Ledakan di Beirut: Presiden Libanon Buka Kemungkinan Dipicu Serangan Rudal

Ledakan di Beirut: Presiden Libanon Buka Kemungkinan Dipicu Serangan Rudal

JAKARTA, SENAYANPOST.com –  Penyebab ledakan dahyat di pelabuhan Beirut hingga kini masih belum bisa dipastikan. Presiden Libanon Michael Aoun bahkan membuka kemungkinan sumber ledakan dahsyat pada Selasa (4/8) lalu bisa bersal dari serangan rudal .

Sebelumnya, Aoun menyebut ledakan itu diduga disebabkan oleh faktor kelalaian pejabat yang mengakibatkan ribuan ton amonium nitrat disimpan selama enam tahun di gudang pelabuhan.

“Ada dua kemungkinan skenario atas apa yang terjadi: kelalaian atau intervensi asing melalui rudal atau bom,” ujar Aoun seperti dilansir AFP, Sabtu (8/8/2020).

Kendati demikian, ia menolak untuk dilakukan penyelidikan internasional demi memastikan penyebab kejadian nahas itu. Menurutnya, campur tangan pihak asing dapat mengaburkan kebenaran.

Terkait penyimpanan amonium nitrat selama bertahun-tahun di pelabuhan, ia mengakui harus ada yang diubah dari sistem yang ada.

“Kami menghadapi perubahan dan mempertimbangkan kembali sistem yang dibangun berdasarkan konsensus setelah dianggap kaku dan tidak mampu mengeksekusi keputusan dengan cepat.

Adapun pemantik ledakan dari amonium nitrat yang tersimpan masih belum jelas. Sejumlah petugas menyatakan ada pekerjaan perbaian gudang baru-baru ini. Sementara, pihak lain menduga ada kembang api yang disimpan di tempat yang sama atau dekat lokasi penyimpanan bahan kimia berdaya ledak itu.

Dugaan ledakan disebabkan oleh serangan sebelumnya digulirkan oleh Presiden AS Donald Trump yang mengklaim mendapat laporan dari militer.

“Saya bertemu dengan sejumlah jenderal dan mereka mengatakan merasa ledakan itu bukan akibat proses kecelakaan kerja. Mereka melihatnya sebagai sebuah serangan. Seperti bom atau lainnya,” kata Trump dalam jumpa pers di Washington D.C., seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/8) lalu.

Hingga kini, jumlah korban tewas dari ledakan setidaknya mencapai 154 orang. Ledakan itu juga menyebabkan ribuan orang terluka dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal. (WS)