Kursi Roda

Kursi Roda
Bambang Purwoko

Oleh: Bambang Purwoko

SUDAH HAMPIR dua bulan ini saya menikmati istirahat di Jogja setelah keluar dari RSPAD Jakarta. Untuk aktifitas sehari-hati saya masih menggunakan kursi roda, kombinasi dengan "walker" jika tempatnya memungkinkan. Istri tercinta selalu setia mendorong dan menemani saya ke mana-mana Alhamdulillah juga selalu didampingi dan dibantu Manager GSA yg selalu siap merelakan dirinya menjadi driver mengantar saya ke mana saja.

Ketika saya masih dalam masa perawatan di Jakarta, para "sahabat rasa saudara" secara kilat merombak dan menata ulang rumah kami di Jogja. Kamar tidur di lantai bawah dibuat lebih luas, langsung bersebelahan dg ruang kerja sehingga saya bisa tetap "ngantor" di rumah.

Demikian juga kamar mandi dan akses menuju kamar mandi dibuat lebih lebar; supaya saya bisa bergerak leluasa dengan walker dan kursi roda. Akses masuk dari halaman dan garasi ke ruang tamu, kamar, dan ruang kerja tidak terlalu bermasalah, karena ketinggian lantai memang sudah  aksesible alias mudah dilewati kursi roda.

Selain rutin periksa dokter ke Rumah Sakit, dokter menyarankan saya unguk  lebih banyak jalan-jalan dengan  mobil ke tempat-temoat  yang menarik tetapi tidak terlalu ramai. Tujuannya supaya tidak "disorientasi", sekaligus menyegarkan pikiran dan perasaan, untuk lebih mempercepat penyembuhan cedera di kaki saya.

Seperti pernah saya sampaikan, beberapa Dokter selalu mengatakan bahwa saya tidaklah sakit. Saya sehat, hanya memang mengalami cedera. Luka di tangan dan khususnya kaki kiri menyebabkan saya belum bisa berjalan normal.

(Sungguh saya sangat berterimakasih kepada para sahabat semua yang tak henti-hentinya mendoakan saya).

Nah, ketika jalan-jalan keluar inilah saya makin menyadari dan sangat merasakan betapa tidak mudahnya mendapatkan tempat istirahat atau restoran yang mudah diakses pengguna kursi roda. Betapa lingkungan kita, tempat-tempat umum, rumah makan - restoran, tempat pertemuan dan sebagainya; tidak dirancang dan dibangun dengan  memberi akses terhadap  pengguna kursi roda.

Sepulang dari RS ataupun pada saat jalan-jalan biasanya kami harus berhenti di rumah makan, karena sudah waktunya makan siang dan saat harus minum obat sesudahnya. Masalah muncul karena ternyata cukup sulit mencari rumah makan yang bisa diakses dengan kursi roda. Bahkan, beberapa  tempat makan favorit di Jogja sama sekali tidak  memberi kesempatan pengguna kursi roda untuk bisa masuk. Bukan hanya tidak ada jalurnya, tetapi karena  lokasinya di lantai dua dan hanya menyediakan tangga yang cukup terjal, tanpa lift.

Jangan ditanya kalau rumah makan atau warung-warung biasa. Nampaknya sama sekali tak terpikirkan oleh pemiliknya untuk menyiapkan jalur kursi roda. 

Pada akhir Desember kemarin saya harus hadir di acara pernikahan staf kantor di sebuah gedung pertemuan di pinggir Jalan Bantul. Sesampai di lokasi, untuk  bisa masuk ke gedung terpaksa harus digotong ramai-ramai oleh teman-teman kantor yang alhamdulillah sudah stand by disana.

Pertanyaan saya, mengapa pengguna kursi roda tidak mendapatkan perhatian untuk dibuatkan jalan masuk ya? Apa karena jumlah penggunanya sedikit? Atau karena memang tidak penting menyiapkan akses bagi mereka? 

Di zaman Presiden Gus Dur dulu, hampir semua Pemda mewajibkan adanya akses jalan kursi roda bagi setiap pemilik bangunan. Itu karena Gus Dur dan Ibu Hj. Shinta Nuriyah Wahid menggunakan kursi roda. Secara simbolis setiap pejabat pemerintah berusaha mengikutinya. Tetapi setelah itu nampaknya kembali normal lagi, kembali tidak peduli. Saya sendiri berharap tidak akan memakai kursi roda selamanya. Insha Allah akan segera kembali bisa berjalan normal dalam waktu dekat. 

Tetapi memikirkan sulitnya akses bagi pengguna kursi roda (khususnya di rumah makan - restoran, dan tempat-tempat umum lain) sebagaimana saya alami, sungguh sedih rasanya. Mungkin diperlukan intervensi administratif teknokratis dari setiap Pemda agar setiap fasilitas umum dan tempat usaha wajib menyiapkan akses jalan bagi pengguna kursi roda. 

Secara teknis ini bisa dibuatkan regulasinya, misalnya dalam bentuk Perda. Secara lebih konkret bisa diatur agar syarat-syarat IMB dan Izin Usaha bagi semua jenis bangunan untuk umum dan usaha adalah adanya akses jalan bagi kursi roda. 

Adakah pejabat Pemda ataupun politisi di DPRD yang pernah memikirkan hal ini? Atau Bupati dan Wakil Bupati terpilih mungkin ? 

* Penulis adalah Dr Bambang Purwoko, dosen Fisipol UGM, salah satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk Menko Polhukam dan tertembak saat melaksanakan tugasnya di Intan Jaya, Papua pada Jumat (9/10/2020).