Liza Sabet Juara Pertama Kompetisi Lari dalam Kondisi Tunanetra

Liza Sabet Juara Pertama Kompetisi Lari dalam Kondisi Tunanetra

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Liza Corso terlahir tunanetra karena kelainan genetik yang disebut albinisme, kurang pigmentasi pada rambut, kulit dan matanya sehingga membuatnya semakin peka terhadap sinar matahari.

Ketajaman sentral hanya 20/200, artinya ketajaman penglihatannya hanya pada jarak 6 meter atau kurang walaupun menggunakan kacamata, atau daerah penglihatannya sempit sehingga jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat, sehingga ia termasuk seorang tunanetra. Sedangkan orang dengan penglihatan normal akan mampu melihat dengan jelas sampai pada jarak 60 meter atau 200 kaki.

Namun dengan kondisinya tersebut, Liza berhasil memenangkan juara pertama kompetisi lari lintas negara New Hampshire. Tiga tahun berturut-turut ia merupakan runner-up dalam Division III championship race, dan dua kali dari Kearsarge’s Mya Dube. 

Ia juga tampil baik dengan menempati urutan keenam tahun lalu di Meet of Champions dan ke-17 sebagai mahasiswa tingkat dua. Sayangnya tahun ini dia tidak bisa menyelesaikannya, keluar setelah menempuh jarak dua mil (3 km) saat masih berada di urutan ketiga.

Baru-baru ini ia menandatangani National Letter of Intent untuk menghadiri dan berlari di trek dan lintas negara di NCAA Division I Lipscomb University di Nashville, Tenn.

Seperti dikutip Seacoastonline, dia mulai berlari sejak umur 5 tahun, turut serta lomba lari 5K bersama keluarganya. Ia mengikuti jejak kedua kakak laki-lakinya yang pelari lintas negara. Dia berkompetisi dengan tim lari pertamanya di kelas empat SD dan tim lintas negara pertamanya di kelas enam SD. Dia juga seorang perenang dan anggota Extreme Air (tim lompat tali). Namun akhirnya ia meninggalkan kedua olahraga tersebut untuk fokus pada larinya.

Siapapun tak akan percaya bahwa Liza memiliki disabilitas karena dia berlari dengan mudah. Bahkan pelatih PCA, Mike Shevenell, sampai berkata, "Bagian yang membuat saya kagum adalah bahwa Liza memiliki keberanian untuk menantang diri melakukan ini.

Dia tampaknya melakukan sesuatu dengan relatif mudah sehingga saya lupa, 'Oh benar, ini tidak mudah bagi Liza.' Saya sering jatuh, Liza tidak jatuh sama sekali. Dia entah bagaimana telah mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi. Dia berbicara tentang sinyal. Saya tidak tahu cara kerjanya, tapi saya tidak dapat melewati jalur itu tanpa terjatuh.” Yang ia maksud dengan jalur disini yaitu lintasan lari untuk latihan berupa hamparan di hutan dengan panjang lintasan kira-kira enam setengah mil (sekitar 10 km).

“Kami menyebutnya lintasan akar. Akarnya berkisar antara tiga sampai lima atau enam inci (kira-kira 13-15 cm) tingginya. Saat saya menjalankannya, saya sering jatuh,” kata Shevenell. Namun dalam empat tahun Liza menjalaninya (latihan dilakukan seminggu sekali selama musim kompetisi), ia bilang pernah jatuh mungkin sekali.

Liza yang berlari di trek tampak sangat mudah, namun ia mengakui ada banyak tantangan. Misalnya kompetisi lintas negara, ia tidak tahu akankah di lintasannya ada akar, lubang, menurun atau menanjak. "Sulit untuk menavigasi dan tidak tersandung," katanya.

Ketika ia masih muda, menavigasi lintasan terasa lebih mudah karena ada banyak pelari di sekitar Liza. "Seiring bertambahnya usia dan semakin cepat, ada lintasan yang tidak ada orang untuk dilihat atau diikuti. Sulit melihat panah atau bendera penunjuk lintasan dari jauh. Sehingga untuk mengikuti lintasan saja terasa sulit," katanya.

“Sulit untuk melihat panah yang dilukis dengan semprotan pada pohon,” katanya. “Di lintasan sulit/tingkat atas (di hutan) saya harus memastikan bahwa saya pergi ke arah yang benar jika tidak ada orang yang berlari di dekat saya."

Lintasan curam di Derryfield Park di Manchester menjadi tantangan terbesar Liza. “Jika ada batu besar mencuat di lereng itu, saya harus memastikan bahwa saya tidak terjerat tanaman atau akar atau sesuatu dan membentur batu tersebut," katanya.

Tantangan lainnya yaitu tunanetra tidak bisa memperhiungkan kecuraman lereng atau seberapa jauh lintasannya. "Misalnya saat lintasannya menurun, saya hars melihatnya dari jarak sangat dekat agar tidak menuruninya terlalu dalam." Namun menurutnya, seiring bertambah usia, ia bisa menangkap sinyal yang membantunya berlari melewati hutan atau medan yang berbeda.

Shevenell percaya bahwa Liza memiliki insting dan refleks yang baik. Pelatih Shevenell mengatakan ketangkasan Liza mungkin berkat pelatihan lompat tali. Ketelatenan Liza dalam menjaga kebugarannya juga berperan penting disini, menurut Shevenell. Selain itu pengalamannya berlari bertahun-tahun juga membantunya menemukan sinyal yang ia butuhkan untuk menghindari kecelakaan.

“Satu hal yang penting bagi Liza adalah dia dikenal sebagai pelari, bukan pelari buta,” kata ibunya. “Dia akan menjadi pelari yang memiliki penglihatan rendah.”

“Untuk dapat berlari dan mengatasi tantangan yang saya hadapi,saya pikir saya akan dapat menginspirasi orang lain jika mereka memiliki tantangan yang mereka hadapi, untuk terus berjuang dalam mengatasinya” kata Corso.

Shevenell ingat pernah membaca secuah cerita di majalah Runner's World 30 tahun yang lalu tentang seorang pelari sekolah menengah Oregon yang berkompetisi dalam perlombaan lintas negara dengan penglihatan yang buruk. Siapa sangaka kini ia berkesempatan untuk melihatnya buktinya setiap hari.

"Saya merasa sangat bersyukur bisa mengenal Liza. Dia juga menginspirasi saya. Itu sangat penting. Dia benar-benar menginspirasi kita semua," kata Shevenell, seperti dilansir liputan6.com. (Jo)