Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (22)

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah
Burung merpati di areal Masjid Quba, Arab Saudi. (Acehkini)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah.

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut.

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja. 

Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna.

Selamat menikmati.

SELEPAS IBU ITU mengambil foto-foto yang ia inginkan, baru kemudian muthawwif meminta sopir Mesir yang mengendarai bus yang kami naiki untuk bergerak. Kali ini, menuju arah Ma‘la. Selepas bus itu berjalan beberapa lama, dan melintasi berbagai jalan, akhirnya bus itu berhenti sejenak di dekat pintu gerbang Pemakaman Ma‘la. 

Di pemakaman yang terletak di sebelah timur Masjid Al-Haram itulah, menurut Dr. Muhammad Ilyas ‘Abdul Ghani, dalam karyanya Târîkh Makkah Al-Mukarramah, Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah Saw. dikebumikan. Selain itu, di makam itu pula putra-putra beliau, sejumlah sahabat dan tabi‘in  dikebumikan. Dari dalam bus kita dapat melihat, pemakaman utama Kota Makkah ini tanpa nisan sama sekali. Seperti halnya pemakaman-pemakaman lain di Arab Saudi dewasa ini.

Ketika memandang Pemakaman Ma‘la dari atas bus, dan kemudian memandangi salah satu sudut makam di mana Khadijah binti Khuwailid dikebumikan, entah kenapa tiba-tiba pikiran dan benak saya “melayang-layang” jauh ke sekitar 595 M. Itulah tahun pernikahan Rasulullah Saw. dengan seorang perempuan agung dan suci bernama Khadijah binti Khuwailid.

Bagaimanakah kisah pernikahan itu?

Suatu hari di Makkah pada tahun itu, seorang perempuan bangsawan, kaya raya, cantik, dan terkenal cerdas serta tegas duduk mendengarkan laporan seorang anak muda. Ya, laporan tentang perjalanan dan transaksi perdagangan yang dia lakukan di Syam (sebutan yang diberikan bagi kawasan yang  membentang  dari pegunungan Taurus, di sebelah utara, sampai ke Sinai, di  sebelah selatan,  dan antara Laut Putih di sebelah barat dan hulu Sungai Eufrat dan gurun pasir Arab di sebelah  timur).

Ternyata, transaksi itu sangat menguntungkan. Ini karena anak muda itu dapat menjual barang dagangan yang ia bawa hampir dua kali lipat dari harga yang dibayarkan. Namun, bukan laporan itu yang memikat perempuan anggun nan cantik yang berusia sekitar empat puluh tahun itu. Entah mengapa, perhatiannya kali ini lebih banyak tidak terkendali dan kemudian tiba-tiba terpusat pada anak muda itu sendiri. Bukan pada laporan yang dikemukakan kepadanya. 

Pernikahan Agung antara Dua Manusia Teladan

Perempuan yang kelak mendapat gelar agung “Ibu Pertama Orang-Orang Beriman” itu benar-benar terpesona dan terpikat dengan anak muda itu. Menyadari dirinya masih cantik, namun lima belas tahun lebih tua ketimbang anak muda itu, tiba-tiba membersit dalam benaknya “ide berani”: maukah anak muda itu menikah dengannya?

Memang, ia sudah banyak mengenal kehidupan, juga mengenal pelbagai tipe pria. Ia pun telah melintasi dua kali perkawinan dengan dua pria dari kalangan bangsawan. Ia juga sudah banyak memberi upah kepada sejumlah orang tua dan anak muda yang membawa barang dagangannya. Namun, dalam hidupnya, ia belum pernah melihat atau mengenal pria yang sungguh istimewa seperti anak muda yang satu itu.

Begitu anak muda itu memohon diri dan berlalu, hati perempuan nan cantik dan berkepribadian sangat matang itu sangat resah dan gelisah. Bayang-bayang anak muda nan tampan, santun, ramah, dan berakhlak mulia itu benar-benar “menyergap” dan menggelayuti benaknya. Ia pun tenggelam dalam pikirannya, membayangkan kembali nada-nada suara anak muda yang menggemakan kejujuran, keramahan, kesantunan, dan ketegasan itu ketika menceritakan perjalanannya ke Syam. Ia tenggelam dalam perasaannya: membayangkan kembali seraut wajah anak muda yang memancarkan keagungan dan kemudaan itu.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi?

Ketika merasa telah menemukan jawabannya, perempuan anggun nan bangsawan itu tiba-tiba tertegun dan tercenung. Benar-benar bingung dan limbung. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan membawa perasaan seperti itu, selepas sedemikian lama dia menutup hatinya dan terlepas dari kehidupan pria. Ia pun tidak mengerti, bagaimana dia harus menghadapi keluarganya, selepas menolak lamaran para tokoh dan para hartawan terpandang dan terkemuka di kota kelahirannya. Tapi, mengapa pula ia sibuk memikirkan tanggapan kaumnya, sebelum mengetahui tanggapan anak muda itu tentang dirinya. Apakah anak muda itu akan menaruh hati kepada seorang perempuan berusia empat puluh tahun dan berstatus janda? Ya, seorang perempuan yang telah berusia empat puluh tahun dan berstatus janda.

Perempuan yang mendapat gelar Putri Quraisy (Amîrah Quraisy) itu pun merasa diterpa perasaan sangat malu. Dalam usianya yang telah cukup lanjut, jika dibandingkan dengan anak muda itu, tentu ia lebih layak menjadi ibu bagi anak muda itu. Malah, seandainya ibu anak muda itu masih hidup pun, usianya tentu belum melintasi empat puluh tahun perjalanan hidup anak manusia. Selain itu, dirinya pun saat itu adalah seorang ibu. Suami pertamanya memberinya seorang putri yang hampir tiba saatnya memasuki mahligai perkawinan. Sementara suami keduanya telah memberinya seorang putra, seorang bocah yang masih kecil.

Akhirnya, tidak kuasa menanggung beban gelegak hati dan pikiran yang sangat berat dan menggelisahkan hati itu, ia pun mengundang seorang sahabat karibnya. Sang sahabat bernama Nafisah binti Munabbih. Tujuannya: untuk melepaskan beban yang hampir tidak kuasa ia tanggung itu. Ketika sang sahabat datang menemuinya, ia pun segera melontarkan segala gejolak dan gelegak hati dan pikirannya yang galau dan risau itu kepada sang sahabat. Selepas berbincang dan bertukar pikiran lama, akhirnya sang sahabat menawarkan diri untuk mendekati anak muda itu. Dan, jika perlu, mengatur pernikahan mereka berdua.

Tidak lama selepas meninggalkan rumah megah perempuan anggun nan bangsawan yang sedang diterpa “penyakit cinta” itu, Nafisah pun dengan bergegas segera datang kepada anak muda yang membuat galau dan risau sahabatnya itu. Selepas berbagi sapa sejenak dengan anak muda nan tampan, santun, ramah, dan berakhlak mulia tersebut, Nafisah kemudian “menyergap”nya  dengan sederet pertanyaan: apa sebabnya hingga saat itu dia belum juga berkeluarga; mengapa menghabiskan masa mudanya begitu saja; mengapa tidak menenteramkan hati di samping seorang istri yang menyayanginya dan meniadakan kesepian serta dapat menghiburnya?

Mendengar sederet pertanyaan yang mengusik hatinya itu, anak muda yatim dan tidak pernah mengenal wajah ayahnya semenjak lahir itu hampir tidak kuasa menahan air matanya yang hampir tumpah. Seketika ia teringat akan kesepian dan keperihan hidup yang ia derita semenjak ditinggal wafat ibundanya sebagai bocah berusia enam tahunan. Dia pun memaksakan dirinya untuk tersenyum seraya menjawab, “Aku belum menemukan siapa yang akan menjadi teman hidupku.”

Seketika itu juga Nafisah binti Munabbih “menyergap”nya dengan jawaban, “Bagaimana kalau engkau ditawari seseorang yang memiliki harta, kecantikan, kemuliaan, dan kebangsawanan? Apakah engkau masih juga tidak menaruh perhatian?”

Pertanyaan Nafisah terasa menyentuh hati anak muda itu yang tidak lain adalah Muhammad bin ‘Abdullah yang kala itu belum lagi diangkat sebagai Utusan Allah. Seketika itu pula ia mengerti, siapa yang dimaksudkan Nafisah. Ia adalah Khadijah binti Khuwailid. Siapa lagi, di Kota Makkah kala itu, yang dapat menandingi Khadijah binti Khuwailid dalam hal kemuliaan, kebangsawanan, dan kecantikan? Ya, andaikata benar yang ditawarkan Nafisah adalah Khadijah, tentu saja ia mau. Namun, apakah memang Khadijah yang dimaksudkan Nafisah?

“Bagaimanakah aku dapat menikahinya?” tanya anak muda itu. Dengan perasaan ragu dan galau.

“Serahkan hal itu kepadaku!” jawab Nafisah binti Munabbih. Lega dan gembira, karena anak muda itu tidak menolak calon istri yang ditawarkan kepadanya.

Nafisah binti Munabbih segera memohon diri. Ia meninggalkan anak muda itu hanyut dalam lamunan, membayangkan kelemahlembutan Khadijah. Terbayang di pelupuk mata dan dalam pikirannya, masa depan nan indah, penuh kemesraan dan kasih sayang. Namun, ia segera menghentikan angan-angannya, agar tidak mengkhayal terlalu jauh. Sebab, dirinya tahu, Khadijah pernah beberapa kali menolak lamaran orang-orang Quraisy terkemuka dan terpandang. Untuk menenangkan diri, ia segera pergi menuju Ka‘bah seraya berusaha mencoba bersikap realistis.

Pada saat yang sama Nafisah segera menapakkan kaki menuju rumah Khadijah binti Khuwailid. Betapa gembira hati Khadijah selepas mendengarkan hasil perbincangan sahabatnya itu dengan anak muda itu. Khadijah kemudian meminta Nafisah memanggil anak muda itu agar datang kepadanya. Setelah ia datang, Khadijah pun berkata kepadanya, “Putra pamanku! Aku mencintaimu karena kebaikanmu kepadaku. Juga, karena engkau senantiasa terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat dengan sikap nan bijak. Aku menyukaimu, karena engkau dapat diandalkan. Juga, karena keluhuran akhlak dan kejujuran perkataanmu.”

Kemudian perempuan nan bersih dan suci  (Al-Thâhirah) yang menurut beberapa sumber lahir di Makkah sekitar 555 M dan putri pasangan suami-istri Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai dan Fathimah binti Zaidah bin Al-‘Asham dari Bani ‘Amir bin Lu’ayyi bin Ghalib itu menawarkan dirinya untuk dinikahi. Mereka pun sepakat supaya masing-masing berbicara kepada pamannya. Khadijah berbicara kepada pamannya, ‘Amr bin Asad, karena ayahnya, Khuwailid bin Asad, berpulang menjelang peristiwa Perang Fijar.

Kesepakatan dicapai di antara mereka bahwa Muhammad harus memberi Khadijah binti Khuwailid mahar 20 ekor unta betina. Dan, kemudian, dilaksanakanlah pernikahan antara Muhammad bin ‘Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid bin Asad yang berasal dari klan Bani Hasyim dari  suku Bani  Asad.  Dengan  kata lain,  di  antara  istri-istri beliau, Khadijah  inilah yang paling dekat garis keturunannya dengan beliau. 

Itulah kisah pertemuan dan perkawinan antara Rasulullah Saw. dan istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid.

Pernikahan agung antara kedua manusia teladan itu, ternyata, kemudian tetap berlangsung hingga sang istri teladan itu wafat di usia sekitar enam puluh lima tahun. Tak  aneh  jika beliau sangat  kehilangan  ketika Ibu Pertama Orang-Orang Beriman itu  berpulang  pada 10 atau 11 Ramadhan tahun  ke-10  kenabian (atau  tiga  tahun sebelum Hijrah/30 atau 31 April 619  M)  di usia 65 tahun karena sakit demam dan dimakamkan di Pemakaman Ma‘la, Makkah.

Ketika memakam Khadijah binti Khuawilid, Rasulullah Saw. meletakkannya sendiri ke  dalam liang lahad. Dan, tentang istrinya yang memberi  beliau enam  putra-putri:  Al-Qasim, ‘Abdullah,  Zainab,  Ruqayyah, Ummu  Kultsum, dan Fathimah Al-Zahra’ ini, sepeninggal  Khadijah,  beliau memujinya, “Allah tidaklah menganugerahkan kepadaku seorang istri sebagai pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia  beriman  kepadaku ketika semua orang  mengingkari kenabianku. Ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakan aku. Ia  mengorbankan hartanya ketika semua orang berusaha mempertahankannya. Dan, dari rahimnya Allah menganugerahkan anak-anak bagiku. Bukan dari perempuan-perempuan lain.”

Selepas bus yang kami naiki berhenti beberapa lama tak jauh dari pintu gerbang makam utama Makkah Al-Mukarramah tersebut, bus itu kemudian bergerak pelan dan melintasi dua masjid bersejarah yang terletak tidak jauh dari Pemakaman Ma‘la: Masjid Jin dan Masjid Syajarah.

Masjid yang pertama terletak di sebelah kiri jalan ke arah Pemakaman Ma‘la, di samping jembatan penyeberangan. Masjid yang satu ini dinamakan demikian karena di lokasi masjid itulah Rasulullah Saw. menerima rombongan jin yang ingin membaiat beliau. Sebelum itu, mereka telah bertemu dengan beliau di Nakhlah, ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Thaif pada tahun ke-10 kenabian. Masjid yang juga disebut dengan nama Masjid Al-Haras itu dipugar pada tahun 1421 H/2000 M.

Sementara Masjid Syajarah secara harfiah berarti “Masjid Pohon”. Masjid yang lokasinya berhadapan dengan Masjid Jin itu disebut demikian karena Rasulullah Saw. pernah memanggil sebuah pohon yang tegak di lokasi Masjid Syajarah dewasa ini. Menerima panggilan beliau tersebut, pohon itu lantas tercerabut dari bumi dan memenuhi panggilan beliau hingga berada di hadapan beliau. Kemudian, ketika beliau memerintahkan pohon itu kembali ke tempatnya semula. Di lokasi kejadian itu kemudian didirikan sebuah masjid. Dan, masjid yang ada dewasa ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Masjid Jin: pada tahun 1421 H/2000 M.

Mulai Terpengaruh Gaya Barat

Di sisi lain, selama dalam perjalanan antara kaki bukit Gunung Nur hingga Masjid Jin dan Masjid Syajarah, saya lihat Kota Makkah kian berubah menjadi sebuah kota baru. Rumah-rumah model lama yang kerap saya saksikan di kota ini pada awal tahun-tahun 1980-an kian sedikit jumlahnya. Kini, Makkah kian diwarnai berbagai bangunan, gedung, dan rumah bergaya mutakhir.

Bagaimanakah perkembangan dan corak rumah-rumah Makkah di masa lalu?

“Dengan lahirnya Islam pada abad ke-7,” tulis Nihal Uluengin dan Bülent Uluengin dalam tulisan mereka bersama berjudul “Homes of Old Makkah” (Saudi Aramco World, Juli/Agustus 1993 M), “haji memiliki makna baru. Para jamaah haji pun kian meningkat jumlahnya.

Nah, sebagian di antara mereka kemudian memutuskan untuk menetap di Tanah Suci. Mereka pun mendirikan bangunan di lembah seputar Ka‘bah. Kemudian, setiap tahun, jumlah para pendatang baru pun kian banyak. Akhirnya, para pendatang paling akhir pun mendirikan rumah-rumah mereka di lereng-lereng dan puncak-puncak gunung. Ini akibat keterbatasan lahan dan problem banjir yang kerap menghajar lembah di seputar Ka‘bah. Kala itu, rumah-rumah yang ada tak lebih dari dua lantai.

Kemudian, ketika Makkah berada di bawah pemerintahan Dinasti Usmaniyah, Turki (1517-1924 M), perumahan dan bangunan yang ada di Makkah berada di bawah pengaruh arsitektur Turki. Sederet istana, benteng, dan rumah besar pun didirikan di atas bukit dan lembah sekitar Makkah. Bangunan-bangunan yang ada pun kian tinggi menjulang, seiring dengan kemajuan di bidang teknologi konstruksi dan pengelolaan tanah, sehingga mencapai tujuh lantai. Selepas 1924, di antara rumah-rumah tradisional Makkah ada yang mulai terpengaruh gaya Barat. Namun, rumah-rumah itu relatif tidak banyak berubah. Hingga munculnya beton sebagai bahan bangunan.

Secara umum dapat dikatakan, gaya arsitektural Muslim di Timur Tengah-Afrika Utara, Suriah, Semenanjung Arab tengah, Turki tengah-diwarnai oleh bangunan dan rumah berlantai satu atau dua yang terpusatkan pada sebuah rumah berhalaman luas di Jeddah, Yanbu‘, Madinah, Thaif, dan Makkah.

Di Makkah, ada sejumlah faktor yang membuat rumah-rumah di Kota Suci itu memiliki corak tersendiri. Hubungan yang kuat antara kota itu dengan negara-negara di sepanjang Laut Merah, lewat Pelabuhan Jeddah, merupakan faktor terpenting. Sedangkan faktor-faktor lainnya, antara lain, adalah keperluan fungsional penduduk kota itu, keinginan mereka untuk berdiam di dekat Ka‘bah, panas ekstrim yang kadang mencapai 50 derajat celcius (122 derajat fahrenheit), dan topografi lembah-lembah Makkah yang terletak di antara padang steppa dan pegunungan batu. Karena itu, rumah-rumah ala Makkah memiliki ciri: ukuran besar, lantai yang kuat, dan tampilan yang menonjol keluar. Kisi-kisi jendela dari kayu, yang disebut masyrabiyyah, kecil maupun besar, sederhana maupun dihias indah, menimbulkan kesan yang dalam dan menarik ketika kita melihat fasad rumah-rumah itu.

Ternyata, rumah-rumah ala Makkah yang kami survei pada 1982 tidak beda jauh dengan rumah-rumah di Makkah seperti yang dipaparkan oleh para petualang dan pengelana yang mengunjungi Tanah Suci itu selama berabad-abad…”

Lebih jauh Nihal Uluengin, seorang guru besar arsitektur di Yildiz Technical University, Istanbul, dan Bülent Uluengin, seorang guru besar arsitektur Mimar Sinan University, Istanbul, Turki itu memaparkan:

“Tampak jelas, konfigurasi bagian dalam rumah-rumah tradisional Makkah telah disesuaikan dengan berbagai keperluan dan tuntutan kota itu dan penduduknya. Untuk dapat melayani para jamaah haji dan umrah tentu diperlukan guide, makanan, dan transportasi. Semua itu merupakan industri lokal utama Kota Makkah.

Sebelum memasuki masa modern, di Makkah tidak tersedia hotel. Karena itu, banyak warga kota itu kemudian ikut menyediakan akomodasi bagi para jamaah haji. Mereka pun menyewakan kamar, satu lantai, atau seluruh rumah. Tidak aneh jika kemudian penduduk Makkah pada umumnya menjadikan rumah mereka dengan dua fungsi: sebagai tempat tinggal dan tempat penginapan.

Rumah-rumah tradisional Makkah pada umumnya terdiri dari tujuh lantai. Fasad rumah-rumah itu dihiasi dengan kisi-kisi kayu dan tembok batu bata warna-warni di teras atapnya. Privacy merupakan faktor utama yang menentukan pemanfaatan ruang rumah-rumah itu. Dari arah jalan, seseorang akan memasuki rumah itu dengan melintasi pintu.

Begitu melintasi pintu, ia akan berada di ruangan besar yang disebut dihlîz. Lantai dasar atau lantai pertama itu disiapkan untuk kaum pria. Di situ, tamu pria tidak akan bertemu dengan perempuan yang tidak berjilbab. Sedangkan lantai atas disediakan untuk kaum perempuan. Tamu tidak diperkenankan naik ke lantai atas tanpa pendamping. Lantai ruang utama, di lantai dasar atau pertama, dilapisi pasir atau sejenis ubin yang disebut tubtab. Pada salah satu sisi dan kedua sisi ruangan itu terdapat kursi yang ditinggikan. Di situlah tuan rumah menerima tamu-tamu biasa, menikmati teh bersama mereka, dan menghirup shîshah.

Di sisi lain ruang utama itu-kadang di kedua sisinya-dan lebih tinggi dari lantai ruangan itu terdapat ruang duduk geser penting yang disebut maq‘ad. Ruang itu berfungsi sebagai kantor atau ruang bagi tamu yang telah dikenal baik. Malah, ruang itu kadang juga berfungsi sebagai tempat tidur siang hari di musim panas yang menyengat atau tempat penyimpanan barang di musim haji. Hingga pun di rumah-rumah yang paling sederhana, kegiatan sosial yang demikian itu memainkan peran penting. Karena itu, maq‘ad biasanya lapang, beratap tinggi, dan sarat dekorasi dan ornamen.

Pada rumah yang berusia lebih tua, milik orang kaya, maq‘ad digantikan dengan sebuah ruangan yang lebih mewah. Ruangan itu disebut îwân. Ruangan itu dilengkapi karpet di lantai dan bantal-bantal untuk duduk atau bersandar sepanjang dinding. Ruangan tersebut, bagi kaum pria, juga berfungsi sebagai tempat pertemuan, bersantap malam, dan membincangkan bisnis. Selain itu, ruangan ini juga dilengkapi kamar mandi yang disebut bait al-mâ’ atau bait al-thahârah. Lantas, di sudut ruangan di lantai dasar atau pertama itu ada bidang kosong. Di situ, terdapat tangga yang menuju lantai atas. Tangga yang mengitari pilar utama itu tertutup oleh tembok tebal.

Pembagian di lantai-lantai atas dapat dikatakan sama: begitu melintasi pintu berukiran, seseorang akan langsung berada di ruang utama. Nah, ruang utama itu menjadi titik pusat ruang-ruang lain. Ruang utama, yang disebut majlis, menghadap ke arah jalan. Lantai ruangan itu dihampari karpet. Nah, di sepanjang dinding terdapat bantal-bantal rendah dan padat untuk tempat duduk dan bersandar, mirip couche tanpa kaki atau kerangka. Lemari-lemari dengan pintu-pintu ukiran menghiasi dinding-dinding ruangan utama itu. Jendela-jendela yang dihiasi masyrabiyyah atau rawâsyîn tampak menonjol keluar di atas jalan. Untuk memasuki ruang duduk utama, seseorang harus melintasi sebuah kamar kecil yang disebut suffah.

Di samping majlis terdapat sebuah ruang penyimpanan barang yang disebut khizânah. Majlis sendiri merupakan ruangan serba guna, sesuai dengan pelbagai keperluan keluarga: menjadi ruang duduk ketika siang hari, tempat berkumpul kaum perempuan manakala ada tamu di maq‘ad atau îwân, tempat tidur di malam hari, atau kamar sewaan bagi para jamaah haji di musim haji. Khizânah yang berada di sebelah ruangan itu kadang berfungsi sebagai tempat menyimpan matras, bantal, dan seprei, dan kadang berfungsi sebagai dapur yang disewakan bagi para jamaah haji. Rumah-rumah berukuran besar juga memiliki ruangan duduk yang disebut mu’akhkhar, yang menuju ke arah jalan di belakang rumah atau menuju minwâr, ruang terbuka untuk membuat sinar matahari masuk ke dalam rumah. Dan, di setiap lantai, terdapat toilet.

Begitu kita naik ke atap, di situ terdapat sebagian ruang yang diubah menjadi teras terbuka. Biasanya, teras lantai tiga disediakan bagi kaum perempuan dan anak-anak si pemilik rumah. Malah, di musim haji sekalipun, lantai-lantai atas itu tidak disewakan. Karena itu, di situ senantiasa terdapat dapur dan kamar mandi. Teras itu berfungsi untuk menjemur pakaian, menikmati segarnya udara di sore hari, atau tidur di bawah naungan bintang-bintang di malam-malam musim panas yang menyengat. Tak aneh, jika teras-teras itu dikitari tembok batu bata setinggi orang. Di antara tembok-tembok itu terdapat celah-celah, sehingga udara dapat mengalir dengan leluasa.

Sisi luar tembok-tembok itu dicat warna-warni: putih, merah, kuning, dan biru. Sehingga, dari kejauhan, rumah-rumah itu menyajikan pemandangan khusus. Di teras itu terdapat sebuah ruang tamu kecil yang disebut mabît. Tempat itu menjadi tempat tinggal, makan, dan tidur bagi keluarga si pemilik rumah selama musim haji jika rumah itu disewakan kepada para jamaah haji.”

Sayang, rumah-rumah tradisional ala Makkah Al-Mukarramah yang demikian itu kini kian sedikit jumlahnya. “Arsitektur tradisional Makkah-sebagai rantai kebudayaan dan tradisi Arab Saudi-selayaknya dinilai dan ditemukan kembali serta dilindungi. Bukannya dihancurkan. Kualitas-kualitasnya yang sangat bernilai dapat memberikan inspirasi bagi desain-desain baru bagi bangunan modern,” tulis Nihal Uluengin dan Bülent Uluengin ketika mengakhiri paparan mereka.

Rumah yang Memendarkan Cahaya Islam

Selepas melintasi Masjid Jin dan Masjid Syajarah, bus yang kami naiki kemudian mengarah ke hotel tempat kami menginap. Waktu shalat Zuhur kian dekat. Karena itu, dalam perjalanan siang hari itu kami tidak mengunjungi rumah kelahiran Rasulullah Saw. dan tempat tinggal beliau selepas menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.Tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw. itu kini disebut Maulid Al-Nabiy.

Kini, di manakah lokasi tempat kelahiran beliau?

Jika selepas keluar dari Pintu Raja ‘Abdul ‘Aziz kemudian kita berjalan pelan mengitari Masjid Al-Haram dan Mas‘â (tempat melaksanakan sa‘i), di sebelah timur pelataran masjid itu terdapat sebuah bangunan sederhana dan di atas bangunan tersebut terdapat billboard besar dengan tulisan “Maktabah Makkah Al-Mukarramah” (Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah). Itulah tempat kelahiran beliau.

Sebelum perpustakaan itu (kala itu tanpa kegiatan) tegak, sejatinya di lokasi itu pernah berdiri sebuah masjid yang dibangun seorang perempuan rupawan nan berotak cemerlang yang tak lain adalah permaisuri Al-Mahdi, penguasa ketiga Dinasti  ‘Abbasiyah di Irak. Perempuan itu dikenal dengan nama Al-Khaizuran (yang secara harfiah berarti “bambu”, tanaman yang menurut orang-orang Arab melambangkan kecantikan dan keluwesan) binti  ‘Atha’  Al-Khurasyiyah. Masjid itu kini telah tiada karena diruntuhkan. Kemudian,  pada 1370 H/1950 M, sebagai gantinya di lokasi yang sama dibangun sebuah perpustakaan oleh Syaikh ‘Abbas Qaththan.

Rasulullah Saw. sejatinya tidak lama berada di rumah kelahiran itu. Sebab, tidak lama selepas lahir pada hari Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal tahun Gajah atau 21 April 570 M, beliau dibawa Halimah binti Abu Dzu’aib Al-Sa‘diyah yang, menurut Dr. Syauqi Abu Khalil dalam karyanya Athlas Al-Sîrah Al-Nabawiyyah, bermukim di sekitar Hudaibiyah (kini disebut Syumaisi, terletak sekitar 24 kilometer sebelah barat Kota Makkah ke arah Jeddah).

Dengan kata lain, Rasulullah Saw. tidak lama menempati rumah itu selepas lahir. Beliau baru kembali menikmati rumah selepas pulang dari pengasuhan Halimah Al-Sa‘diyah tersebut. Kala itu beliau berusia sekitar enam tahun. Dan, sekitar tiga tahun kemudian, selepas berpulangnya kakek tercinta beliau, ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, beliau kemudian pindah ke rumah pamanda tercinta beliau, Abu Thalib bin ‘Abdul Muththalib, yang terletak di kaki Jabal Abi Qubais.

Meski tidak lama menempati rumah kelahiran itu,  rumah yang tidak terbayangkan bagaimana kondisinya kala itu sejatinya menjadi saksi kelahiran Muhammad bin ‘Abdullah, seorang Rasul dan Nabi terakhir yang, menurut Michael H. Hart dalam karyanya The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, “memainkan peranan yang jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi ‘Isa terhadap agama Nasrani." 

Kemudian, jika kita berdiri membelakangi gedung perpustakaan tersebut dan menghadap ke arah Masjid Al-Haram, pandangan kita akan tertuju ke arah Pintu Nabi (Bâb Al-Nabî) yang terletak di sebelah Pintu Al-Salam (Bâb Al-Salâm). Nah, di situlah dulu  pernah tegak sebuah rumah yang sangat besar perannya dalam sejarah Islam! 

Mengapa demikian?

Ini karena rumah yang kini tiada sama sekali sisanya itu pernah menjadi saksi dalam waktu yang cukup lama, sekitar 28 tahun, kisah perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah Saw. Rumah itu tidak lain adalah rumah yang beliau tempati bersama istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Sebelum menikah dengan beliau, seperti tercatat dalam torehan emas sejarah Islam, Khadijah menempati sebuah rumah yang terletak di lereng Jabal Khalifah (kini disebut Jabal Qal‘ah), di pintu masuk terowongan yang menghadap ke Pintu Raja ‘Abdul ‘Aziz. Rumah ini kemudian dihadiahkan kepada putri sulung mereka, Zainab binti Muhammad, ketika menikah dengan Abu Al-‘Ash bin Al-Rabi‘ bin ‘Abdul ‘Uzza.

Menurut Dr. Muhammad ‘Abduh Yamani, dalam karyanya Khadîjah binti Khuwailid, Sayyidah fi Qalb Al-Mushthafâ Saw. di rumah yang sebelum dibeli Rasulullah Saw. milik Hakim bin Hizam bin Khuwailid itulah “Khadijah r.a. melahirkan semua putra-putri Nabi Saw. Di situ pulalah Khadijah berpulang. Dan, dari rumah ini pulalah Rasul Saw. bertolak untuk berhijrah.”

Mantan menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi itu lebih lanjut menyatakan, “Rumah inilah yang memancarkan cahaya Islam dan memendari panji-panji kaum Muslim; rumah yang menjadi saksi laju gerakan risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw.; rumah tempat Jibril Al-Amin berulangkali mendatangi Thaha (Muhammad) Al-Amin dan menurunkan wahyu tujuh ayat Surah Al-Fatihah dan (beberapa ayat) Alquran; rumah yang beliau tinggali selama 13 tahun mengajak manusia menuju tauhîd (keesaan Tuhan) dan meninggalkan paganisme. Dari rumah inilah Rasulullah Saw. mendeklarasikan diri beliau kepada bangsa Quraisy dan seluruh umat manusia bahwa beliau adalah utusan Tuhan semesta alam. Dari rumah inilah Rasul Saw. bangkit untuk menyampaikan risalah kepada bangsa Quraisy dan seluruh umat manusia... Lebih dari sepertiga surah-surah Al-Quran turun  di rumah ini.”

Sayang, Rumah Wahyu (Dâr Al-Wahy)  itu, yang kemudian dijual ‘Aqil bin Abu Thalib kepada Mu‘awiyah bin Abu Sufyan selepas beliau berhijrah dan besar perannya dalam sejarah Islam, kini  tiada sama sekali bekasnya dan telah menjadi bagian dari pelataran timur Masjid Al-Haram. Rasulullah Saw. sendiri, sebelum menempati rumah yang dipandang sebagai bangunan termulia ketiga di Makkah (setelah Ka‘bah dan Masjid Al-Haram) itu, tinggal di rumah Abu Thalib bin ‘Abdul Muththalib yang terletak tidak jauh dari situ, di sebelah kanan rumah Rasulullah Saw. selepas menikah tersebut, di kaki Gunung Abu Qubais (kini di atasnya tegak sebuah bangunan megah milik Kerajaan Arab Saudi).

Sayang, memang, satu demi satu prasasti historis di Kota Suci itu kini tinggal “kisahnya” semata. Duh!