Selebriti

Lyudmila Sniper Cantik Yang Menggetarkan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Di salah satu TV swasta pernah terbersit nama unik seorang pembaca berita yang cantik dan cerdas. Nama unik yang tidak lazim bagi telinga orang Indonesia itu adalah Tascha Liudmila. Ternyata, si pemilik nama unik ini merupakan putri sulung tokoh militer bintang empat Chappy Hakim, Kepala Staf TNI Angkatan Udara ke-14 (periode 2002-2005).

Bagi yang paham, nama Liudmila terasa begitu menggetarkan, karena akan membawa ingatan kita pada sosok penembak runduk alias sniper bernama Lyudmila Pavlichenko (12 Juli 1916 – 10 Oktober 1974).

Nama lahir sniper cantik kelahiran Bila Tserkva (salah satu kota di Ukraina) ini adalah Lyudmila Mikhailovna Belova, sebelum ia menikah dengan Alexei Pavlichenko pada tahun 1932.

Perjalanan hidup Lyudmila mengindikasikan, bahwa menjadi penembak jitu, menjadi sniper, merupakan bakat lahir yang terus diasah dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Juga, didukung oleh kecerdasan yang tidak biasa-biasa saja.

Pada usia 14 tahun, ketika tinggal di Kiev (kini ibukota Ukraina), si cantik Lyudmila sudah terbiasa menggunakan senjata api untuk berburu. Bahkan, saking gandrungnya dengan senjata api, Lyudmila bekerja di sebuah pabrik senjata yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya.

Selain itu, Lyudmila juga bergabung di sejumlah klub menembak di sekitar tempat kerjanya. Melihat bakatnya, Lyudmila pun sempat dibina menjadi atlet petembak yang tangguh.

Kecerdasan Lyudmila dibuktikan melalui jenjang pendidikan tinggi yang berhasil dilampauinya. Lyudmila adalah lulusan Kiev State University program studi Sejarah.

Melalui kisah hidup Lyudmila, kita menjadi tahu bahwa menjadi sniper sama sekali tidak didasari oleh naluri membunuh semata, bukan gejolak insting hewaniyah, tetapi berlandaskan hasrat membela negara, nasionalisme dan heroisme.

Tergugah

Ketika Lyudmila belum genap berusia 25 tahun, pada Juni 1941 Adolf Hitler memerintahkan pasukan Nazi menginvasi Uni Soviet, di bawah sebuah operasi militer yang dinamakan Unternehmen Barbarossa. Hitler pun mengerahkan sekitar empat juta prajurit, belasan divisi panser, tiga ribu tank, lebih dua ribu pesawat udara dan sebagainya.

Pasukan Nazi Jerman akhirnya berhasil menguasai sejumlah kota penting, bahkan pertahanan pasukan Uni Soviet semakin terdesak. Ketika itulah nasionalisme dan heroisme Lyudmila pun tergugah, ia merasa terpanggil untuk turut bertempur.

Sebagai lulusan Kiev State University program studi Sejarah, Lyudmila paham bahwa tindakan Hitler itu jelas-jelas melanggar Pakta Molotov-Ribbentrop (1939) tentang kesepakatan non-agresi.

Maka, Lyudmila pun mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari pasukan tempur. Namun ia sempat ditolak oleh perwira penguji, dan diarahkan untuk menjadi tenaga perawat kesehatan lapangan.

Perwira penguji itu belum tahu, bahwa Lyudmila pernah menjuarai sejumlah turnamen menembak. Dengan bergegas Lyudmila memperlihatkan sejumlah sertifikat yang dibawanya.

Maka, sejak itu Lyudmila diterima sebagai anggota militer dengan penempatan di Divisi Senapan Chapayev ke-25 yang sedang menjalankan program mendidik sniper wanita. Saat itu, ada sekitar dua ribu wanita yang menjadi peserta program pendidikan sniper.

Awal Agustus 1941 Lyudmila dikirim ke garis depan. Ia dilengkapi sepucuk senapan semi-otomatis Tokarev SVT-40. Dengan senjata itu, ia menunjukkan prestasinya sebagai sniper. Sekitar seratus tentara Nazi Jerman menjadi sasaran tembaknya. Saat itu usia Lyudmila sekitar 25 tahun.

Sembilan bulan kemudian, Mei 1942, Lyudmila telah menewaskan 257 tentara Nazi Jerman. Pangkat militernya sudah naik menjadi Letnan. Secara keseluruhan, tentara Nazi Jerman yang menjadi sasaran tembak Lyudmila mencapai 309 orang.

Pada Juni 1942, tembakan mortir tentara Nazi Jerman membuat Lyudmila terluka parah, dan ia diliburkan dari tugas tempur. Setelah pulih, Lyudmila menjalani peran sebagai pelatih para sniper Uni Soviet hingga Perang Dunia II berakhir.

Peringkat Atas

Dari 2000 sniper wanita yang berhasil dididik Divisi Senapan Chapayev ke-25 hanya 500 diantaranya yang lolos dari maut. Lyudmila salah satu diantaranya. Bahkan nama Lyudmila menduduki peringkat atas dari 10 besar sniper wanita Rusia sepanjang Perang Dunia II.

Sembilan sniper wanita lainnya adalah Nina Pavlovna Petrova (27 Juli 1893 – 1 Mei 1945), Nina Alexeyevna Lobkovskaya (18 Maret 1925), Klavdiya Yefremovna Kalugina (kelahiran 1926), Lubya Makarova, Roza Shanina (3 April 1924 – 28 Januari 1945), Ziba Ganiyeva (20 Agustus 1923 – 2010), Tania Chernova, Nadezhda Kolesnikov, Tatyana Nikolayevna Baramzina (19 Desember 1919 – 5 Juli 1944).

Karier militer Lyudmila terus berjalan, ia kemudian melanjutkan pengabdiannya di Angkatan Laut Uni Soviet hingga tahun 1953. Pangkat terakhirnya adalah Mayor. Begitu juga dengan gairah intelektualnya tetap hidup, hingga ia berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral dan menjadi sejarawan.

Lyudmila Mikhailovna Belova meninggal dunia pada 10 Oktober 1974 di Moskwa, Uni Soviet, dalam kisaran usia 58 tahun.

Kisah hidup Lyudmila kemudian difilmkan dengan judul Battle for Sevastopol yang pertama kali dirilis pada April 2015, tiga tahun setelah syuting pertamanya di tahun 2012. Film ini disutradarai oleh Sergey Mokritskiy dan dibintangi Yulia Peresild sebagai Lyudmila Pavlichenko.

Sukses komersial film Battle for Sevastopol ini bisa dilihat dari perolehannya yang berhasil meraup rubel sebesar 435.468.256, sebuah keuntungan besar yang bisa dinikmati setelah dipotong biaya produksi yang mencapai 124.000.000 rubel.

Selain sukses meraup rubel, dari film Battle for Sevastopol ini juga semakin melambungkan nama Polina Gagarina pencipta sekaligus penyanyi lagu berjudul Kukushka (Kукушка) yang menjadi soundtrack film tersebut.

Polina Sergeyevna Gagarina kelahiran Moskow 27 Maret 1987, selain penyanyi dan pencipta lagu, ia juga seorang artis dan model. Alat musik yang dikuasainya adalah Clarinet. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close