Opini

Lima Bekal untuk Kesuksesan Hidup

SEJAK Jumat lalu pesantren Nur Inka Nusantara Madani mengadakan acara istimewa yang disebut Annual Sport and Family Fun Weekend. Yaitu sebuah acara yang ditujukan untuk memberikan ruang bagi remaja/pemuda dan keluarga untuk menikmati akhir pekan mereka.

Salah satu kegiatan terpenting selama 2 hari itu adalah tausiah singkat (short reminder), setelah sholat-sholat fardhu. Satu di antara tausiah yang ingin saya ringkaskan adalah tausiah yang saya sampaikan pada Minggu subuh tadi.

Dalam ceramah singkat yang kita kenal kultum (kuliah tujuh menit) itu saya menyampaikan bahwa ada minimal lima hal yang jangan sampai terlalaikan dalam hidup. Bahkan menjadi kewajiban setiap Muslim untuk menjaga, bahkan menumbuh suburkannya.

Pertama, manusia tidak akan pernah menemukan keberhasilan dan kesuksesan apapun tanpa iman. Maka iman menjadi modal utama dalam hidup manusia. Karenanya iman harus dijaga, ditingkatkan dan dibuatkan setiap saat. Itulah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW: perbaharui iman kamu dengan laa ilaaha illallah.

Iman itu fluktual sifatnya. Keadaannya naik turun. Hari ini meninggi, besok boleh jadi drop ke tingkat terendah. Hal itu karena iman berpusat di hati. Sedang hati itu memang alamiahnya terbolak balik.

Untuk menyadari jika iman naik atau turun, lihat kepada indikatornya. Yaitu kenginan (irodah) dalam berbuat kebaikan apakah kuat atau lemah. Kuat atau lemahnya amal soleh itu merupakan kuat atau melemahnya iman seseorang.

Kedua, untuk keberhasilan seseorang iman semata tidak cukup. Tapi diperlukan ilmu yang mumpuni. Ilmulah yang akan menyinari jalan sehingga seseorang bisa berjalan menorobos lorong-lorong hidupnya.

Ilmu menjadi lentera kehidupan. Iman itu energi dan kekuatan. Ilmu itu yang menjadi sinar perjalanan. Iman tanpa ilmu bagaikan kendaraan dengan mesin yang kuat tanpa peta. Berjalan cepat tanpa tahu arah destinasi (tujuan).

Karenanya menguatkan keilmuan menjadi salah satu pilar kesuksesan hidup. Seorang Mukmin dituntut untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan daya nalar dan keilmuannya.

Ketiga, iman dan ilmu itulah yang pada akhirnya melahirkan kerja-kerja yang inovatif. Dalam bahasa Al-Qurannya ”amal-amal solahah” merupakan buah yang baik dari perpaduan iman dan ilmu.

Karenanya orang beriman yang berilmu takkan pernah berhenti untuk melakukan kerja-kerja inovatif dalam hidupnya. Hanya kerja yang hasilnya akan dilihat di hari kemudian. ”maka barangsiapa yang berbuat kebajikan walau sebesar dzarroh niscaya akan dilihatnya”. Demikian sebaliknya.

Keempat, orang beriman memandang waktu itu, bukan sekedar uang atau materi. Tapi sesungguhnya hidup itu sendiri. Uang jika hilang dapat tergantikan. Tapi ketika waktu telah berlalu, dia takkan menengok ke belakang.

Sejatinya berlalunya waktu sekaligus berarti berlalu rentang waktu kehidupan seseorang. Maka berlalunya waktu dapat dikatakan sebagai kematian seseorang pada rentang waktu yang berlalu itu.

Karenanya orang beriman tidak akan menyia-menyiakan waktunya. Setiap detik baginya adalah detak jantung kehidupannya. Maka dia akan bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menggunakan waktunya dengan sungguh-sungguh dan maksimal.

Kelima, dalam menggunakan waktu secara efektif itu orang beriman selalu memiliki ”akhirah oriented vision”. Maka segala gerak geriknya tak pernah terhenti dalam kebajikan.

Orang beriman akan selalu di jalan kebenaran untuk menebar kebajikan. Saya mengistilahkan iman itu bagaikan air. Tak pernah terhenti bergerak memberikan kesejukan dan kehidupan.

Itulah visi orang beriman. Onak dan duri perjalanan dunianya takkan menghentikan langkah kebaikannya. Tak peduli apa kata dan penilaian orang, selama dia yakin yang dilakukan itu adalah nilai kebajikan.

Kepeduliannya hanya ada pada nilai kebajikan dan ridho Dia Yang Menilai segala sesuatu tanpa kepentingan. Karena memang Dia ”Ahkamul Haakimiin”.

Pesantren Nusantara, 15 Agustus 2019

* Presiden Nusantara Foundation

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close