KPK Sebut Eks Sekretaris MA Nurhadi Diduga Terima Suap-Gratifikasi Rp 46 M

KPK Sebut Eks Sekretaris MA Nurhadi Diduga Terima Suap-Gratifikasi Rp 46 M
JAKARTA, SENAYANPOST.com – Mantan Sekretaris MA Nurhadi dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka. Dia diduga menerima suap dan gratifikasi yang nilainya mencapai Rp 46 miliar.
Rezky yang dimaksud merupakan menantu dari Nurhadi.
Suap dan gratifikasi itu diduga berasal dari Hiendra Soenjoto selaku direktur PT. MTI. Diduga uang terkait pengurusan perkara yang melibatkan PT. MTI di pengadilan.
Setidaknya ada tiga perkara yang berkaitan dengan pemberian janji atau uang kepada Nurhadi.
Perkara pertama, terkait pengurusan perkara perdata PT. MIT vs PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero).
Pada tahun 2015, Rezky menerima 9 lembar cek atas nama PT MIT dari Hiendra. Diduga, hal itu terkait pengurusan gugatan perdata antara PT MIT dengan PT KBN.
Pada tahun 2015, Rezky menerima 9 lembar cek atas nama PT MIT dari Hiendra. Diduga, hal itu terkait pengurusan gugatan perdata antara PT MIT dengan PT KBN.
Pemberian cek itu terkait pengurusan dua hal. Kesatu, Peninjauan Kembali atas putusan kasasi Nomor: 2570 K/Pdt/2012 antara PT MIT dan PT KBN. Kedua, penangguhan proses hukum dan pelaksanaan eksekusi lahan PT MIT di lokasi milik PT KBN oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Cek itu dijaminkan untuk mendapatkan uang senilai Rp 14 miliar. Namun belakangan, PT MIT kalah dalam pengurusan perkara itu.
“Tersangka HS meminta kembali 9 lembar cek yang pernah diberikan itu,” ujar Saut.
Perkara kedua, terkait gugatan sengketa saham pada PT MIT.
Pada tahun 2015, Hiendra digugat soal kepemilikan saham oleh Azhar Umar. Perkara ini dimenangkan Hiendra di Pengadilan Negeri dan pada tahap banding di Pengadilan Tinggi DKI pada Januari 2016.
Ketika gugatan perdata berjalan dalam rentang periode Juli 2015-Januari 2016 bergulir di PN Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI, diduga terjadi penyerahan uang dari Hiendra ke Nurhadi. Uang yang diduga melalui Rezky itu sejumlah Rp 33,1 miliar.
Pemberian uang itu diduga dilakukan dalam 45 kali transaksi agar tak mencurigakan. Beberapa transaksi dilakukan melalui rekening anak buah Rezky.
“Pemberian ini diduga untuk memenangkan HS dalam perkara perdata terkait kepemilikan saham PT MIT,” ujar Saut.
Perkara ketiga, terkait dugaan gratifikasi penanganan perkara di pengadilan.
Selama rentang Oktober 2014-Agustus 2016, Nurhadi melalui Rezky diduga menerima uang hingga Rp 12,9 miliar. Diduga terkait penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA serta permohonan perwalian.
“Penerimaan-penerimaan tersebut, tidak pernah dilaporkan oleh NHD kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan gratifikasi,” ujar dia.