Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (20):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

SELEPAS SEKITAR SETENGAH JAM berada di kaki Gunung Tsur, kami kemudian meneruskan perjalanan menuju Padang ‘Arafah. Dengan melewati jalur Kuday.
 
Ketika bus yang kami naiki melintasi Kuday St., di sebelah kiri jalan kami, antara lain, tampak tempat parkir bus-bus dari luar Arab Saudi. Sedangkan di kanan jalan, di seberang tempat parkit itu, tampak tempat pendistribusian air Zamzam. Sejumlah truk tanki pengangkut air Zamzam tampak berderet di tempat itu. Melihat tempat pendistribusian air Zamzam itu, segera saja saya teringat kisah panjang Sumur Zamzam.

Erat kaitannya dengan Sumur Zamzam itu, pertama-tama perlu dikemukakan, sejatinya kisah sumur yang terletak di sebelah tenggara bangunan Ka‘bah  itu tidak  dikemukakan  dalam  Alquran.   Namun,  kisahnya  dikaitkan dengan perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s.: seorang Nabi yang hidup sekitar 4.000 tahun yang silam. 
 
Kala  itu, sumur Zamzam masih menjadi bagian dari gurun pasir yang gersang dan tandus. Ini merupakan  bukti, kala itu  tempat tersebut belum pernah  dihuni.  Lalu Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya, Hajar, dan putranya, Isma‘il a.s., datang dan  bermukim di tempat itu untuk memenuhi perintah Allah Swt.  Lantas, suatu ketika saat  Nabi Ibrahim a.s. sedang pergi beberapa lama,  persediaan  makanan dan minuman habis. Malah, air susu Hajar pun mengering. Hidup ibu dan  putranya itu terancam haus dan lapar. Hajar lantas  berupaya mencari  air  dengan berlari-lari kecil dan bergegas dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Tujuh kali.

Namun, upaya Hajar sia-sia. Ia pun kembali dengan putus asa kepada putranya, Isma‘il a.s. Namun, betapa terperanjatnya ia, tatkala putra yang ia tinggalkan di bawah payung “cinta” dalam keadaan haus dan gelisah, telah menggali pasir di  bawah kakinya dengan tumitnya. Pada puncak keputusasaannya dari dari tempat yang tak terduga-duga, tiba-tiba muncul, dengan kekuatan keperluan dan kasih sayang Allah Swt., gemercik: suara air. 

“Itulah Zamzam. Mata air manis dan pemberi kehidupan yang mengalir dari batu!” tulis Dr. Ali Shariati dalam karyanya Hajj.

Beberapa lama selepas itu, melihat  adanya  sumur  di  padang  gersang  itu,  segera  sebuah keluarga  dari suku Jurhum, yang berasal dari Yaman, menetap di sekitar sumur  ini.  Maka, dengan  bergulirnya  waktu,  wilayah di  sekitar  sumur  ini  pun semakin  dihuni banyak orang. Namun, sumur ini  kemudian  ditutup Al-Harits  bin  Madhdhadh. Akibatnya, selama  sekitar  tiga  abad sumur ini “tidak termanfaatkan”. Sumur ini baru “ditemukan kembali” oleh  ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi Muhammad Saw.  Sejak  itu, hingga kini, sumur ini tetap menyajikan airnya bagi para jamaah haji dan umrah. 

Disedot Sekitar 100 Meter Kubik Setiap Hari

Sumur Zamzam  sendiri (kini dikitari planel-planel kaca dan terletak di lantai bawah Masjid Al-Haram) memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan itu merupakan lapisan pasir yang sangat berpori dan berisi batu pasir hasil transportasi dari lain tempat.
 
Mungkin saja, dahulu, ada lembah yang dialiri sungai yang kini telah kering. Atau bisa pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya. Kedalaman 17 meter ke bawah selanjutnya, sumur itu menembus lapisan batuan keras: berupa batuan beku diorit. Batuan beku jenis itu agak langka dijumpai di Indonesia, tapi sangat banyak dijumpai di Semenanjung Arab. Di bagian atas batuan itu terdapat rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Pernah ada yang menduga, retakan ini menuju Laut Merah. Namun, tiada laporan geologis yang menunjukkan hal itu. 

Dahulu,  air Zamzam ini ditimba  dari  sumur  dengan menggunakan  timba kulit khusus. Kemudian, air itu  dimasukkan  ke dalam bak air besar, lantas dibagi-bagikan kepada para  pemakainya. Kini,  ada  tiga  tahapan dalam pembagian air  itu.
  
Pertama,  air dipompa  dari sumur dengan menggunakan pompa  otomatis  berukuran besar  dan  dialirkan ke stasiun pendinginan di luar  Masjid  Al-Haram  di depan Pintu Al-Fath. Stasiun ini juga memiliki  sistem pengaturan  udara  untuk wilayah Zamzam. Di sini  air  dilewatkan melalui  penyaring  khusus  untuk  pemurnian.  Malah,   dilakukan sterilisasi  dengan  sinar ultra violet.  
Kedua,  air  dilewatkan melalui  tanki  pendingin, sehingga suhu air bisa  diatur  menurut keperluan. 
Ketiga, air dipompakan ke Masjid Al-Haram melalui pipa baja yang dilapisi dengan bahan pencegah aliran pembuangan panas. Bahan  pelapis itu ditempatkan di masa di luar Pintu  Quraisy, Pintu  ‘Arafah, dan Pintu Mina. Selain itu, air Zamzam juga diangkut ke tempat-tempat lain menggunakan truk tangki. Antara lain ke Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarrah.

Melihat deretan truk-truk air yang mengantri di Kuday, tiba-tiba dalam benak saya muncul pertanyaan, “Seberapa banyakkah air Zamzam yang disedot setiap hari?”
 “Sekitar 100 meter kubik setiap hari!” jawab Habib Shaikh dalam tulisannya “Zamzam: The miracolous well that cleans itself”. “Nah, pada hari Jumat, jumlah itu meningkat dua kali lipat: menjadi sekitar 200 meter kubik. Jumlah itu melejit dan berlipatganda pada bulan Ramadhan dan musim haji. Mengapa? Ini karena pada bulan Ramadhan dan musim haji, tidak hanya para jamaah umrah dan haji dari berbagai penjuru dunia saja yang ingin “menikmati” air Zamzam. Namun, juga para warga Arab Saudi sendiri. Di dalam Masjid Al-Haram saja, air Zamzam yang dinikmati para jamaah setiap hari mencapai 1.800 meter kubik (sebelum masa pandemi covid-19). Sedangkan di luar masjid mencapai 270 meter kubik. Sementara air Zamzam yang dinikmati para jamaah, pada bulan yang sama, mencapai sekitar 270 meter kubik setiap hari.”

Itu yang terjadi beberapa tahun lalu. Kini, konsumsi air Zamzam para jamaah, haji dan umrah, kian melejit tinggi. “Para jamaah umrah saja,” tulis Salman Al-Sulami dalam tulisannya berjudul “Zamzam consumption reaches a new high”, “menikmati sekitar 2.232.342 liter air Zamzam setiap hari. Lewat tidak kurang dari 19.000 pendingin air!”

Mungkin, dalam benak Anda “menggeliat” sebuah pertanyaan, “Lo. Tidakkah Sumur Zamzam akan kering bila setiap hari disedot besar-besaran seperti itu?”

Pertanyaan yang demikian ternyata telah diantisipasi Kerajaan Arab Saudi. Untuk itu, sejak beberapa tahun yang lalu, kerajaan itu telah membentuk sebuah pusat kajian. Yaitu Zamzam Studies and Research Center, di bawah Saudi Geological Survey. Salah satu fungsi pusat kajian itu adalah memantau, mengelola, dan mengoptimalkan pasokan dan distribusi air Zamzam secara ilmiah. Sehingga, dengan demikian batas pasokan dari sumur itu, secara besar-besaran, tidak melampaui kapasitas sumur itu.  Selain itu, pusat kajian itu juga berfungsi untuk memelihara kebersihan, higienitas, dan kesinambungan pasokan air Zamzam.

Pembentukan pusat kajian tersebut tampaknya tidak lepas dari sebuah kejadian yang terjadi pada 1391 H/1971 M. Kala itu, seorang doktor Mesir menulis sepucuk surat kepada media massa Eropa dan menyatakan bahwa air Zamzam tidak layak dikonsumsi.
 
Mengapa air Zamzam tidak layak dikonsumsi?
 
Menurut sang doktor, hal itu karena lokasi Ka‘bah terletak di tempat yang bawah (di bawah permukaan Laut Merah) dan berada di pusat Kota Makkah. Karena itu, seluruh saluran air limbah Kota Suci itu menuju Sumur Zamzam.  Menerima laporan tentang tulisan demikian, kala itu Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz segera memerintahkan Kementerian Pertanian dan Sumber Daya Air supaya menjawab tulisan doktor Mesir itu, dengan mengirim beberapa sampel air Zamzam ke beberapa laboratorium Eropa untuk meneliti air itu. Ternyata, menurut hasil penelitian dan kajian laboratorium-laboratorium Eropa itu, air Zamzam layak diminum. 

Menerima hasil penelitian dan kajian itu, Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz pun segera memerintahkan supaya semua hasil penelitian dan kajian itu dikirimkan ke berbagai media massa Eropa. Untuk membuktikan bahwa pernyataan doktor Mesir itu tidak memiliki pijakan ilmiah yang kuat!

Khutbah Haji Rasulullah Saw.
 
Selepas beberapa lama meniti berbagai jalan  di seputar Makkah Al-Mukarramah, akhirnya bus yang kami naiki pun kian mendekati Padang ‘Arafah. Hal itu ditandai dengan sebuah billboard besar berwarna kuning yang dihiasi tulisan “Bidâyah ‘Arafât” (Permulaan ‘Arafah) dan “Arafat Starts Here” (‘Arafah Bermula di Sini). Di sebelah kanan Arafat Ring Road itu, agak jauh ke dalam, tampak sebuah masjid megah dengan enam menara yang tinggi menjulang dan tiga menara. Itulah Masjid Namirah.

Pada musim haji, pada saat wukuf, di masjid yang terletak di perbatasan antara Tanah Haram dan ‘Arafah itulah Imam berkhutbah dan memimpin shalat zuhur dan asar. Menurut Dr. Muhammad Ilyas Muhammad ‘Abdul Ghani, dalam karyanya Târîkh Makkah Al-Mukarramah, ketika Rasulullah Saw. melaksanakan ibadah haji pada 10 H. Nah, pada hari ‘Arafah, beliau membuat kemah di Namirah. Kemudian, selepas matahari tergelincir, beliau pindah ke tengah Lembah ‘Uranah. Untuk berkhutbah dan melaksanakan shalat di sana. 

Kini,  bagaimanakah kisah lengkap khutbah Rasulullah Saw. itu?

Hari itu adalah hari Sabtu, 7 Maret 632 H/9 Dzulhijjah 10 H. Pada pagi hari itu, selepas menginap di Mina dan ketika matahari di langit mulai menapakkan kakinya sepenggal, Rasulullah Saw. kemudian meminta agar Al-Al-Qashwa’, unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menungganginya, meninggalkan Mina, dan kemudian meneruskan perjalanan menuju tengah Padang ‘Arafah. 

Melihat ribuan jamaah yang memenuhi panggilan Allah dan menaati perintah-Nya, Rasulullah Saw. merasa lega: umatnya telah menegakkan kebenaran Islam dengan ikhlas. Saat itu, beliau berniat menanamkan inti ajaran Islam di dalam hati mereka. Hal itu beliau lakukan dengan memanfaatkan pertemuan mulia itu sebagai kesempatan itu untuk mengucapkan khutbah yang mengikis habis sisa-sisa kejahiliahan yang masih mengendap kuat dalam jiwa kaum Muslim. Beliau juga hendak menekankan soal-soal akhlak, hukum, dan hubungan antar sesama kaum Muslim. Termasuk hubungan antara suami-istri.

Rasulullah Saw. kemudian berdiri di hadapan sekitar 124.000 atau 140.000 kaum Muslim untuk menyampaikan khutbah haji terakhir beliau yang lebih dikenal dengan sebuatan Haji Wadâ‘. Khutbah itu diulang dengan ucapan yang lebih keras oleh Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf:

“Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini.
 
Tahukah kalian semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, Hari Kurban yang suci. Tahukah kalian bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua, darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhan kalian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kalian! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!

Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa memegang amanah di tangannya, hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sungguh, riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib.

Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.

Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumi kalian  yang suci ini. Namun, ia bangga bila kalian dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! 

Wahai manusia! Sungguh, zaman itu beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi.

Wahai manusia! Sungguh, bagi kaum perempuan (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum perempuan itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sungguh Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Namun, bila mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan perempuan dan terimalah wasiat ini untuk memperlakukan mereka dengan baik. Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang bila kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. 

Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidup kalian!!

Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi masing-masing pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!

Janganlah kalian, setelah aku meninggal dunia nanti, kembali pada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang bila kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tak akan sesat, yakni Kitab Allah (Alquran). Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling takwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa. Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah! Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tak hadir!’”

Selepas berkhutbah dan melaksanakan shalat Zuhur dan Asar, Rasulullah Saw. kemudian pindah lagi ke tempat semua di Padang ‘Arafah.

Masjid Namirah sendiri, kini, telah diperluas menjadi 124.00 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Sehingga, kini, masjid itu mampu menampung sekitar 300.000 jamaah. Namun, perlu dikemukakan, perluasan itu berakibat sebagian masjid berada di luar wilayah ‘Arafah. Untuk itu, di sekitar masjid itu dipasang rambu-rambu yang menunjukkan batas-batas ‘Arafah. Karena itu, bagi para jamaah haji dianjurkan agar pindah tempat dan masuk ke dalam batas Tanah Suci ‘Arafah selepas melaksanakan shalat zuhur dan asar. Mengapa? Karena siapa pun di antara para jamaah haji masih berada di depan Masjid Namirah dan baru bergerak ke Muzdalifah selepas matahari terbenam, hajinya tidak sah!

Kisah Cewek AS Naik Haji

Tidak lama kemudian, bus yang kami naiki mulai meniti jalan yang menuju Gunung (Jabal) Rahmah. Pemandangan di kanan dan kiri bus nampak lengang. Berbeda jauh sekali dengan suasana pada tanggal 9 Dzulhijjah, pada puncak musim haji, ketika jutaan kaum Muslim akan, sedang, dan usai melaksanakan wukuf. Tiang-tiang air mancur yang biasanya “menghiasi” sepanjang jalan yang sedang dilewati bus itu pun tampak “diam terpaku” laksana patung tegak tanpa kata. Tidak memancarkan sama sekali setetes air pun. Waktu saat itu sendiri menunjuk sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat. Meski di musim semi, terpaan terik matahari tetap terasa panas di tubuh.

Selepas mengitari ‘Arafat Ring Road, bus yang kami naiki itu kemudian memasuki pelataran tempat parkir yang terletak tak jauh dari Gunung Rahmah. Sebelum turun, para jamaah telah dipesan agar tidak “tergiur” tawaran naik unta para pemilik unta tanpa menawar terlebih dahulu dan tidak terbujuk pula oleh tawaran difoto oleh para tukang foto tanpa menawar lebih daulu. Mengapa? Karena jika tanpa tawar-menawar atau negosiasi terlebih dahulu, mereka kemungkinan akan dipalak oleh para pemilik unta dan para tukang foto tersebut. Selain itu, bagi para jamaah yang akan naik ke puncak Gunung Rahmah, mereka hanya diberi waktu sekitar setengah jam. 

Begitu pintu bus dibuka, para jamaah pun segera turun. Sebagian di antara mereka segera “melakukan transaksi” dengan para pemilik unta. Sebagian yang lain segera menyebar ke pelbagai sudut tanah lapang di kaki Gunung Rahmah dan mengambil foto-foto kenangan di Dataran ‘Arafah itu. Dan, sebagian yang lain lagi segera menuju Gunung Rahmah dan mendaki ke puncak gunung itu, diantar muthawwif kami selama berada di Tanah Suci. Saya sendiri tidak ikut naik ke puncak gunung itu, karena mendampingi beberapa ibu lanjut usia yang tidak ikut naik ke puncak Gunung Rahmah. 

Melihat seputar Gunung Rahmah dan Dataran ‘Arafah, seraya mendampingi para jamaah yang tidak naik Gunung Rahmah, tiba-tiba dalam benak saya terbayangkan suasana musim haji di Dataran ‘Arafah dan betapa ibadah itu kerap menorehkan kenangan yang begitu indah bagi banyak orang. Misalnya saja, pengalaman naik haji seorang gadis AS pada penggal pertama tahun-tahun 1970-an dan seorang wartawan foto Reuters pada 1430 H/2009 M.

Gadis AS tersebut, seperti dikemukakan Michael E. Jansen dalam tulisannya berjudul “An American Girl On The Hajj” (Saudi Aramco World, November/Desember 1974 M), menulis:

“Dengan pemahaman baru dalam kalbu, kami pun menapakkan kaki menuju sebuah kota padang pasir kecil, Mina. Di sanalah Muhammad dan para sahabat beliau melewatkan malam sebelum meneruskan perjalanan menuju ‘Arafah. Meneladani jejak langkah beliau, kami pun menginap di Mina, di sisi sebuah wâdî steppa yang kerontang dan berwarna coklat…

Di bangunan yang saya inapi, ternyata saya bersama enam perempuan Pakistan dan tujuh anak. Karena selimut dan kasur mereka telah tergelar, sedangkan barang bawaan mereka bertebaran di sana-sini, saya pun mendapatkan sepenggal lantai yang hanya cukup untuk menaruh kasur campuran karet dan busa  yang saya beli di pasar (sûq) Jeddah. Saya tak tahu, berapakah umur bangunan itu atau berapa lamakah para jamaah haji telah menempatinya. Tapi, saya tahu, di Mina terdapat sederet khan di Mina ketika Burckhardt naik haji pada 1814 M.

Saya kemudian dengan bergegas memelajari suasana di seputar Mina. Ternyata, lokasi itu benar-benar memesona. Di Mina, ternyata, terdapat kios-kios yang menjajakan minuman dingin, kain, pakaian, mainan, dan tasbih berderet sepanjang jalan. Barang-barang dari pelbagai penjuru dunia dapat ditemukan di situ: jam tangan dari Jepang, pisang dari Guetemala, apel dari Lebanon, jeruk dari Yordania, kain dari Hong Kong dan India, pakaian dan kaus dari Afrika, cokelat dari Swiss, sandal dari China, dan pelbagai barang dari pelbagai negara asal para jamaah haji.

Senja harinya saya kemudian mengitari tenda-tenda tempat sebagian besar para jamaah haji menginap. Mina benar-benar merupakan sebuah kota: lengkap dengan jalan-jalan raya dan jalan-jalan yang sempit, fasilitas sanitasi, dan air mengalir. Sepanjang jalan raya saya lihat dispenser-dispenser gratis, tenda-tenda kesehatan, sebuah pesawat terbang Swiss ukuran kecil sedang menyempot obat anti-lalat dan kuman, dan beberapa helikopter melintas di atas kepala untuk membantu tim ambulan dalam menemukan para jamaah haji yang memerlukan pertolongan medis. 

Tenda-tenda yang ada memiliki bentuk dan ukuran yang sama serta untuk pelbagai keperluan. Ada tenda-tenda bergaris-garis, ada pula tenda-tenda dengan hiasan bunga, dan ada pula tenda-tenda warna-warni. Semua tenda itu membentuk paviliun-paviliun dengan pola-pola yang apik dan memiliki ruang besar di dalamnya dengan pelbagai kamar yang tersekat-sekat: tenda untuk tidur, tenda untuk makan, tenda khusus, dan tenda untuk mandi.

Ketika malam kian beringsut pelan, saya pun berbaring di kasur kecil milik saya. Pandangan saya menerobos keluar jendela. Di luar, saya melihat sebuah bangunan di seberang jalan dengan puncak-puncaknya yang berwarna hijau dan merah jambu serta sarat dengan hiasan desain-desain geometrik dan pelbagai motif bunga. Betapa memikat bangunan itu, pikir saya. Semua itu digunakan untuk pelbagai tujuan ruhaniah yang diwarnai dengan tujuan yang indah, menawan, dan manusiawi.

Ketika dini hari berikutnya tiba-tanggal 9 Dzulhijjah dan hari kedua proses ibadah haji-saya bangun karena azan dilantunkan. Saya pun berwudhu, shalat, mendaras Alquran untuk menyegarkan memori saya tentang perikehidupan Nabi Saw. Khususnya tentang haji wadâ‘ beliau yang senantiasa menjadi teladan kaum Muslim. Karena itu, merupakan praktik yang senantiasa saya lakukan ketika naik haji ini adalah mendaras Alquran atau menelaah makna pesan Nabi Saw. setiap kali saya menghadapi pertanyaan atau persoalan.

Ketika waktu menunjuk pukul delapan pagi, saya pun naik ke atas atap minibus milik muthawwif dan menyesuaikan diri dengan berbagai barang dan bawaan para jamaah haji yang ada dalam minibus itu. Jalan penuh dengan mobil, bus, dan truk yang kelebihan muatan dengan para jamaah dan barang bawaan mereka, seraya menanti tanda memulai perjalanan menuju ‘Arafah. Begitu getar mesin mulai menggeletar, yang menandai dimulainya perjalanan itu, kami semua pun mulai bergerak dan “berlayar” dengan langkah pelan dan pintar di “lautan” lalu lintas yang sangat padat, tapi tetap diwarnai dengan kebahagiaan para jamaah. Seluruh bagian dari “sungai” itu mengalir pelan dari Mina menuju ‘Arafah.

“Labbaika Allâhumma Labbaik!” seru sekelompok kecil orang-orang Afrika di atas sebuah truk kecil. Segera kelompok-kelompok lain pun menyerukan talbiyyah serupa. Sahut-menyahut tanpa henti. Setiap bangsa memiliki aksen talbiyyah yang khas, untuk memenuhi sebuah seruan yang diwahyukan lebih dari 13 abad yang silam, “Dan berserulah kepada manusia untuk melaksanakan haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj [22]: 27). 

Tidak lama setiba di ‘Arafah, saya pun segera menuju Gunung Rahmah. Di kaki bukit granit hitam di ujung Dataran ‘Arafah itulah Nabi Saw. menyampaikan khutbah perpisahan. Di puncak gunung itu, yang sarat dengan para jamaah haji, sebuah tugu putih tegak. Sebagian di antara para jamaah sedang shalat, sebagian yang lain sedang berbincang sambil duduk di atas hamparan, sebagian yang lain lagi sedang mengambil foto, dan sekelompok orang Afrika, yang sedang berlindung di bawah payung, dengan penuh khidmat melantunkan talbiyyah, “Labbaika Allâhumma Labbaik…”. 

Di sisi lain, seorang muthawwif, yang memimpin sebuah barisan panjang para jamaah Turki, menyerukan talbiyyah lewat sebuah pengeras suara dan kamera-kamera televisi yang sedang meliput lautan manusia di dataran itu lalu lalang di atas kepala kami. Sementara itu, di depan saya, seorang jamaah pria sedang berbincang penuh perhatian dengan istrinya. Namun, begitu ia mendongakkan kepalanya dan melihat Gunung Rahmah ada di hadapannya, tiba-tiba ia menghentikan langkah-langkahnya dan menangis tersedu-sedu.

Begitu saya mendaki Gunung Rahmah, seorang perempuan Afrika bertubuh jangkung pun ikut “menikmati” payung yang saya bawa. Segera, saya pun teringat pesan Nabi Saw., “Dan, sungguh, kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah.”

Ketika kembali ke tenda, saya dapatkan para perempuan Pakistan-kini mereka adalah kelompok saya-belum lagi pergi ke Gunung Rahmah. Malah, mereka sedang duduk di atas hamparan dan membaca Alquran. Bagi saya, ayat-ayat Alquran kian bermakna ketika kita berada di pelbagai jalan di ‘Arafah, di kaki Gunung ‘Arafah, dan di dataran kerontang yang dikitari pegunungan kebiru-biruan dari tiga sisinya. Maka, saya pun keluar dari tenda dan berjalanan sendirian hingga saya menemukan sebuah tempat di mana saya dapat melaksanakan wukuf seraya memandangi Gunung Rahmah dan merenungkan makna wukuf berpijakkan khutbah Nabi Saw. 

Hari itu, di bawah terpaan terik matahari sore hari, banyak di antara kami yang berada di jalan-jalan ‘Arafah seraya mengenang wahyu terakhir yang diturunkan Allah Swt. kepada Muhammad Saw. di ‘Arafah, “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian.” (QS Al-Mâ’idah [5]: 3). Ketika mendengar ayat itu, para sahabat pun menangis, karena mereka mengetahui bahwa beliau tidak akan lama lagi bersama mereka. Dan, semenjak itu, setiap jamaah haji merasakan perasaan kehilangan yang sama. 

Selepas melaksanakan shalat Magrib dan Isya, perasaan lega luar biasa mewarnai suasana di ‘Arafah dan suasana yang ada berubah dari ibadah yang dalam menjadi kedamaian yang luar biasa. Pada saat itu, saya terkenang sebuah kisah indah yang berkaitan dengan diri Nabi Saw.: sebuah kisah yang menjelaskan tentang transformasi yang terjadi di ‘Arafah. Sebuah kisah yang tidak diketahui banyak orang. Namun, esensinya dirasakan semua jamaah haji dalam kalbu mereka masing-masing.

Haji Merupakan Pengalaman Indah

Kini, sebuah pengalaman lain kisah naik haji. Kali ini, seorang wartawan foto Reuters menuturkan kisahnya ketika ia naik haji. Nah, ketika meliput pelaksanaan ibadah haji tahun 1430 H/2009 M, wartawan itu (http://blogs.reuters.com/photo/2009/12/02/pilgrimage-to-mecca/), menulis sebagai berikut:

“Melakukan liputan tentang ibadah haji tahun 2009 merupakan pengalaman yang mencerahkan diri saya, sebagai seorang fotografer. Saya pernah melakukan berbagai liputan keagamaan di Iran. Namun, saya tidak pernah menghadapi peristiwa yang sangat luar biasa seperti halnya ibadah haji tahun ini. Apalagi musim haji tahun ini dilengkapi pula dengan ancaman flu burung.

Saya tiba di Jeddah beberapa hari sebelum ibadah haji dimulai. Oh, ternyata Arab Saudi kini sarat dengan berbagai kemewahan dan organisasi ala Amerika Serikat (AS). Foto diri saya diambil seorang petugas imigrasi dan jari-jari saya pun dipindai. Di Bandar Udara Jeddah itulah saya dijemput pendamping kami dari Kementerian Informasi. Petugas itu didampingi seorang sopir yang mengendarai sebuah mobil SUV AS. 

Kami pun langsung menuju pusat media massa. Untuk mengambil kartu press saya. Selepas itu, kami kemudian meneruskan perjalanan menuju Makkah. Kali ini, untuk mengambil foto-foto sederet checkpoint dan keamanan di Arab Saudi. Saya lihat, di mana-mana para perwira polisi sedang mengenakan masker. Seperti halnya para jamaah haji.

Hari berikut, pada jam tiga pagi, kami meninggalkan Makkah agar dapat tiba di Gunung Nur sebelum matahari terbit. Duh, ternyata perjalanan itu begitu lama dan perjalanan mendaki itu gunung itu begitu melelahkan. Tapi, wow, betapa indah pemandangan di atas gunung itu ketika matahari sedang menampakkan senyumnya. Pada sore harinya, kami pergi ke sebuah pangkalan militer. Di sana, kami mengambil sejumlah foto persiapan keamanan ibadah haji. Di pangkalan itu sendiri hadir sejumlah pejabat tinggi Arab Saudi dan luar negeri. Termasuk Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Pangeran Nayif bin ‘Abdul ‘Aziz. Hal itu sejatinya merupakan parade militer yang memamerkan hardware keamanan polisi Arab Saudi untuk menangani setiap masalah keamanan

Sore hari berikutnya kami kembali ke Makkah untuk melakukan liputan tentang penanganan masalah medis bagi para jamaah haji. Saat itu hadir Menteri Kesehatan Arab Saudi, ‘Abdullah Al-Rabi‘ah, bersama tim RVN yang tiba pada pagi hari itu. Kegiatan itu sejatinya adalah sebuah show sederet mobil ambulan dan klinik bergerak untuk menangani para jamaah haji yang menghadapi masalah medis. 

Dari semua itu nampak, pengorganisasian haji kini terencana baik dan mulus. Selepas melintasi pengalaman bertahun-tahun, kini mesin ibadah haji berjalan lancar. 

Pada 24 November kami kembali menuju Makkah untuk mengambil beberapa foto Masjid Al-Haram. Di masjid itu terdapat Ka‘bah, Baitullah. Rumah itu adalah titik pusat ibadah kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Ka‘bah itu pulalah rumah Islam. Kami ingin mengambil beberapa foto dari titik yang jauh di atas masjid itu, sehingga harapan kami bisa mendapatkan foto-foto dengan sudut pandang yang indah. Kami pun pergi ke sebuah hotel, untuk meminta izin pengambilan foto-foto itu dari atap hotel. Di dalam hotel bintang lima itu, semua tamu mengenakan pakaian ihram. 

Selama masa haji, harga kamar-kamar hotel yang menghadap Masjid Al-Haram melejit hingga 4.000 dolar AS per malam. Untuk paket selama dua minggu. Tanpa mengambil foto-foto di dalam hotel, dengan bergegas kami pun menuju elevator. Kemudian, kami pun naik, naik, dan naik hingga lantai ke-50 hotel itu. Lantai atap hotel itu sendiri sedang dalam tahap penyelesaian.

Sayang, pandangan dari hotel ke arah Masjid Al-Haram kurang memikat, karena dalam mengambil foto-foto itu saya terhalang kaca-kaca kotor dan “sudut tembak” kurang tepat. Saya pun mengambil beberapa foto. Namun, saya katakan kepada pendamping saya dan petugas keamanan hotel bahwa saya memerlukan foto-foto yang lebih baik. Kami pun mengajukan ide untuk mengambil foto-foto itu dari hotel sebelah. Semula petugas keamanan itu menolak ide itu. Akhirnya, ia meminta kami agar tidak lama mengambil foto-foto itu, karena kami tidak mendapatkan izin sebelumnya. Kami pun segera menuju hotel seberang, lewat sebuah jembatan pipa dan papan yang membentang. 

Ternyata, pemandangan di situ begitu memukau. Kami pun benar-benar terkesan dengan pemandangan di situ. Puas dengan foto-foto yang kami ambil, kami segera turun menuju lantai bawah hotel dan kemudian menuju Masjid Al-Haram. Namun, segera para petugas masjid, utamanya para polisi keagamaan (muthawwa‘ûn), menjelaskan bahwa kami tidak diperkenankan mengambil foto-foto dari lantai bawah masjid. Karena itu, pendamping kami pun membawa kami berlalu dari situ. 

Hari berikut, kami merencanakan meninggalkan Jeddah pada dini hari dan menuju tempat yang telah disiapkan untuk kami di ‘Arafah untuk memulai ibadah haji. Namun, rencana itu berantakan. Mobil kami mogok dan hujan turun deras sekali. Tiga jam kemudian, kami diangkut ke sebuah hotel untuk berangkat dengan sebuah konvoi mobil dan bus yang membawa para wartawan menuju Dataran ‘Arafah. Ternyata, baru enam jam kemudian kami diberitahu untuk naik ke mobil dan bus untuk berangkat. Karena kami tidak membawa mobil sendiri, kami terpaksa berdesak-desakan dengan para wartawan lainnya. Rombongan dan barang bawaan mereka dinaikkan ke sejumlah mobil. 

Kami pun berangkat, dengan melintasi jalan-jalan yang tergenang air, menuju ‘Arafah bersama sekitar dua juta jamaah yang juga naik mobil dan bus. Kami dikawal polisi. Namun, berjalan bersama polisi merupakan pekerjaan tambahan tersendiri. Akibatnya, mobil-mobil kami pun melaju kencang bagaikan mobil-mobil para pembalap. Beberapa kali mobil yang kami naiki nyaris menabrak mobil di depan kami dan beberapa kali pula mobil kami nyaris ditabrak mobil lain. Akhirnya, mobil kami benar-benar tertabrak. Segera, gambaran organisasi model AS yang rapi, dalam benak saya, pun mulai berantakan. 

Pada pukul dua dini hari, akhirnya, kami tiba di pos Kementerian Informasi. Di pos itu, kami berkumpul kembali dengan tim-tim lain dan barang-barang kami. Kami kemudian diberitahu nomor tenda kami. Ternyata, sepuluh tenda telah disiapkan oleh sebuah organisasi lain untuk kami. Kemudian, ketika mulai matahari menampakkan senyumnya, kami manfaatkan cahaya di pagi itu untuk mengambil foto-foto para jamaah haji yang sedang berada di Gunung Rahmah. 

Duh, ternyata begitu banyak jamaah yang berusaha naik gunung itu. Karena jalan normal tidak muat lagi, banyak di antara para jamaah kemudian mencari jalan alternatif menuju ke puncak gunung: pundak para jamaah yang muda usia menjadi “tangga” para jamaah yang lanjut usia yang ingin naik ke puncak gunung itu. Ketika tiba kembali di pos Kementerian Informasi, ternyata pencopet berhasil mengambil uang dan catatan di saku saya…

Haji, memang, merupakan pengalaman yang indah. Namun, setiap orang harus bersabar. Jika tidak, ia akan sakit maag. Ibadah ini masih kurang terorganisasi baik. Segala sesuatu yang ada nampak berjalan menuju jalan yang salah pada saat yang salah, dari transportasi hingga internet. Foto-foto yang berhasil diambil sangat menarik. Sebanding dengan segala kerepotan yang dialami. Selepas ibadah itu usai, Anda akan dapat menertawakan semua yang berjalan salah itu. Tapi, foto-foto itu akan tetap abadi. Selamanya!” @ru