Kubah Lava Gunung Merapi Tumbuh 13.600 Meter Kubik/Hari

Kubah Lava Gunung Merapi Tumbuh 13.600 Meter Kubik/Hari
Warga memanggul ember berisi air di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, 2 Juni 2018. (ANTARA)

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Hasil analisis morfologi area puncak berdasar perbandingan foto sektor barat daya  yang diambil tanggal Kamis (25/2/2021) dengan foto Rabu (17/2/2021) menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat (26/2/2021) petang mengatakan hasil analisis morfologi area puncak berdasar perbandingan foto sektor barat daya  yang diambil tanggal Kamis (25/2/2021) dengan foto Rabu (17/2/2021) menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak.

Menurut Hanik, perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan pertumbuhan kubah lava itu sendiri.  

“Volume kubah lava di sektor barat daya saat ini sebesar 618.700 m3 dengan laju pertumbuhan 13.600 meter kubik per hari,” katanya.

Sedangkan deformasi, Hanik menjelaskan, jarak tunjam EDM (Electronic distance measurement) di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.035,148 meter hingga 4.035,160 meter dan dari BAB ke reflector RB2 pada kisaran 3.849,741 meter hingga 3.849,758 meter. 

Dikatakan, baseline GPS Klatakan – Plawangan berkisar pada 6.164,06 meter hingga 6.164,07 meter.

“Dengan demikian, deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dan GPS pada minggu ini tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan,” jelas Hanik.

Sementara mengenai kegempaan, Hanik mengemukakan, pada minggu pengamatan Jumat (19/2/2021) – Kamis (25/2/2021), BPPTKG mencatat terjadinya tiga kali awanpans guguran (AP), 14 kali gempa fase banyak (MP), 985 kali gempa guguran (RF), 37 kali gempa hembusan dan lima kali gempa tektonik.

Secara umum, kata Hanik, kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu, sedangkan gempa di permukaan seperti gempa guguran meningkat dan munculnya awanpanas guguran. 

Pengamatan secara visual, lanjutnya, cuaca di sekitar Gunung Merapi pada umumnya cerah pada padi hari, sedangkan siang hingga malam umumnya berkabut.

“Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah. Tinggi asap maksimum 400 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Ngepos pada tanggal 19 Februari 2021 pukul 06.40 WIB,” katanya.

Sementara awan panas guguran terjadi sebanyak tiga kali dengan estimasi jarak luncur maksimal 1.900 meter dari puncak ke arah barat daya  yang terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 51 milimeter dan durasi 175 detik. 

Ditambahkan, awanpanas guguran hari Kamis (25/2/2021) pukul 16.52 WIB mengakibatkan hujan abu tipis di Kali Tengah Lor, Kali Tengah Kidul, Deles, dan Tlukan.

“Visual yang cukup jelas dari kejadian awanpanas guguran teramati pada tanggal Rabu (24/2/2021)  pukul 06.31 WIB,” ujarnya.

Pada minggu ini pula, katanya, terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 15 milimeter perjam selama 40 menit di Pos Ngepos pada hari Jumat (19/2/2021). Namun tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Dengan kondisi-kondisi tersebut, BPPTKG Yogyakarta masih belum mengubah status Gunung Merapi, dari Siaga atau Level III ke level yang lebih rendah.