Opini

Lapangan Rantau, Romantika Dunia Migas

Lapangan minyak Rantau, Aceh Tamiang adalah satu dari sekian lapangan minyak legendaris historis yang saat ini dioperasikan PT Pertamina EP.

Sumur minyak Rantau-1 ditajak tahun 1929. Lapangan Rantau, hingga saat ini, dalam usia yang tidak lagi muda (90 tahun) masih berproduksi di kisaran 3300 barel minyak per hari. Seluruh pekerja, penunjang maupun kontraktor di bawah komando Field Manager ke 15, sdra Hari Widodo bertekad untuk terus berprestasi. Beliau menantang para crew untuk memasang target produksi hingga 4000 barel per hari. Besar besar ditempelkan dan sosialisasikan termasuk di rumah dinas. Untuk memotivasi dan memacu adrenalin. Itu bukan target yang mudah untuk lapangan seuzur itu.

Dari 124 sumur aktif, 44 diantaranya adalah sumur injeksi. Sementara dari 80 sumur produksi, hanya tinggal 6 sumur yang sembur alami, plus satu sumur gas. Selebihnya dengan bantuan teknologi seperti pompa produksi ESP, ataupun pompa angguk. Para petugas lapangan harus telaten dengan perhatian ekstra, seperti merawat orangtua atau mesin tua.

Lapangan Rantau mewarisi dan mewariskan semangat darah pionir serta patriotisme.

Pada awal masa kemerdekaan, ketika Belanda mau masuk lagi antara lain dengan aksi agresi militer pertama, Lapangan minyak Rantau, Kuala Simpang, Aceh Tamiang termasuk palagan yang diperebutkan. Bukankah minyak sangat penting sebagai bahan bakar menopang mesin mesin perang.

Tercatat 9 prajurit terbaik meregang nyawa, mengorbankan diri demi menjaga aset Merah Putih. Satu Kapten, 2 Sersan, 6 Kopral gugur sebagai syuhada kusuma bangsa. Tugu di sp 3 Kuala Simpang didirikan untuk menghormati dan mengenang jasa kepahlawanan mereka.

Jas merah.
Jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Lapangan minyak Rantau, bersama dengan tetangganya Lapangan Pangkalan Susu dan Pangkalan Brandan, termasuk pionir lapangan minyak di Indonesia. Bahkan masih terbilang sezaman dengan sumur minyak tertua di dunia, de Tuiville Pensylvania 1859.

Di zaman Orde Baru, ketika bumi Aceh bergolak dengan gerakan separatisme yang direspon dengan daerah operasi militer, para pekerja profesional perminyakan di lapangan Rantau – pintu perbatasan Sumatera Utara – Aceh, turut terkena cekamannya. Ke sana jut, ke sini jut. Ngeri.

Kini suasana sudah berubah

Menusuri jalur pantai Timur sekitar 180 km dari Bandara Kuala Namu ke arah Aceh, jejak kejayaan migas masa lalu masih tersisa. Termasuk di antaranya adalah monumen Sumur Telaga Said di pinggir ruas jalan Pangkalan Susu yang dibangun tahun 1985, memperingati 100 tahun industri minyak hadir. Sumur Telaga Said ditajak tahun 1885.

Jalanan ramai. Jalur Timur ini termasuk urat nadi perekonomian regional. Pembangunan rel kereta api di sisi jalan raya sedang berjalan, menghubungkan Banda Aceh – Medan. Ini merupakan realisasi dan komitmen Pemerintahan pak Jokowi dalam memperlancar arus orang dan barang antar wilayah.

Seiring dengan menurunnya kemampuan produksi migas di daerah ini, penggunaan tenaga kerjapun berkurang drastis. Fasilitas fasilitas utilitas pendukung banyak yang tidak digunakan lagi. Juga uzur dimakan usia, plus biaya perawatan yang semakin mahal.

Banyak rumah dinas/ mess dan gedung gedung tua yang terbengkalai. Kosong. Beberapa masih dapat dimanfaatkan. Di pinggir jalan antara Pangkalan Brandan – Kuala Simpang misalnya, ex kamp Pertamina, telah dialihfungsikan menjadi markas dan perumahan Tentara Brigif Marinir.

Model skema seperti ini memberikan manfaat ganda. Biaya perawatan gedung yang mubazir tidak lagi membebani Pertamina. Negara juga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membangun markas dan fasilitas untuk aparatnya. Kehadiran aparat juga akan menambah dan memperkuat kondusivitas keamanan.

Mengingat lapangan minyak tua di bumi Serambi Aceh – Sumatera Utara ini memiliki sejarah yang panjang, layak kiranya Pemerintah Pusat yang menangani Aset Negara, bersama Pertamina dan Pemerintah Daerah setempat, melihat sisi lain dari gedung gedung itu.

Sepanjang tidak terkait dengan restriksi keamanan operasi migas, beberapa gedung dan situs seyogianya dapat dialih kelolakan atau dikonversi menjadi museum dan heritage perminyakan. Menjadi destinasi historis, taman atau penangkaran rusa, atau apalah yang memberi nilai tambah. Tidak harus dari aspek material.

Kembali ke Jakarta melalui Medan selepas menunaikan tugas upacara 17 an di lapangan minyak Rantau, di jalanan kami menyaksikan kegairahan dan pesta rakyat yang luar biasa. Ada pawai dan arak arakan. Juga lomba perahu hias. Anak anak TK berpakaian adat dan seragam profesi termasuk militer. Ini bagus. Memperkenalkan kebhinnekaan dan patriotisme sejak dini. Lagu lagu perjuangan berkumandang di sana sini. Menambah semarak HUT Kemerdekaan. Ini sesuatu yang bertolak belakang dengan dulu ketika Aceh belum damai. Pada masa itu, justru menjelang HUT Kemerdekaan suasana yang paling mencekam. Hanya instansi Pemerintah yang melaksanakan upacara singkat.

Jalur Medan – Rantau Kuala Simpang adalah perbauran komunitas Melayu, Aceh, Jawa dan Batak. Kulinernya kaya cita rasa. Menyambut 17 an ini, restoran dan rumah makan pun tak lupa berbenah. Busana pelayan restoran Cabe Ijo misalnya. Bernuansa merah putih full termasuk umbul umbul interiornya. Di restoran ini ada terpampang foto pak Jokowi dengan para pelayan restoran. Rupanya Pak Presiden kita ini pemburu kuliner juga ya.

Rehat sebentar, kami mampir di kedai kopi “Doa Restu” di Tanjung pura. Kopi dan rotinya enak. Beberapa KaDes yang baru mengikuti upacara dengan seragamnya ikut menyeruput kopi. Pengamenpun masuk. Kuajak dia minum, sekalian makan siang kutawari. Dia sungkan tapi mau membungkusnya. Ini hari Merdeka Bung Syaiful, kataku padanya.

Sementara dia minum, kupinjam gitarnya. Kunyanyikan ….17 Agustus Tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita…. Seisi kedai kopi spontan menyanyi. Mengikuti ritme gitar saya yang agak mirip genjrengan di kode tuak. Ada videonya kuupload di medsos.

Tidak terasa perjalanan, Medan sudah dekat. Saya salami pak Fandhi dan Mayor Budi yang ikut mengantar. Terima kasih warga Rantau. Terima kasih Indonesia. Merdeka… !!!

Jakarta, 19 Agst 2019

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close