Loyo, Kredit Perbankan Agustus Cuma Naik 1,04%

Loyo, Kredit Perbankan Agustus Cuma Naik 1,04%
Gubernur Bank Indonesia (foto CNBCIndoneaia)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Penyaluran kredit perbankan di Agustus lalu tercatat rendah sebesar 1,04% (yoy), sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 11,64% (yoy).

Sebagai perbandingan, penyaluran kredit per Juli 2020 lebih tinggi yakni tumbuh menjadi 1,53% dibandingkan dengan Juni 2020 sebesar 1,34%.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan  DPK pada Juli meningkat 8,3%, padahal di Juni posisi DPK hanya tumbuh 7,95%.

Gubernur BI Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur menyampaikan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun risiko dari meluasnya dampak Covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan terus dicermati.


Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Juli 2020 tetap tinggi yakni 22,96%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 3,22% (bruto) dan 1,15% (neto).

"Namun demikian, fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah akibat pertumbuhan kredit yang terbatas sejalan permintaan domestik yang belum kuat karena kinerja korporasi yang tertekan dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi Covid-19," kata Perry dalam konferensi pers daring, Kamis (17/9/2020).

"Pertumbuhan kredit pada Agustus 2020 tercatat rendah sebesar 1,04% (yoy) sedangkan pertumbuhan DPK tercatat 11,64% (yoy) pada Agustus 2020. Ke depan, intermediasi perbankan diprakirakan kembali membaik sejalan prospek pemulihan ekonomi domestik," jelasnya.

Dia mengatakan, beberapa sektor telah mencatat peningkatan pertumbuhan kredit, yaitu sektor pertanian, pertambangan, dan transportasi.

Selain itu, total restrukturisasi kredit perbankan hingga Agustus 2020 telah mencapai 18,64% dari total kredit, ditopang likuiditas yang terjaga.

"Berbagai perkembangan ini, disertai akselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) antara lain melalui penguatan penjaminan kredit oleh Pemerintah, diharapkan dapat mendorong fungsi intermediasi perbankan. Kami akan melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit guna mengakselerasi pemulihan ekonomi," jelasnya.

RDG BI pada 16-17 September 2020 ini memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di posisi 4%.

Perry menilai langkah tersebut masih konsisten untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Hal ini juga sejalan dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dimana hasilnya suku bunga acuan tetap bertahan di 4% dalam RDG bulan ini. Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tidak ada yang menyatakan lain, tidak ada dissenting opinion.

Kebijakan BI untuk menahan bunga acuan ini dilakukan di tengah kondisi ekonomi dalam negeri yang loyo.

Untuk diketahui, Indonesia mengalami deflasi selama 2 bulan berturut-turut, yaitu sebesar -0,10% pada Juli dan sebesar -0,05% pada Agustus 2020. Secara keseluruhan BI memperkirakan inflasi 2020 dan 2021 akan terkendali dalam sasaran 3% plus minus 1%.

"Inflasi rendah karena permintaan belum kuat," kata Perry.

Sebelumnya, OJK menyampaikan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diperkirakan bisa mencapai 4%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana dalam diskusinya bersama pelaku di sektor perbankan, mengatakan kalangan bankir, masih optimistis permintaan kredit kembali tinggi setelah pemerintah melonggarkan kebijakan PSBB. Dengan demikian, sektor riil kembali bergerak.

"Perbankan masih optimis, kredit tetap tumbuh positif dan mereka mengatakan bisa mencapai 4%. Pelonggaran ini memberikan dampak luar biasa kepada sektor riil bisa tetap tumbuh," kata Heru dalam diskusi secara virtual, Kamis (2/7/2020) di Jakarta.