Travelog Seorang Kyai ke Dua Kota Suci (1):

Madinah-Makkah

Madinah-Makkah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ARAB SAUDI mengumumkan akan membuka penerbangan umrah bagi para jamaah internasional mulai 1 Muharram 1443/9 Agustus 2021!”

“Alhamdulillah,” demikian gumam pelan bibir saya, ketika membaca berita tersebut. Di koran Republika Online pada 26 Juli 2021. Namun, karena dunia masih “diwarnai” pandemi covid-19, wajar jika kerajaan tersebut masih menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Atas diri setiap Muslim yang akan melaksanakan umrah. 

Alhamdulillah, sejak 1978 hingga kini, betapa kerap Allah Swt. mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk beribadah ke Makkah dan Madinah. Utamanya, selepas saya menjadi seorang pembimbing haji dan umrah. Nah, tulisan ini merupakan catatan dan kisah perjalanan saya ketika melaksanakan umrah beberapa tahun lalu. Lewat catatan perjalanan ini, saya mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tidak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah tersebut. 

Namun, dalam tulisan  ini saya mencoba menghadirkan berbagai aspek yang berkaitan erat dengan Kerajaan Arab Saudi. Dengan demikian, harapan saya, pembaca dapat mengenal lebih jauh tentang Kerajaan Arab Saudi, utamanya tentang Madinah dan Makkah, meski belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga akan disajikan tentang sejarah Makkah dan Madinah, misalnya saja.
 
Selain itu, dalam karya ini saya juga akan menyajikan sederet warisan historis (historical heritages) yang mewarnai dua Kota Suci tersebut. Juga, berbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua Kota Suci itu. Dengan kata lain, harapan saya, karya ini tidak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Namun, merupakan sebuah karya tentang Madinah dan Makkah, dengan berbagai “warna-warninya”. Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. 

Selamat menikmati. 

“ASSALAMU‘ALAIKUM,” ucap seorang petugas dari sebuah biro perjalanan haji dan umrah di Kota Bandung, lewat telpon kepada saya. Suatu hari. “Apa kabar, Ustadz?”

“Alhamdulillâh, sehat dan afiat,” jawab saya. “Ada apa, Teh Siti?”

“Paspor Ustadz masih berlaku kan?” ucap karyawan tersebut, “Untuk bulan depan, Ustadz dijadwalkan untuk mendampingi para jamaah yang akan melakukan ibadah umrah. Punten, Ustadz, jangan lupa “buku kuning” juga dibawa.”
 
Sejenak saya tercenung dan termenung menerima kabar yang demikian. Berangkat umrah kembali, siapa tidak ingin? Perasaan gembira pun segera membara dalam hati saya. Namun, tidak lama kemudian, perasaan gembira itu tergantikan oleh perasaan khawatir yang sangat dalam. Dalam keadaan demikian, saya pun menjawab pelan, “Paspor saya masih berlaku kok. Sayang, masa berlaku “buku kuning” saya sudah berlalu.  Insya Allah, “buku kuning” itu akan saya perbarui.”

Beberapa hari kemudian, selepas mengurus “buku kuning”, alias “International Certificate of Vaccination or Prophylaxis”, saya pun segera menyerahkan paspor dan “buku kuning” itu. Juga, hal-hal lain yang diperlukan kepada petugas tersebut. Usai menyelesaikan semua urusan itu, saya tetap merasa gembira dan khawatir. 

Mengapa gembira dan khawatir? 

Perlu Kesabaran Tingkat Tinggi

Gembira dan bersyukur, tentu saja, karena saya masih diberi kesempatan Allah Swt. untuk mendampingi para jamaah yang akan melaksanakan ibadah yang sangat didambakan dapat dilakukan banyak kaum Muslim di berbagai belahan bumi Allah Swt.: berziarah ke Madinah Al-Munawwarah dan kemudian melaksanakan umrah atau haji ke Makkah Al-Mukarramah. Namun, di sisi lain, sejatinya setiap kali akan berangkat untuk mendampingi para jamaah yang akan melakukan umrah atau haji, perasaan khawatir tidak kuasa melaksanakan sepenuhnya tanggung jawab yang sangat berat itu senantiasa muncul dan menyeruak dalam hati saya. 
 
Mendampingi para jamaah untuk melaksanakan dua ibadah tersebut sekilas tampak menyenangkan. Namun, bagi saya, amanah, tanggung jawab dunia dan akhirat, dan kewajiban yang terkandung di dalamnya sangat berat. Benar-benar sangat berat. Meski terasa sangat berat, dengan mengucapkan basmalah, amanah itu saya terima dengan sepenuh hati. Saya pun segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan tersebut. Baik fisik maupun batin. Selain itu, saya pun mulai memburu berbagai informasi terakhir tentang Arab Saudi. Baik apakah tentang cuaca, waktu shalat, kondisi sosial dan politik, maupun hal-hal lainnya yang erat kaitannya dengan perjalanan ke negeri tersebut. 

Memang, merupakan kebiasaan saya, setiap kali akan melakukan perjalanan ke sebuah negara, saya senantiasa mempelajari lebih dahulu dengan cermat negara tersebut, meski saya kerap pergi ke negara itu. Selain itu, saya pun selalu mengontak para sahabat yang ada di negara tersebut. 

Menurut rancangan awal, rombongan yang akan menuju Tanah Suci akan bertolak pada hari Jumat. Namun, karena pemerintah Arab Saudi ketika itu mengeluarkan aturan baru yang berkenaan dengan umrah, akibatnya keberangkatan mereka akhirnya diubah menjadi hari Selasa setelah hari Jumat  itu. Ini karena visa Arab Saudi baru keluar menjelang hari tersebut.  

Kejadian itu sendiri memberikan sebuah pelajaran berharga: ketika akan mengunjungi suatu negara, meski persiapan kita telah matang, namun bila negara yang akan kita kunjungi belum memberikan visa, rancangan kita bisa menjadi berantakan dan buyar. Ya, bisa ambyar. Dan, dalam kaitannya dengan pemberian visa, masing-masing negara memiliki “gaya” tersendiri lewat persyaratan yang dikeluarkan masing-masing negara. Perlu kesabaran dan keliatan tersendiri untuk mendapatkan visa dari negara yang akan kita tuju. 

Di sisi lain, kejadian itu sendiri segera mengingatkan saya tentang kegagalan yang dialami Rasulullah Saw., ketika pertama kali akan melaksanakan  umrah pada 6 H/627-628 M., berdasarkan Perjanjian Hudaibiyah yang beliau sepakati. 
Berdasarkan perjanjian itu, beliau dan rombongannya  tahun  itu  terpaksa tidak melanjutkan  maksud  mereka  untuk  melaksanakan  umrah. Mereka  baru  diperkenankan  melakukan  ibadah  itu  di   tahun berikutnya. Itu pun mereka tidak boleh tinggal di Makkah lebih dari tiga hari. 

Selain  itu,  juga  disepakati, gencatan senjata  selama sepuluh tahun harus dipatuhi kedua belah pihak dan kaum Muslim tidak boleh mengambil  kembali  orang Islam yang tinggal di Makkah. Juga, mereka tidak boleh menghalangi siapa pun  di  antara  orang  Islam  yang  ingin  tinggal  di   Makkah. Sebaliknya, bila ada orang Makkah yang ingin tinggal di  Madinah, kaum Muslim harus menyerahkannya kembali kepada kaum  musyrik Makkah.  Namun,  bila  ada seseorang Muslim yang ingin bermukim di Makkah, pihak Makkah tidak harus mengembalikannya ke Madinah. 

Semula, tidak semua sahabat Rasulullah Saw. dapat menerima perjanjian itu dengan setulus dan sepenuh hati. Mereka khawatir, kaum musyrik Makkah akan melakukan tindakan yang tidak seperti diinginkan beliau. Mereka begitu bersedih hati dan murung atas keputusan beliau menerima perjanjian itu, utamanya kalangan kaum Muhajirin. Sebab, mereka dilarang menziarahi Ka‘bah dan disuruh kembali ketika mereka telah berada di depan pintu Makkah: hanya sekitar 25 kilometer dari Kota Suci itu. Ya, tinggal 25 kilometer lagi. Mereka berpandangan, seluruh ketentuan perdamaian tersebut memperlihatkan kelemahan kaum Muslim dan kekuatan kaum musyrik Makkah. 

Mereka pun kehilangan pegangan. Laksana orang-orang yang kembali dari medan perang tanpa hasil apa pun kecuali kekalahan dan penghinaan. ‘Umar bin Al-Khaththab salah seorang di antara mereka. Begitu tahu Rasulullah Saw. menyepakati perjanjian itu, ayah Hafshah itu pun mendatangi beliau dan berucap dengan nada pedas, “Rasulullah! Bukankah kita berada di atas kebenaran. Sedangkan mereka di atas kebatilan?”

“Ya, benar,” jawab Rasulullah Saw. Ramah dan santun.

“Bukankah korban yang mati di antara kita berada di surga dan korban di antara mereka berada di neraka?” tanya ‘Umar bin Al-Khaththab. Dengan nada agak keras.
“Ya, benar,” jawab Rasulullah Saw. Yang memahami gelegak kemarahan ayah Hafshah itu.

“Lantas, mengapa kita merendahkan agama kita dan kembali ke Madinah? Padahal, Allah belum lagi membuat keputusan di antara kita dan mereka?” tanya ‘Umar bin Al-Khaththab. Dengan nada kian keras dan pedas.

“‘Umar. Aku adalah Utusan Allah dan tidak akan mendurhakai-Nya. Dia adalah Penolongku dan sama sekali tidak akan menelantarkan aku,” jawab Rasulullah Saw. Tetap ramah dan santun.

“Bukankah engkau telah memberi tahu kami bahwa kita akan mendatangi Ka‘bah dan bertawaf di sana?” tanya ‘Umar bin Al-Khaththab. Tetap dengan nada keras dan pedas.

“Ya, benar. Tapi, pernahkah aku menjanjikan bahwa kita akan ke sana tahun ini?” ucap Rasulullah Saw. balik bertanya.

“Tidak!” jawab ‘Umar bin Al-Khaththab. Tetap dengan nada suara tinggi dan melengking.

“Kalau begitu, engkau akan pergi ke Ka‘bah dan bertawaf di sana tahun depan,” kata Rasulullah Saw.

Tidak puas dengan jawaban Rasulullah Saw., ‘Umar bin Al-Khaththab lantas menemui Abu Bakar Al-Shiddiq dan mengajukan sederet pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada beliau. Ternyata, Abu Bakar juga memberikan jawaban sama seperti yang diberikan beliau. Menerima jawaban Abu Bakar yang demikian, barulah hati ‘Umar tenang dan tidaklah lagi membara. Kemudian, ia pun menyadari kekeliruan tindakannya yang tidak sopan kepada Rasulullah Saw. dengan berusaha melakukan berbagai amal kebaikan, bersedekah, berpuasa, shalat, dan membebaskan dari sikap dan tindakan tidak sopan yang ia lakukan tersebut.

Lewat peristiwa itu sendiri, sejatinya Rasulullah Saw. memberikan suatu pengajaran dan pelajaran indah: tidak setiap keinginan terpenuhi. Juga, di balik setiap kejadian senantiasa ada hikmah tersembunyi.

Pentingnya Persiapan Jasmaniah dan Ruhaniah

Sebagaimana setiap kali saya akan bertolak ke Arab Saudi, baik untuk melaksanakan umrah maupun  haji, saya pun kembali membaca dan menelaah sederet buku tentang umrah dan haji. Selain itu, buku-buku dan berbagai tulisan dan catatan tentang Arab Saudi yang saya miliki juga saya telaah kembali. Bukan merupakan kebiasaan saya mengunjungi suatu negara tanpa persiapan apa pun. Utamanya tentang situasi dan kondisi sosial, politik, dan keagamaan negara tersebut. Apalagi, perjalanan ke Arab Saudi, terutama  untuk beribadah umrah atau haji, merupakan perjalanan yang memiliki “nuansa” berbeda dengan perjalanan ke negara-negara lainnya. 

Seseorang yang akan melaksanakan umrah maupun haji, menurut saya, memang selayaknya melakukan persiapan ruhaniah maupun persiapan jasmaniah. Persiapan ruhaniah, antara lain, adalah meluruskan niat, melatih sifat sabar dan saling tolong-menolong, berangkat dengan harta halal dan baik, membersihkan dan menyucikan diri, memelajari tata cara ibadah umrah maupun ibadah haji, memelajari doa-doa dan bacaan kedua ibadah tersebut, memelajari perjalanan hidup Rasulullah Saw., menyelesaikan utang-piutangnya, menyiapkan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan, dan mempelajari tata cara shalat Janazah. Sedangkan persiapan jasmaniah, antara lain, adalah memelihara kesehatan tubuh, melakukan latihan dan senam, melatih berjalan di bawah terik matahari atau di bawah terpaan hawa dingin, berkonsultasi dengan dokter, dan melakukan vaksinasi anti-meningitis dan flu (dan saat ini juga vaksinasi anti-covid 19).

Mengapa persiapan jasmaniah, di samping persiapan ruhaniah, perlu?

Berdasarkan informasi tentang Timur Tengah dan pengalaman orang-orang yang pernah bermukim di sana, memang benar pada musim panas, udara di Makkah panas sekali. Temperatur dapat mencapai hingga 45 derajat celsius. Memang, hal itu berbeda antara satu kota dengan kota lain. Kota-kota yang berada di tengah (termasuk Kota Riyadh) rentang suhu umumnya sangat ekstrim (sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin). Sedangkan daerah yang berada di ujung selatan (seperti Abha, Al-Baha, Khamis Musyait, Thaif) atau ujung utara (seperti Tabuk) udaranya relatif lebih sejuk. 

Kondisi udara yang sangat panas itu dapat menyebabkan heat stroke (sengatan panas): penyakit yang timbul karena berkurangnya cairan, akibat cuaca yang sangat panas. Sengatan panas ini kerap menyebabkan para jamaah Indonesia ke Tanah Suci meninggal dunia. Sedangkan pada musim dingin, khususnya di Madinah, temperatur dapat turun hingga ke dua derajat celcius. Itu pun masih disertai angin kering yang menusuk tulang.

Berbeda dengan Indonesia yang berudara lembab, udara di Arab Saudi bersifat kering. Sehingga, kalau pun ada angin yang berhembus di musim panas, angin itu bukan kian menyejukkan. Namun, angin itu serasa jilatan api yang menyambar kulit. Karena itu, untuk menyejukkan ruangan, kini di negeri itu kian langka digunakan kipas angin. Sebab, jika kipas angin difungsikan, bukan kesejukan yang datang. Malah, udara panas yang menyerang. Sehingga, AC  (air conditioning) menjadi pilihan utama untuk menghadapi udara panas. Dengan kata lain, persoalan penggunaan  AC di negeri itu bukan persoalan kaya miskin. Namun, merupakan keperluan mendesak yang tidak dapat ditunda-tunda. Cuaca yang sangat ekstrim tersebut kadang masih harus mendapat ‘bonus tambahan’. Yaitu kiriman badai debu gurun pasir yang menjadikan langit serasa mendung dan mengakibatkan mata perih. Atau paling tidak dua mata jadi suka kemasukan debu atau pasir.

Oleh karena itu, melakukan latihan dan senam, demikian halnya melatih berjalan di bawah terik matahari atau di bawah terpaan hawa dingin serta berkonsultasi dengan dokter, diperlukan. Sebab, para jamaah umrah maupun haji yang ketika berada di Tanah Air tidak banyak bergerak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi situasi dan kondisi  di Tanah Suci. Ini karena mereka akan senantiasa bergerak dan memerlukan banyak energi. Misalnya, pergi ke Masjid Nabawi atau Masjid Al-Haram, melakukan tawaf dan sa‘i,  melempar jumrah (bagi para jamaah haji), dan antre dan berdesakan keluar masuk masjid. 

Bagi para jamaah yang tidak terlatih, keadaan tersebut akan terasa berat. Karena itu, fisik perlu disiapkan supaya tetap sehat dan kuat serta dalam kondisi prima untuk menghadapi keadaan yang demikian. Musim panas di Arab Saudi berlangsung antara bulan April hingga Agustus. Pada musim itu, sinar matahari sangat terik. Suhu udara pada siang hari malah dapat mencapai sekitar 50 derajat celsius.
 
Bagaimanakah halnya dengan musim dingin?

Musim dingin di Arab Saudi biasanya berlangsung antara Oktober hingga Maret. Puncak musim dingin terjadi sekitar Desember hingga Januari. Bagi para jamaah umrah maupun haji yang berasal dari negara yang mengalami musim dingin, suhu di Tanah Suci mungkin tidak akan menjadi persoalan. Namun, bagi jamaah asal Indonesia, suhu yang kadang bisa mencapai dua derajat celsius di Madinah Al-Munawwarah akan menjadi kendala tersendiri. Keluhan yang banyak dialami para jamaah karena hawa dingin di Tanah Suci, antara lain, adalah batuk, pilek, bibir pecah-pecah, mimisan, kulit bersisik, dan gatal-gatal. Selain itu, hawa dingin juga berpengaruh atas mereka yang sejak awal termasuk dalam kelompok jamaah dengan risiko tinggi. Misalnya sakit jantung, hipertensi, dan lain-lainnya.

Oleh karena itu, di musim dingin, para jamaah dari Indonesia dipesan supaya membawa perlengkapan yang dapat menahan dingin seperti jaket, kaus kaki, dan penutup kepala. Obat-obatan juga diperlukan. Misalnya, obat batuk dan pilek. Untuk menghindari kulit bersisik dan bibir pecah, sebaiknya mereka tidak lupa membawa krim pelembab. Madu juga dapat dipakai untuk menghindari bibir pecah-pecah. Caranya dengan mengoleskannya di bibir. 

Perlu dikemukakan, udara di Madinah lebih dingin dibandingkan di Makkah. Pada saat subuh udara sangat menusuk. Karena itu, sebaiknya jamaah berangkat ke masjid lebih cepat. Sebab, jika mereka tidak kebagian tempat di dalam Masjid Nabawi dan terpaksa shalat di pelataran masjid, dinginnya akan sangat menyiksa. Pada siang hari, suhu relatif agak hangat. Namun, para jamaah tetap disarankan menghindari sinar matahari langsung, karena dehidrasi dapat terjadi tanpa disadari. Untuk menghindari dehidrasi, para jamaah sebaiknya memperbanyak minum air putih. Air Zamzam bisa dengan mudah didapatkan dalam masjid. Sebaiknya para jamaah membawa tempat minum untuk persiapan.

Makanan Indonesia Versi Arab

Makanan tidak kalah penting. Harus benar-benar diperhatikan. Mengapa? 

“Banyak jamaah yang merasa tidak nyaman dengan makanan Indonesia versi Arab,” tulis Sodik Mudjahid dalam karyanya Rahasia Menikmati Perjalanan Haji dan Meraih Mabrur, “Padahal, bila dalam menghadapi makanan yang demikian kita tetap tidak nyaman, makanan itu selamanya akan terasa demikian. Sebaliknya, bila kita mensyukurinya dan ditambah dengan doa “kiranya kami dapat menikmatinya”, maka makanan itu akan sesuai dengan selera “lidah Indonesia”. Dengan kata lain, jangan sampai karena masalah makanan yang kurang sesuai dengan selera lidah kita, perjalanan ibadah kita menjadi berantakan.”

Erat kaitannya dengan persiapan jasmaniah tersebut,  Abdullah Haidir dalam tulisannya berjudul “Menikmati Musim Panas di Tanah Arab” mengemukakan, perubahan suhu udara panas yang sangat ekstrim di Arab Saudi pada umumnya tidak hanya berdampak pada kondisi tubuh untuk beradaptasi. Namun, lebih dari itu, juga mengubah pola kehidupan sehari-hari. Di musim panas, malam hari menjadi lebih singkat, sedangkan siang hari bertambah panjang. Gejalanya mudah dimengerti dengan mundurnya masuknya waktu shalat Maghrib dan kian majunya waktu masuknya shalat Subuh. Manakala di musim dingin masuknya waktu shalat Maghrib dapat maju hingga pukul 17.00. Sedangkan di musim panas,  masuknya waktu shalat Maghrib dapat mendekati pukul 19.00. Sebaliknya, jika masuknya waktu shalat Subuh di musim dingin baru masuk pada jam 05.30, sedangkan di musim panas masuknya waktu shalat Subuh sekitar pukul 03.15 pagi. Karena itu, bangun shalat fajar di musim panas menjadi tantangan tersendiri.

Dampak lain kondisi alam yang demikian adalah malam menjadi alternatif keluar rumah untuk memenuhi berbagai keperluan. Sedangkan di siang hari, warga Arab Saudi lebih memilih “menyelamatkan diri”, di balik dinding-dinding ber-AC, kecuali kalau ada keperluan. Tidak aneh, karena itu, bila di musim panas suasana malam menjadi lebih semarak ketimbang siang hari. Apalagi saat musim panas biasanya bertepatan dengan musim libur sekolah. Sehingga, otomatis banyak pula orang tua yang mengambil cuti di musim ini. Padahal, di Arab Saudi, yang namanya hari libur nyaris identik dengan begadang, malah hingga subuh, utamanya di kota-kota besar. Dapat dibayangkan, bila hal tersebut dilakukan secara masif dalam sebuah kota. Karena itu, tidak perlu heran manakala pukul  dua malam di musim panas Anda keluar dari tempat menginap Anda, jalan raya masih ramai oleh lalu lalang kendaraan. Begitu pula pusat-pusat perbelanjaan serta tempat-tempat hiburan.

Di sisi lain, pola hidup yang cukup berubah adalah pakaian. Dapat dikatakan, pergantian musim di Arab Saudi juga identik dengan pergantian kostum berpakaian. Minimal karena pengaruh udara. Untuk kaum pria, kostumnya nyaris seragam. Yaitu thub berwarna putih, berlengan panjang, dan berbahan katun tipis yang mudah menyerap panas. Yang membedakan adalah apakah berkerah atau lengan panjangnya berkancing atau tidak. 

Yang lebih heboh soal pakaian tentu saja kaum perempuan dan anak-anak. Di Arab Saudi, umumnya kaum perempuan dewasa tidak mengenakan pakaian mereka secara terbuka, tapi dibalut dengan abaya hitam. Mereka biasanya baru ‘membukanya’ manakala telah berada di dalam rumah atau di tempat-tempat pertemuan khusus kaum hawa yang diyakini “telah steril” dari pandangan kaum pria. Melihat berbagai jenis pakaian yang dijajakan di toka-toko, nyaris tiada perbedaan dengan pakaian perempuan pada umumnya. Malah, boleh dibilang lebih ‘berani’. Baik desainnya maupun pilihan warnanya. Yang jelas, karena musim panas, modenya umumnya ‘hemat kain’ dan tipis. Karena itu, sebaiknya tidak mencari pakaian berlengan panjang untuk pakaian perempuan pada musim panas. Nyaris tiada! 

Tidak aneh, karena itu, bila yang cukup ramai dikunjungi di musim panas, utamanya di awal musim panas, adalah toko pakaian. Juga, jangan heran jika di toko-toko pakaian yang  besar tidak jarang seorang pembeli membawa kereta dorong yang penuh dengan pakaian. Dapat dibayangkan, bila dalam satu keluarga terdiri dari tujuh atau delapan anggota keluarga dan setiap orang membeli satu atau dua potong pakaian untuk dirinya. @ru