Lia, Niko, dan Mantan Presiden RI

Lia, Niko, dan Mantan Presiden RI
Syaefudin Simon

Oleh: Syaefudin Simon

SEKITAR TAHUN 1995-an Bunda Lia Eden, memerintah murid-murid Salamullah memakai masker. Bunda juga minta agar para jamaah minum jamu sambiloto.

Ada apa Bunda, para murid bertanya. 

Nanti ada wabah yang mematikan di dunia. Indonesia terkena wabah itu. Belajarlah kalian memakai masker dan minum jamu sambiloto. Ujarnya.

Rupanya, sekarang inilah kejadiannya. Pandemi corona. Seperti halnya tragedi World Trade Center di New York yang luluh lantak tahun 2001, di tahun 1990-an Lia Eden juga sudah mendapat infonya. 

"Aku beberapa kali mendengar ledakan besar. Pesawat menabrak gedung pencakar langit," cerita Bunda usai sapaan di rumah Bu Ipuk, Jatiwaringin, Jakarta Timur. Sapaan adalah sebuah pengajian yang dibimbing langsung oleh "Ruhul Kudus" melalui Bunda Lia Eden.

Orang Salamullah meyakini "Ruhul Kudus" kembali hadir dengan sapaan-sapaannya melalui Bunda Lia untuk mengajak seluruh umat manusia bersatu menciptakan perdamaian di muka bumi. Semua pengikut agama, lokal maupun global, asal percaya eksistensi Tuhan dan beramal saleh, pasti masuk sorga. Sorga adalah tempat untuk orang-orang yang hatinya damai penuh cinta. Bukan untuk orang yang hatinya penuh kebencian dan dengki. Salamullah dengan komunitas Edennya adalah contoh eksistensi sorga di muka bumi.

"Aku bertemu Bunda Lia. Ia cantik sekali dan tampak sangat bahagia. Mukanya berseri." Kata Niko sepekan setelah Bunda pergi untuk selamanya. Bunda berpesan kepada murid-murid Eden, tambah Niko, agar tetap menjaga persatuan dan menciptakan perdamaian di muka bumi. Pesan Bunda, persatukan semua agama. Tuhan mereka satu. Siapa yang percaya kepada Tuhan dan beramal saleh, pasti masuk sorga. Apa pun agamanya. Termasuk agama lokal yg pengikutnya orang-orang yang tinggal dalam hutan.

Ya, sepeninggal Bunda Lia, Jumat 9 April 2021 lalu, konon ruhnya tetap hadir dan memberikan pesan tertentu kepada murid-muridnya yang setia. Pesannya disampaikan melalui Niko, seorang guru dan penyanyi seriosa berdarah Tionghoa asal Sidoarjo. 

Niko yang sejak kecil indigo -- tahu siapa Bunda Lia. Ia tiba-tiba datang ke Senen dan merunduk di depan Bunda jauh sebelum Bunda wafat untuk mentahbiskan dirinya sebagai pengikut Salamullah. Padahal Niko belum pernah datang ke Mahoni selama ini. Ia mengaku, tahu siapa Bunda melalui mata batinnya. Sekarang Niko adalah "murid spesial" yang sering didatangi Bunda untuk menyampaikan pesan-pesannya dari Langit. 

Bunda berpesan, melalui Niko, murid-murid setia Salamullah akan dijamin kehidupannya. Bunda bersama "Ruhul Kudus" akan menjaga dan mengawal Salamullah sampai 200 tahun ke depan. 

Bagaimana Indonesia nanti? Negeri ini akan jadi pusat dunia. Kembali pada kejayaannya, mengulang kemajuan benua super modern Atlantis yang tenggelam. Indonesia adalah pusat kemajuan Benua Atlantis itu. 

Jokowi telah memulainya. Jokowi, kata bunda, adalah titisan Betara Kresna yang membangun Indonesia, pusat dunia. Sedangkan Ahok adalah titisan Sun Go Kong, kera sakti yang selalu membela kebenaran dan mengikuti Kresna. Keduanya pecinta kebenaran dan keadilan. Keduanya memang banyak musuhnya dalam membangun negeri tercinta. Salah satu musuhnya, Duryodana, penguasa Astina, yang pernah mencelakakan Pandawa Lima. 

Siapa Duryodana itu? Tanyaku pada Iqbal Hanson, murid setia Lia Eden yang akrab dengan Niko. 

Seorang mantan Presiden RI, disebut singkatan namanya...

Hah?

* Syaefudin Simon, penulis dan aktivis sosial keagamaan.