LAPAN Pastikan Hujan Meteor Tak Berhubungan dengan Mitos 'Lintang Kemukus'

LAPAN Pastikan Hujan Meteor Tak Berhubungan dengan Mitos 'Lintang Kemukus'
Meteor

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Penampakan 'lintang kemukus' di langit Tuban dan Bojonegoro viral di media sosial. Lintang kemukus kerap kali dikaitkan dengan mitos. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut 'lintang kemukus' sebagai fenomena hujan meteor yang tak ada hubungannya dengan mitos.

"Itu kan mitos di masyarakat, secara astronomi tidak berhubungan," kata peneliti dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN Emanuel Sungging Mumpuni.

Selama ini, di tengah masyarakat Jawa, lintang kemukus kerap dikaitkan dengan mitos ramalan berakhirnya wabah atau datangnya bencana. Mitos ini bahkan sempat diangkat oleh sastrawan Ahmad Tohari menjadi novel terkenal, Lintang Kemukus Dini Hari.

Kendati mitos itu hidup di masyarakat, LAPAN menegaskan bahwa hal ini tidak ada hubungannya secara astronomi. "Tidak ada hubungannya. Sama seperti tempo hari katanya bintang Tsuraya tanda wabah berakhir, ternyata wabah masih terjadi sampai sekarang," ungkapnya.

Sungging menjelaskan bahwa lintang kemukus adalah istilah Jawa untuk bintang berekor. "Kebetulan memang beberapa hari terakhir itu sedang musim hujan meteor Draconid, jadi itu bisa jadi bagian dari fenomena hujan meteor tersebut. Tidak ada dampak bahayanya," ujarnya.

Sebelumnya, lintang kemukus itu tampak dalam bentuk garis sinar berwarna oranye di langit pada Sabtu (10/10) malam. Garis sinar oranye itu terlihat oleh warga Tuban dan Bojonegoro. Warga menyebutnya 'lintang kemukus' (komet).

"Tadi malam ada lintang kemukus, di utara timur. Pas kebetulan saya di teras rumah lihat ke langit utara. Suasana kampung memang sepi tadi malam karena sorenya hujan. Kaget juga sebenarnya," ujar salah seorang warga bernama Aldi.