Mabuk Habib

Mabuk Habib
Ilustrasi

Oleh: Tontowy

SEBAGIAN masyarakat kita tidak hanya mabuk agama, tetapi juga mabuk Habib.

Di Indonesia, habib merupakan gelar bagi seorang laki-laki yang diduga merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis nasab Fathimah Az-Zahra ra yang menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Hampir seluruhnya, nenek moyang para habib yang berbilang tahun mukim di Indonesia ini berasal dari Hadramaut, Republik Yaman.

Mereka yang digelari habib, belum tentu ulama. Begitu juga sebaliknya, mereka yang bergelar ulama belum tentu diberi gelar habib. Intinya, habib dan ulama adalah dua hal yang berbeda.

Ulama adalah orang yang menguasai ilmu-ilmu syariah dengan semua rinciannya, mulai dari hulu hingga hilir.

Menurut pemahaman ust. Ahmad Sarwat, Lc. berbagai ilmu yang selayaknya dikuasai oleh sosok yang disebut ulama adalah ilmu yang terkait dengan Alquran, Hadits Nabawi, Fiqih dan Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Sejarah, dan ilmu kontemporer lain seperti politik, sosial, ekonomi, hukum dengan segala cabang-cabangnya.

Artinya, sosok yang dinamakan ulama itu, selain menguasai ilmu-ilmu syariah juga punya tupoksi menunjukkan manusia kepada ajaran yang dibawa para Rasul. Oleh karena itu, para ulama disebut pewaris Nabi. Sedangkan para habib itu manusia biasa seperti kita, ada yang baik ada yang kriminal, ada yang jadi ulama ada yang jadi provokator. 

Mencintai Ulama 

Sikap menghormati dan mencintai ulama merupakan sesuatu yang mulia. Bagaimana caranya? Cara yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah jangan meng-ULAMA-kan sosok yang bukan ulama.

Seorang tukang obat pinggir jalan, dalam rangka menarik hati calon pembeli, demi dagangannya laris, dia –katakanlah– mengutip hadits dan atau satu dua ayat dari Alquran. Meski dia fasih dan benar saat mengutip, namun dia sama sekali bukan ulama. Sampai kapan pun dia bukan ulama.

Ada mantan pecandu narkoba yang bertobat dan gagal jadi artis, namun karena pandai ceramah agama, fasih melantunkan ayat-ayat Alquran, pandai memilih hadits yang cocok, masyarakat awam pun menggelarinya ulama. Sikap ini tidak hanya keliru, tetapi cenderung menghina institusi ulama.

Contoh lain lagi. Ada sosok berwajah Arab, direktur sebuah perusahaan, yang kegiatan usahanya menyebabkan banjir lumpur, merugikan banyak orang di Jawa Timur. Belakangan dia terlihat aktif pada kegiatan aksi damai bertajuk bela agama. Dia memposisikan diri seolah-olah ulama, dan tidak ada penolakan dari masyarakat, khususnya mereka yang paham agama. Sikap ini juga dapat dikategorikan menghina institusi ulama.

Mencintai Habib 

Karena habib adalah manusia biasa seperti kita, maka makna mencintai habib adalah mencintai umat manusia sebagaimana lazimnya, selama dia memberi kebaikan bagi umat manusia, bangsa dan negara. Namun, jika dia membuat kerusakan, maka wajib diluruskan, dinasehati, atau justru diperangi kalau sudah melampaui batas.

Masalahnya, masyarakat kita mengalami kegalatan kategori. Setiap habib dimaknai sebagai ulama. Padahal keliru. Lebih parah lagi, setiap sosok berwajah Arab, dimaknai sebagai habib dan ulama sekaligus. Ini sudah mabuk.

Dalam keadaan mabuk, mereka cenderung tidak waspada. Ketika ada sosok habib yang meninggal dunia, mereka tidak peduli dengan prokes di tengah pandemi. Rumah duka sang habib dikerubungi massa, tempat pemakamannya pun dikerubungi massa.

Mereka cenderung mengkultuskan sosok yang digelari habib, karena dimaknai sebagai ulama yang harus dihormati dan dicintai. Mengultuskan sosok habib adalah jalan bebas hambatan menuju kemusyrikan.

Keadaan lebih buruk lagi, karena tokoh politik, para agamawan dan tokoh partai dakwah tidak berani menyadarkan orang mabuk tadi. Terkesan ada pembiaran. Mungkin mereka khawatir perolehan suaranya menurun saat musim pemilu.

Mereka membiarkan umat berada dalam keadaan jahil tak bertepi, dan justru memanfaatkannya untuk kepentingan politik kekuasaan.