Features

Luar Biasa! Abelia Raih 12 Beasiswa Pendidikan Dalam & Luar Negeri

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Sosok haus akan ilmu patut disematkan pada Abellia Anggi Wardani masih berusia 29 tahun pada akhir 2018 ini. Namun prestasinya di dunia akademik sungguh gilang-gemilang.

Betapa tidak, Abel yang tengah menjalani tahun ketiganya dalam program doktoral di Departemen Kajian Budaya, Tilburg University, Belanda, tercatat menerima 12 beasiswa sejak pendidikan S1-nya di Universitas Indonesia (UI) dan Université d’Angers, France (double degree).

Gelar S1-nya diambil dua kali. Pertama, di Sastra Prancis Universitas Indonesia (UI). Kedua, di jurusan tourism Université d’Angers, Prancis. Belum puas dengan gelar sarjana, Co-Founder Kelasbahasa.com ini pun ambil jurusan management of cultural diversity di Tilburg University, Belanda.

Deretan beasiswa yang diraih Abel adalah: 1. PhD visiting fellowship at Center for South East Asian Studies 2. Sydney University, NISIS (Netherlands School of Islamic Studies) Sarajevo Spring School grant 3. LPDP 4. Frans Seda Foundation Research Fellowship 5. Orange Tulip Scholarship from Tilburg University 6. Beasiswa Unggulan Bourse du Gouvernement Français 7. Kementrian Pendidikan Perancis 8. Travel Grant Kementrian Pendidikan Indonesia 9. Mayapada Bank Scholarship 10. Outstanding Student Competition Winner Scholarship 11. Supersemar 12. Peningkatan Prestasi Akademik (PPA)

Dari ke-12 beasiswa itu, dia tengah menjalani program doktoral dengan beasiswa dari dalam negeri.

“Saat ini yang membiayai program doktor ini adalah LPDP,” ungkap Abel, panggilan akrabnya.

Untuk bisa mendapatkan beasiswa, lanjut Abel, kuncinya adalah memberanikan diri untuk mendaftar.

“Banyak dari teman-teman yang bertanya kepada saya, ‘gimana caranya sih Bel dapat beasiswa?’,” katanya.

Tapi kadang pertanyaan tersebut tidak disertai dengan tekad bulat dan usaha-usaha awal untuk mendapatkan informasi mengenai cara mendapatkan beasiswa. Sekadar berhenti di tahap ’ingin’ saja. Padahal, lanjut dia, perjalanan mendapatkan beasiswa juga harus melalui tahap up and down.

Abellia Anggi Wardani
Abellia Anggi Wardani

Penguatan bahasa asing

“Kita harus berusaha memantaskan diri, persiapkan sejak dini, dan kemampuan-kemampuan yang mutlak harus dimiliki jika ingin mendaftar beasiswa, misalnya seperti kemampuan berbahasa asing, serta nilai IPK yang baik,” tuturnya.

Latihan bahasa Untuk kemampuan berbahasa Inggris, Abel mengatakan, penguatan bahasa tidak boleh berhenti hanya untuk tujuan lulus IELTS ataupun TOEFL.

Pasalnya, menurut dia, ketika akhirnya sudah berhasil mendapatkan beasiswa dan menginjakkan kaki ke kampus impian, seseorang kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kemampuan untuk berbicara bahasa asing adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.

Ketika perkuliahan sudah mulai, para pelajar akan diminta menulis banyak makalah, esai, berdiskusi kelompok dengan teman-teman dari berbagai macam latar belakang, ujian, dan menulis tesis ataupun disertasi.

“Jadi, latih kemampuan berbahasa asing dari sedini mungkin, persisten dalam belajar, meskipun hanya sepuluh menit sehari. Coba biasakan untuk membaca, berbicara, dan menulis dalam bahasa tersebut, karena kunci belajar bahasa adalah latihan yang terus menerus,” tuturnya.

Setelah menulis buku berjudul “Meraih Mimpi dengan Beasiswa pada 2016” yang berisi tentang perjuangan mendapatkan beasiswa hingga bagaimana meraih gelar cumlaude, Abel beberapa kali diundang untuk mengisi acara-acara mahasiswa.

Dari acara tersebut, dia menerima banyak pertanyaan yang diutarakan kepadanya. Menurut dia, banyak dari pertanyaan tersebut yang memang ditanyakan setelah melalui pencarian dan proses berpikir yang lama, tetapi banyak pula yang terlihat masih malas mencari informasi-informasi dasar sebelum bertanya.

Keingintahuan rendah

Dari situ Abel melihat bahwa meskipun sekarang generasi muda ini memiliki akses luas terhadap informasi dan teknologi, tetapi masih banyak yang belum memaksimalkan hal tersebut untuk menunjang upaya-upaya pengembangan diri.

“Dan dari pengalaman mengajar, saya melihat bahwa mahasiswa-mahasiswi zaman now masih sangat kurang dalam hal keingintahuan mereka. Sering saya menekankan pada mereka untuk menjawab dulu ‘kenapa’ suatu kejadian, fenomena itu terjadi, jangan hanya berhenti pada apa, di mana, dan bagaimana hal tersebut terjadi,” ungkapnya.

Pernah gagal Meski ada 12 beasiswa yang pernah menerimanya, Abel juga pernah tidak lolos. Ketika Abel menempuh program S-2 di Belanda, dia sempat mendaftar Beasiswa Unggulan dari Kemendiknas, namun dinyatakan tidak lulus. Pasalnya, ketika S-1 di Prancis, dia sudah pernah mendapatkan Beasiswa Unggulan. Berita ketidaklulusannya baru diketahui ketika Abel sudah sampai di Belanda dan sudah memulai proses perkuliahan.

Hal tersebut sempat membuatnya kalang kabut mencari tambahan dana. Namun karena dia memegang prinsip tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,

Abel lalu mendapatkan beasiswa riset dari Frans Seda Foundation didukung dengan gaji ketika Abel menyambi kerja informal dan kerja magang.

“Akhirnya saya mampu menyelesaikan kuliah di S-2 saya di Belanda dengan baik dan menerima predikat cumlaude dan mendapat peringkat kedua terbaik di angkatan saya,’’ tuturnya.

Mimpi yang terwujud

Abel bercerita, dia tinggal di luar negeri pertama kali ketika berusia 22 tahun pada tahun 2011 untuk melanjutkan program double degree di jurusan Tourism Management, Faculty of Law, Economy, and Management, Université d’Angers, Perancis.

Abel masih terkenang pertama kali mendapatkan kesempatan untuk ke Perancis. Rasanya campur aduk. Dia juga masih ingat rasanya momen magis yang haru ketika menginjakkan kaki di negara itu.

Dia menyadari bahwa mimpinya untuk kuliah di luar negeri yang sudah diimpikan dari sejak pertama masuk kuliah di UI akhirnya terwujud. Meskipun tentunya setelah fase-fase kebahagiaan tersebut, dia pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ke Perancis untuk berjuang belajar dan membawa pulang gelar.

Anak kedua pasangan Sutiyono dan Siti Umi Hanik tersebut kini menekuni bidang mediasi, konflik, perdamaian, keberagaman budaya, dan pendekatan budaya dalam penyelesaian konflik.

Saat menjalani kuliah S-2 di jurusan Manajemen Keberagaman Budaya untuk S2 di Tilburg University, Belanda, Abel banyak belajar mengenai pengelolaan keberagaman budaya baik di masyarakat, di institusi, dan secara individu.

Setelah lulus dari program master tersebut, Abel ditawari untuk bergabung di salah satu LSM yang berasal dari Swiss untuk menjadi konsultan. Lembaga ini banyak mendukung program-program yang berkaitan dengan mediasi, penyelesaian konflik, serta penguatan kapasitas masyarakat di daerah-daerah rawan konflik.

“Dari situlah kemudian muncul ide untuk menulis disertasi yang berhubungan dengan pendekatan budaya sebagai model rekonsiliasi konflik di daerah-daerah rawan konflik,” ungkapnya.

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close