Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (14):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah
Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.

Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

SELEPAS BEBERAPA LAMA bus yang kami naiki meninggalkan wilayah Madinah, para jamaah pun mulai banyak berdiam diri. Sebagian ada yang sedang berdzikir dan mengucapkan pelan talbiyyah. Sebagian yang lain asyik menikmati pemandangan di luar bus. Sebagian yang lain lagi mulai beristirahat. 

Pemandangan di luar bus sendiri, yang sedang meluncur dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam, lebih banyak diwarnai gunung-gunung batu hitam dan gurun pasir. Diselingi semak belukar dan satu dua rumah orang Badui di sana-sini. Melihat pemandangan yang menjemukan dan membosankan itu, dalam benak saya pun muncul pertanyaan, “Bagaimanakah kisah perjalanan para jamaah umrah dan haji di masa lampau, sebelum ditemukannya moda-moda transportasi modern, seperti kereta api, mobil, dan pesawat terbang?”

David W. Tschanz, dalam sebuah tulisannya berjudul “Journey of Faith, Roads of Civilization” (Saudi Aramco World, Januari/Februari 2004 M), dengan bersemangat menjawab:

“Naik haji selama tiga belas abad pertama sejarah Islam memerlukan lebih dari sekadar pesan flight lewat biro perjalanan seperti dewasa ini. Perjalanan itu merupakan suatu maraton yang luar biasa lama dan sulit, dalam usaha melintasi kawasan yang tidak kenal ampun. Begitu perjalanan itu dilakukan, perjalanan itu dapat berlangsung bertahun-tahun. Malah, perjalanan itu dapat berlangsung berpuluh tahun. Ini manakala seorang jamaah memilih bekerja sebelum kembali ke tempat asalnya.

Rute-rute yang dilewati kafilah-kafilah haji pun kerap disatroni para perampok, dihajar penyakit, dan kekurangan air. Kadang, mereka tersesat jalan. Para jamaah yang menempuh jalur laut juga tahu, laut pun ‘gemar menelan’ kapal. Meski demikian, berbagai hambatan itu tidak menyiutkan nyali para jamaah haji. 

Tidak aneh jika perjalanan naik haji di masa silam telah memberikan inspirasi kepada kaum Muslim suatu gambaran dan pengalaman riel tentang pengorbanan diri dan keyakinan yang sangat teguh dan kukuh. Ibadah haji, tepatnya bagi para jamaah haji, kafilah, dan rute yang mereka lintasi, menjadi perekat yang menyatukan seluruh peradaban Islam. Perjalanan ke Makkah, memang, lebih dari sekadar bertolak menuju suatu tujuan.”

Terorganisasi Rapi

Lain lagi jawaban Paul Lunde. Dalam sebuah tulisannya, berjudul “Caravans To Mecca” (Saudi Aramco World, November/Desember 1997), ia mengemukakan:

“Hingga abad ke-19, ada tiga kafilah utama yang menuju Makkah. Kafilah Mesir bertolak dari Kairo. Dengan melintasi Sinai dan kemudian menyusuri pantai datar bagian barat Semenanjung Arab yang menuju Makkah. Perjalanan itu memerlukan waktu 35 hingga 40 hari. 

Kafilah itu mencakup pula para jamaah dari Afrika Utara yang melintasi gurun pasir Libya dan kemudian bergabung dengan kafilah Mesir. Kemudian, sebuah kafilah besar yang berkumpul di Damaskus, Suriah pun bertolak. Kafilah itu kemudian bergerak ke selatan lewat Madinah dan mencapai Makkah selama sekitar 30 hari. Selepas Constantinople jatuh ke tangan Dinasti Usmaniyah, Turki pada 857 H/1453 M, kafilah itu bertolak dari Istanbul. Kemudian, selepas menelusuri kawasan Asia Kecil, mereka menuju Makkah dengan melewati Damaskus. Sedangkan kafilah besar ketiga berasal dari Baghdad.

Kafilah-kafilah itu terorganisasi rapi. Seorang pejabat, yang disebut Amîr Al-Hajj, dialah yang bertanggungjawab atas keselamatan para jamaah. Kafilah yang terorganisasi baik itu bergerak laksana sebuah kota bergerak: lengkap dengan seorang pejabat, hakim, dua notaris, seorang sekretaris dan seorang petugas yang bertugas memelihara hewan-hewan dan makanan, seorang pengurus pelana, seorang chef dengan sejumlah staf, dan malah seorang pengawas berat dan beban. 

Kafilah-kafilah itu, biasanya, melakukan perjalanan di malam hari, untuk menghindari sengatan terik matahari, berhenti di lokasi dekat sumur-sumur yang terdekat, dan membuat pos-pos penjagaan dari para perompak. Setiap tempat yang berair, di sepanjang perjalanan, senantiasa dilengkapi dengan perbentengan dan tempat peristirahatan. Sedangkan para jamaah dalam kafilah-kafilah itu dipilah-pilah berdasarkan asal mereka.”

Begitu catatan Paul Lunde tentang tentang tiga kafilah utama jamaah haji di masa silam. Menarik! Kini, marilah sejenak kita “menguak” lebih jauh “kisah-kisah” masing-masing kafilah yang menuju Makkah di masa silam itu. 

Urai lebih lanjut David W. Tschanz, dalam sebuah tulisannya berjudul “Journey of Faith, Roads of Civilization”:

“Sepanjang sejarah ibadah haji di masa silam, rombongan atau kafilah para jamaah haji dari Damaskus, Suriah merupakan kafilah terbesar. Sejarah awal kafilah yang satu ini bermula pada masa pemerintahan Dinasti Umawiyah, pada abad ke-1 H/7 M. Kemudian, ketika kawasan itu di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk dan Dinasti Usmaniyah, kafilah itu tetap di bawah pimpinan Gubernur Suriah. Kafilah itu, kadang, juga meliputi para jamaah dari Iran dan Irak. Sebelum menuju Makkah, kafilah itu pertama-tama menuju Madinah. Jarak antara Damaskus-Madinah, sekitar 1.300 kilometer, mereka tempuh selama sekitar 45 hingga 60 hari.

Biasanya, unta-unta yang menjadi kendaraan kafilah Damaskus dipasok oleh desa-desa di seputar Suriah selatan dan suku-suku yang bermukim di padang steppa seputar Palmyra. Unta-unta itu diserahkan di Muzayib, tempat pemberangkatan utama kafilah yang jauhnya sekitar tiga hari perjalanan dari Damaskus (dengan naik unta). Kafilah itu, pada masa pemerintahan Dinasti Usmaniyah, di bawah pimpinan seorang sürre amir. Dari Muzayyib, kafilah itu lantas bergerak melintas kawasan Hauran dan kemudian menuju Jerash. 

Selepas kafilah itu tiba dan beristirahat di Al-Karak, Jordania, kafilah itu lantas bergerak kembali dengan melintasi Ma‘an dan kemudian bergerak ke timur, menyeberangi padang pasir dengan melewati Lintasan Al-Shawan dan kemudian menuju selatan lewat Dzat Al-Hajj dan Wadi Balduh ke arah Tabuk. Di kota terakhir itu, para jamaah beristirahat selama empat hari. Selepas itu, dengan melintasi padang pasir, kafilah itu bergerak menuju Al-Ukhaidir dan kemudian menuju Hjir (Mada’in Shalih), Al-‘Ula, dan akhirnya Madinah Al-Munawwarah dan kemudian Makkah (bila kafilah itu bergabung dengan kafilah Mesir, dari Ma‘an kafilah itu akan bergerak kembali menuju ‘Aqabah dan kemudian bergerak bersama menuju Hijaz).”

Kini, bagaimanakah halnya dengan kafilah Mesir?

Para jamaah dari Maghrib dan Andalusia pertama-tama akan menuju Kairo. Sebagaimana kafilah dari Damaskus, masa tempuh dari Kairo memerlukan waktu sekitar 40 hari dan dengan menempuh 34 lintasan. Setiap lintasan terdiri sekitar 45 hingga 50 kilometer. Selepas bertolak dari Birkit Al-Hajj, sebuah desa di utara Kairo, mereka kemudian bergerak menuju Suez. 

Kemudian, di bawah pimpinan seorang Amîr Al-Hajj, kafilah itu bergerak menuju jantung Sinai dengan melewati Qala‘at Al-Nakhl ke arah Pelabuhan ‘Aqabah. Dari ‘Aqabah, kafilah kemudian bergerak menuju Al-Ba‘d dan Rabigh. Di Rabigh, kafilah itu kemudian bergabung di Al-Darb Al-Sulthani, yang berarti “Rute Sultan”, yang menghubungkan antara Madinah dan Makkah. 

Namun, pada abad ke-12 M, kafilah Mesir yang melintasi Sinai terhenti. Ini, akibat kawasan yang membentang dari ‘Aqabah hingga Edessa diduduki Pasukan Salib. Karena itu, kala itu, kafilah Mesir kemudian bergerak dari Qus (Suez) menuju ke arah selatan Pelabuhan Aidhab yang terletak di pinggir Laut Merah. Dari sana, mereka kemudian naik kapal menuju Jeddah. 

Keadaan yang demikian itu berakhir pada 664 H/1266 M, selepas Pasukan Salib berhasil dihalau. Semenjak itu pula, Sultan Al-Zhahir Baibars Al-Bunduqdari mulai mengirim kiswah dari Mesir. Bersama kafilah Mesir yang melintasi Sinai. Selain itu, semenjak itu, kafilah kedua dari Mesir mulai dibentuk. Kafilah kedua itu berangkat tiga atau empat bulan sebelum keberangkatan kafilah pertama. Sehingga, kafilah kedua dapat lebih lama berada di Tanah Suci. 

Bagaimanakah kondisi rute yang dilewati kafilah Mesir itu?

Semua itu dapat disaksikan dalam sederet foto yang diambil Muhammad Sadiq. Foto-foto itu ditampilkan dalam sebuah karyanya berjudul Summary of the Exploration of the Wajh-Madinah Hijaz Route and its Military Cadastral Map. Karya itu merupakan hasil misi militer Muhammad Sadiq sebagai seorang kolonel Mesir. Ketika itu, ia ditugaskan untuk meneliti topografi, iklim, rute, dan pemukiman di kawasan yang membentang antara Pelabuhan Wajh, yang terletak di tepi Laut Merah, hingga Kota Madinah. 

Selama dalam perjalanan itu, yang dilakukan pada awal 1861 M (Rajab 1277 H), Muhammad Sadiq membawa sebuah kamera. Lewat bidikan-bidikan kamera itu, menurut John De St. Jorre dalam tulisannya “Pioneer Photografer of the Holy Cities” (Saudi Aramco World, Januari/Februari, 1999), Muhammad Sadiq berhasil melaksanakan tugas itu dengan baik. Salah satu foto yang ia abadikan adalah foto Masjid Nabawi dan kubah Makam Rasulullah Saw. yang ia ambil pada senja hari 12 Februari 1861 M (Selasa, 1 Sya‘ban 1277 H). “Tiada seorang pun pernah mengambil foto seperti ini sebelumnya,” ucapnya ketika ia melihat hasil jepretannya yang sangat indah. 

Terhentinya Moda Transportasi Kuno

Kini, mari kita tengok sejenak “kisah” kafilah yang bertolak dari Baghdad, Irak. Nah, kafilah dari Baghdad menuju Makkah ini sangat tergantung pada lokasi air di tengah perjalanan. Tentu saja, tanpa persediaan air yang cukup, perjalanan sejauh sekitar 1.500 kilometer itu tidak akan terselesaikan. 

Kafilah Baghdad mulai terbentuk selepas pusat kekuasaan Islam beralih dari Damaskus, Suriah, ke Baghdad Madinah Al-Salam, Irak. Semenjak itu, para penguasa Dinasti ‘Abbasiyah di Baghdad berusaha memberikan fasilitas kepada para jamaah haji yang bertolak dari Baghdad, Kufah, dan Bashrah. Berbeda dengan para penguasa dari Dinasti Umawiyah di Damaskus yang terkenal pelit terhadap para jamaah haji, para penguasa Dinasti ‘Abbasiyah terkenal dermawan terhadap para jamaah. Tidak hanya itu. Mereka juga memimpin langsung para jamaah haji dan tidak segan mengeluarkan dana besar untuk membangun, memugar, dan mengembangkan berbagai bangun dan tempat historis di Makkah dan Madinah.

Pada 133 H/751 M, misalnya, Abu Al-‘Abbas Al-Saffah, penguasa pertama Dinasti ‘Abbasiyah di Irak, memerintahkan pembangunan obor-obor dan batu-batu penanda arah para jamaah haji sepanjang jalan antara Kufah dan Makkah. Sedangkan penguasa ke-3 dinasti itu, Al-Mahdi bin Abu Ja‘far Al-Manshur, membangun jalan yang membentang antara Irak dan Makkah. Penguasa ke-5 dinasti itu, Harun Al-Rasyid, dapat dikatakan sebagai penguasa yang paling kerap memimpin para jamaah haji. Selama menjadi penguasa, ia melaksanakan ibadah haji enam atau sembilan kali dengan berjalan kaki. Yang terakhir kali ia laksanakan pada 188 H/804 M.

Ketika Harun Al-Rasyid melaksanakan ibadah haji pada 173 H/790 M, ia disertai permaisurinya, Zubaidah binti Ja‘far bin Abu Ja‘far Al-Manshur. Tidak kalah dermawan dengan sang suami, Zubaidah memerintahkan pembangunan saluran air minum di seputar Makkah, sepuluh tempat peristirahatan para jamaah haji antara Baghdad dan Makkah, dan tiga tempat pemberhentian yang dilengkapi sarana minum. Sejak itu, rute antara Baghdad-Makkah itu disebut Darb Zubaidah yang berarti “Rute Zubaidah”. Rute itu sendiri, kala itu, terdiri dari 54 tempat pemberhentian. Lengkap dengan sarana minum, berbagai marka jalan, dan tempat menginap. 

Tempat pemberangkatan utama kafilah Baghdad adalah Kota Kufah. Dari kota yang pertama kali didirikan kaum Muslim itu, para jamaah kemudian bergerak menuju Madinah, melewati kawasan Najd, dengan melintasi Faidh di sebelah selatan Hail. Setiba di sebelah timur Madinah, kafilah (yang sebelum abad ke-19 M terdiri antara 5.000 hingga 8.000 orang dan selepas abad ke-19 M berjumlah sekitar 10.000 orang) itu lantas beristirahat di Rabadhah. 

Sementara kafilah kedua, yang jumlah jamaahnya lebih sedikit, sebagian besar terdiri dari para jamaah Iran dan para jamaah yang tidak ingin bertolak dari Kufah, mereka bertolak dari Bashrah dengan melewati Al-Hasa. Selepas melintasi Dir‘iyyah, kafilah kedua itu akan bertemu dengan kafilah pertama di Dzat ‘Irq. Sayangnya, rute kafilah dari Baghdad itu, akhirnya, terhenti akibat jatuhnya Baghad ke tangan pasukan Mongol pada 656 H/1258 M. Selepas itu, kafilah itu kemudian bergabung dengan kafilah dari Damaskus, Suriah. 

Nah, kafilah-kafilah yang terdiri sekitar 25.000 hingga 30.000 unta dan menjadi moda transportasi para jamaah umrah dan haji selama tiga belas itu kian menyurut perannya selepas munculnya moda-moda transportasi baru, seperti halnya kapal api, kereta api, bus, dan akhirnya pesawat terbang. Pada akhir abad ke-19 M, khususnya selepas dibukanya Terusan Suez, jumlah para jamaah haji ke Makkah dengan naik kapal lewat Pelabuhan Yanbu‘ maupun Jeddah pun melambung dengan cepat. Tidak hanya para jamaah Mesir saja yang naik kapal. Namun, juga para jamaah haji dari Suriah, Turki, India, dan Indonesia. 

Kemudian, kehadiran Hijaz Railway pada 1326 H/1908 M, benar-benar merupakan pukulan terakhir buat kafilah-kafilah dengan “moda transportasi kuno” itu. Akibatnya, kafilah-kafilah itu tidak lagi hadir untuk mengangkut para jamaah haji. Sejak itu, kafilah-kafilah itu tinggal kenangan. 

Kemudian, selepas Perang Dunia II, perjalanan para jamaah haji menuju ke Makkah kian diwarnai dengan transportasi lewat udara. Pengangkutan para jamaah haji dengan pesawat terbang secara besar-besaran dimulai pada tahun-tahun 1960-an oleh sebuah perusahaan penerbangan Lebanon: Middle East Airlines (MEA). Pada tahun-tahun itu, MEA telah mencarter lima pesawat terbang khusus, Boeing 707, untuk mengangkut para jamaah haji dari India, Sri Lanka, Iran, Turki, Siprus, Somalia, Ghana, Senegal, Nigeria, dan Republik Afrika Tengah. Selama musim haji pada tahun-tahun itu, MEA mengangkut tidak kurang dari 1.900 jamaah haji setiap hari. 

Perang 6 Juni 1967 M, antara negara-negara Arab dan Israel, kian memacu pengangkutan para jamaah haji. Khususnya para jamaah haji dari Mesir, Libya, Aljazair, Tunisia, dan Maroko. Ini karena Sinai diduduki pasukan Israel. Sehingga, jalur darat dari negara-negara tersebut menuju Arab Saudi terputus. 

Dalam perkembangan pengangkutan para jamaah haji ke Arab Saudi selanjutnya, hingga akhir tahun 1990-an, dapat dikatakan sekitar 90 persen para jamaah datang ke Makkah lewat jalur udara. Jumlah mereka pun kian melesat cepat. Pada 1369 H/1950 M, misalnya, jumlah mereka baru sekitar 100.000 orang, kemudian pada 1379 H/1960 M menjadi: 253.369 orang, pada 1380 H/1961 M menjadi 285.948 orang, pada 1385 H/1966 M menjadi 294.118 orang, pada 1389 H/1970 M menjadi 406.295 orang, dan pada 1391 H/1972 M menjadi 479.339 orang. Lantas, pada 1403 H/1983 M, jumlah mereka telah melewati satu juta orang. Dan, pada tahun-tahun 1990-an, jumlah mereka telah di atas dua juta orang.

Kena Denda 300 Riyal

Selepas menikmati perjalanan selama sekitar tiga setengah jam dari Madinah Al-Munawwarah ke arah Makkah, sopir kemudian membawa bus yang ia kendarai masuk ke sebuah rest area ala Arab Saudi di sekitar Qudaid. Sopir asal Mesir itu bilang, ia lapar. Kami sendiri kemudian melaksanakan shalat Maghrib dan Isya di rest area yang dilengkapi dengan tempat duduk lesehan ala Arab Saudi. Hawa udara di senja hari itu terasa segar. Selain karena masih musim semi, juga karena angin bertiup agak kencang.

Tidak terasa, kami menikmati rehat di tengah padang pasir hampir sekitar satu jam lamanya. Gara-garanya, sopir itu terlalu asyik dalam menikmati makan malam. Merasa bersalah, begitu meninggalkan rest area, ia pun membawa bus itu dengan kecepatan tinggi, lebih dari 120 kilometer. Akibatnya, ketika tiba di checkpoint mendekati Makkah, tidak jauh dari Tan‘im, sopir itu pun diperintahkan turun oleh seorang petugas lalu lintas Arab Saudi. Ternyata, ia didenda sebesar 300 riyal. Ya, 300 riyal. Nah!

Radar lalu lintas yang dipasang di pelbagai tempat di sepanjang jalan raya antara Madinah-Makkah, ternyata membuktikan, sopir Mesir itu mengendarai bus dengan kecepatan yang melebihi ketentuan yang berlaku. Mungkin, sopir itu mengira, hanya di lokasi-lokasi tertentu di sepanjang jalan itu yang dipasangi radar. Padahal, sejatinya radar-radar di sepanjang jalan itu, oleh Unit Highway Patrol Arab Saudi, secara reguler dipindahkan. Dari satu lokasi ke lokasi yang lain. 

Di sisi lain, melihat checkpoint yang menjadi pembatas akhir bagi non-Muslim itu, dalam benak saya timbul pertanyaan, “Bukankah sejumlah orang-orang non-Muslim, di masa lalu, pernah ada yang berhasil melintasi checkpoint dan kemudian menyusup ke dalam Kota Makkah. Bagaimanakah kisah mereka?”

“Di masa silam,” jawab Paul Lunde dalam tulisannya berjudul “The Lure of Mecca” (Saudi Aramco World, November/Desember 1974), “meski adanya larangan yang sangat ketat dan meski perjalanan haji merupakan perjalanan yang lama, sulit, dan berbahaya, para penyusup bukan tiada. Antara 908-1349 H/1503-1931 M, misalnya, ada sekitar 25 pengelana dan petualang Barat yang berhasil menyusup ke dalam Kota Suci kaum Muslim itu. Mereka termasuk seorang turis dari masa Renaissans, seorang tawanan perang Inggris, seorang mata-mata Spanyol, seorang ilmuwan asal Swiss, dan seorang penerjemah sebuah karya klasik, Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam).”

Kini, siapakah petualang dan pengelana non-Muslim pertama yang berhasil menyusup ke Makkah Al-Mukarramah?

“Ludovico di Varthema!” jawab Arthur Jeffreydalam tulisannya Christians at Mecca. Peuh semangat. “Dialah orangnya.”

Pada 916 H/1510 M, petualang asal Bologna, Italia yang semasa dengan Vasco da Gama dan Leonardo da Vinci itu berhasil menyusup ke Madinah dan Makkah. Petualang yang mengelana ke Mesir, Suriah, Hijaz, dan Yaman itu mulai meninggalkan Venecia, Italia pada akhir 908 H/1502 M. Tahun berikut, ia mendarat di Alexandria, Mesir. Dari kota pantai yang indah itu, ia kemudian meneruskan petualangannya ke ibukota Mesir: Kairo. Selepas beberapa lama berapa di Kota Seribu Menara itu, ia kemudian balik ke Alexandria dan kemudian menuju Beirut, Lebanon. Kota-kota berikut yang ia kunjungi adalah Tripoli dan Aleppo. Selain itu, selama dalam petualangannya itu, ia juga memelajari bahasa Arab.

Kemudian, tidak lama setiba di Damaskus pada Sabtu, 10 Syawwal 908 H/8 April 1503 M, Ludovico di Varthema bergabung dengan sebuah batalion pasukan Dinasti Mamluk, yang kala itu memerintah Mesir dan Suriah, dengan memakai nama Yunus.

Mengapa Ludovico di Varthema dapat bergabung dengan pasukan Dinasti Mamluk? 

Ini karena sosok Ludovido di Varthema tidak beda jauh dengan sosok kebanyakan para anggota pasukan Dinasti Mamluk. Ini karena sebagian besar di antara para anggota pasukan itu berasal dari wilayah Eropa dan Rusia selatan (Circassia). Lembaran Islam menuturkan, sejak pemerintahan Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid (198-218 H/813-833 M), penguasa ke-7 Dinasti ‘Abbasiyah, para “mamluk” dibawa ke Baghdad, Istanbul, dan Mesir (kala itu dalam pangkuan satu dinasti) untuk diberi pendidikan militer dan dijadikan pengawal sultan, karena mereka dikenal kuat dan gagah. Orang-orang kasim memainkan peranan penting dalam pendidikan para taruna militer para mamluk. Selain itu, mereka juga menerima pendidikan agama yang sangat luas. Ini dimaksudkan untuk mengembangkan dalam diri mereka suatu jati diri antara keberhasilan dalam karier militer dan kewajiban membela Islam.

Setelah dimerdekakan pada masa akhir magang, para mamluk ditempatkan pada pos-pos penting dalam hirarkhi militer dan dihadapkan pada sultan dalam suatu suatu upacara yang menandai penerimaan mereka oleh kalangan elite militer. Mereka selanjutnya diberi kebebasan, sehingga kedudukan mereka meningkat. Ada yang mencapai jabatan militer tertinggi, juga wazîr atau menteri. Akhirnya, mereka memberontak, dan lahirlah Dinasti Mamluk di Mesir pada 648 H/1250 M, selepas mereka berhasil menumbangkan Dinasti Ayyubiyah. Penguasa pertama dinasti ini adalah Sultan Al-Muzhaffar Saifuddin Quthuz.

Tidak lama selepas menjadi anggota pasukan Dinasti Mamluk, Ludovico di Varthema kemudian dikirim ke Hijaz bersama pasukan Dinasti Mamluk yang bertolak bersama kafilah para jamaah haji dari Damaskus. Menurut catatannya, kafilah yang terdiri dari 40.000 jamaah dan 30.000 unta itu dikawal 60 anggota pasukan dinasti itu. Pemberhentian pertama kafilah itu, di dalam wilayah Hijaz, adalah oasis Khaibar. Menurut catatan Ludovico di Varthema, penduduk oasis Khaibar kala itu, yang berjumlah sekitar 4.000 hingga 5.000 orang, “dalam keadaan tanpa busana, memiliki tinggi sekitar empat kaki, berbicara dengan nada suara feminin, dan berkulit hitam legam. Mereka hidup sepenuhnya dari daging domba. Mereka dikhitan dan mengaku sebagai orang-orang Yahudi. Jika mereka berhasil menangkap orang Arab, mereka pun mengulitinya. Dalam keadaan hidup.” 

Selepas kafilah Damaskus itu tiba di Makkah dan melaksanakan ibadah haji, Ludovico di Varthema segera meninggalkan Kota Suci itu. Tentu, karena khawatir jati dirinya terungkap dan kemudian ditangkap. Ia kemudian melarikan diri dan bersembunyi selama tiga minggu di sebuah masjid di Jeddah. Dari kota terakhir itu, ia kemudian menumpang kapal ke Yaman. 

Setiba di Aden, Ludovico di Varthema ditangkap, karena dituduh sebagai mata-mata. Namun, ia kemudian dibebaskan penguasa negeri itu. Petualangannya selanjutnya mengantarkannya ke Persia, India, Malaysia, Indonesia (Sumatra, Banda, Jawa, dan Borneo), dan Afrika. Ia tiba di Lisbon, Portugal sebelum 916 H/1510 M. Kisah perjalanannya itu, kemudian, ia tuangkan dalam sebuah buku dengan judul Itinerario de Ludovico de Varthema Bolognese. Tujuh tahun kemudian, ia berpulang di Roma, Italia.

Mata-Mata yang Dikirim Napoleon Bonaparte

Petualang non-Muslim berikut yang berhasil menyusup ke Makkah adalah Vincent Leblanc, seorang pelaut Perancis asal Marseilles. Pelaut Perancis itu mengunjungi Makkah sekitar 975 H/1568 M. Seperti halnya Ludovico di Varthema, dalam penyusupannya ke Kota Suci itu ia bergabung dengan kafilah para jamaah haji dari Damaskus, Suriah. 

Johann Wild, seorang anak muda asal Austria, adalah non-Muslim berikut yang berhasil memasuki Makkah. Namun, kehadirannya di kota yang berada di ketinggian 280 meter di atas permukaan bumi itu sebagai seorang tawanan. Tidak sebagai seorang petualang. Semula, ia adalah seorang serdadu Kekaisaran Austria. Lantas, ketika ia terlibat dalam perang melawan Hungaria, ia tertawan. Karena itu, ia kemudian dijual kepada orang Turki. 

Selepas beralih dari satu majikan ke majikan yang lain, akhirnya Johann Wild menjadi milik seorang majikan asal Persia. Nah, sang majikan itulah yang membawanya ke Makkah bersama kafilah dari Kairo pada 1015 H/1607 M. Menurut catatan Johann Wild, ketika kafilah yang melintasi Sinai itu baru sampai di tengah perjalanan, mereka kehilangan 15 orang dan 30 unta. Selain itu, setiba di Makkah, Kota Suci kala itu benar-benar memikat hatinya. Kisah petualangannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah karya berjudul Neue Reisbeschreibung eines gefangenen Christen.

Seorang warga Exeter, Inggris, Joseph Pitts, adalah penyusup selepas Johann Wild. Kala berumur 15 tahun, ia mulai menjadi pelaut. Kemudian, pada 1089 H/1678 M, ketika dalam perjalanan menuju Newfoundland, kapal yang ia naiki berhasil ditawan para pelaut Muslim di pantai Spanyol. Karena itu, ia kemudian dijual sebagai budak. Nasibnya pun berpindah-pindah. Dari satu majikan ke majikan yang lain. Ketika berada di bawah kekuasaan majikan ketiga, pada 1091 H/1680 M ia diajak serta naik haji ke Makkah oleh majikannya itu. Selama empat bulan berada di Kota Suci itu, ia berhasil masuk ke dalam Ka‘bah dua kali. Ya, dua kali. Menurutnya, di dalam Rumah Allah itu tiada apa-apa! Kisah petualangannya kemudian ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul A Faithful Account of the Religion and Manners of the Mahometans.

Penyusup berikut adalah seorang petualang flamboyan asal Spanyol. Bernama asli Domingo Badia y Leblich, pada Dzulqa‘dah 1221 H/Januari 1807 M ia tiba di Makkah untuk naik haji dengan memakai nama ‘Ali Bey Al-‘Abbasi. Al-‘Abbasi? Ya, karena ia mengaku sebagai anak keturunan para penguasa Dinasti ‘Abbasiyah di Irak. 

Ketika naik haji, Al-‘Abbasi datang dengan mengenakan busana kebesaran seorang pangeran dan disertai banyak pengiring. Setahun sebelumnya, ia tiba di Kairo dan diterima dengan penuh kebesaran oleh Muhammad ‘Ali, penguasa Mesir kala itu. Kemudian, ia bertolak ke Makkah bersama kafilah Mesir tahun itu. Setiba di Makkah, ia disambut meriah Gubernur Makkah kala itu. 

Namun, Al-‘Abbasi, atau Domingo Badia y Leblich, gagal pergi ke Madinah, karena kala itu Kota Nabi itu sedang dikuasai Gerakan Wahhabiyah. Selepas berpulang di Aleppo, Suriah, akhirnya kedok mantan Gubernur Cordoba dan Sevilla di bawah pemerintahan Perancis itu terbongkar. Ternyata, ia adalah seorang mata-mata yang dikirim Napoleon Bonaparte untuk mengamati situasi dan kondisi Timur Tengah kala itu. Kisah petualangannya kemudian dituangkan dalam sebuah karya berjudul The Travels of Ali Bey el-Abbassi in Africa and Asia.

Itulah kisah beberapa penyusup non-Muslim yang berhasil “menembus” checkpoint menuju Makkah Al-Mukarramah. Duh!

Memang, masih ada beberapa penyusup non-Muslim lain yang juga berhasil memasuki kota yang terletak dekat garis 21 derajat Lintang Utara dan garis 40 derajat Bujur Timur itu. 

Mereka, antara lain, adalah Ulrich Jaspar Seetzen (seorang pakar kajian Arab dan ahli botani asal Jerman yang bekerja di lingkungan Czar Rusia dan akhirnya terbunuh di Yaman) dengan karyanya Reisen durch Syrien, Palästina u.s.w., Sir Richard F. Burton (seorang tokoh Inggris) dengan karyanya A Personal Narrative of a Pilgrimage to Al-Madinah and Makkah, Giovanni Finati (warga Italia dan mantan anggota pasukan Napoleon Bonaparte), Leon Roches (seorang perwira Perancis) dengan karyanya Trente-deux ans à travers l’Islam, G.A. Wallin (seorang orientalis Finlandia), John Fryer Keane (seorang warga Inggris), C. Snouck Hurgronye (seorang orientalis Belanda) dengan karyanya Mekka, mit Bilderatlas, Gervais Courtellemont (seorang fotografer keturunan Perancis-Aljazair) dengan karyanya Mon Voyage à la Mecque, dan Arthur J.B. Wavell (seorang perwira Inggris) dengan karyanya A Modern Pilgrim in Mecca. 

Kisah Tanah Suci memang memikat. Termasuk bagi para penyusup sekali pun!