Ekonomi

Kwik: Rupiah Melemah tapi Tak Akan Seperti Krisis 1998

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Ekonom senior Kwik Kian Gie menyatakan nilai tukar berpotensi terus melemah, namun hal itu tak akan seperti saat krisis keuangan pada 1998.

Saat itu, rupiah tembus Rp16.800 per dolar AS dan mencetak rekor terburuknya sepanjang sejarah.

“Saya kira tidak, kalau terjadi krisis yang besar seperti 1998. Tapi artinya, setiap generasi (kurs rupiah) terus merosot,” ujar Kwik usai menjadi pembicara satu diskusi di kawasan Kemang, Senin (23/4).

Pelemahan rupiah, kata dia, tak akan sampai memicu krisis keuangan lantaran tekanan pasar keuangan saat ini berbeda dengan era 1998. Diketahui, Bank Indonesia (BI) saat ini masih bisa melakukan intervensi untuk menahan pelemahan rupiah yang terlalu dalam.

Namun, ia masih enggan membagi prediksi berapa kisaran terburuk dari pelemahan rupiah ke depan setelah menyentuh angka Rp13.975 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.

“Tidak bisa diprediksi karena banyak faktor. Salah satunya intervensi, cuma kenyataannya sampai seberapa, tentu tidak kuat secara riil (hasil intervensi), sehingga merosotnya (kurs rupiah) pelan-pelan, tidak drastis langsung,” urainya.

Baca juga: Darmin: Jangan Terlalu Khawatir Dolar AS Dekati Rp14.000

Di sisi lain, Kwik menilai BI tak bisa terus-menerus melancarkan intervensi dengan menggelontorkan cadangan devisa atau cadev ke pasar uang. Pasalnya, yang perlu diingat adalah kurs rupiah harus pula terbentuk sesuai dengan pergerakan ekonomi pasar.

“Menurut saya tidak mungkin diintervensi lagi, oleh karena fundamental (ekonomi Indonesia) yang sudah begitu rupa, sehingga kalau mau intervensi lagi hanya menghabiskan cadev,” ujarnya.

Persoalan lain, menurutnya, intervensi BI bisa jadi sia-sia lantaran ketergantungan impor Indonesia masih terlalu tinggi.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close