Literasi Politik Menurut Kang Maman

Literasi Politik Menurut Kang Maman

DI sebuah forum diskusi publik yang dihadiri oleh Kang Maman, ia diamanahi untuk membedah buku baru yang berjudul “Literasi Politik”.

Kang Maman berkisah, sebagaimana jumlah huruf pada surah al-fatihah yaitu 19, maka ia memulai membaca buku tersebut dari halaman 19.

Lalu sampailah ia pada satu kata yang ‘eye catching’, yakni ‘residu’. Dalam ilmu kimia, residu adalah sisa, atau sesuatu yang tertinggal. Bahasa lainnya adalah ampas.

Syahdan, Kang Maman kemudian menjelaskan tentang residu dalam terminologi politik.

Bahwa yang tersisa dari politik kita hari ini adalah hopeless, atau runtuhnya harapan.

Ia lalu mengutip Gus Dur, bahwa bangsa ini tidak akan hancur karena perbedaan, sebab perbedaan adalah niscaya. Bangsa ini juga tak akan hancur karena bencana, sebab bencana adalah gejala alam.

Bangsa ini justru hancur karena kebejadan moral kaum elit, dan keputusaan kaum alit. Keputusasaan inilah yang oleh Gun Gun Herianto, dalam kapasitas sebagai tuan rumah pada acara tersebut, ia sebut dengan istilah turunnya public trust.

Residu yang lain, dalam catatan Kang Maman adalah hoax dan politik uang. Di alam demokrasi yang semakin terbuka dan meniscayakan pesatnya perkembangan teknologi informasi, satu-satunya cara untuk melawan hoax adalah literasi politik. Dalam bahasa yang populer adalah pencerahan politik.

Bahwa pengetahuan masyarakat tentang politik tidak boleh didikte oleh segelintir orang yang hidup dari menyebarkan kabar bohong.

Demikian pula politik uang. Politik yang makna sejatinya adalah seni, menjadi tidak artistik lagi tatkala suara rakyat bisa dibeli dengan harga yang variatif, bahkan begitu pula suara elitnya.

Sebagai satu dari sedikit caleg yang direkomenasi ICW, Kontras, dan Walhi karena komitmen anti-korupsinya, Kang Maman memberi catatan bahwa politik uang adalah residu atau ampasnya demokrasi.

Demokrasi menjadi high cost, berbiaya tinggi, sehingga orang-orang baik yang konsisten untuk memenangi kontestasi politik dengan tanpa membeli suara, kerap tertinggal di tengah jalan dan tak sampai ke dermaga perjalanan politiknya. Terhempas di tepian.

Terakhir, ada highlight tambahan yang menjadi fenomena mutakhir dari catatan Kang Maman tentang residu politik. Yakni arus besar isu agama.

Isu agama inilah yang sekarang menjadi primadona dan dinikmati oleh sekelompok orang yang mengejar kekuasaan dengan memanfaatkan karakter masyarakat yang mudah meledak dan terbakar ketika disulut oleh isu agama.

Padahal motifnya semata-mata adalah kekuasaan. Kang Maman lalu mengutip seorang filosof muslim tersohor yakni Ibn Rusyd:

“Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah yang batil dengan jubah Agama”

Alhasil, sebagai bagian dari masyarakat yang menolak disebut bodoh dalam berbagai diskursus publik, mari kita galakkan Literasi Politik. Tabik!

Oleh: Khairi Fuady