KesehatanNasionalPeristiwa

Kronologi Meninggalnya Bayi Elsa Diduga Akibat Kabut Asap

PALEMBANG, SENAYANPOST.com – Pihak Rumah Sakit Islam (RSI) Ar-Rasyid Palembang, Sumatera Selatan membeberkan kronologi penanganan dan diagnosa bayi berusia 4 bulan, Elsa Pitaloka yang meninggal diduga akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

RSI Ar-Rasyid menduga bayi Elsa meninggal akibat radang paru-paru dan radang selaput otak akibat infeksi saluran pernapasan bawah.

Direktur RSI Ar-Rasyid Toni Siguntang menjelaskan, tim dokter mencurigai radang paru paru atau pneumonia dan radang selaput otak atau meningitis menjadi penyebab kematian anak dari Ita Septiana (27) dan Ngadirun (34) warga Desa Talang Bulung, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin tersebut.

“Kita hanya melihat yang terjadi saat dirawat. Kecurigaan kita itu kecurigaan medis, dasarnya ada,” ujar Toni.

Dia menjelaskan, bayi Elsa pertama kali datang ke RSI Ar-Rasyid Palembang pada Minggu (15/9) pukul 11.50 WIB berstatus pasien umum, bukan rujukan.

Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah dalam keadaan gejala penurunan kesadaran. Berdasarkan keterangan keluarga, Elsa memiliki riwayat demam dan batuk pilek kurang lebih sepekan sebelumnya.

Sehari sebelumnya, berdasarkan keterangan keluarga, bayi Elsa sudah dibawa berobat ke bidan desa namun disarankan untuk ke rumah sakit.

Pada pagi hari sebelum dibawa ke rumah sakit, bayi Elsa sudah enggan menyusu dan tidak menangis. Saat dilakukan pemeriksaan fisik dan penunjang di IGD, terdapat napas cuping hidung dan terdengar suara bronchi di daerah paru-parunya.

“Itu menunjukkan adanya infeksi saluran pernapasan bawah. [Hasil] laboratoriumnya itu menunjukkan tanda-tanda infeksi. Itu leukosit [sel darah putih]-nya tinggi,” tutur Toni.

Toni mengungkapkan, tindakan awal setelah melakukan pemeriksaan tersebut yakni diberikan oksigen dan obat antibiotik serta melaporkan kondisi bayi Elsa ke dokter spesialis anak.

Dokter spesialis anak menginstruksikan agar bayi Elsa dirujuk ke RSUP dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Namun berdasarkan sistem informasi rujukan terintegrasi (sisrute) online pada pukul 15.16 WIB, ruang pediatric intensive care unit (PICU) penuh sehingga harus menunggu.

Bayi Elsa kemudian dirawat di bangsal anak sambil menunggu rujukan pada pukul 17.30 WIB. Pada pukul 17.45 WIB, dokter spesialis anak kembali memeriksa bayi Elsa dan didapati penurunan kesadaran serta tetap ada napas di cuping hidup dan suara bronchi.

Dokter meningkatkan dosis oksigen, antibiotik, serta pemberian steroid sembari persiapan merujuk ke RSMH.

Namun pada pukul 18.40 WIB deyut jantung bayi Elsa tidak terdengar dan dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) oleh dokter jaga.

“RJP yang diberikan tidak direspons pasien hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh dokter jaga, disaksikan oleh perawat ruang rawat inap,” ujar Toni.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSI Ar-Rasyid, Azwar Aruf menjelaskan, pihaknya tidak bisa menyimpulkan penyebab kematian secara sederhana karena ada proses infeksi dari gejala, tanda, dan pemeriksaan penunjang.

“Kita tidak bisa menyatakan langsung. Cuma prosesnya ini adalah proses kecurigaan berdasarkan apa yang sudah kita lakukan,” kata dia.

Dia pun tidak bisa memastikan penyakit mana yang lebih dominan antara radang selaput otak dan radang paru-paru yang menyebabkan kematian bayi Elsa.

Namun proses infeksi kedua radang tersebut, bisa saling menyebabkan, memperberat, atau memberi dampak komplikasi hingga akhirnya menyebabkan bayi Elsa meninggal dunia.

“Faktor pemicu pneumonia banyak, bisa ketularan batuk pilek dari lingkungan, orang terdekat atau paling umum penyebabnya dari bakteri saluran pernapasan,” ucap dia.

“Kabut asap saya tidak mendapatkan informasi mengenai faktor lingkungannya. Cuma dilihat dari sudah demam satu minggu, batuk pilek, kemudian pemeriksaan fisiknya ada radang paru-paru. Hasil laboratorium, leukosit meningkat ini cenderungnya ke arah infeksi bakteri,” jelas Azwar.

Satu hal yang pasti, kata Azwar, infeksi di paru-paru maupun selaput otak ini menyebar karena faktor eksternal, bukan karena penyakit bawaan lahir.

Lingkungan yang terpapar asap karhutla pun hanya menjadi salah satu faktor yang memperparah infeksi, dan pihaknya tidak bisa memastikan keseluruhan faktor penyebab infeksi tersebut.

“Kabut asap bisa jadi faktor resiko, tapi bukan penyebab utama. Kabut asap bisa memperparah infeksi, tapi tidak bisa kita pastikan. Kalau infeksinya sudah terlanjur berat juga tanpa kabut asap bisa memburuk,” kata Azwar. (AR)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close