Internasional

Krisis APD, Dokter di India Pakai Helm Rawat Pasien Virus Corona

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Dokter yang merawat pasien virus Corona di India terpaksa menggunakan jas hujan hingga helm sepeda motor karena kekurangan alat perlindungan diri (APD).

Perdana Menteri India Senin kemarin mengatakan telah mengupayakan pengayaan perlengkapan yang disebut Personal Protective Equipment (PPE) atau APD, baik dari dalam negeri maupun impor dari Korea Selatan dan Cina.

Tetapi puluhan lebih dokter di lini depan perlawanan virus Corona, yang sejauh ini telah menginfeksi 1.251 orang di India dan menewaskan 32 orang, mengatakan mereka khawatir bahwa tanpa masker dan baju pelindung yang tepat, mereka dapat menjadi pembawa virus.

Dikutip dari Reuters, 31 Maret 2020, menurut satu proyeksi, lebih dari 100.000 orang dapat terinfeksi pada pertengahan Mei, menempatkan sistem kesehatan India yang kurang dana dan kelangkaan dokter di bawah tekanan berat.

Di kota timur Kolkata, dokter muda di fasilitas rujukan perawatan utama virus Corona, Rumah Sakit Penyakit Menular Beleghata, diberikan jas hujan plastik untuk memeriksa pasien minggu lalu, menurut dua dokter di sana dan foto-foto yang ditinjau oleh Reuters.

“Kami tidak akan bekerja dengan mengorbankan nyawa kami,” kata salah satu dokter, yang menolak disebutkan namanya karena ia takut akan pembalasan dari pihak berwenang.
Pengawas medis rumah sakit yang bertanggung jawab, Dr. Asis Manna, menolak berkomentar.

Di negara bagian Haryana utara dekat New Delhi, Dr. Sandeep Garg dari Rumah Sakit ESI mengatakan ia telah menggunakan helm sepeda motor karena ia tidak memiliki masker N95, yang menawarkan perlindungan signifikan terhadap partikel virus.

“Saya memakai helm, helmnya ada di depan sehingga menutupi wajah saya, menambahkan lapisan lain di atas masker bedah,” kata Garg.

Kementerian kesehatan India tidak segera menanggapi pertanyaan terkait krisis APD. Nasib para dokter dalam pandemi ini menandakan sistem kesehatan masyarakat yang bobrok dan terbebani yang selama bertahun-tahun telah kekurangan dana dan perbaikan. India membelanjakan sekitar 1,3% dari PDB untuk kesehatan masyarakat, termasuk yang terendah di dunia.

“Kami hidup dalam doa, bukan karena kami dapat menyelamatkan diri dengan mengandalkan sistem kesehatan,” kata seorang pejabat senior pemerintah federal di New Delhi, yang menolak disebutkan namanya.

Di rumah sakit yang dikelola pemerintah di kota Rohtak di Haryana, beberapa dokter muda telah menolak untuk merawat pasien kecuali mereka memiliki peralatan keselamatan yang memadai.

Mereka juga membentuk dana COVID-19 informal, di mana setiap dokter menyumbangkan 1.000 rupee (Rp 216 ribu) untuk membeli masker dan penutup wajah lainnya, kata salah satu dokter.

“Semua orang takut,” kata dokter. “Tidak ada yang mau bekerja tanpa perlindungan.”

Sementara NDTV melaporkan bahwa lockdown nasional dan pembatasan jam malam dapat menunda pasokan alat pelindung bagi para profesional medis di garis depan pertempuran melawan virus Corona, menurut pengakuan lembaga pemerintah.

Pengakun ini tercantum pada surel 28 Maret yang dikirim oleh HLL Lifecare, sebuah perusahaan pemerintah di bawah Kementerian Kesehatan kepada Direktur Medis Kepala, Pengadaan, South Western Railways.

Surel HLL itu sebagai balasan atas permintaan South Western Railways untuk 13.000 unit Alat Pelindung Diri (PPE) untuk Rumah Sakit Railways. Ini termasuk 13.000 baju keselamatan, topeng, sarung tangan dan kacamata.

Menurut pantauan NDTV, hingga Selasa India mencatat 1.251 kasus virus Corona terkonfirmasi dengan 32 kematian dan 102 pulih. Kasus virus Corona terbanyak di India tercatat di negara bagian Kerala dengan 202 kasus, disusul Maharashtra 198 kasus, dan Delhi 87 kasus.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close