Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (4):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap Muslim yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan berseri ini, saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

USAI MENIKMATI sajian malam dan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya, saya lihat para penumpang, satu demi satu, mulai memejamkan mata mereka. Mungkin, suasana monoton dalam pesawat terbang tanpa terasa membuat kedua mata mereka terasa berat. Lagi pula, sebelum naik pesawat terbang itu, kebanyakan di antara mereka telah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Dari tempat asal mereka masing-masing.
 
Kemudian, ketika posisi pesawat terbang yang kami naiki berada sebelah barat Pulau Mentawai dan di atas Lautan India, pesawat terbang itu mulai terasa “meloncat-loncat”. Merasa kurang nyaman dengan kondisi pesawat terbang yang “meloncat-loncat” tersebut, seorang ibu berusia lanjut asal Kalimantan Selatan dan duduk di kursi di samping kanan saya, saya lihat terus “memutar” cepat tasbih di tangannya. Melihat ibu berwajah teduh itu sedang melantunkan pelan tahlil, tashbih, tahmid, dan tahlil tanpa henti, sebersit kebahagiaan menyelinap dalam kalbu saya. Entah mengapa, hati saya senantiasa merasa damai setiap kali melihat seseorang melakukan hal serupa. 

Ketika berada di atas Colombo, Sri Lanka, pesawat terbang Garuda Indonesia yang berada di ketinggian sekitar 11 kilometer di atas permukaan tanah itu memiliki daya jelajah sekitar 880 kilometer per jam. Saat itu, monitor tivi di kursi-kursi pesawat terbang menampilkan jarak ke tempat tujuan, Jeddah, yang tinggal sekitar 4.600 kilometer. Kondisi pesawat terbang itu sendiri tidak lagi “meloncat-loncat”. Seperti sebelumnya. Namun, beberapa lama kemudian, tidak lama selepas pesawat terbang itu melintasi anak Benua India, pesawat terbang itu kembali “meloncat-loncat” kembali. Malah, goncangan demi goncangan yang terjadi terasa kian kuat. Akibatnya, niat saya mau memejamkan kedua mata pun menjadi sirna. Menurut catatan saya, entah mengapa, setiap kali pesawat terbang yang saya naiki melintasi kawasan ini, goncangan keras senantiasa “menyergap” pesawat-pesawat itu. Duh!

Bermegahan Telah Melalaikan Kalian

Kemudian, ketika dalam keadaan sulit tidur itu dan melihat peta anak Benua India di monitor tivi, tiba-tiba saya teringat “kisah” Muhammad Asad dalam menemukan Islam. Ia adalah  seorang  pemikir  dan tokoh  Muslim  kondang yang pernah menjabat wakil tetap  Pakistan  di  Perserikatan Bangsa-Bangsa. 
 
Tokoh yang sebelum memeluk Islam bernama Leopold Weiss itu  lahir  di Lvov (orang Jerman menyebutnya Lemberg),  Polandia pada Senin, 4 Rabi‘ Al-Awwal 1318 H/2 Juli 1900 M. Ketika ia berusia 14 tahun, keluarganya pindah ke Wina, Austria. Lantas, ketika menjadi  mahasiswa di Universitas Wina, anak keturunan keluarga para rabbi ini menjadi reporter sejumlah harian berbahasa Inggris dan Jerman. Kemudian, ia dikirim Franfurter Allgemeine Zeitung, salah satu koran paling bergengsi di Jerman dan Eropa saat itu, ke  Palestina, Suriah, Irak, Iran, Afghanistan, dan Arab Saudi. Pada 1345 H/1926 M sahabat karib Raja ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud ini  memeluk Islam. 

Bagaimanakah “kisah dan perjalanan” Muhammad Asad menuju Islam?

Tutur Muhammad Asad, seperti diceritakan kembali Ismail Ibrahim Nawab dalam tulisannya “From Berlin to Makkah” (Saudi Aramco World, Januari/Februari 2002):

“Suatu hari-tepatnya pada September 1926-Elsa dan saya sedang menikmati perjalanan naik kereta bawah tanah di Berlin. Kami naik di kompartemen untuk kelas menengah atas. Tiba-tiba pandangan saya terarah kepada seorang pria di depan saya. Pria itu mengenakan busana rapi. Tampaknya, ia seorang pengusaha kaya...Saat itu, entah kenapa dalam benak saya timbul pikiran iseng:  orang di depan saya itu benar-benar merupakan gambaran tepat kemakmuran yang saat itu dapat ditemukan di mana saja di Eropa Tengah...Sebagian besar orang saat itu mengenakan busana indah dan menikmati makanan yang melimpah. Termasuk orang di depan saya itu. 

Namun, ketika saya menatap wajah orang itu, saya merasa wajahnya tampak tidak memancarkan kebahagiaan. Kedua matanya kosong dan memandang ke arah jauh. Sedangkan kedua sudut bibirnya tertarik seakan ia sedang kesakitan. Padahal, tubuhnya tampak sehat. Tidak ingin dipandang sebagai orang yang tidak beradab, saya pun memalingkan pandangan ke samping orang itu. Ternyata, di sampingnya duduk seorang perempuan berpenampilan anggun. Ternyata, wajah perempuan itu pun memancarkan ketidakbahagiaan. Tampaknya, ia sedang merenungkan atau mengalami sesuatu yang membuat ia kesakitan. Selepas itu, saya pun mulai mencermati satu demi satu wajah orang-orang yang berada dalam kompartemen itu: wajah orang-orang yang mengenakan busana indah dan menikmati makanan melimpah. Ternyata, nyaris wajah setiap orang memancarkan rasa sakit tersembunyi. Rasa sakit tersembunyi yang tidak disadari sang pemilik wajah.

Kesan yang saya dapatkan itu demikian kuat. Sehingga, hal itu kemudian saya ceritakan kepada Elsa. Ia pun mulai memandang ke sekeliling. Dengan pandangan seorang pelukis yang sangat cermat dalam mengamati sosok manusia. Kemudian, ia berpaling ke arah saya dengan perasaan heran dan berucap, ‘Betul engkau. Mereka nampak seakan sedang merasakan siksaan neraka...Saya bingung, apakah mereka tahu apa yang sedang terjadi pada diri mereka sendiri?’

Saya tahu, mereka tidak menyadari keadaan yang sedang “menyergap” diri mereka. Tentu, mereka tidak akan kuasa membersihkan kehidupan mereka tanpa memiliki keyakinan apa pun yang teguh, tanpa tujuan hidup apa pun di luar keinginan untuk meningkatkan “standar kehidupan”, tanpa harapan apa pun selain memiliki lebih banyak kekayaan material, lebih banyak peralatan. Dan, barang kali, juga lebih banyak kekuasaan...

Ketika tiba di rumah, tanpa sengaja pandangan saya terarah pada sebuah kitab Alquran yang sebelumnya pernah saya baca. Tanpa sadar, kitab suci itu saya ambil. Begitu lembaran Kitab Suci itu saya buka, kedua mata saya pun terarah pada halaman yang terbuka di hadapan saya. Dan, saya pun membaca, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Hingga kalian  masuk ke dalam kubur. Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian). Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui. Jangan begitu! Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sungguh kalian benar-benar akan melihatnya dengan sebenar-benarnya. Kemudian, pada hari itu, kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia).” (QS Al-Takâtsur [102]: 1-8)

Sejenak, saya tidak kuasa berkata. Sepatah kata pun tidak kuasa. Saya rasakan, Kitab Suci itu bergetar di tangan saya. Kemudian, Kitab Suci itu saya serahkan kepada Elsa seraya berucap, ‘Bacalah ayat-ayat ini. Bukankah ayat-ayat ini merupakan jawaban atas hal-hal yang kita saksikan di kereta api bawah tanah tadi? Ayat-ayat ini merupakan jawaban pasti, sehingga semua keraguan kita kini tiba-tiba akhirnya sirna.’

Kini, saya tahu, di balik  keraguan sebelumnya, kitab yang diwahyukan Tuhan yang kini berada di tangan saya ini jelas-jelas telah mengantisipasi sesuatu yang benar-benar terjadi hanya di masa kita yang begitu kompleks, bercorak mekanis, dan sarat dengan gejolak ini, walau kitab ini diturunkan lebih dari tiga belas abad yang silam. Memang, sepanjang masa manusia dikenal rakus. Namun,  sebelumnya, kerakusan hanya berbentuk keinginan kuat untuk merengkuh sesuatu. Sedangkan kini, kerakusan telah menjadi obsesi yang mewarnai pandangan terhadap segala sesuatu: keinginan untuk memiliki sesuatu yang tak tertahankan, untuk melakukan sesuatu, dan mengangan-angankan lebih dan lebih-hari ini lebih daripada kemarin dan hari esok lebih ketimbang hari ini. Dan, kelaparan tersebut merupakan kelaparan yang tak pernah terpuaskan terhadap segala tujuan yang membara dalam jiwa manusia, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, hingga kalian  masuk ke dalam kubur…”

Menurut saya, ayat-ayat itu tidak mungkin merupakan kata bijak seorang pria dari Semenanjung Arab di masa silam itu. Sebijak apa pun ia, pria itu tidak mungkin meramalkan nestapa aneh yang menimpa abad ke-20 ini. Sesuatu yang dikemukakan Alquran jauh lebih agung dari pada ucapan Muhammad...”

Sejak itu, Leopold Weiss pun berhasrat menjadi seorang Muslim. Kemudian, ia menyatakan keislamannya di hadapan seorang tokoh masyarakat Muslim kecil di Berlin. Ia pun mengubah namanya menjadi Muhammad, sebagai penghormatan kepada Nabi Saw., dan Asad, yang berarti “Singa”, sebagai pengingat nama kecilnya “Leopold”. “Islam,” menurutnya, “masuk ke dalam relung kalbu saya laksana seorang pencuri yang memasuki sebuah rumah di tengah malam. Namun, Islam masuk untuk terus menetap selamanya. Tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah seseorang untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi.” 

Kemudian, selepas menikah dengan Elsa Scheimann, Muhammad Asad pun naik haji. Ternyata, ketika berada di Tanah Suci, ia “menghadapi ujian”: selepas sembilan hari berada di Tanah Suci, sang istri tercinta yang mantan model itu, Elsa, berpulang dan dikebumikan di Makkah. Meski mendapatkan ujian demikian, ia tetap “tidak berbalik langkah”. 

Selepas itu, Muhammad Asad tetap mengabdikan dirinya untuk Islam, hingga berpulang di Spanyol pada Senin, 19 Ramadhan 1412 H/23 Februari 1992 M. Jenazah tokoh yang  meninggalkan sejumlah karya tulis, antara lain Unromantisches Morgenland (The Unromantic East), Islam at the Crossroads, The Road to Mecca, The Principles of State and Government in Islam; Sahih Al-Bukhari: The Early Years of Islam, The Message of the Qur’an,  dan This Law of Ours itu dikebumikan di Kota Granada, Spanyol. 

“Betapa menawan “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad itu,” ucap pelan saya seraya merenung.

Sejatinya, “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad tersebut  dapat dikatakan merupakan salah satu contoh menarik tentang suatu fenomena yang kerap terjadi di masa modern kini: kisah kegelisahan dan peralihan agama sederet tokoh dan intelektual Barat ke dalam pelukan Islam, selepas mereka melintasi “pergulatan ruhaniah” lama yang menawan. Di antara mereka, antara lain, adalah Lord Stanley of Alderley, salah seorang paman Bertrand Russell, Baron ke-11 Headley, Muhammad Marmaduke Pickthall, Martin Lings, Charles Le Gai Eaton, René Guénon, Classius Clay, Vincent Mansour Monteil, Malcolm X, Roger Garaudy, Maurice Bucaille, Murad Wilfried Hofmann, Baron Umar von Ehrenfels, Abdul Karim Germanus, Frithjof Schuon, Thomas Irving, Margaret Marcus, Cyril Glassé, Jeffrey Lang, Michael Wolfe dan lain-lain. 

Misteri Kota Iram

Selepas melintasi anak Benua India dan seusai menikmati sajian malam untuk kedua kalinya, sekitar pukul setengah sebelas malam waktu Arab Saudi, pesawat terbang Garuda Indonesia yang kami naiki telah mendekati wilayah Rub‘ Al-Khali, salah satu gurun pasir terbesar di dunia dan membentang dari wilayah Oman, Uni Emirat Arab, Yaman, hingga Arab Saudi. Entah kenapa, ketika berada di atas gurun pasir yang luasnya lebih daripada luas tiga negara: Belgia, Belanda, dan Perancis itu, saya teringat kisah sebuah kota, Kota Iram, yang namanya dikemukakan dalam ayat-ayat Alquran berikut:

“Tiadakah kaulihat bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap (orang-orang) ‘Ad. Dari (Kota) Iram yang memiliki bangunan yang tinggi? Tiada diciptakan yang semacam itu di seluruh negeri.” (QS Al-Fajr [89]: 6-8).

Ayat-ayat Alquran itu memberikan ilustrasi tentang sebuah kota misterius yang bernasib malang, Kota Iram. Sebuah kota yang didirikan Raja Syaddad bin ‘Ad bin ‘Aus bin Aram bin  Sam (Shem)  bin Nabi Nuh a.s. sekitar 2.000 sebelum Masehi. Konon, mereka tinggal di gurun pasir  Al-Ahqaf dan mendiami kawasan semenanjung luas yang  membentang dari  Teluk Oman hingga Hadhramaut dan Yaman di ujung  selatan Laut  Merah.  

Menurut catatan beberapa sejarawan,  Syaddad  bin ‘Ad,  kaisar  agung kaum ‘Ad, membangun sebuah  kota    megah dengan  istana nan megah dan taman nan indah itu dengan tujuan meniru  surga  di langit. Hal itu untuk  “memberikan  kesan bahwa dirinya  adalah tuhan  yang  patut mendapatkan  pujian”. Namun, sebelum Syaddad bin ‘Ad menikmati  “surga” yang ia bangun itu, ia  berpulang ketika ia melakukan perjalanan  ke berbagai kawasan di bawah kekuasaannya.

Kepada  kaum ‘Ad ini, Allah Swt. mengutus Nabi Hud  a.s. (seorang Nabi yang, konon, selepas berpulang dikebumikan di wilayah Al-Ahqaf dan kuburannya hingga kini merupakan tempat yang diziarahi). Namun, mereka  mengingkarinya. Akibatnya, Allah menghancurkan  mereka  dengan angin topan. Dalam kaitannya dengan kaum ini, Allah Swt. dalam Alquran, antara lain, berfirman:

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tiada bagimu  Tuhan selain Dia. Kalian hanya mengada-adakan saja. Wahai kaumku! Aku tidak meminta upah bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah  dari Allah   yang  telah  menciptakan aku.  Karena  itu,  tidakkah   kalian memikirkan(nya)?’ Dan (dia berkata pula), ‘Wahai kaumku! Mohonlah ampun  kepada Tuhan kalian. Lalu, bertobatlah kepada-Nya,  niscaya  Dia menurunkan   hujan  yang  sangat  deras  atas kalian,  dan  Dia   akan menambahkan  kekuatan kekuatan kalian. Dan janganlah  kalian berpaling dengan  berbuat  dosa.’ 

Kaum ‘Ad pun berkata, ‘Hai  Hud!  Kamu  tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali  tak  akan  meninggalkan  sembahan-sembahan  kami   karena perkataanmu. Dan, kami sekali-kali tidak akan  mempercayai  dirimu. Kami  tidak  mengatakan melainkan bahwa  sebagian  sembahan  kami telah  menimpakan  penyakit  gila  atas  dirimu.’  Hud  pun menjawab, ‘Sungguh,  aku bersaksi kepada Allah dan  saksikanlah  oleh kalian bahwa sungguh aku berlepas diri dari sesuatu yang  kalian persekutukan  dari selain-Nya. Karena itu, lakukanlah tipu  daya kalian semua  terhadapku  dan janganlah kalian memberi  tangguh  kepadaku. Sungguh,  aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku  dan  Tuhan kalian. Tiada  suatu  binatang melata  pun  melainkan  Dia-lah  yang memegang  ubun-ubunnya. Sungguh, Tuhanku di atas  jalan  yang lurus.   Jika  kalian  berpaling,  sungguh   aku   telah menyampaikan  kepada kalian apa  (amanat)  yang  aku  diutus   (untuk menyampaikan)nya  kepada kalian.  Dan Tuhanku  akan  mengganti  (kalian) dengan  kaum yang lain (dari) kalian; dan kalian tidak dapat  membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sungguh, Tuhanku adalah Maha Pemelihara  segala sesuatu.’ Dan tatkala datang azab  Kami,  Kami selamatkan  Hud dan orang-orang yang beriman bersama  dia  dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di  akhirat) dari azab yang berat.” (QS Hûd [11]: 50-58). 

Misteri yang mewarnai Kota Iram, yang sirna dari peredaran masa itu, ternyata sejak lama telah mampu membangkitkan rasa ingin tahu orang. Apalagi Claudius Ptolemeus (sekitar 150 M), seorang ahli astronomi dan geografi asal Alexandria, Mesir, memasukkan kota itu dalam petanya tentang Semenanjung Arab. Selain itu, Ptolemeus juga mencatat nama para penguasa dan kemegahan kota itu. 

Menurut catatan Ptolemeus selanjutnya, Kota Iram lenyap dari peredaran masa karena dihajar badai pasir yang bergulung-gulung sangat kencang. Kisah kemusnahan Kota Iram versi ahli astronomi asal Mesir itu ternyata sesuai dengan uraian lain tentang Kota Iram yang dikemukakan dalam Alquran:

“Kaum ‘Ad telah mendustakan (kebenaran). Akibatnya, betapa (dahsyat) azab-Ku dan ancaman-Ku! Telah Kami lepaskan kepada mereka angin kencang menderu-deru, pada hari yang dahsyat. Merenggut manusia seperti pohon kurma, tercabut akar-akarnya.” (QS Al-Qamar [54]: 18-20). 

Para ahli tafsir Alquran sendiri, seperti telah dipaparkan di muka, tidak seiring pendapat tentang letak “Kota Seribu Bangunan” itu. Dalam Kitâb Tafsîr Al-Thabarî, misalnya, dikemukakan sejumlah pendapat tentang kota itu. Ada yang menyatakan, yang dimaksud dengan Iram adalah Alexandria, Mesir. Ada pula yang menyatakan, Iram terletak di Suriah. Selain itu, ada juga yang menyatakan, kota itu terletak di Yaman. Sedangkan Sayyid Quthb menyatakan, dalam karya tafsirnya Fî Zhilâl Al-Qur’ân, lokasi Iram terletak di antara Hadhramaut dan Yaman.

Bukan luar biasa bila selubung misteri yang menyelimuti Iram kemudian membangkitkan kisah imajinatif. Kisah Seribu Satu Malam (Alf Lailah wa Lailah) salah satu di antaranya. Dalam karya sastera klasik tersebut, pada kisah malam-malam ke 277-279, juga dikemukakan tentang Iram nan megah dan mewah yang berselubung misteri itu. Dalam perjalanan masa selanjutnya, misteri Iram tetap menarik perhatian berbagai pihak. Baik dari kalangan para ilmuwan maupun para petualang. Namun, upaya mereka gagal total. Misteri  Iram tetap tidak terpecahkan. Hingga kini. Duh!

Misteri yang menyelimuti Iram itu pulalah yang memicu Bertram Sydney Thomas, seorang ilmuwan lulusan Trinity College, Universitas Cambridge, Inggris dan seorang petualang, mengarungi Gurun Rub‘ Al-Khali: salah satu gurun pasir terluas di dunia. Yang membentang di bagian selatan Semenanjung Arab. Petualangan itu ia lakukan antara 1930-1931 M. 

Dalam petualangan tersebut, berbekalkan peta Ptolemeus, mantan Direktur Middle East Centre for Arab Studies dan penasihat Shell Group ini menyaksikan suatu pemandangan yang menakjubkan: rute kafilah yang membentang ratusan kilometer. Di tengah-tengah perbukitan gurun yang sunyi dan sepi. Rute itu menuju ke arah utara. Ia berkeyakinan, rute misterius itu menuju Iram yang juga dikenal dengan sebutan “Kota yang Sirna”. Selain dengan sebutan terakhir, petualang yang juga penulis beberapa buku itu, antara lain The Arabs: The Epic Life Story of a People Who Have Left Their Deep Impress on the World,  juga menyebutnya sebagai “Ubar”. Sebutan itu berasal dari Perjanjian Lama.

Sepulang dari petualangan tersebut, Bertram S. Thomas kemudian berupaya mengoordinasikan suatu proyek. Tujuannya: menemukan kembali kota yang sangat misterius itu. Ia kemudian menuliskan kisah petualangannya dalam sebuah karya berjudul Arab Felix. Sayang, pada Rabu, 27 December 1950 M, di Kairo, Mesir, kematian merenggutnya. Sebelum proyek itu berhasil dilaksanakan.

Ketika mengetahui nasib proyek yang terbengkalai tersebut, T.E. Lawrence, yang terkenal dengan sebutan Lawrence of Arabia, melanjutkan proyek itu. Lagi-lagi, kematian yang merenggut petualang asal Inggris itu, pada 195. Akibatnya, proyek itu terabaikan. Jejak T.E. Lawrence kemudian dilanjutkan John Hopkins, seorang ahli arkeologi kondang. Namun, lagi-lagi, proyek itu kurang bernasib baik. Gagal! Ya, Gagal! 

Karya Bertram S. Thomas tersebut di atas kemudian sampai ke tangan Nicholas Clapp, seorang sutradara sekitar 70 film dokumenter. Sutradara yang satu ini kerap mengunjungi Timur Tengah. Selain sebagai sutradara, ia juga seorang penulis sejumlah buku. Antara lain The Road to Ubar: Finding the Atlantis of the Sands, Sheba: Through the Desert in Search of the Legendary Queen, dan Who Killed Chester Pray? A Death Valley Mystery. Terkesan dengan kisah petualangan Bertram S. Thomas, Nicholas Clapp pun terpikat untuk mengikuti jejak pendahulunya itu. Di sisi lain, berbagai kegagalan yang mewarnai proyek Bertram S. Thomas membuat Nicholas Clapp berhati-hati. Ia bertekad tidak mau mengalami nasib serupa: gagal!

Oleh karena itu, Nicholas Clapp pun mengajak seorang temannya, George Hedges, seorang pengacara di California, Amerika Serikat. Mereka kemudian membentuk sebuah tim. Mereka kemudian mengajak serta Prof. Dr. Juris Zarins, seorang arkeolog dan guru besar di Missouri State University, Amerika Serikat dengan spesialisi  tentang Timur Tengah, Ronald G. Blom, seorang ahli geologi dan penginderaan jarak jauh, dan Sir Ranulph (Ran) Fiennes, seorang warga Inggris yang dekat dengan Sultan Oman, Qabus bin Said, dan seorang penulis terkemuka sejumlah karya. Antara lain Where Soldiers Fear to Tread, To The Ends of the Earth, Atlantis of the Sands: The Search for the Lost City of Ubar, Mind Over Matter: The Epic Crossing of the Antarctic Continent, Captain Scott, dan Portraits of Adventure.

Berkat jasa Sir Ranulph Fiennes, izin penelitian segera mereka dapatkan. Selain itu, mereka mendapatkan bantuan dana yang cukup besar, 150 juta dolar Amerika Serikat, dari Oman International Bank, Gulf Air, dan Al-Bustan Palace Hotel. Dengan izin dan dana yang cukup tersebut, mereka pun leluasa bergerak. Yang pertama-tama mereka lakukan adalah memelajari hasil-hasil foto satelit Landsat 5, milik Amerika Serikat, dan satelit SPOT (Satellite Pour l’Observation de la Terre), milik Perancis. Ternyata, foto-foto itu memerlihatkan adanya bekas rute kafilah yang menuju Ubar, yang diperkirakan merupakan nama lain “Iram”. Sayang, foto-foto itu kurang lengkap.

Tim itu kemudian, pada musim panas 1990 M, memelajari foto-foto hasil jepretan pesawat ulang-alik Challenger yang pernah melintasi Oman. Hasilnya luar biasa: bekas sebuah kota di bawah timbunan gurun pasir terkuak lewat foto-foto itu. Terkuaklah misteri Ubar, sebuah kota yang kerap pula disebut dalam puisi-puisi pra-Islam. Beberapa tahun kemudian, pada April 1994 M, penemuan Kota Ubar itu dikuatkan oleh pengindraan jauh oleh pesawat ulang-alik Endeavour dengan menggunakan Spaceborne Imaging Radar C/X-Band Synthetic Aperture Radar (SIR-C/X-SAR).
 
Benarkah Ubar, yang terkenal dengan sebutan “Atlantis of the Sands”, adalah Iram Dzat Al-‘Imad seperti yang dikemukakan dalam Alquran? Banyak ulama dan ilmuwan yang meragukannya. Wallâhu a‘lam bi al-shawâb! Namun, di sisi lain, kisah tentang Kota Iram seperti dikemukakan dalam Alquran mengandung pengajaran dan pelajaran indah: kesombongan dan pengingkaran terhadap Tuhan akan bernasib malang, “Allah menurunkan cemeti azab” (QS Al-Fajr [89]: 13).

Pelajaran yang indah bagi kita semua!@ru