Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (2):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah
Ilustrasi

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap orang yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini, yang terdiri dari puluhan seri, merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan ini saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

DI SISI LAIN, perjalanan untuk melaksanakan umrah maupun haji merupakan perjalanan ruhaniah. Berbeda dengan perjalanan wisata atau perjalanan dinas ke negara-negara lain, perjalanan untuk melaksanakan umrah atau haji memiliki nuansa tersendiri. Sebab, dalam perjalanan menuju Tanah Suci diperlukan persiapan ruhaniah yang mantap, di samping persiapan jasmaniah. Ini karena berbeda dengan kebanyakan ibadah lain, umrah maupun haji merupakan ibadah ruhaniah yang sekaligus ibadah jasmaniah. 

Nah, selepas melakukan persiapan jasmaniah,  entah mengapa untuk persiapan ruhaniah yang berkaitan dengan umrah kali ini saya terpikat dalam pemaparan seorang ulama kondang: Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Yang terkenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali.

 Mengapa Imam Al-Ghazali?

Seperti diketahui, tokoh yang satu ini adalah seorang ulama dan pemikir kondang yang terkenal dengan karya besarnya, Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn itu lahir di  Thus,  Khurasan, pada  450  H/1058  M. Perjalanan hidupnya, dengan krisis ruhaniah yang pernah menghajar dirinya, hingga akhirnya bertolak ke Tanah Suci, menurut saya, menarik sebagai bekal bagi siapa pun yang akan melaksanakan umrah maupun haji. 
Bagaimanakah perjalanan hidup tokoh yang satu ini?

Goncangan Ruhaniah Luar Biasa

“Al-Ghazali,” tulis Prof. Dr. Abu Al-Wafa’ Al-Ghunaimi Al-Taftazani, seorang mantan pembantu rektor Universitas Kairo, dalam sebuah karyanya yang menarik berjudul Madkhal ilâ Al-Tashawwuf Al-Islâmî, “bernama lengkap Abu Hamid Muhammad  bin Muhammad bin Ahmad. Karena kedudukannya yang tinggi menjulang dalam sejarah Islam, ia digelari Hujjah Al-Islâm dan Zain Al-Dîn. Ayahnya, menurut beberapa penulis biografi, bekerja sebagai pemintal wol. Dari latar belakang itulah sufi kita ini terkenal dengan sebutan Al-Ghazali (sang Pemintal Wol), meski ia juga terkenal dengan sebutan Al-Ghazzali, sebagaimana dituturkan Al-Sam‘ani dalam sebuah karyanya berjudul Al-Ansâb, yang dinisbatkan pada suatu tempat yang disebut Ghazzalah.” 

Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan, pada 450 H/1058 M (ada yang menyatakan pada 451 H/1059  M). Pada masa kecil, ia belajar kepada salah seorang faqîh (pakar fikih) di kota kelahirannya, Ahmad Al-Radzkani. Selepas itu, ia menimba ilmu di Jurjan untuk menimba ilmu kepada Abu Nashr Al-Isma‘ili.  Usai menimba ilmu di Jurjan, ia kemudian kembali ke kota kelahirannya dan kemudian pergi ke Nishapur.

Di Nishapur, Al-Ghazali belajar kepada  Abu  Al-Ma‘ali  ‘Abdul Malik Al-Juwaini, yang juga dikenal dengan sebutan Imam  Al-Haramain.  Apa yang dilakukan Al-Ghazali ketika berada di bawah bimbingan dan bimbingan Al-Juwaini yang kala itu juga menjabat Rektor Perguruan Nizhamiyah di Baghdad Madinah Al-Salam?

“Menurut Ibn Khallikan,” jawab Prof. Dr. Abu Al-Wafa’ Al-Gunaimi Al-Taftazani dalam karyanya di muka, “di bawah bimbingan gurunya itulah Al-Ghazali sungguh-sungguh belajar dan berusaha hingga benar-benar menguasai masalah antarmazhab dan perbedaan di antara mazhab-mazhab itu. Juga, mendalami ilmu kalam, usul fikih, logika, filsafat, maupun hal-hal  lain yang berkaitan dengan semua itu, di samping menguasai berbagai pendapat tentang semua disiplin ilmu tersebut.
 
Demikian halnya, ia juga mampu menjawab tantangan dan mematahkan pendapat lawan mengenai semua ilmu itu, di samping menulis karya-karya terbaik dalam semua disiplin itu yang semuanya ia tulis dalam waktu tidak lama. Sehingga, ia pun menjadi rujukan selama ia menimba dan mendampingi gurunya itu.” 

Selepas Al-Juwaini berpulang, pada 478 H/1085 M, Al-Ghazali  lantas menapakkan kaki ke Al-‘Askar, Mesir. Di kota itulah ia bertemu dengan Nizhamuddin Fakhr Al-Mulk, seorang menteri terkemuka dari Dinasti Saljuq, dengan nama lengkap Abu ‘Ali  Al-Hasan bin ‘Ali bin Ishaq Al-Thusi. Kedatangan Al-Ghazali mendapat sambutan luar biasa dari sang menteri. Tentu saja, karena sang menteri mengetahui posisi ilmiah Al-Ghazali. Akhirnya, sang menteri meminta Al-Ghazali untuk menjadi guru besar di Perguruan Nizhamiyah. Dapat dikatakan, menjadi guru besar Perguruan Nizhamiyah seperti halnya menjadi Universitas Harvard, Universitas Cambridge, Universitas Oxford, Universitas Sorbonne, atau MIT dewasa ini. Sangat prestigius. Tawaran itu baru ia penuhi enam tahun kemudian.

Selama berada di Baghdad  Madinah Al-Salam, sebagai guru besar Perguruan Nizhamiyah, selama sekitar empat tahun, Al-Ghazali sangat tekun menimba dan mendalami berbagai disiplin ilmu, juga filsafat. Ketekunan dan kerajinan tokoh yang satu ini  dalam menimba ilmu, antara lain, dipicu keinginannya untuk meniadakan keraguan yang kerap “menggoda” pikirannya. Sejak ia menjadi guru besar kondang. Ucapnya, dalam sebuah karyanya berjudul Mîzân Al-A‘mâl:

“Kajilah aliran-aliran yang ada. Carilah kebenaran dengan pengkajian yang mendalam. Supaya Anda dapat menjadi seorang pengasas suatu aliran. Janganlah Anda menjadi seorang pengikut buta yang mengekor seorang pemimpin yang menunjukkan jalan. Di sekitar Anda terdapat ribuan contoh pemimpin yang menyeru Anda dan menghancurkan serta menyesatkan Anda dari jalan yang lurus. Bila Anda bersikap mengekor, akhirnya Anda akan merasakan kezaliman pemimpin Anda. Dan, tiada jalan untuk menyelamatkan diri kecuali dengan kebebasan... 

Apabila dalam untaian kalimat di muka tidak ada yang Anda dapatkan kecuali apa yang menggoyahkan keyakinan warisan Anda dan untuk diperbarui kembali, maka Anda tidak akan menemukan manfaatnya. Perlu Anda ketahui, keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran. Barang siapa tidak pernah merasa ragu, maka ia tidak memandang. Barang siapa tidak pernah memandang, maka ia tidak pernah melihat. Dan barang siapa tidak pernah melihat, maka ia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan.”

Namun, dengan bergulirnya waktu, keraguan itu tidak kunjung sirna. Malah, keraguannya tersebut kian membara. Padahal, namanya kala itu sedang berada di puncak ketenaran dan usianya kala itu baru sekitar 33 tahun. Ya, di usia 33 tahun ia telah menjadi guru besar sebuah perguruan ternama tingkat dunia kala itu: Perguruan Nizhamiyah. Ya, perguruan ternama tingkat dunia kala itu!

Mengenai goncangan ruhaniah dan keraguan yang “menerjang” Al-Ghazali kala itu, Abu Al-Wafa’ Al-Ghunaimi Al-Taftazani dalam karyanya di atas menulis:

“Kegelisahan ruhaniah Al-Ghazali malah kian membara. Akibatnya, ia pun tertimpa krisis psikis kronis. Krisis itu ia tuangkan dalam sebuah karyanya, Al-Munqidz min Al-Dhalâl, yang kemiripannya terikuti oleh karya St. Agustine, Confessions. Akibat krisis ruhaniah itu, Al-Ghazali lantas meninggalkan kedudukannya sebagai guru besar di Perguruan Nizhamiyah dan kemudian hidup  menyendiri. Padahal, dengan menjadi guru besar di perguruan tersebut, namanya menjadi berpendar cemerlang dan meraih jabatan maupun kekuasaan yang sulit dicapai orang biasa.

Menurut kami, tindakan yang dilakukan Al-Ghazali tersebut timbul karena ia hendak bersikap jujur. Terhadap dirinya sendiri. Sebab, ia sadar, motivasinya dalam mengajarkan ilmu-ilmu itu tidak lain hanyalah untuk meraih jabatan dan membuat namanya berkibar tinggi menjulang. Karena itu, kini ia sadar, betapa rendah motivasinya dan berusaha melepaskan dirinya dari sikap menonjolkan diri itu.”

Sementara mengenai krisis ruhaniah itu sendiri, Al-Ghazali sendiri menulis sebagai berikut:

“Lalu, keadaan diri saya pun kurenungi. Ternyata, saya tenggelam dalam ikatan (yang bercorak duniawi) yang menyergap diri saya. Dari berbagai penjuru. Amal-amal saya pun saya renungi. Utamanya amal yang terbaik, yaitu mengajar. Ternyata pula,  saya hanya menerima ilmu-ilmu yang remeh temeh dan tidak berguna. Saya lalu merenungkan niat saya dalam mengajar. Ternyata, niat saya juga tidak ikhlas karena Allah semata. Malah, niat saya hanya didorong keinginan untuk meraih jabatan dan menjadi kondang. Saya pun menjadi yakin, saya nyaris mengalami kehancuran dan benar-benar tidak akan terlepas dari neraka, andaikan saya tidak meninggalkan hal-hal yang remeh temeh tersebut.

Untuk beberapa lama saya tanpa henti memikirkan hal itu semua. Masih jauh dari tingkat pengambilan keputusan. Terkadang saya sangat mendambakan pergi keluar dari Baghdad dan meninggalkan kondisi yang ada. Namun, keinginan itu lalu mereda kembali. Lantas, saya coba untuk melangkah lagi. Namun, saya lalu balik lagi. Manakala di pagi hari keinginanku begitu membara, untuk meraih kehidupan akhirat, namun sore harinya pasukan hawa nafsu menghancurkan keinginan itu. 

Akibatnya, manakala pesona duniawi begitu kuat menahan saya untuk tetap tinggal (di Baghdad), di kala yang sama seruan keimanan memanggil saya untuk pergi. Pergi karena usia tinggal sedikit lagi, sedangkan perjalanan masih sangat panjang. Padahal, semua ilmu maupun amal saya hanya untuk menonjolkan diri dan hanya ilusi belaka. Setan pun kembali muncul dan ucapnya, ‘Ah, lupakan saja semua itu. Keadaan begini ini hanya insidental saja. Kau harus mampu menundukkannya. Semua itu gampang sirna.’

Saya tetap dalam keadaan ragu hampir selama enam bulan. Terombang-ambing di antara daya tarik pesona duniawi dan seruan akhirat. Bulan ini, keadaan memaksa saya untuk mengambil keputusan. Ini karena Allah telah mengunci lidah saya. Akibatnya, saya tidak dapat mengajar. Suatu hari, dengan sepenuh tenaga, saya berusaha mengajar. Untuk menyenangkan berbagai pihak. Ternyata, sepatah kata pun tidak terucapkan. Saya sama sekali tidak kuasa mengucapkannya. Keadaan yang menimpa lidah saya itu lalu menimbulkan derita dalam kalbu. Hancurlah, karena itu, daya cerna dan sirnalah nafsu makan ataupun minum.

Ketika itu, setetes minuman atau sesuap makanan tidak terasakan. Keadaan yang demikian itu berlanjut dengan melemahnya semua daya dan kekuatan. Sehingga, para dokter pun merasa tidak mampu menyembuhkannya. Menurut mereka, keadaan ini pertama-tama berkaitan erat dengan kalbu, lalu dari situ menjalar ke seluruh tubuh. Maka,  kini, tidak ada jalan untuk  menyembuhkannya kecuali dengan sirnanya rahasia yang terpendam dalam pikiran yang menderita. Dan, ketika saya sadari ketidakmampuan saya, dan seluruh kemampuan saya untuk memutuskan sirna sepenuhnya, saya pun menuju kepada Allah sebagaimana kembalinya orang yang tersudut dan tanpa daya.”

Itulah suasana yang “mewarnai” kalbu dan benak Abu Hamid Al-Ghazali ketika berada di puncak ketenarannya: goncangan ruhaniah dan keraguan yang kemudian mengantarkannya untuk meniti jalan kaum sufi. Ya, meniti jalan kaum sufi yang sunyi dan sepi. Dari pesona duniawi. 

Kini, bagaimanakah cara Al-Ghazali dalam mengobati guncangan ruhaniah luar biasa dan kegalauan yang menghajar dirinya selama sekitar sepuluh tahun tersebut? Tulis Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalâl:

“Penyakit ini pun kian merajalela. Hampir selama  12 bulan, dipaksa oleh kondisi yang ada, bukan karena logika yang sehat, saya berada di jalur kaum sofis. Keadaan itu berlangsung hingga Allah menyembuhkan sakit saya tersebut. Hingga sakit jiwa saya kembali sehat dan moderat lagi. Hasil daya pikir pun kembali dapat diterima dan dipercaya penuh rasa aman serta yakin. Semua itu bukan karena adanya dalil yang tersusun secara sistematis. Namun, karena adanya cahaya yang diturunkan Allah dalam kalbu. Yaitu cahaya yang menjadi kunci kebanyakan pengetahuan. Jelasnya, barang siapa berpandangan bahwa iluminasi (kasyf) hanya tergantung pada dalil semata, sejatinya ia telah mempersempit karunia Allah yang luas.”

Selepas mampu mengendalikan goncangan ruhaniah dan keraguan yang “nyaris membuat dirinya tenggelam”, Abu Hamid Al-Ghazali kemudian menjalani kehidupan baru: kehidupan asketis, ibadah, penyempurnaan ruhaniah dan moral, dan pendekatan diri kepada Allah Swt. 

Lantas, pada  488  H/1095  M,  Abu Hamid Al-Ghazali  meninggalkan  Baghdad Madinah Al-Salam,   kota metropolitan segemerlap New York, Dubai, atau Singapura dewasa ini, dengan tujuan ke Makkah. Tujuannya: untuk  menunaikan  haji.  Dari Kota Suci Makkah, pada 489 H/1096 M, ia kemudian menuju Suriah  dan tinggal di Damaskus. Selama menetap di kota  terakhir itulah ia menyusun karya puncaknya, Ihya’ ‘Ulûm Al-Dîn.  Dari kota ini ia mengunjungi Bait Al-Maqdis, Palestina.

Kemudian, sebelum kembali ke tempat kelahirannya,  Thus, Iran, Al-Ghazali pergi ke Mesir. Selama sekitar enam bulan, ia menetap di Alexandria.  Ketika berada di kota indah yang terletak di tepi Laut Mediterania itulah ia menerima undangan dari seorang penguasa Maroko yang sangat mengaguminya: Yusuf bin Tasyfin, salah seorang penguasa Dinasti Al-Murabithun.  Namun, sebelum ia bertolak ke Maroko, ia menerima kabar,  penguasa tersebut telah berpulang ke haribaan Allah Swt. Karena itu, ia tidak jadi bertolak ke Maroko dan kemudian mengalihkan perjalanannya menuju kota kelahirannya: Thus. 

Belum lama  berada  di Thus,  Al-Ghazali menerima surat dari Sultan Mu‘izzuddin Sanjar. Isinya: permintaan kepada Tuan Guru kondang itu  untuk mengajar  kembali  di Perguruan  Nizhamiyah. Ia pun segera berangkat ke Baghdad Madinah Al-Salam. Namun, ketika tiba di Masyhad Ali Ridha, ia merasa sangat berat untuk mengayunkan langkah-langkah kedua kakinya menuju istana sang penguasa di kota metropolitan itu. Dan, selepas merenung, merenung, dan merenung, akhirnya ia urung datang ke istana itu dan kembali ke Thus.  Lantas, lewat sepucuk  surat  yang berisi penolakan permintaan itu, ia menulis panjang:

Bismillâhirrahmanirrahîm.

Kiranya Allah menganugerahkan kekuasaan kepada Yang Mulia dan sebuah kerajaan langit yang manakala dibandingkan dengannya kerajaan seluruh dunia menjadi tidak berarti sama sekali. Batas-batas kerajaan duniawi tidak kuasa meluas melebihi Timur dan Barat. Umumnya, hidup rata-rata seorang di atas muka bumi ini tidak kuasa melebihi batasan usia seratus tahun atau sekitar itu. Sedangkan kerajaan langit sedemikian luas. Sehingga, seluruh dunia tampak laksana sebutir debu saja manakala dibandingkan dengannya. 

Kiranya Yang Mulia berkenan. 

Saya menyadari, seseorang yang ambisius sulit sekali meniti kehidupan yang salih. Karena saya mendapatkan Yang Mulia sebagai seorang yang sangat jujur dan berhati-hati, saya berharap kiranya Yang Mulia dapat memperlakukan hal ini dengan kebijakan dan kebaikan, untuk diri Yang Mulia sendiri. Nabi Saw. berpesan, “Sehari yang dihabiskan seorang penguasa yang bertakwa, untuk melaksanakan keadilan, setara dengan enam puluh tahun yang dihabiskan seseorang yang tekun beribadah untuk beribadah dan melaksanakan shalat.” Manakala Yang Mulia berkenan merenungkan corak dunia ini, tentu akan tampak betapa hinanya dunia. Orang-orang sufi berucap, “Bila dunia ini dapat dimisalkan laksana sebuah kendi (yang terbuat dari emas) nan rapuh dan mudah pecah, sedangkan akhirat laksana sebuah kendi (yang terbuat dari tanah liat) yang tidak mudah pecah lagi kekal abadi, tentulah orang-orang bijak akan lebih menyukai yang kedua daripada yang pertama.”

Namun, kenyataannya malah kebalikannya. 

Dunia laksana kendi yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan akhirat laksana kendi yang terbuat dari emas. Tidakkah Yang Mulia akan mencerca ketololan seseorang yang yakin bahwa yang pertama lebih unggul daripada yang kedua? Manakala Yang Mulia menginginkan kehidupan yang baik dan menambatkan harapan Yang Mulia di langit, maka satu hari dalam hidup Yang Mulia akan lebih berharga ketimbang enam puluh tahun yang dihabiskan orang lain untuk beribadah. Dan, Allah tentu akan membukakan untuk Yang Mulia berbagai sumber kebahagiaan yang sebelumnya asing bagi Yang Mulia.

Perlu Yang Mulia ketahui, kini saya berusia 53 tahun. Empat puluh tahun darinya telah terhabiskan di berbagai tempat kediaman nan damai para ulama terkenal. Kepada mereka saya menimba ilmu. Sehingga, orang mulai mengenal saya dan memahami perubahan dalam gagasan-gagasan saya. Selama 20 tahun saya hidup dalam pemerintahan ayah Yang Mulia. Yang telah melakukan apa saja yang dapat ia laksanakan untuk menjadikan Isfahan dan Baghdad sebagai kota-kota yang paling maju di dunia. Dalam beberapa kesempatan, saya telah bertindak sebagai seorang duta besar, mewakili ayah Yang Mulia untuk istana penguasa ‘Abbasiyah, Al-Muqtadir Billah. Dengan segala cara, saya berusaha meniadakan kesalahpahaman antara Kerajaan Saljuq dan Pemerintahan ‘Abbasiyah. 

Saya adalah penulis 70 buku. Selama beberapa tahun saya menetap dan berdakwah di Makkah dan Bait Al-Maqdis. Ketika saya mengunjungi makam Nabi Ibrahim a.s. dan membacakan Surah Al-Fatihah di tempat peziarahannya, dengan sepenuh hati saya berjanji: Pertama, saya tidak akan lagi mendatangi istana seorang raja. Juga, tidak pula akan menerima sesuatu yang bersifat upah dari pemerintah. Dalam bentuk apa pun. Ini karena hal-hal seperti itu akan mengurangi nilai jasa-jasa yang saya sumbangkan kepada masyarakat. Kedua, saya tidak akan melibatkan diri dalam segala sesuatu yang dapat memicu pertikaian keagamaan. 

Selama 12 tahun terakhir ini, dengan sepenuh hati saya telah setia terhadap janji yang saya ucapkan di makam Nabi Ibrahim a.s. itu. Kini, saya menerima pesan penting dari Yang Mulia, meminta saya supaya mendatangi istana Yang Mulia. Karena itu, untuk memenuhi perintah Yang Mulia, saya telah tiba di Masyhad ‘Ali Ridha. Dalam perjalanan menuju ibukota. Namun, kemudian pikiran lain muncul. Yakni, sehubungan dengan janji keagamaan yang telah mengikat diri saya sebagaimana tersebut di atas, saya telah mengambil keputusan: membatalkan kunjungan yang telah saya niatkan itu. Saya hanya kuasa memohon kepada Yang Mulia supaya mempertimbangkan hak saya demi memenuhi janji keagamaan tersebut, dan supaya saya tidak perlu menderita hanya karena saya telah berusaha berlaku jujur.

Andai saya boleh memberikan arahan, saya pikir Yang Mulia seharusnya berusaha menahan diri untuk tidak memaksa saya mendatangi istana Yang Mulia. Yang Mulia pun tentu tidak menghendaki saya melakukan hal itu dengan memperkosa janji saya. Hal itu akan membuat saya tidak pantas mendapatkan penghargaan.

Akhirulkalam, dengan rendah hati saya mohon kiranya Yang Mulia dengan senang hati mengizinkan saya kembali ke kota asal saya, Thus. Karena dengan tindakan yang baik itu, Tuhan akan menganugerahkan kepada Yang Mulia ganjaran karunia yang tiada habisnya. Baik di dunia maupun di akhirat. Juga, mengangkat Yang Mulia di akhirat kelak ke tingkatan Sulaiman Agung, seorang Nabi yang sekaligus juga seorang raja masyhur.

Wassalâm.

Seusai   menolak  permintaan  sang sultan,  Abu Hamid Al-Ghazali  kemudian melewatkan   masa senja hidupnya  di  tempat kelahirannya, Thus,  hingga ia  menghadap  Yang Maha Pencipta pada Senin, 14 Jumada Al-Tsaniyyah 505 H/19 Desember 1111 M, dengan meninggalkan sederet karya tulis. Antara lain Al-Iqtishâd fî Al-I‘tiqâd, Ihyâ‘ ‘Ulûm Al-Dîn, Ayyuhâ Al-Walad,  Al-Risâlah Al-Ladunniyyah, Kimiyâ’ Al-Sa‘âdah, Al-Munqidz  min Al-Dhalâl, Mîzân Al-A‘mâl, Misykah Al-Anwâr, Maqâshid Al-Falâsifah, dan Tahâfut Al-Falâsifah. 

Pesan Indah Pemikir yang Penggelisah

Kini, bagaimanakah pesan Al-Ghazali kepada seseorang yang bermaksud melaksanakan umrah atau haji?

Nah, dalam Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, tokoh yang  seorang ulama dan pemikir terkemuka itu dengan begitu indah mengemukakan catatan dan pesannya kepada orang yang berniat melaksanakan melaksanakan umrah atau haji ke Makkah Al-Mukarramah. Berkenaan dengan persiapan ruhaniah yang perlu disiapkan seseorang yang bermaksud menunaikan dua ibadah tersebut, dalam karya besarnya itu ia antara lain berpesan:

“Wajar, bila seseorang yang akan menapakkan kaki menuju Baitullah tidak menyia-nyiakan kunjungannya. Juga, kiranya ia berharap, maksud kunjungannya adalah untuk mendapatkan anugerah pada Hari Kembali yang ditentukan atas dirinya. Yaitu, memandang wajah Allah Yang Maha Mulia di tempat ketetapan pada saat mata yang picik tidak siap menerima pandangan terhadap wajah Allah Swt. Juga, tidak kuasa menanggungnya serta tidak bersedia berhiaskan dengannya, karena kepicikan pandangannya. Di Negeri Akhirat, manakala pandangan itu ditopang kekekalan dan dibersihkan dari seluruh penyebab perubahan dan kebinasaan, tentu ia menjadi sedia untuk memandang dan melihat wajah-Nya.

Namun, dengan bermaksud mengunjungi Baitullah dan memandanginya, tentu ia berhak bertemu dengan Yang Memiliki Baitullah, berdasarkan hukum perjanjian yang mulia. Karena itu, tidak mustahil kerinduan untuk  bertemu dengan Allah Swt. juga merupakan kerinduan terhadap berbagai penyebab pertemuan itu. Di samping itu, juga karena mencintai sesuatu akan membangkitkan kerinduan terhadap segala sesuatu yang dinisbatkan pada sesuatu yang ia cintai. Baitullah, yang dinisbatkan kepada Allah Swt., wajar bila dirindukan semata karena adanya penisbatan itu. Lebih-lebih bila untuk meraih pahala banyak yang dijanjikan.”

Tentang tekad untuk melaksanakan ibadah di Tanah Suci, baik umrah maupun haji, tokoh yang pernah menapakkan kaki dan memasuki Baghdad Madinah Al-Salam untuk  mengajar di Perguruan  Nizhamiyah, sebuah perguruan terkemuka  di  Baghdad pada  masa  pertengahan itu  mengemukakan, manakala seseorang telah memancangkan tekad untuk bertolak ke Tanah Suci, hal itu berarti ia telah berniat bulat akan berpisah dengan keluarga dan tempat tinggal. Juga, ia telah berniat akan meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan serta mengarahkan diri sepenuhnya menuju Baitullah. Tokoh itu juga menyarankan, hendaklah dalam kalbu calon peziarah Tanah Suci tumbuh sikap mengagungkan kedudukan Baitullah dan kedudukan Yang Memiliki Baitullah. Demikian halnya hendaklah ia mengetahui bahwa ia telah bertekad menuju sesuatu yang tinggi kedudukannya dan penting keadaannya. 

“Sejatinya, barang siapa mendambakan sesuatu yang agung, niscaya keagungan tersebut akan mekar dalam kalbunya,” demikian ucap Al-Ghazali.  “Karena itu, hendaklah ia menjadikan tekadnya ikhlas sepenuhnya. Demi Allah Swt. semata dan lepas sepenuhnya dari paduan dengan sikap menonjolkan diri dan keinginan disanjung orang. Juga, hendaklah ia meyakini bahwa orang yang bermaksud beramal  tidak akan diterima selain dengan ikhlas karena-Nya semata. Sejatinya, sebagian dari kekejian yang paling buruk adalah pergi menuju Baitullah dan Tanah Haram, tapi maksudnya yang sejatinya adalah lain. Karena itu, hendaklah ia meluruskan tekad dalam dirinya dan membetulkannya dengan kalbu yang ikhlas. Keikhlasan bakal timbul dengan menjauhkan diri dari sikap ingin menonjolkan diri dan perasaan bangga yang membara dalam diri. Untuk itu, hendaklah ia waspada supaya tidak menggantikan sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk. 

Sementara maksud memutuskan seluruh hubungan ialah mengembalikan seluruh hak orang lain yang diperoleh dengan secara tidak sah dan bertobat dari seluruh perbuatan maksiat dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt. Sebab, setiap tindakan aniaya sejatinya senantiasa memiliki kaitan. Setiap kaitan laksana orang yang berutang yang hadir yang digantungi kain yang diikatkan di lehernya. Lalu, ia dipanggil dan ditanya, “Hendak pergi ke mana Anda? Apakah Anda bermaksud menemui Sang Maharaja? Bukankah Anda telah menyia-nyiakan perintah-Nya di tempat Anda ini, melecehkannya, dan mengabaikannya? Apakah Anda tidak malu datang menghadap kepada-Nya laksana seorang hamba yang durhaka, lantas Dia menolak kedatangan Anda dan tidak menerima Anda? Bila Anda menghendaki agar kunjungan Anda diterima, kembalikanlah seluruh hak orang lain dan bertobatlah kepada-Nya dari seluruh perbuatan maksiat! Lantas, putuskanlah hubungan Anda, sehingga Anda tidak lagi berpaling ke belakang! Ini agar Anda dapat berhadapan dengan-Nya sepenuh hati Anda, seperti halnya ketika Anda berhadapan dengan Rumah-Nya dengan lahiriah tubuh Anda. Bila Anda tidak melaksanakan hal yang demikian, pertama-tama tiada yang Anda dapatkan dari perjalanan Anda selain kepenatan dan kesengsaraan, sedangkan pada akhirnya Anda akan diusir dan ditolak.” 

Lebih jauh Al-Ghazali berpesan,  orang yang akan bertolak ke Tanah Suci hendaklah memutuskan hubungan dengan tempat asal, bagaikan tindakan seseorang yang memutuskan diri dari-Nya. Juga, hendaklah ia mengandaikan tidak akan kembali lagi. Karena itu, hendaklah ia menuliskan wasiat kepada anak-anak dan keluarganya. Sebab, orang yang meniti perjalanan jauh sejatinya hartanya dalam bahaya, kecuali orang yang dipelihara Allah Swt. Ketika ia telah memutuskan seluruh hubungan karena perjalanan ke Tanah Suci, hendaklah ia ingat bahwa pemutusan seluruh hubungan ia lakukan karena ia hendak melakukan perjalanan ke akhirat. Ini karena perjalanan yang demikian itu tidak akan lama lagi akan berada di hadapannya. 

Kini, bagaimanakah sebaiknya tentang bekal bagi seseorang yang akan bertolak ke Tanah Suci? Pesan Al-Ghazali:

“Bekal itu hendaklah didapat dari hal-hal yang halal. Manakala seseorang merasa dirinya masih berupaya memperbanyak bekalnya, masih memburu bekal yang masih tersisa selama di tengah perjalanan, sedangkan sikap dan tindakannya yang demikian tidak berubah dan sirna sebelum meraih sesuatu yang dimaksudkan, hendaklah ia ingat bahwa perjalanan di akhirat lebih panjang daripada perjalanan ini dan perbekalannya adalah takwa. Selain itu, sesuatu yang dikira bekal sejatinya akan ditinggalkan ketika mati dan juga akan mengkhianatinya. Karena itu, bekal itu tidak akan senantiasa menyertainya, bagaikan makanan basah yang busuk pada permulaan tempat persinggahan selama di tengah perjalanan. Akibatnya, ketika saat diperlukan tiba, ia kebingungan dan memerlukan sesuatu yang menjadi berada di luar jangkauannya. Di samping itu, hendaklah ia waspada atas seluruh amal perbuatannya yang akan menjadi bekalnya ke akhirat yang tidak jadi menyertainya selepas ia mati. Malah, dirusak oleh sikap ingin menonjolkan diri dan kekotoran kelengahan.” 

Di sisi lain, tentang mengapa seseorang harus mengenakan pakaian ihram ketika ia sedang melaksanakan umrah atau haji, Al-Ghazali mengemukakan: 

“Hendaklah dengan hal itu mengingatkan pemakainya pada kain kafan dan ia akan dibalut dengan kain itu. Sejatinya, ketika mendekati Baitullah, ia terbalut dengan dua helai kain ihram itu. Namun, perjalanannya itu bisa saja tidak sempurna dan tidak mustahil pula ia akan bertemu Allah Swt. dalam keadaan terbalut kain kafan itu. Karena itu, seperti halnya ia tidak menjumpai Baitullah kecuali dalam keadaan yang di luar kebiasaannya, begitu pula ia hendaklah tidak akan menjumpai Allah Swt. selepas mati kecuali dalam pakaian yang berbeda dengan pakaian yang ia kenakan selama di dunia. Dan, pakaian ihram mirip pakaian kafan. Ini karena pakaian ihram tanpa jahitan seperti halnya kain kafan…”

Lebih jauh, ulama kondang yang penggelisah itu berpesan: 

“Selanjutnya, ketika  meninggalkan kampung halaman, hendaklah ia mengetahui bahwa ia kini berpisah dengan keluarga dan tempat asalnya serta menghadapkan diri kepada Allah Swt. dalam suatu perjalanan yang tiada persamaannya dengan pelbagai perjalanan di dunia. Karena itu, hendaklah ia memancangkan dalam kalbunya, dalam kaitannya dengan sesuatu yang ia kehendaki, ke mana arah yang ia akan tuju dan siapa yang akan ia ziarahi: kini ia menghadap Sang Maharaja bersama duyunan para peziarah yang mengunjungi-Nya. Mereka mendapat panggilan dan memenuhi panggilan itu, dirindukan lalu merindukan, diminta bangkit lalu bangkit dan memutuskan seluruh ikatan serta berpisah dengan seluruh manusia. Lalu, mereka menghadapkan diri ke Rumah Allah yang agung perintah-Nya, yang mahabesar keadaan-Nya, dan mahatinggi kedudukan-Nya, merasa gembira bertemu dengan Baitullah sebagai ganti bertemu dengan Yang Memilikinya hingga mereka berhasil meraih puncak cita-cita mereka dan merasa berbahagia memandang Yang Maha Menguasai mereka.”

Betapa indah pesan-pesan Al-Ghazali itu. Saya sendiri, berkali-kali berusaha mencerna dan mencamkan sebaik-baiknya pesan-pesannya itu. Sebagai persiapan ruhaniah setiap kali dalam perjalanan ke Tanah Suci.

Tentu saja, selain persiapan fisik dan persiapan ruhaniah ke Tanah Suci tersebut, saya juga menyiapkan hal-hal yang diperlukan selama dalam perjalanan menuju Tanah Suci. Karena perjalanan kali ini di bulan Maret, tentu saja persiapan baju untuk menghadapi musim semi mesti disiapkan, meski tidak sebanyak manakala kita melakukan perjalanan itu di musim dingin. 

Itulah berbagai persiapan yang setidaknya harus saya siapkan sebelum saya bersama jamaah akan bertolak menuju Arab Saudi.@aru