendiri membisu di depan Rasulullah Saw. dan para pendukung beliau. Ya, kini Makkah membisu dan tidak lagi meneriakkan seruan-seruan Abu Jahal, Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, Hindun bin ‘Utbah, Al-Walid bin Al-Mughirah, dan Umayyah bin Khalaf, digantikan hiruk pikuk suara sekitar 10.000 pasukan kaum Muslim yang membahana. 

Ketika pasukan kaum Muslim itu kian mendekati jantung Kota Makkah, mereka berpencar dan memasuki kota melalui empat penjuru. Khalid bin Al-Walid dari bawah. Melintasi tiga jalur yang berbeda. Sedangkan yang lain dari bukit,

Penaklukan Tanpa Meneteskan Darah

Kala itu sendiri, beberapa kelompok orang Quraisy  dan Bani Bakar, yang dipimpin Suhail bin ‘Amr, ‘Ikrimah bin Abu Jahal, dan Shafwan bin Umayyah memutuskan untuk melawan dan berperang. Ketika melihat pasukan Khalid bin Al-Walid menuju Kota Makkah melalui jalur bawah, mereka berusaha menghadang dan menyerang pasukan itu dari Bukit Khandamah. 

Namun, mereka tidak sepadan dengan pasukan Khalid bin Al-Walid. Akibatnya, pihak penyerang kehilangan dua belas atau tiga belas orang. Sedangkan di pihak pasukan Khalid kehilangan dua orang dari pasukan berkuda. Suhail pun berlindung di dalam rumahnya. Sedangkan ‘Ikrimah dan Shafwan melarikan diri. Dengan meninggalkan orang-orang yang tadinya mereka kerahkan.
 
Ketika Rasulullah Saw. mendapat laporang tentang terjadinya bentrokan itu, beliau pun bertanya, “Bukankah kalian kularang bertempur?” Selepas dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, beliau pun bisa memahaminya. Tak lama kemudian, Kota Makkah berhasil dikuasai pasukan kaum Muslim. Mereka kemudian bergabung kembali di sekitar Masjid Al-Haram. Kini, usai sudah tugas mereka. 

Nah, di lokasi Khalid bin Al-Walid menancapkan bendera kemudian dibangun sebuah masjid. Masjid yang ada dewasa ini dibangun pada 1377 H/1957 M. Sementara Masjid Al-Fath, yang  terletak di Lembah Marr Al-Zhahran, sekitar 25 kilometer sebelah utara Makkah melalui jalur Makkah (sekitar 18 kilometer dari Masjid Tan‘im) pernah menjadi “tuan rumah” bagi Rasulullah Saw. ketika beliau bersama sekitar 10.000 kaum Muslim menaklukkan Makkah pada Ramadhan 8 H/Desember 629 M. Kala itu, mereka bermalam di lokasi itu.  Di tempat itu pulalah Abu Sufyan bin Harb, pemuka Makkah kala penaklukan itu, menyatakan keislamannya. 

Kini, bagaimanakah kisah keislaman ayah Ummu Habibah, salah seorang istri Rasulullah Saw. itu?

Ketika tiba di Lembah Marr Al-Zhahran, pasukan di bawah pimpinan Rasulullah itu Saw. kemudian memancangkan kemah-kemah. Juga, menyalakan api unggun di dekat setiap tenda yang menampung pasukan berkekuatan sekitar 10.000 orang. Hingga membuat lembah pasir itu berpendar terang benderang. Ini dimaksudkan supaya musuh melihat  betapa besarnya pasukan tersebut, sehingga akan membuat mereka gentar. Ya, membuat mereka gentar sebelum berperang.

Hal itu karena seluruh taktik Rasulullah Saw. ditujukan untuk menaklukkan Makkah tanpa meneteskan darah. Setetes pun tidak. Dengan begitu, kehormatan Tanah Suci Makkah tetap terpelihara. Untuk itu, beliau bermaksud melakukan serangan mendadak, supaya musuh tidak memiliki kesempatan untuk bersiap diri menghadapi pasukan besar yang beliau pimpin. Diharapkan, mereka tidak mungkin lagi melakukan perlawanan. Sehingga, pembebasan Makkah dapat dilakukan dengan bersih. Tanpa setetes darah pun yang mengotorinya.

Namun, berita tentang kehadiran pasukan berkekuatan besar itu segera menyebar ke Makkah. Selepas berunding dengan tergesa-gesa, para pemuka Quraisy menyepakati usulan Abu Sufyan bin Harb untuk menemui  Rasulullah Saw. Ia disertai Hakim bin Hazim bin Khuwailid, kemenakan Khadijah binti Khuwailid, dan Budail bin Warqa’ dengan tujuan untuk membujuk beliau supaya tidak menyerang Makkah. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib yang kemudian mengantarkan mereka ke tenda beliau di saat malam hari.
 
“Muhammad,” ucap Abu Sufyan bin Harb, selepas berbagi sapa sejenak dengan Rasulullah Saw. “Engkau datang dengan berbagai ragam orang. Untuk melawan kerabatmu sendiri.”

“Kalian sendiri yang telah melampaui batas,” sergah Rasulullah Saw. yang sangat memahami tabiat dan posisi Abu Sufyan bin Harb. “Kalian melanggar Perjanjian Hudaibiyyah dan membantu penyerangan terhadap Bani Ka‘ab. Dengan demikian, kalian berdosa karena telah melanggar aturan suci dari Tuhan.”

“Celaka benar engkau,” ucap Abu Sufyan bin Harb. Berusaha mengalihkan pembicaraan. “Engkau telah membuat marah kerabatmu. Ubahlah niatmu untuk menyerang Makkah dengan menyerang suku Hawazin. Sebab, hubungan kekerabatan mereka denganmu lebih jauh dan kebencian mereka terhadapmu lebih besar.”

“Abu Sufyan,” jawab Rasulullah Saw. “Aku berharap kiranya Tuhanku akan menjamin semua itu (dengan kemenangan atas Makkah, kejayaan Islam, dan penaklukan suku Hawazin).”

Kemudian, selepas berbincang lama, Rasulullah Saw. lantas mengajak mereka bertiga untuk memeluk Islam. Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa’ langsung menyatakan keimanan mereka. Sedangkan Abu Sufyan bin Harb hanya bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah”, dan kemudian diam. Ketika diminta untuk mengucapkan syahadat kedua, ia berucap, “Muhammad. Di hatiku masih ada ganjalan tentang hal ini. Berilah aku waktu untuk merenungkannya.”

Rasulullah Saw. lantas meminta paman beliau, Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, supaya membawa mereka ke tenda tempat mereka bermalam. Kemudian, ketika saat shalat Subuh tiba dan azan memenuhi seluruh tenda, hati Abu Sufyan bin Harb benar-benar tergetar. Lantas, dengan suara lirih dan penuh rasa ingin ia bertanya kepada Al-‘Abbas, “Apa itu?”

“Itu adalah seruan untuk melaksanakan shalat,” jawab Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib.

“Berapa kali mereka shalat sehari semalam?” tanya Abu Sufyan bin Harb lebih lanjut. 

“Lima kali,” jawab Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib.

Selepas menyaksikan ibadah kaum Muslim dan perilaku mereka terhadap Rasulullah Saw., Abu Sufyan bin Harb memutuskan, atas saran Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, untuk mengucapkan syahadat secara lengkap.

Nah, masjid baru yang kini tegak di lokasi itu didirikan  Syeikh Hasan Bakar Muhammad Quthb pada 1397 H/1977 M. 

Pembangunan Besar-Besaran

Ketika bus yang kami naiki kian dekat dengan hotel tempat kami menginap, di kanan dan kiri kami tampak pembangunan besar-besaran di seputar Makkah  umumnya, dan di sekitar Masjid Al-Haram khususnya, sedang dilaksanakan pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Seperti kerap dikemukakan dalam sederet media massa dan tulisan, pemerintah negeri itu dipastikan akan merenovasi kawasan di sekitar Masjid Al-Haram. 

Pembangunan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas daya tampung para jamaah haji dan umrah yang senantiasa meningkat setiap tahunnya. Masjid Al-Haram, di masa mendatang, akan dikelilingi bangunan dengan konsep superblok mewah. Pembangunan superblok di atas lahan seluas 23 hektar ini telah berlangsung sejak Rabi‘ Al-Akhir 1419 H/Mei 2008 M. Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi baratdaya hingga utara Masjid Al-Haram, saat itu, nyaris telah rata dengan tanah. Renovasi besar-besaran itu atas perintah Raja ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz selaku penjaga dua Kota Suci yang ingin menambah 35 persen kapasitas Masjid Al-Haram.

Proyek raksasa itu akan menyerap dana hingga  100 milyar dolar Amerika Serikat (Rp 920 trilyun). Dana itu mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Makkah. Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana dalam negeri Arab Saudi. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tidak ragu menanamkan modalnya. Ini karena setiap tahun, jumlah para jamaah haji mencapai empat juta orang, ditambah belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlah mereka meningkat hingga sepuluh persen setiap tahun. 

Data Kamar Dagang dan Industri Makkah menyebutkan, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai tidak kurang dari 10 milyar riyal (sekitar Rp 25 trilyun). Itu di Makkah saja. Kehadiran 15-an juta para jamaah itu tentu memerlukan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjid Al-Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya.

Jika ditotal, renovasi Masjid Al-Haram dan Kota Makkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Proyek itu terbagi menjadi beberapa wilayah. Misalnya, 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjid Al-Haram. Kawasan ini kini dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran. Di sisi barat Masjid Al-Haram yang meliputi kawasan Jabal ‘Umar dan Jabal Ka‘bah dibangun hal serupa. 

Semua itu masih ditambah stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter dibangun menembus Jabal ‘Umar dan menyambung ke Ummu Al-Qura St. Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. 

Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj Al-Bait yang dilengkapi dengan “The Makkah Clock Royal Tower”, bangunan tertinggi kedua di dunia. Tujuh menara pencakar langit itu kuasa menampung 65.000 orang. Di kawasan itu juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjid Al-Haram yang terhubung dengan dua jalan utama.

Meski perombakan besar-besaran tersebut diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Dr. Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the Two Holy Mosques Institute for Hajj Research. 

Sami Angawi menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Makkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya. Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Makkah supaya lebih banyak lahan datar. “Mestinya lanskap Kota Makkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh,” ujar doktor di bidang arsitektur Islam lulusan School of Oriental and African Studies, Universitas London, Inggris itu.

Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjid Al-Haram. Sebab, gedung pencakar langit itu menutupi pandangan dari Ka’bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjid Al-Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. “Alasan mereka bisa dipahami. Namun, di sisi lain, kita memerlukan tempat untuk menampung jamaah,” kata Lahem Al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjid Al-Haram itu.

Makkah Sedang Menjadi Seperti Las Vegas?

Kritik terhadap arah pembangunan yang sedang berlangsung di Makkah itu sejatinya sejak lama telah dikemukakan Ziauddin Sardar dalam karyanya Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come. Tulis Ziauddin Sardar dalam karyanya yang terbit pada 1405 H/1985 M itu:

“Dalam lingkungan ibadah haji (di Makkah) akhir-akhir ini banyak terjadi perubahan. Hingga beberapa dasawarsa yang lalu, lingkungan ibadah haji masih mirip dengan lingkungan ketika Nabi Saw. melaksanakan ibadah haji perpisahan beliau. Seolah waktu membiarkan Makkah dan kawasan suci itu tidak tersentuh. Para jamaah haji melaksanakan ibadah sebagaimana yang senantiasa dilaksanakan para jamaah sebelumnya: dengan berjalan kaki atau duduk di atas punggung hewan tunggangan. Kelelahan fisik sepenuhnya terjadi karena sebab-sebab alamiah: panas dan lingkungan nan gersang. Pencapaian ruhaniah para jamaah kian meningkat karena mereka tahu bahwa mereka sedang berjalan di atas lumpur dan karang yang dilewati Nabi Saw. Dimensi ruhaniah jauh melebihi kelelahan fisik.

Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, lingkungan ibadah haji telah diubah. Hingga nyaris tidak dapat dikenali lagi. Makkah telah diubah menjadi sebuah kota modern: karakter tradisionalnya telah digantikan dengan semua ciri utama kota Barat masa kini. Jalan dua arah, blok-blok menara baja dengan polusi yang menyertainya, dan sederet masalah dislokasi semuanya ada di sana. Tempat-tempat suci lainnya, seperti Mina dan Madinah, juga telah mengalami berbagai perubahan serupa. Tidak dapat dielakkan lagi, waktu dan peradaban modern akan membubuhkan capnya pada lingkungan suci.”

Di sisi lain, megaproyek yang sedang berlangsung di Makkah itu juga memicu kenaikan harga properti di Makkah. Harga tanah di kawasan sekitar Masjid Al-Haram nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. Tidak hanya itu akibat megaproyek itu. Menurut seorang penulis, dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Makkah and the Rise of Saudi Greed” (http://americanbedu.com/), megaproyek itu membuat banyak penduduk Kota Suci itu “kini membuat mereka rebutan supaya dapat menemukan tempat lain yang harganya sesuai dengan budget mereka dan memiliki sekolah-sekolah yang tepat bagi anak-anak mereka.”

Tidak aneh bila megraproyek di Makkah itu mendapat kritik keras dari beberapa pihak. Misalnya saja, seperti dikemukakan Hassan M. Fattah dalam tulisannya berjudul “The profane crowding out sacred in Mecca”, kritik yang dikemukakan ‘Ali Al-Ahmad, Direktur Institute for Gulf Affairs, sebuah organisasi riset oposisi di Washington, Amerika Serikat menyatakan, “Makkah sedang menjadi seperti Las Vegas. Itu merupakan petaka. Hal itu akan menimbulkan dampak yang membahayakan terhadap kaum Muslim. Semua itu akan membuat mereka pergi ke Makkah tanpa kesan apa-apa. Makkah tidak memiliki daya pesona apa pun lagi. Semua yang Anda saksikan hanya kaca dan semen!” 

Kritik serupa dikemukakan ‘Irfan Ahmad, pendiri Islamic Heritage Foundation di London, Inggris, yang berusaha melestarikan pusaka-pusaka historis di seputar Makkah dan Madinah serta pelbagai kawasan di Arab Saudi. Ucap ‘Irfan Ahmad, “Ini adalah akhir Makkah!”

Sementara itu Michael Z. Wise (http://michaelwise.com), dalam memaparkan tentang modernisasi yang sedang berlangsung di Bumi Makkah itu, menulis: 

“Modernisasi Makkah telah memicu kontroversi di Dunia Islam. Pada 2002, pemerintah Turki melancarkan protes keras atas penghancuran sebuah benteng dari masa Dinasti Usmaniyyah yang berada di depan masjid (Masjid Al-Haram). Benteng itu diruntuhkan demi pembangunan blok-blok hotel dan apartemen. Dalam keluhan yang disampaikan kepada UNESCO Turki menyatakan, Arab Saudi telah melakukan tindak kejahatan terhadap pusaka milik bersama umat manusia dan tiada bedanya dengan Taliban yang telah menghancurkan dua patung raksasa di Afghanistan pada 2001.

Namun, Makkah tidak termasuk dalam daftar “UNESCO’ World Heritage”-beda dengan situs-situs keagamaan lainnya seperti yang ada di Vatican, Jerusalem, dan tempat kelahiran Budha. Prasasti yang tercantum dalam daftar itu perlu nominasi dari negara yang mengelola situs-situs tersebut. Meski ikut menandatangani World Heritage Convention, namun Arab Saudi belum menunjuk landmark-landmark khusus. Mungkin, karena hal itu dapat menghalangi rencana negara itu dalam memfasilitasi kehadiran para jamaah haji. Menurut sebuah laporan, seorang ulama paling senior kerajaan itu malah telah mengeluarkan fatwa yang mengizinkan penghancuran tempat-tempat historis bila penghancuran itu dapat meniadakan kesyirikan.”

Mengapa Engkau Menangis, Wahai Rasulullah?

Seusai menikmati perjalanan ke sejumlah pusaka historis di seputar Kota Suci yang dalam Alquran juga disebut dengan berbagai sebutan, antara lain Bakkah (QS Ali ‘Imrân [3]: 96), Al-Balad (Al-Balad [90]: 1-2),  Umm Al-Qurâ (Al-An‘âm [6]: 92),  Al-Balad Al-Amîn (Al-Tîn [95]: 3),  Al-Qaryah (Al-Nisâ’ [4]: 75),   Al-Baldah (Al-Naml [27]: 91), dan Harâm Amîn (QS Al-Qashash [28]: 37), kami kemudian segera menyiapkan diri untuk melaksanakan shalat Zuhur di Masjid Al-Haram. 

Ternyata, hari itu, masjid itu kian penuh dengan para jamaah dari berbagai penjuru dunia dibandingkan hari sebelumnya. Kemudian, ketika kami melaksanakan shalat Asar, Maghrib, dan Isya, masjid itu kian penuh dengan para jamaah. Mungkin, karena hari itu adalah hari Kamis, week-end bagi penduduk Arab Saudi.
 
Melihat Masjid Al-Haram yang padat dan penuh kaum Muslim yang datang dengan tujuan untuk beribadah itu, saya tiba-tiba teringat sebuah kisah yang berkaitan dengan diri Rasulullah Saw. Ini seperti dikemukakan Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam sebuah karyanya, Lentera Hati: 

Suatu malam, Rasulullah Saw. berbisik kepada istri tercinta beliau, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, “Apakah engkau rela pada malam (giliranmu) ini, aku beribadah?”
“Aku sungguh senang berada di sampingmu selalu. Namun, aku pun rela dengan apa yang engkau sukai,” sahut sang istri tercinta.

Rasulullah Saw. kemudian bangkit untuk berwudhu-tidak banyak air yang beliau gunakan-lalu beliau shalat dengan membaca Alquran, sambil menangis hingga membasahi (ikat) pinggang beliau. Seusai shalat, beliau lantas duduk seraya memuji Allah. Air mata beliau masih menetes pelan, sehingga membasahi lantai tempat tempat duduk beliau.

Kemudian ketika waktu shalat Subuh tiba, Rasulullah Saw. ternyata beliau tidak segera menuju Masjid Nabawi. “Tidak biasa Rasulullah Saw. terlambat ke masjid untuk shalat (sebelum) subuh. Ada apa gerangan yang terjadi?” gumam Bilal bin Rabah. Maka, sahabat yang satu itu kemudian mendatangi Rasulullah Saw. dan menemui beliau yang sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Rasul? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu?” tanya Bilal.

“Betapa aku tidak menangis, wahai Bilal,” jawab Rasulullah Saw. “Semalam telah turun kepadaku wahyu: Sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah, sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.’ (QS Âli ‘Imrân [3]: 190-191). 

Rasulullah Saw. kemudian berpesan kepada Bilal, “Rugilah yang membacanya, tapi tidak menghayati kandungannya.” Dan, beliau juga berpesan, “Ayat-ayat Alquran merupakan jamuan Allah.”

Teringat kisah itu, saya pun bergumam dan berdoa sepenuh hati, juga karena teringat hari berikut kami akan meninggalkan Makkah, “Ya Allah, kiranya kami semua, sebagai para tamu-Mu, dapat menjadi orang-orang yang kuasa “menikmati” jamuan-Mu, Amin.”@ru